Trust Me Please.

Trust Me Please.
Menemui pemilik Rumah.



Kini mobil Ratu tiba di kawasan perumahan tempat tinggalnya.


"Sore ini jadikan, kita menemui pemilik rumah sebelah??." tanya Rahma memastikan.


"Jadi dong." jawab Ratu yang tengah sibuk membuka sit bel yang masih melekat pada tubuhnya, sebelum kemudian menyusul langkah Rahma turun dari mobil.


Kebetulan ada satu unit rumah yang tepat bersebelahan dengan rumahnya Ratu akan di kontrakan oleh pemiliknya, yang akan ke luar negeri sampai dengan setahun ke depan.


Ratu merogoh tasnya untuk mengambil kunci rumahnya.


Kini keduanya telah masuk ke dalam setelah Ratu membuka pintu rumah.


"Haaahhhh.... lelahnya." keluh Ratu akan padatnya aktivitasnya hari ini.


"Jelas lelah dong, namanya juga kerja." ujar Rahma saat mendengar keluhan Ratu.


"Iya juga sih heeheeeeheee..." jawab Ratu yang kemudian nyengir kuda.


Selain lelah, Ratu juga merasa perutnya ingin di isi. Karena kesibukannya, Ratu sampai melewatkan makan siangnya padahal sekarang waktu telah menunjukkan hampir pukul tiga sore.


Di saat genting seperti ini memasak Mie instan adalah jalan yang paling tepat yang biasanya di lakukan Ratu.


"Ra, apa aku juga mau aku masakan mie instan??." Ratu yang tengah membuka pintu kulkas memutar lehernya ke arah Rahma.


"Tidak usah, aku masih kenyang." jawab Rahma yang tengah duduk di sofa ruang tengah. karena posisi keduanya lumayan berjarak baik Rahma maupun Ratu sedikit menaikkan intonasi suaranya agar terdengar.


"Sepertinya mie instan saja tidak akan cukup mengisi perutku." setelah menimbang nimbang akhirnya Ratu memutuskan untuk menggoreng telur ceplok sebagai pelengkap mie instan.


Sepuluh menit kemudian semangkok mie instan serta telor ceplok buatan Ratu telah tersaji di atas meja makan.


"Kamu masak apaan sih, aromanya sangat tidak enak sekali??.". Pertanyaan Rahma yang baru saja menghampiri meja makan, membuat dahi Ratu berkerut bingung.


"Tidak enak bagaimana??." tanya Ratu dengan wajah bingung.


"Aromanya tidak enak, aku tidak menyukainya." semakin menganga mulut Ratu mendengar jawaban Rahma.


"Tidak salah Ra?? Bukannya mie instan dengan merk Xxx adalah mie instan kesukaan kamu?? saat SMA kamu bahkan sering memakannya." ujar Ratu seolah mengingatkan Rahma akan kejadian yang sering terjadi saat mereka masih duduk di bangku SMA dulu.


"Masa iya sih??." wajah Rahma masih menunjukkan gurat tak percaya. karena menurutnya aromanya sangat jauh berbeda dengan yang dulu.


Demi meyakinkan sahabatnya itu, Ratu sampai bela belain mengambil bekas bungkusan mie instan untuk di tunjukkan kepada Rahma sebagai pembuktian.


"Nih kalau tidak percaya." Ratu menunjukkan bekas bungkusan mie instan tadi kepada Rahma.


"Iya yah...kok bisa ya sekarang aromanya jadi tidak enak begitu." jawab Rahma yang masih yakin dengan indera penciumannya.


"Terserah hidung kamu saja deh Ra, sekarang aku mau makan perutku sudah lapar sekali rasanya." ucap Ratu, yang tidak mau peduli lagi dengan komentar Rahma.


Sedangkan Rahma memilih segera beranjak ke kamar saat melihat pergerakan tangan Ratu yang akan menyuapkan sesendok mie ke dalam mulutnya.


Dua puluh menit kemudian mie instan di hadapan Ratu pun tandas.


"Alhamdulillah ya Allah.... atas nikmat yang telah engkau berikan." setelah suapan terakhir serta meminum segelas air hingga tersisa setengahnya, Ratu pun mengucap syukur pada Tuhannya.


Melihat jarum jam yang melingkar di pergelangan tangannya telah menunjukkan pukul tiga lewat dua puluh, Ratu kemudian beranjak untuk mencuci mangkuk bekas makannya, kemudian setelahnya ia menuju ke kamarnya berada.


