
"Jika sudah mengetahuinya perjodohan ini lalu mengapa tidak menolak saja sejak awal??." pertanyaan Ratu yang menurutnya konyol membuat Toni tersenyum mendengarnya.
"Jika kedua orang tuaku mau merespon mana mungkin sore itu aku sampai mencari seseorang untuk berpura pura menjadi kekasihku." jawab Toni apa adanya.
Ratu kembali menghela napas panjang mendengarnya "Jika sudah seperti ini apa yang harus kita lakukan???." Ratu berharap Toni bisa mencari jalan keluar atas permasalahan yang mereka hadapi saat ini.
"Sepertinya kita tidak punya jalan keluar lain selain menerimanya dengan ikhlas." jawaban Toni tidak sesuai dengan harapan Ratu.
"Menikah tanpa cinta??."
"Mau bagaimana lagi??." jawab Toni yang sudah kehabisan akal untuk menolak permintaan kedua orang tuanya.
Ratu tersenyum miris mendengarnya. "Menikah tanpa cinta, perjanjian pernikahan bahkan kontrak pernikahan??? Apa pernikahan seperti itu yang akan kita jalani ke depannya nanti??.". Bahkan suatu pandangan akan pernikahan yang akan mereka jalani ke depannya kini telah terlintas di pikiran Ratu.
"This is real life, so jangan berpikir yang tidak-tidak. Aku tidak ingin ada perjanjian pernikahan atau semacamnya di dalam pernikahan kita nanti karena pernikahan kita bukanlah sebuah drama ataupun novel." penuturan Toni sontak membuat Ratu menoleh pada pria itu.
"Jalani saja seperti air yang mengalir!!!." lanjut ujar Riko.
"Tapi aku tidak ingin menikah dengan pria yang tidak mencintaiku." jawaban Ratu terdengar datar namun tersirat ketegasan di setiap kata-katanya dan hal itu sontak membuat Toni menghentikan laju mobilnya secara mendadak.
"Arrrggghhh." kalau saja tangan kiri Toni tidak sigap menahannya mungkin saat ini jidat Ratu telah mengenai kaca depan mobil akibat Tindakan Toni yang menginjak pedal rem secara mendadak.
"Apa kak Toni mau kita mati??." omel Ratu saking kesalnya.
"Apa saat ini kau mencintai seseorang???." tanpa peduli dengan Omelan Ratu, masih dengan posisi menatap lurus ke depan Toni bertanya dengan nada yang kembali datar sehingga membuat Ratu hanya terdiam dibuatnya.
"Apa saat ini kamu mencintai seseorang??." masih dengan posisi yang sama Toni kembali mengulang pertanyaannya ketika melihat Ratu masih saja diam.
"Jawab!!." titah Toni dengan nada datar namun penuh penekanan.
"Kak Toni benar, saat ini aku memang mencintai seseorang." jawaban Ratu membuat Toni menoleh padanya kemudian mengulas senyum, sebuah senyum yang Sirat akan makna.
"Jadi, benar saat ini kamu sudah memiliki seorang kekasih??." melihat Ratu hanya diam saja membuat Toni menarik kesimpulan jika saat ini gadis itu tengah menjalin hubungan dengan seorang pria.
"Mulai saat ini jangan pernah menemui dan mencintai kekasihmu itu lagi !!! malam ini aku akan mengajak kedua orang tuaku untuk segera meminangmu kepada kedua orang tuamu dan itu artinya mulai malam ini kamu akan resmi menjadi calon istriku!!." kedua bola mata Ratu melebar dengan sempurna mendengarnya.
"Egois sekali, di saat mencintai wanita lain kak Toni justru bersedia menikah denganku." tutur Ratu dengan suara lirih namun masih terdengar jelas di telinga Toni. Bukannya cemburu apalagi sampai benci kepada Rahma, namun Ratu merasa sikap Toni saat ini sangat egois memperlakukan dirinya.
"Apa kamu mengatakan sesuatu??.". Tanyanya.
"Tidak ada." dusta Ratu seraya memalingkan wajahnya ke samping.
Setelahnya tak lagi pembicaraan di antara keduanya hingga kini mobil Toni berhenti di depan rumah Ratu.
"Terima kasih." ucap Ratu sebelum turun dari mobil Toni.
"Hemt."
Setelah memastikan Ratu masuk ke dalam rumahnya, Toni pun segera beranjak pergi.
Tanpa di sadari Ratu dan juga Toni ada sepasang mata yang menyaksikan keduanya dari balkon kamar.
