
"Selamat pagi, den." sapa asisten rumah tangga ketika melihat Alan yang baru saja keluar dari kamarnya.
"Pagi bi." sahut Alan seraya menutup kembali pintu kamarnya.
"bi, apa tadi ada seseorang yang datang mengantarkan ponsel saya??." tanya Alan. Tadi sebelum memulai kegiatan mandinya, Alan lebih dulu menghubungi Ratu melalui telepon rumah dan meminta adiknya itu untuk mengantarkan ponselnya ke rumah. Berhubung Ratu hendak berangkat kerja maka ia meminta sopir pribadi yang bekerja di kediaman mertuanya untuk mengantarkan ponsel Alan ke rumah orang tuanya.
"Oh iya den ada. tadi bibi mengetuk pintu kamar den Alan tapi sepertinya saat itu Aden sedang berada di kamar mandi, Maka Ponselnya bibi simpan di atas meja rias non Ratu." beritahu bibi dan Alan pun mengangguk paham, sebelum kemudian beranjak menuju kamar adiknya.
Ceklek.
Alan membuka pintu kamar Ratu dan benar saja saat ini ponselnya berada di atas meja Rias. Baru saja Alan hendak melanjutkan langkahnya menuju meja Rias, secara bersamaan pintu kamar mandi di kamar Ratu terbuka dan menampilkan seorang wanita yang baru saja keluar dari arah kamar mandi hanya dengan mengenakan selembar handuk untuk menutupi sebagian tubuhnya.
"Sintia... bagaimana dia bisa ada di kamar Ratu??." lirih Alan dalam hati.
Dengan perasaan tak menentu akhirnya Alan berdehem, berharap Sintia menyadari keberadaannya. Sesuai dengan harapan Alan kini Sintia memandang ke arahnya. Sepertinya gadis itu panik ketika menyadari keberadaan Alan di kamar itu sehingga membuat Handuk yang melekat pada tubuhnya hampir saja melorot dan hal itu sontak membuat Alan berbalik badan membelakangi Sintia.
"Maaf, aku hanya ingin mengambil ponselku." Alan menunjuk ke belakang ke arah meja Rias. "Saya benar benar tidak tahu jika anda sedang berada di kamar ini." lanjut Alan dengan perasaan bersalah.
Sintia yang merasa malu bukan main hanya diam saja tidak berniat merespon ucapan Alan. sampai kemudian Alan keluar begitu saja dari kamar itu.
"Oh astaga.... sangat memalukan sekali." Sintia tampak menutup wajahnya yang sudah merah merona akibat menahan rasa malu dengan kedua telapak tangannya setelah kepergian Alan.
"Bi, bibi...bi Inah" mendengar Alan menyerukan namanya bi Inah lantas beranjak ke sumber suara.
"Iya den, ada yang bisa bibi bantu??." tutur bi Inah yang menyangka Alan membutuhkan bantuannya.
"Kenapa bi Inah tidak bilang kalau saat ini di kamar Ratu ada Dokter Sintia??.". wajah Alan terlihat kesal saat bertanya.
Satu yang tidak di sadari Sintia, ternyata saat ini wajah Alan pun nampak merah akibat malu dengan tindakannya tadi.
"Dokter Sintia??? Ulang bi Inah dengan wajah bingung, karena setahu bi inah sewaktu ia meletakkan ponsel Alan di sana tidak ada siapa siapa di kamar itu.
"Iya... saat ini di kamar Ratu ada dokter Sintia dan dia baru saja selesai mandi dan bibi tahu sendiri kan apa yang dilakukan seseorang setelah habis mandi."
mendengar penjelasan dari Alan yang disertai dengan gurat kesal membuat bi Inah sontak meletakkan telapak tangannya pada mulutnya yang kini tampak terperangah.
"Maaf den, bi Inah juga tidak tahu." sahut bi Inah dengan perasaan bersalahnya.
"Ini ada apa sih ribut ribut, Lan??." tanya Mama Rani yang baru saja muncul dari arah dapur.
