Trust Me Please.

Trust Me Please.
Jalan bersama.



Pagi harinya, Sintia yang terjaga lebih dulu terlihat menatap wajah Alan yang masih memejamkan matanya. Sintia seakan tak percaya jika saat ini statusnya telah berubah menjadi seorang istri dari pria tampan di hadapannya itu.


Menyadari pergerakan Alan membuat Sintia kembali memejamkan matanya dengan berpura pura tidur, dan hal itu membuat Alan menyunggingkan senyum melihatnya. Bagaimana tidak, Alan yang sebenarnya sudah bangun sejak beberapa saat yang lalu ternyata menyadari jika istrinya itu telah terjaga, namun Sintia kembali berpura pura tidur setelah menyadari pergerakannya.


Pergerakan Alan yang membawa tubuhnya ke dalam dekapannya membuat jantung Sintia seperti hendak lepas dari tempatnya. Apalagi setelahnya, Alan mendaratkan kecupan di keningnya, kecupan yang berdurasi cukup lama.


Merasa kondisi jantungnya semakin tidak bisa di ajak kompromi dengan posisinya saat ini, sintia pun berlagak seolah dirinya baru saja terjaga dari tidurnya.


"Emh.....". Acting Sintia yang berpura pura baru saja bangun dari tidurnya kembali mengundang senyum di sudut bibir Alan.


"Mau kemana??." tanya Alan dengan mata terpejam ketika menyadari pergerakan Sintia hendak menarik diri dari pelukannya.


"Aku mau ke kamar mandi kebelet pipis.". jawab Sintia beralasan.


Alan pun lantas membuka kedua matanya lalu menatap wajah istrinya itu, di tatap intens seperti itu membuat Sintia jadi salah tingkah dibuatnya, Bahkan semburat merah mulai tampak di wajah cantiknya.


Dengan wajah merona Sintia beranjak turun dari tempat tidur menuju kamar mandi.


"Saya bahkan belum melakukan apa apa tapi wajahnya sudah merona seperti itu." gumam Alan dengan senyum tertahan saat menyaksikan tubuh sintia menghilang di balik pintu kamar mandi.


Sembari menunggu Sintia keluar dari kamar, Alan duduk bersandar pada bahu tempat tidur.


Beberapa saat kemudian.


"Oh astaga..... Sintia yang berada di kamar mandi di buat panik sendiri ketika menyadari ternyata ia baru saja kedatangan tamu bulanan." gumam Sintia.


Setelah beberapa saat berpikir akhirnya Sintia memutuskan untuk meminta bantuan pada Alan untuk mengambilkan sesuatu untuknya.


"bang, boleh aku minta tolong ambilkan sesuatu??." ucap sintia yang kini nampak menyembulkan kepalanya keluar dari ambang pintu kamar mandi.


Mendengar istrinya membutuhkan bantuannya, Alan pun beranjak turun dari tempat tidur lalu berjalan mendekat ke arah kamar mandi.


"bang, boleh ambilkan sesuatu yang ada di laci nakas paling bawah!!." pinta Sintia ketika pandangannya bertemu dengan sang suami.


"Kenapa tidak langsung keluar saja??." tanya Alan yang sengaja ingin menggoda Sintia. bahkan kini Alan mencoba untuk masuk ke dalam kamar mandi, namun dengan cepat Sintia mencegahnya dengan kembali merapatkan pintu dan itu membuat Alan menyunggingkan sudut bibirnya ketika melihat tingkah istrinya.


Teringat akan permintaan istrinya, Alan segera melangkah menuju nakas yang berada di samping tempat tidur, sesuai dengan petunjuk dari Sintia, Alan membuka laci nakas paling bawah. Dan betapa terkejutnya Alan saat menyadari benda apa yang ternyata tengah di butuhkan istrinya saat ini.


"Pembalut??." gumam Alan sebelum kemudian memandang ke arah kamar mandi, dimana kini sintia kembali menyembulkan kepalanya keluar.


Dengan langkah lemas Alan berjalan untuk mengantarkan benda menyebalkan itu untuk sang istri.


"Apa benda ini yang kamu butuhkan??." tanya Alan memastikan, ketika ia berada dekat dengan Sintia. Anggukan kepala dari Sintia semakin membuat wajah Alan nampak semakin terlihat lesu.


"Thank you, bang."


"Hemt." sahut Alan tak bersemangat, sebelum kemudian kembali beranjak ke sofa.