"Ra, siap siap Gih, jam empat kita kan mau ketemu sama pemilik rumah sebelah!!." seru Ratu saat melintas di depan kamar Rahma yang tidak tertutup dengan sempurna.


"Ok siap." Terdengar jawaban Rahma dari dalam kamar.


*


"Kamu yakin ini rumahnya??." tanya Rahma saat Ratu menepikan mobilnya di depan sebuah rumah mewah.


"Iya aku yakin." jawab Ratu sebelum kemudian turun dari mobilnya dan di ikuti oleh Rahma di belakang langkahnya.


Setelah beberapa kali mengucap salam dan menekan bel akhirnya ada seorang anak berusia sekitar sepuluh tahunan keluar dari rumah tersebut.


"Maaf dek apa bapak atau ibunya ada??." tanya Ratu dengan senyum yang di buat semanis mungkin.


Bukannya menjawab bocah itu justru memperhatikan penampilan Ratu dan Rahma dari ujung kaki hingga ujung rambut.


"Memangnya ada urusan apa Tante berdua ini mencari papa sama mama saya??." bukannya menjawab bocah itu justru balik bertanya sehingga membuat kesabaran Ratu yang setipis tisu tersebut hampir saja meledak, kalau saja Rahma tidak mencubit pelan lengannya seolah mengisyaratkan sesuatu.


"Namanya juga bocah, tidak perlu di ambil hati!!!." ucap Rahma dengan nada lirih.


"Kayaknya nih bocah ingin di Sen_." ucapan Ratu ke Rahma melayang begitu saja ketika menyadari kedatangan seorang wanita dari dalam rumah.


"Oh astaga...kenapa tidak bilang ke mama sih boy kalau ada tamu." ucap wanita muda yang merupakan pemilik rumah sekaligus ibu dari bocah menyebalkan itu.


"Maafkan anak saya ya mbak, boy memang suka begitu kalau ketemu orang baru." lanjut wanita itu sebelum mempersilahkan keduanya masuk.


"Iya nggak papa kok mbak." jawab Rahma sedangkan Ratu hanya diam dengan bibir mengerucut kala teringat akan bocah menyebalkan tadi.


"Saya memang berniat menyewakan rumah saya yang di sana, karena rencananya saya dan suami akan tinggal di luar negeri sampai dengan setahun ke depan." wanita muda itu menjawab pertanyaan Rahma tentang rumah yang bersebelahan dengan rumahnya Ratu.


Setelah mencapai kesepakatan bersama akhirnya wanita itu menyerahkan kunci rumah di maksud kepada Rahma.


"Terima kasih sebelumnya mbak." ucap Rahma setelah menerima kunci rumah dan ibu muda tersebut menanggapinya dengan sebuah senyuman serta anggukan kecil.


Mengingat hari semakin sore, Rahma dan Ratu pun pamit pulang.


"Kelihatannya kamu gemas sekali sama bocah tadi." seloroh Rahma seraya menahan senyumnya.


"Gemas jidatmu, geram sih iya." jawab Ratu dengan wajah sebal.


"Jangan kayak gitu ah.... namanya juga bocah." akhirnya Rahma pun tak bisa lagi menahan senyumnya melihat Wajah Ratu berubah bete.


***


"Ko, papa tahu kamu ingin yang terbaik untuk perusahaan, tapi papa juga tidak ingin kamu sampai sakit karena terus bekerja tanpa mengenal waktu seperti ini."


papa Abraham terus memperhatikan sikap putranya yang semakin gila kerja setelah kepergian menantunya tersebut akhirnya melayangkan protes pada Riko.


Pria itu tahu betul jika saat ini putranya itu sengaja menyibukkan diri dengan bekerja hingga larut malam untuk mengalihkan pikirannya dari sosok sang istri.


"Nanti juga Riko istirahat kok pah, setelah selesai memeriksa berkas untuk proyek bulan depan." jawab Riko apa adanya.


Papa Abraham hanya bisa menghela napas mendengarnya. "Baiklah, kalau begitu papa pulang dulu, mama kamu pasti sudah menunggu papah. Dan jangan lupa malam ini kita akan ke rumah Oma !!!" ucap papa Abraham, di akhir kalimatnya pria itu mengingatkan putranya akan rencana makan malam di rumah Om nya.


"Baik pah."


Papa Abraham segera beranjak setelah Riko menyalaminya.


"Papa harap masih ada keajaiban yang bisa menyatukan kalian lagi." batin Papa Abraham saat berjalan menuju lift berada.