Trust Me Please.

Trust Me Please.
Dona, si pembawa Mala petaka.



Keesokan harinya, Sintia merasa seperti ada yang kurang hari ini. Ya, Sintia baru menyadari jika kursi di mana ayahnya biasa sarapan bersama dengannya beberapa hari terakhir kini tampak kosong tak berpenghuni.


"Papa kemana, bi???." tanya Sintia pada salah seorang ART yang tengah menyiapkan sarapan pagi untuknya.


"Tuan sudah berangkat Non." jawaban bibi lantas membuat kedua alis Sintia tampak saling bertaut, mengingat saat ini jarum jam yang melingkar pada pergelangan tangannya masih menunjukkan pukul setengah tujuh pagi.


"Pagi sekali. Memangnya papa pergi ke mana, bi??." kembali tanya Sintia.


"Katanya sih tuan akan pergi ke luar kota sampai dengan dua Minggu ke depan, Non." jawab ART sesuai dengan perkataan tuan Mardin sebelum beliau berangkat tadi.


Bukankah seharusnya ia senang, sesuai dengan keinginannya kini ayahnya tak lagi ada dihadapannya. Namun entah kenapa Sintia justru merasa selera makannya hilang seketika, padahal sebelum kedatangan ayahnya ia bahkan sarapan seorang diri selama beberapa tahun terakhir.


"Apa non Sintia tidak jadi sarapan??." tanya ART nya ketika melihat Sintia beranjak dari meja makan.


"Masih kenyang, bi." dusta Sintia, sebelum kemudian beranjak meninggalkan rumah dengan mengendarai mobilnya. Sintia yang hari ini libur kerja lantas berkendara tanpa tujuan.


Di sepanjang perjalanan Sintia mencoba mengingat kembali akan sikapnya kepada sang ayah semenjak kepulangan pria itu ke tanah air.


"Apa sikapku sudah keterlaluan pada papa??." lirihnya dalam hati.


Sintia nampak tak fokus sehingga tiba tiba teriakan seseorang mengejutkan Sintia, sampai ia pun menginjak pedal rem secara mendadak.


"Oh astaga...apa yang sudah aku lakukan??." Sintia lantas menarik rem tangan sebelum kemudian beranjak turun dari mobilnya, untuk melihat apa yang terjadi di luar sana.


"Maafkan saya nyonya, sungguh, tadi saya tidak melihat anda." ketika melihat apa yang terjadi. Namun dari apa yang di lihat Sintia saat ini wanita itu masih berjarak sekitar satu meter dari mobilnya.


Dengan perasaan tak menentu Sintia mendekati wanita yang hampir menjadi korbannya tersebut.


"Apa tubuh anda ada yang terluka??." dari wajahnya terlihat jelas jika saat ini Sintia begitu panik.


"Tan_te...." kedua bola mata Sintia melebar dengan sempurna ketika melihat siapa yang hampir menjadi korbannya itu.


"Sintia...". Ternyata wanita paru baya itu adalah mama Rani.


"Tante maafkan Sintia. Apa Tante terluka??." tanya Sintia dengan wajah paniknya, mengingat tadi mama Rani berteriak.


Sintia lantas membantu mama Rani untuk menepi. Kini mereka telah berada di trotoar khusus pejalan kaki.


"Tidak ada nak Sintia, tadi Tante hanya kaget saja ketika tiba tiba ada mobil yang semakin mendekat ke arah Tante." jawab mama Rani yang tadi memang menyebrang secara tiba tiba tiba tanpa menoleh ke kanan dan kiri.


Beberapa detik kemudian, mama Rani baru teringat akan tujuannya sampai nekat menyebrang jalan tanpa melihat kondisi jalanan yang tengah ramai oleh kendaraan yang lalu lalang.


"Dona?? Kemana Dona??." Mana Rani kembali beranjak untuk mencari keberadaan Dona.


"Dona siapa Tante??." tanya Sintia dengan wajah bingung ketika melihat mama Rani memposisikan diri melihat ke bawah Mobilnya, di mana tadinya Dona menghilang. Dona merupakan nama dari kucing kesayangan mama Rani.


"Dona, kucing kesayangan Tante, Nak Sintia." jawaban mama Rani membuat Sintia menatap tak percaya pada wanita paru baya dihadapannya itu. bagaimana tidak, mama Rani bahkan rela hampir keserempet mobilnya hanya karena ingin mengejar seekor kucing.