"Sepertinya alam sedang tak berpihak kepadaku." gumam Alan saat ia duduk bersandar di sofa.


Tak berselang lama, Sintia pun keluar dari kamar mandi dengan mengenakan bathing suit untuk menutupi tubuhnya.


"Maaf sudah membuat bang Alan kecewa." kata sintia dengan wajah tertunduk ketika ia berdiri di hadapan Alan.


Alan tersenyum mendengarnya. pria itu beranjak dari duduknya, lalu mengusap lembut puncak kepala istrinya.


"Saya memang sedikit lesu mendengarnya, tapi tidak sampai membuatku kecewa padamu, bagaimana pun itu sudah menjadi kodrat kamu sebagai seorang wanita. Apa jika sedang datang Bu seperti ini perut kamu sakit??." tanya Alan, karena setahunya Ratu pasti akan mengeluhkan perutnya yang sakit ketika Tengah kedatangan tamu bulanan.


"Biasanya begitu, tapi masih dalam batas wajar kok." jawaban Sintia membuat Alan menghela napas lega mendengarnya.


Setelahnya, Alan pun beranjak ke kamar mandi.


Telah berstatus istri dari seseorang membuat Sintia harus minta izin terlebih dahulu ketika ia hendak keluar rumah.


Melihat Alan yang baru saja keluar dari kamar mandi, Sintia lantas meminta izin pada pria itu. Sintia hendak membeli sesuatu ke supermarket yang jaraknya lumayan jauh dari rumahnya.


Sebagai suami tentunya Alan mengizinkan Sintia pergi namun bersama dengannya. Sintia tidak keberatan.


Selesai bersiap, kini sepasang pengantin baru tersebut beranjak meninggalkan rumah Hendak menuju ke lokasi supermarket berada.


Mobil Alan kini telah merayap menyusuri jalanan yang tak begitu ramai dengan pekerja yang hendak menuju tempat kerja, sebab hari ini hari Minggu, mayoritas pekerja yang biasa berlalu lalang dengan kendaraannya masing masing justru menghabiskan waktu di rumah bersama dengan keluarga.


karena jalanan tak begitu ramai dalam waktu tiga puluh menit kini mobil Alan telah tiba di kawasan supermarket.


Alan turun dari mobil kemudian berjalan mengitari mobilnya untuk membukakan pintu mobil untuk sang istri.


Sintia yang baru saja turun dari mobil lantas berjalan memasuki pintu masuk supermarket, sementara Alan lebih dulu mematikan mobilnya telah terkunci sebelum kemudian menyusul langkah Sintia.


Sintia berjalan menyusuri rak yang menyediakan perlengkapan khusus wanita, sementara Alan masih setia berjalan di sisi sang istri.


Setelah mendapat semua yang dibutuhkan Sintia pun melangkah menuju meja kasir.


Alan yang berada di sisi Sintia lantas mengeluarkan sebuah black card dari dompetnya kemudian menyerahkannya pada petugas kasir.


"Ini mbak." ucap Alan seraya menyerahkan black card miliknya pada petugas kasir supermarket.


"Baik terima kasih, tuan."


Tangan Sintia yang kini tengah memegang ATM miliknya tertahan begitu saja di udara ketika black card milik Alan lebih dulu berada di genggaman petugas kasir.


"Kamu sekarang sudah menjadi istriku, sudah menjadi kewajibanku sebagai seorang suami untuk memenuhi kebutuhan istriku." kata Alan seolah menjawab pertanyaan Sintia yang terpancar dari sorot matanya.


Setelah berucap demikian, Alan pun mengeluarkan cart lainnya dari dompetnya lalu menyerahkan cart tersebut pada Sintia.


"Ini buat kamu, gunakan untuk memenuhi semua kebutuhanmu dan mulai sekarang jangan lagi menggunakan uangmu sendiri untuk memenuhi kebutuhanmu!!." tutur Alan


"saya tahu kamu wanita yang mandiri, akan tetapi sekarang kamu sudah menjadi istri saya, otomatis tanggung jawab atas kamu seratus persen adalah kewajiban saya untuk memenuhinya." lanjut Alan.


Sikap Alan membuat petugas Kasir supermarket merasa iri pada sosok wanita di hadapannya itu, yang terlihat begitu di sayangi oleh suaminya.


"Terima kasih, bang." tidak ingin membuat suaminya sampai tersinggung, tak ada drama penolakan dari sintia, ia menerima pemberian suaminya.