Trust Me Please.

Trust Me Please.
Menonton film di bioskop.



Waktu berlalu, Toni menatap ke arah jarum jam yang melingkar pada pergelangan tangannya telah menunjukkan pukul empat sore, pria itu lantas bersiap meninggalkan rumah sakit.


Di basemen gedung rumah sakit, di dalam mobilnya Toni tengah menunggu kedatangan Ratu.


Tak berselang lama akhirnya yang di nanti pun tiba.


Setelah memastikan situasi dan kondisi aman, Ratu lantas masuk ke mobil Toni.


"Apa dokter Sintia tadi datang menemui mu??." tanya Toni ketika Ratu sudah ke mobilnya.


Ratu yang tengah memasang seat belt pada tubuhnya lantas mengangguk sebagai jawaban.


"Apa yang dia katakan padamu??.". Toni kini mulai melajukan mobilnya meninggalkan area basemen kembali bertanya.


"Dia hanya menanyakan perihal undangan pernikahan kita??." jawab Ratu apa adanya.


"Sepertinya dokter Sintia tertarik pada kak Toni." lanjut tutur Ratu mengemukakan persepsinya tentang dokter Sintia.


"Setiap orang berhak memiliki ketertarikan kepada siapapun tetapi bukan berarti orang tersebut harus mendapat balasan perasaan yang sama, bukan??."


Dari kalimat yang baru saja dilontarkan Toni, Ratu bisa menarik kesimpulan jika pria itu tidak memiliki perasaan khusus pada Sintia.


Setelah percakapan itu baik Toni maupun Ratu memilih diam, keduanya sibuk dengan pemikiran masing masing. Sampai beberapa saat kemudian Ratu baru tersadar ketika mobil Toni tidak melalui jalanan menuju rumahnya.


"Bukankah ini bukan jalan menuju rumah aku, kak Toni???." Ratu yang semakin yakin jika jalanan yang di lalui mobil Toni bukanlah jalanan menuju ke rumah orang tuanya akhirnya bertanya.


"Memangnya siapa yang bilang saya akan segera mengantarkan mu pulang??." bukannya menjawab Toni justru balik bertanya sehingga membuat Ratu mencebikkan bibir mendengarnya.


Tidak ingin memancing perdebatan akhirnya Ratu pun memilih diam saja, toh pria yang kini mengajak serta dirinya adalah calon suaminya sendiri.


Dua puluh menit kemudian, mobil Toni tampak memasuki area Mall.


"Apa kak Toni ingin membeli sesuatu??." tanya Ratu dan Toni spontan menggelengkan kepalanya pertanda tebakannya salah.


"Then???." kedua alis Ratu tampak saling bertaut. Jika tidak ingin membeli sesuatu lalu untuk apa pria itu mengajaknya ke Mall ??? Begitu pikir Ratu saat ini.


Toni yang baru saja turun dari mobilnya lantas membukakan pintu mobil untuk Ratu.


"Ayo turun!!." Toni mengulurkan tangannya ke arah Ratu, dengan ragu Ratu akhirnya menyambut uluran tangan Toni untuk membantunya turun dari mobil.


Sejujurnya mendapatkan perlakuan seperti itu dari Toni sudah membuat jantung Ratu seperti mau meloncat dari tempatnya, namun ia tetap berusaha menampilkan wajah tenangnya di hadapan Toni.


Toni mengajak Ratu berjalan memasuki pintu masuk Mall tanpa melepas genggaman tangannya. lantas keduanya masuk ke dalam Mall dengan bergandengan tangan.


"Kak Toni mau nonton Film??." setelah cukup lama saling diam, akhirnya Ratu pun bertanya ketika Toni mengajaknya menuju area bioskop.


"Hemt." sahut Toni singkat padat dan jelas.


Ratu jadi teringat akan Film terbaru yang baru beberapa hari ini mulai diputar di bioskop. Film bergenre komedi romantis yang begitu ingin disaksikannya, akan tetapi belum juga bisa terwujud karena kesibukannya akhir akhir ini.


Tak berselang lama, Toni pun kembali dengan membawa dua buah kantong plastik yang berisikan minuman bersoda serta beberapa jenis camilan dan juga tak lupa popcorn.


"Maaf sudah membuatmu lama menunggu." ungkap Toni dan Ratu spontan menggelengkan kepalanya. "Tidak masalah." ucapnya. Ratu sempat terpaku melihat sikap Toni manis padanya, ia bahkan sempat mencubit lengannya untuk memastikan apakah ini semua hanyalah mimpi. pria yang merupakan cinta pertamanya itu bersikap manis padanya, Namun ketika merasakan rasa sakit di lengannya seketika Ratu tersadar jika semua ini adalah nyata.


