Trust Me Please.

Trust Me Please.
Maukah engkau menjadi temanku??



Dua Minggu berlalu, Rahma yang di antarkan oleh sang suami kembali mendatangi rumah sakit guna memeriksakan kondisi kesehatannya.


Namun kali ini bukan hanya Sintia yang memeriksa kondisi kesehatan Rahma melainkan Beberapa orang dokter yang tergabung dalam satu Tim, satu orang di antaranya adalah dokter bedah yang telah memberikan tindakan operasi pada Rahma, yang baru kembali beberapa hari yang lalu usai perjalanan dinas keluar kota.


Rahma yang sejak tadi terus memperhatikan sikap Sintia, entah mengapa merasa ada yang sedikit berbeda dengan gadis itu. dari penglihatan Rahma sepertinya Sintia sedang tidak baik baik saja.


Kebetulan hari ini nomor antrian Rahma adalah nomor antrian terakhir dan itu hampir bertepatan dengan waktu makan siang. Rahma lantas berinisiatif mengajak Sintia untuk makan siang bersama dengan alasan sebagai ucapan terima kasih. Awalnya Sintia menolak dengan alasan belum merasa lapar, namun pada akhirnya Sintia pun mengiyakan karena Rahma terus melancarkan aksinya untuk membujuk Sintia.


Di sebuah restoran yang letaknya tak jauh dari rumah sakit, kini Rahma dan Sintia tampak menunggu pesanan mereka. Rahma sengaja memilih restoran terdekat untuk mempersingkat waktu. sebelumnya Rahma telah meminta izin pada Riko untuk pergi berdua saja dengan Sintia dan tentunya Riko tidak mempermasalahkannya.


Sembari menunggu pesanan datang, Rahma tampak berujar.


"Setiap kali datang ke restoran ini aku jadi rindu pada bunda." tutur Rahma apa adanya, mengingat restoran tersebut merupakan restoran favorit bunda Ening selama berada di kota itu.


Berbeda dengan Rahma yang kini mengulas senyum di wajahnya, raut wajah Sintia Justru berubah sendu. Tanpa di ketahui Rahma, restoran itu juga merupakan restoran favorit ibunya. Dulu, Sintia dan ibunya seringkali makan di restoran itu jika ibunya mendatangi dirinya di rumah sakit di saat jam makan siang.


Senyum di wajah Rahma perlahan surut ketika melihat perubahan di wajah Sintia.


"Maaf, jika ada kata kataku yang kurang berkenan." tutur Rahma merasa tidak enak, walaupun sebenarnya ia sendiri tidak mengerti mengapa tiba tiba raut wajah Sintia berubah sendu.


"Aku pun begitu, setiap kali datang ke sini aku pasti akan teringat akan almarhumah mama." ungkap Sintia dengan mata yang mulai bergenang.


Deg.


Rahma yang sebelumnya tidak mengetahui jika ternyata ibunya Sintia telah tiada lantas merasa terkejut sekaligus merasa tidak enak dengan kalimatnya tadi.


Sintia tampak mengulum senyum, dan terlihat dengan jelas oleh Rahma jika dibalik senyuman Sintia begitu banyak menyimpan kesedihan.


Merasa bersalah karena secara tidak langsung telah membuat Sintia bersedih, Rahma lantas mengusap lengan Sintia yang berada di atas meja.


"Maafkan aku !! Sungguh, aku tidak tahu jika mama kamu telah tiada." tuturnya merasa tidak enak.


"Tidak perlu merasa tidak enak!!." tutur Sintia. Ia tahu betul jika saat ini Rahma pasti merasa tidak enak padanya.


Sintia tampak menghela napas.


"Mama meninggal dunia lima tahun yang lalu dan sejak itu aku merasa duniaku seakan berhenti. belum selesai derita setelah kepergian mama untuk selamanya, dua tahun kemudian papa menikah lagi dan meninggalkan aku bersama dengan kakek." entah apa yang saat ini di rasakan Sintia sehingga ia seakan merasa nyaman dan tanpa sadar menceritakan tentang keluarganya pada Rahma.


Sejenak Sintia menjedah ceritanya, sebelum kemudian kembali melanjutkannya.


