
Tiga puluh menit kemudian Alan yang ditemani Razak tiba di restoran miliknya. Razak yang tidak tahu menahu tujuan Alan datang ke restoran mewah itu mengira Alan akan makan siang di sana, namun ketika menyadari kedatangan mereka di sambut oleh manager resto pada akhirnya Razak mengerti jika kedatangan mereka ke restoran tersebut bukan hanya sekedar makan siang semata.
Dengan langkah lebarnya Alan beranjak menuju ruang VIP restoran untuk menemui tamunya yang telah menanti sejak beberapa saat yang lalu. Razak yang setia mendampingi Alan lantas mengikuti langkah Alan di belakang langkah Alan.
Manager resto mempersilahkan Alan dan Razak untuk segera memasuki ruang VIP.
"Selamat siang." ucap Alan.
Alan cukup terkejut dengan tamunya yang ternyata adalah Mr Ahong, warga negara asing yang juga bekerja sama dengan perusahaan tempatnya bekerja.
"Selamat siang." tak berbeda jauh dengan Alan, Mr ahong pun terkejut karena ternyata pemilik restoran mewah sekaligus pebisnis muda yang ingin sekali ditemuinya ternyata adalah Alan putra Sofyan, CEO dari perusahaan Mardin group.
"Saya tidak menyangka jika pemilik restoran ini adalah anda, tuan Alan." kata Mr Ahong dengan bahasa internasional. Dari tatapannya nampak jelas pria itu kagum pada sosok pria muda di hadapannya itu.
"Tidak berbeda dengan anda, saya juga tidak menyangka jika tamu saya hari ini adalah anda, Mr Ahong." Alan lantas mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Mr Ahong.
"Jadi pemilik restoran mewah ini adalah tuan Alan." batin Razak, ia sungguh tidak menyangka jika Alan merupakan pemilik restoran mewah yang akhir akhir ini menjadi perbincangan di kalangan pebisnis muda.
"Silahkan duduk!!." setelahnya Alan pun mempersilahkan Mr Ahong untuk kembali menempati kursinya.
Kini pandangan Alan beralih pada Razak yang tampak masih berdiri di sisinya.
"Duduklah!! Saat ini kau bukan sebagai asisten pribadiku, tapi sebagai temanku. Jadi bergabunglah bersama kami!!." tutur Alan pada Razak.
Razak pun mengangguk, kemudian menarik sebuah kursi yang berada di sisi kiri Alan lalu menjatuhkan bokongnya di sana.
"Bagaimana mungkin anda masih bekerja di perusahaan milik orang lain sementara saat ini nama anda tengah melambung tinggi di kalangan pebisnis??." pertanyaan yang sejak tadi bersarang di kepala Mr Ahong akhirnya dilontarkan pria itu pada Alan.
Alan tersenyum mendengarnya.
"Karena satu dan lain hal yang tidak bisa saya ceritakan, yang menyebabkan saya masih bekerja di perusahaan Mardin group Hingga saat ini." jawaban Alan membuat Mr Ahong mengangguk paham.
Sementara Razak yang kini berada di tengah tengah Alan dan Mr ahong hanya tampak diam sembari mencerna setiap kata dari percakapan keduanya. Razak tidak menduga pria dihadapannya saat ini adalah pria sukses. Dari apa yang dilihat Razak, meski tak bekerja di perusahaan Mardin group, kekayaan yang dimiliki Alan tidak bisa di remehkan. Apalagi setahu Razak restoran yang mereka datangi hari ini memiliki cabang hampir di seluruh tanah air.
"Apa anda tidak berniat membuka restoran di negara asal saya, tuan Alan??." tanya Mr Ahong pada Alan.
"Jika anda berniat membuka restoran di negara saya, saya siap bekerja sama dengan anda." lanjutnya.
"Untuk saat ini saya belum kepikiran sampai di sana, Mr, tetapi akan saya memikirkannya lagi nanti." jawab Alan yang disertai dengan senyum tipis, tuan Ahong lantas mengangguk paham.
Cukup lama Alan dan Mr Ahong terlibat percakapan, sampai dengan pukul dua belas siang mereka pun makan siang bersama. setelah selesai makan siang Alan pamit untuk segera kembali ke perusahaan mengingat masih banyak pekerjaan yang harus segera ia selesaikan.
***
"Saya tidak menyangka ternyata sepak terjang anda di dunia bisnis sesukses ini, tuan Alan." kata Razak yang kini tengah mengemudikan mobil kembali ke perusahaan.
Alan hanya tersenyum mendengarnya.
"Tidak mudah berada di posisiku saat ini. bahkan untuk berada di posisi sekarang saya harus mengorbankan banyak hal termasuk tidak memiliki waktu untuk mencari pasangan. itulah mengapa di usia saya yang sudah memasuki dua puluh delapan tahun saya sama sekali belum pernah menjalin hubungan dengan seorang wanita." Razak dibuat tertegun mendengar cerita Alan.