Sementara Sintia yang merasa tidak enak lantas membantu mama Rani untuk mengejar Dona. Dan kejar kejaran pun tak dapat dihindarkan, sampai seluruh tubuh Sintia kini telah bermandikan keringat, karena Dona terus saja berlari ke sana kemari. Bahkan kini kucing Persia tersebut telah berlari ke seberang jalan.


"Huh...huh....". Sintia tampak mengatur napasnya yang mulai terengah-engah akibat mengejar Dona. Untungnya di seberang sana ada seseorang yang membatu menangkap Dona.


"Ini kucingnya mbak." Pria itu nampak tersenyum ketika melihat wajah Sintia yang telah bermandikan keringat akibat mengejar seekor kucing, sebelum kemudian menyerahkan Dona kepada Sintia.


"Makasih, mas.". Ucap Rahma seraya mengambil alih Dona dari pria itu.


"Akhirnya kau ketangkap juga ya Dona. Kau benar benar membuatku hampir kehabisan napas, Dona." ungkap Sintia seraya menggendong Dona dan menyerahkannya pada mama Rani.


Dengan begitu setidaknya Sintia bisa sedikit mengurangi perasaan bersalahnya terhadap mama Rani.


Melihat kondisi Sintia yang kini tampak memprihatinkan usai aksinya mengejar Dona, lantas mama Rani mengajak Sintia mampir ke rumahnya.


Karena lokasi kejadian tak begitu jauh dari rumah mama Rani, maka hanya dalam beberapa menit kini mobil Sintia tiba di rumah mama Rani.


Setibanya di rumah, mama Rani lantas mengajak Sintia untuk masuk ke dalam rumah. Mama Rani meminta Sintia untuk menunggu sebentar di ruang tengah sementara ia beranjak menuju dapur untuk membuatkan sendiri minuman untuk Sintia.


Tak berselang lama, kini mama Sintia kembali dengan sebuah nampan yang berisi segelas sirup yang ditambahkan dengan potongan es batu.


"Di minum dulu, nak Sintia pasti haus setelah mengejar Dona, tadi." ucap mama Rani yang tampak mengulum senyum, dan Sintia pun tersenyum sungkan sebelum kemudian meneguk sirup buatan mama Rani. Kini gelas di tangan Sintia nyaris kosong, sepertinya tenggorokan Sintia benar benar kering akibat aksinya mengejar Dona, tadi.


Melihat baju yang kini dikenakan Sintia nyaris basah semua karena keringat, mama Rani pun mengajak Sintia menuju kamar putrinya yang saat ini kosong, mengingat setelah menikah Ratu ikut bersama dengan suaminya tinggal di rumah mertua.


"Ayo masuk!!." ajak mama Rani ketika Sintia masih berdiri di depan pintu kamar Ratu.


"Iy_iya Tante." Jawab Sintia sungkan.


"Tidak perlu sungkan nak Sintia, anggap saja rumah nak Sintia sendiri!!." tutur mama Rani ketika melihat wajah Sintia yang nampak sungkan.


"Iya Tante." sejujurnya Sintia merasa tidak enak main masuk saja ke kamar Ratu, namun begitu kondisinya saat ini sangat tidak memungkinkan untuk menolak.


"Ini kamar mandinya, silahkan jika nak Sintia ingin membersihkan tubuh!! Untuk pakaian ganti, nak Sintia tidak perlu khawatir, Tante akan menyiapkan pakaian ganti untuk nak Sintia." kata mama Rani seakan tahu apa yang kini ada dipikiran Sintia kini.


"Baik Tante." jawab Sintia sebelum kemudian beranjak menuju kamar mandi, sementara mama Rani melangkah ke arah lemari untuk mengambil pakaian Ratu yang belum pernah terpakai, untuk Sintia.


Setelah meletakkan pakaian ganti di atas tempat tidur, mama Rani lantas meninggalkan kamar Ratu, hendak mengurung Dona di kandang agar tak lagi bisa melarikan diri seperti tadi pagi.


Tiga puluh menit kemudian, Sintia yang merasa tubuhnya kembali segar usai mandi lantas beranjak dari kamar mandi. Sintia yang kini hanya mengenakan selembar handuk berwarna putih untuk menutupi sebagian tubuhnya tampak mengayunkan langkahnya dari arah kamar mandi seraya mengeringkan rambutnya dengan sebuah handuk kecil.


Terlalu fokus dengan kegiatannya sehingga Sintia tidak menyadari keberadaan seseorang di kamar itu.


Namun sesaat kemudian suara deheman seseorang mengalihkan pandangan Sintia ke sumber suara.