"Bukankah itu mobil Dr Toni, kenapa Ratu turun dari mobil Dr Toni??? Apa teman yang di maksud Ratu tadi adalah Dr Toni??." gumam Rahma ketika tidak sengaja melihat sahabatnya itu turun dari mobil Toni.
Bukannya tidak suka apalagi sampai cemburu, Rahma hanya mencemaskan sahabatnya itu.
"Ada apa sayang??.". Riko yang baru saja selesai meeting bersama Kumala dan juga Timnya menghampiri Rahma di balkon kamar kemudian memeluk tubuh istrinya tersebut dari belakang.
Rahma yang sudah mulai membiasakan diri dengan perlakuan Riko padanya pun membiarkan saja pria itu memeluknya.
Riko membalikkan tubuh Rahma menghadap padanya, di tatapnya wajah cantik Istrinya itu lalu berkata. "Kenapa, kamu cemburu melihatnya??." tanya Riko ingin mendengar langsung jawaban dari mulut Istrinya, meskipun dari sorot mata Rahma tak terlihat sedikitpun rasa kesal apalagi cemburu.
"Kamu ngomong apa sih mas, mana mungkin aku cemburu melihatnya jika aku memiliki rasa lebih pada dokter Toni pasti aku sudah menerima cintanya sejak lama dan tidak mau kembali sama kamu." Rahma yang tidak terima dengan tudingan Riko itu pun menjelaskan, sehingga membuat Riko menarik sudut bibirnya ke samping hingga menciptakan sebuah senyum tipis di bibirnya.
"Jangan ngambek dong sayang, lagian mas hanya bercanda." ucap Riko seraya mengelus lembut pipi Rahma dengan ibu jarinya.
Kini pandangan Riko di penuhi dengan wajah cantik Istrinya yang saat ini memasang wajah sebal padanya.
"Nggak lucu ah mas" wajah Rahma yang terlihat di tekuk justru terlihat menggemaskan di mata Riko.
"Haaaahhhhhhh." Riko menghela napas panjang lalu membawa tubuh Rahma ke dalam pelukannya.
"Mas jadi nggak kuat melihat wajah kamu yang begitu menggemaskan, sayang." ucap Riko di saat menikmati pelukannya.
"Argggtt sakit, sayang." Rahma yang paham betul kemana arah dan maksud ucapan suaminya itu memberi cubitan kecil di pinggang Riko.
"Siapa suruh Genit." sembur Rahma dan Riko hanya menanggapinya dengan senyuman manis.
"Memangnya nggak boleh apa genit sama istri sendiri??."
"Nggak boleh, nggak ingat apa kalau istrinya lagi hamil." cetus Rahma dan Riko pun hanya menghembus napas bebas ke udara.
"Baby, apa di dalam sana kamu tidak rindu pada Daddy ?? lagi pula semenjak kamu hadir di perut mommy, Daddy belum sekalipun menjenguk kamu nak." Rahma terlihat menahan tawanya saat mendengar Riko seolah tengah mengajak calon anak mereka mengobrol.
Riko yang kini memposisikan diri merunduk saat mengajak calon buah hati mereka mengobrol sontak mengangkat pandangannya saat merasakan tangan Rahma mulai mengelus lembut rambutnya.
Cup.
Bukan Riko, melainkan Rahma yang kini mengecup lembut bibir suaminya.
"Lakukanlah Jika mas menginginkannya, lagi pula kata dokter kondisi kandunganku baik baik saja. !!!." tutur Rahma dengan suara yang terdengar begitu lembut di indera pendengaran Riko.
Mendapatkan lampu hijau dari sang istri membuat Riko tidak menyia nyiakan waktu dan kesempatan.
Bibir mungil Rahma yang berwarna merah jambu alami seolah memanggil ingin dini_kmati.
Cup.
Berawal dari sebuah kecupan yang berubah menjadi ciuman yang begitu memabukkan kini di rasakan sepasang suami istri tersebut.
"Mas, jangan di sini nggak enak kalau di lihat orang." dengan malu malu Rahma berujar ketika ciuman kedua terlepas.
Tanpa aba aba Riko segera menggendong tubuh Rahma ala bridal style menuju kamar.
Thank you for reading.....🙏🙏🙏🙏 jangan lupa beri ulasan ya sayang sayangku !!! 😍😍😍😍
Jangan lupa mampir juga ke karya recehku yang lainnya....
-MENIKAH DI USIA REMAJA.
-TERPAKSA MENIKAH DENGAN KEKASIH SAHABATKU.
-AKHIRNYA AKU MENYERAH.
-SEMUA BUKAN INGINKU.