Satu poin yang dapat di ambil Razak dari cerita Alan, tidak ada kesuksesan yang dapat di raih dengan cara instan jika kita ingin terus mempertahankan kesuksesan tersebut.
"Saya salut pada anda, tuan, ke depannya saya doakan anda segera mendapatkan pasangan hidup seperti yang anda idamkan." dari lubuk hati terdalam Razak berujar.
"Terima kasih." sahut Alan.
***
Sekembalinya di perusahaan Alan kembali di sibukkan dengan urusan pekerjaan.
Hampir seharian Alan di sibukkan dengan urusan pekerjaan di perusahaan, sampai tiba pukul lima sore Alan pun tampak bersiap untuk pulang.
"Bang...." baru saja tiba di rumah, suara cempreng Ratu sudah menyambut kedatangan Alan.
Alan menyapu pandangan untuk mencari keberadaan adik iparnya, Toni.
"Kemana suami kamu??." tanya Alan ketika tak kunjung melihat keberadaan Toni.
"Kak Toni tidak ada di sini." dengan wajah ketusnya Ratu menjawab.
Dari wajah adiknya, Alan bisa menyimpulkan telah terjadi sesuatu Antara adiknya itu dan Toni. Entah apa itu, Alan sendiri tidak tahu pasti.
Kedua alis Alan tampak saling bertaut melihat Ratu yang melengos pergi begitu saja meninggalkan dirinya. Alan tampak menggelengkan kepalanya melihat sikap Ratu yang menurutnya sangat aneh, sebelum kemudian ia pun beranjak menuju kamarnya di lantai atas.
Baru saja Alan hendak menapaki anak tangga, kedatangan Toni di rumah orang tuanya membuat Alan menghentikan langkahnya lalu menyambut kedatangan Toni.
"Saya kesini untuk menjemput istri saya, bang." kata Toni pada Alan.
"Aku tidak mau pulang." baru saja Alan hendak bersuara, namun penolakan Ratu yang baru saja tiba di ruang tengah membuat Alan menghela napas dalam mendengarnya.
"Pokoknya Ratu tidak mau pulang sama kak Toni, sebaiknya sekarang kak Toni pulang saja sendiri!!." lanjut kata Ratu, sebelum kemudian berlalu menuju kamarnya berada.
Alan nampak menghembus napas bebas ke udara ketika melihat Ratu yang menurutnya semakin aneh. Bagaimana tidak, baru kali ini ia melihat adiknya itu berbicara seperti itu pada suaminya.
Perhatian Alan kembali pada Toni.
"Kalian bertengkar??." tanya Alan tanpa berniat menghakimi Toni karena menurutnya wajar saja jika terjadi pertengkaran kecil di dalam sebuah rumah tangga.
Toni menggeleng Sebagai jawaban.
"Saya juga tidak mengerti, tiba tiba saja Ratu marah dan minta di pulangkan ke rumah mama dan papa." jawaban Toni membuat Alan memijat kepalanya yang tiba tiba terasa berdenyut akibat sikap adiknya itu.
Di tengah percakapan Alan dan Toni di ruang tengah tiba tiba kedatangan Bi Inah menghebohkan suasana.
"Den ..den....den Alan.... Non Ratu muntah muntah di kamarnya.". Toni yang mendengar penyampaian bi Inah lantas segera beranjak menuju kamar istrinya, begitu pun dengan Alan yang segera menyusul langkah Toni.
"Sayang kamu kenapa??? wajah kamu pucat sekali." Toni begitu panik ketika mendapati istrinya yang tengah terduduk lemas di lantai kamar mandi. Toni segera menggendong tubuh Ratu keluar dari kamar mandi dan merebahkan tubuh Ratu di atas tempat tidur.
"Kak, kenapa aroma tubuh kamu nggak enak banget sih?? Kamu pasti belum mandi iya kan ??." ungkap Ratu dengan suara yang terdengar lemah.
Kedua alis Toni sontak mengeryit, dengan mulutnya yang tampak sedikit terbuka. Seolah Tak percaya dengan apa yang di katakan istrinya saat ini. bagaimana tidak, ia baru saja mandi bahkan ia memakai parfum yang biasanya ia gunakan lalu bagaimana bisa Ratu mengatakan jika aroma tubuhnya tidak enak.
Mendengar keluhan Ratu, Alan lantas keluar dari kamar Ratu. namun sebelumnya ia memberi kode pada Toni untuk segera menyusul dirinya.
"Sepertinya ada yang tidak beres dengan istri kamu." kata Alan ketika Toni telah berada di hadapannya.
Toni masih diam, mencoba mencerna setiap kata yang baru saja di lontarkan Alan.
Seketika Toni berlalu begitu saja ketika ia teringat akan sesuatu. "Saya akan segera kembali." kata Toni sebelum kemudian berjalan dengan sedikit terburu buru meninggalkan rumah mertuanya.