"Ini Bu, tadi bibi mengetuk pintu kamar den Alan untuk memberikan ponselnya tapi sepertinya saat itu den Alan sedang berada di kamar mandi, jadi bibi memutuskan meletakkan ponsel den Alan di kamar Non Ratu. Eh pas den Alan ingin mengambil ponselnya, ternyata di kamar Non Ratu ada tamu, Bu." beritahu bi Inah tentang kejadian yang baru saja terjadi.
"Tunggu...!! Jangan bilang kamu masuk ke dalam kamar Ratu dan mendapati nak Sintia...." mama Rani seolah tak kuasa melanjutkan kalimatnya. dengan tatapan curiga wanita itu menatap putranya.
Suara langkah kaki yang beranjak ke arah mereka membuat obrolan mereka terpaksa terhenti. Mama Rani dan BI Inah mengalihkan pandangan ke arah Sintia yang baru saja tiba, sementara Alan segera menarik sebuah kursi di meja makan lalu menjatuhkan bokongnya.
"Nak Sintia." sapa mama Rani yang disertai dengan praduga di dalam hati tentang tindakan putranya.
kini Sintia telah mengenakan pakaian Ratu yang tadi dipinjamkan oleh mama Rani padanya.
"Tante..."
"Mari nak Sintia kita sarapan dulu, kebetulan Tante sudah memasak menu spesial pagi ini!!." ajakan mama Rani membuat Sintia merasa sungkan untuk menolak padahal saat ini rasanya ia sangat malu bila harus berhadapan dengan Alan.
Secara bersamaan papa Sofyan yang baru saja keluar dari kamar lantas bergabung di meja makan. Papa Sofyan yang sebelumnya sudah mengetahui keberadaan Sintia dari sang istri lantas tak lagi banyak bertanya, pria itu hanya mengulas senyum ramah pada Sintia dan dibalas senyuman sungkan dari Sintia.
Di tengah sarapan pagi itu, tidak sengaja kini pandangannya bertemu dengan Alan, Sintia yang masih merasa malu akibat kejadian di kamar Ratu tadi lantas memutus pandangan di Antara mereka dengan cepat.
Beberapa saat kemudian mereka pun selesai sarapan, Sintia yang merasa tak enak berlama lama di rumah itu memilih untuk segera pamit pulang.
"Sebelumnya terimakasih banyak karena nak Sintia sudah membantu Tante untuk menangkap Dona." ungkap mama Rani pada saat Sintia hendak beranjak.
"Harusnya Sintia yang berterima kasih Tante, Karena Tante sudah memperlakukan Sintia dengan baik di rumah Tante." jawab Sintia, sebelum kemudian beranjak keluar dari dalam rumah.
Saat hendak menuju ke arah mobilnya berada, Sintia melintasi Alan yang kini tengah duduk di kursi teras. dari dugaan Sintia sepertinya pria itu tengah menanti seseorang, yang entah siapa Sintia sendiri tidak tahu.
"Maaf.... Saya tidak berniat kurang sopan pada anda, tetapi saya benar benar tidak tahu jika saat itu anda berada di dalam kamar adik saya." ungkapan Alan sontak membuat Sintia menghentikan langkahnya.
Mau tidak mau akhirnya Sintia menoleh untuk memandang lawan bicaranya.
"Tidak perlu minta maaf, lagi pula itu bukan murni kesalahan anda, saya juga bersalah karena tidak mengunci pintu sebelumnya." jawaban dari Sintia akhirnya membuat Alan bisa sedikit bernapas lega saat ini.
Setelahnya, Sintia pun pamit pada Alan, dan kini mobil Sintia pun telah meninggalkan pekarangan rumah orang tua Alan.
Alan tampak menghembus napas bebas ke udara setelah melihat mobil Sintia telah menjauh. Tidak bisa di pungkiri, sebagai pria normal tentunya ada bagian dari tubuhnya yang bereaksi ketika melihat penampilan Sintia seperti tadi.
Alan tampak menarik sudut bibirnya ke samping ketika mengingat kejadian tak terduga itu. Ia sendiri bingung harus menganggap ini kejadian yang tak menguntungkan atau justru sebaliknya.
Untuk mendukung karya ini terus berkembang, jangan lupa like, koment, vote, give, and subscribe ya sayang sayangku....🙏🙏🙏🙏😘😘😘😘😘😘