"Ayo !!!." Toni lantas merangkul pinggang ramping milik Ratu untuk melangkah masuk ke dalam bioskop.


Toni sengaja memilih tempat duduk yang berada di sudut ruangan, dengan meminta Ratu menempati bangku yang bersebelahan langsung dengan pembatas ruangan dengan begitu tidak ada orang lain apalagi seorang pria yang berada di sisi Ratu selain dirinya, yang menempati bangku yang ada di sisi kanan Ratu.


Beberapa saat kemudian, Ratu seperti tidak percaya ternyata Film yang akan segera mereka tonton adalah Film yang begitu diinginkannya.


"Bagaimana, apa kamu suka dengan filmnya??".tanya Toni dengan suara lirih tidak ingin mengganggu pengunjung yang lain. Dan sontak saja Ratu mengangguk dengan wajah berbinar bahagia.


"Bagaimana kak Toni bisa tahu jika aku ingin sekali menyaksikan Film ini???." tanya Ratu setelahnya.


"Selain siapa sebenarnya pria yang telah membuatmu merasakan yang namanya jatuh cinta, tidak ada yang saya tidak tahu dari calon istriku." jawaban dari Toni membuat Ratu tertegun untuk sesaat, menatap wajah tampan pria yang saat ini juga tengah menatapnya dengan tatapan tak terbaca.


Sebelum kemudian, Ratu memilih memutuskan tatapan keduanya dengan beralih pada layar kaca raksasa di hadapannya.


Jika Ratu fokus memandang ke layar kaca menikmati Film yang baru saja di putar, Toni justru lebih fokus melirik pada seorang gadis cantik yang sebentar lagi akan segera menjadi miliknya seutuhnya itu.


"Semudah inikah membuatmu bahagia." batin Toni ketika melihat raut wajah Ratu yang tampak berbinar meski hanya sekedar di ajak menonton film di bioskop. selama mengenal sosok Ratu lebih dekat, bagi pria itu Ratu termasuk gadis yang tidak neko-neko.


Meski suasana penerangan di dalam bioskop sangat minim hanya mendapatkan penerangan dari pantulan layar raksasa dihadapan mereka, namun Toni masih bisa melihat dengan jelas wajah cantik Ratu, yang kini tengah menikmati alur cerita dari Film tersebut.


Di tengah aktivitasnya memandang wajah cantik Ratu, tiba tiba Toni menautkan kedua alisnya saat melihat Ratu menundukkan pandangannya. Tidak ingin bertanya, Toni beralih pada layar raksasa di hadapannya.


Toni sontak mengulum senyum ketika melihat satu adegan yang tersaji di layar kaca. Satu adegan yang mampu membuat Ratu menundukkan pandangannya, seolah malu melihat adegan tersebut. adegan apalagi kalau bukan adegan dua orang insan yang tengah bertukar Saliva.


Toni lantas mengarahkan wajahnya mendekat pada Ratu.


"Kenapa kamu menundukkan pandangan mu, apa kamu malu melihatnya??." terkejut mendengar suara Toni sontak saja Ratu memalingkan wajahnya ke sumber suara. Mengingat saat itu posisi keduanya hanya tersisa beberapa centi saja hingga tanpa sengaja bibir Ratu mendarat cantik pada bibir Toni ketika ia tiba tiba menoleh.


Deg


Jantung Ratu saat ini sudah tidak bisa dikondisikan lagi oleh pemiliknya, irama jantung Ratu berdebar tak menentu ketika menyadari ia tak Sengaja menci_um bibir Toni.


Ratu lantas menjauhkan wajahnya untuk memberi jarak, gadis itu tampak memegangi bibirnya. Hilang sudah ciuman pertama yang selama ini di jaganya dengan baik.


"Maaf kak, aku tidak sengaja." tutur Ratu dengan suara lirih, sebelum memalingkan wajahnya berharap Toni tidak dapat melihat rona merah di wajah cantiknya.


"Sudahlah.... Tidak perlu malu !!! lagi pula sebentar lagi kita akan melakukan hal yang lebih dari ini setelah menikah nanti." sahut Toni dengan nada yang juga terdengar lirih.


Wajah Ratu semakin merah merona ketika mendengar kalimat Toni yang terdengar ambigu.


Sesungguhnya bukan hanya Toni yang dibuat terkejut dengan gerakan spontanitas yang di lakukan Ratu, Toni pun tak kalah terkejutnya dengan Ratu namun Toni tetap berusaha bersikap biasa seolah tidak terjadi apa apa. Padahal kenyataannya debaran jantungnya pun tak jauh berbeda dengan Ratu.