"Tiga tahun tidak bertemu dengan papa membuatku rindu sekaligus terluka jika mengingat papa yang tega meninggalkan aku." Sintia tersenyum miris ketika mengingat saat saat di mana ia memohon pada ayahnya agar tetap berada di sisinya setelah kematian ibunya, tapi sayangnya pria yang merupakan cinta pertamanya itu lebih memilih Pergi bersama istri barunya.


"Setelah lama tidak bertemu, kini papa kembali dan menginginkan aku untuk segera menikah." Sintia kembali tersenyum miris, seolah tengah menertawakan takdirnya.


Deg.


Rahma yang sejak tadi mendengar cerita Sintia tanpa berniat menyela, ikut merasakan sesak setelah mendengar cerita Sintia. ia tidak menyangka dibalik senyum yang ditampilkan Sintia selama ini ternyata banyak menyimpan luka.


"Bagaimana aku bisa menikah jika sampai saat ini aku tidak memiliki kekasih, bagaimana aku bisa memiliki seorang kekasih jika setiap saat aku sibuk menyembuhkan luka yang ditorehkan papa di hatiku." tanpa sadar buliran bening lolos begitu saja di sudut mata indah Sintia.


"Maaf, aku sudah terlalu banyak bercerita tentang kehidupan keluargaku." tutur Sintia setelah menyadari jika kini dirinya telah menceritakan kenyataan yang sebelumnya tidak pernah diceritakannya pada siapapun.


"Tidak masalah, jika itu bisa membuat anda sedikit tenang, aku siap menjadi pendengar setia" jawaban Rahma lantas membuat Sintia tersenyum malu, malu karena tidak seharusnya ia menceritakan semua itu pada Rahma, apalagi mereka terbilang tidak terlalu dekat sebelumnya.


"Apa aku boleh meminta sesuatu??." tanya Rahma setelah beberapa saat kemudian.


"Katakan saja, apa yang anda inginkan!!." sahut Sintia setelah mengusap sudut matanya.


"Apa aku boleh menjadi temanmu??."


Permintaan Rahma sontak membuat sudut Sintia kembali basah. Bagaimana tidak, sampai dengan usia dua puluh lima tahun hanya Toni temannya satu satunya. tapi kini ada seseorang yang ingin berteman dengannya, bagaimana ia tidak merasa terharu.


"Ten_tentu saja !!!." saking senangnya, jawaban Sintia sampai terdengar terbata dan itu membuat Rahma menarik ke dua sudut bibirnya dengan sempurna.


"Karena kini kita berteman, aku harap kamu mau berbagi cerita denganku, baik susah maupun senang." pinta Rahma dengan tulus, sebelum kemudian beranjak ke kursi yang berada di samping Sintia.


Rahma lantas merentangkan kedua tangannya, sementara Sintia yang melihat itu sontak memeluk tubuh Rahma.


"Terima kasih sudah mau berteman denganku." tutur Sintia ketika keduanya berpelukan untuk beberapa saat.


"Seharusnya aku yang berterima kasih karena kamu bersedia berteman denganku." sahut Rahma.


Akhirnya pelukan di antara keduanya terlepas ketika seorang pelayan tiba untuk mengantarkan pesanan mereka.


"Sekarang sebaiknya kita segera makan, sebentar lagi waktu istirahat makan siang akan segera usai dan kamu harus segera kembali bekerja." usul Rahma dan Sintia pun mengangguk sebagai jawaban.


Sementara Riko yang tengah menunggu di rumah sakit tampak bercengkrama dengan Toni, yang tadi datang menghampiri dirinya yang tengah duduk di bangku yang disediakan di loby rumah sakit.


Beberapa saat kemudian Rahma dan Sintia telah kembali ke rumah sakit.


"Maaf sudah membuat mas lama menunggu." ucap Rahma ketika menghampiri suaminya dan juga Toni.


"Tidak masalah sayang." Riko dapat mengerti untuk itu. Sebagai seorang Suami yang kenal betul dengan watak istrinya, dapat menebak jika istrinya ingin berdua saja itu artinya ada sesuatu yang ingin dibicarakannya, entah apa itu Riko juga tidak terlalu ingin tahu. Sebagai suami yang dulu pernah meragukan sang istri, Riko belajar untuk percaya sepenuhnya pada Rahma.


"Terima kasih makan siangnya, dokter Rahma." Tutur Sintia yang kini berdiri di sebelahnya.


"Maksudnya Thanks, Ra, atas ajakan makan siangnya." Sintia lantas mengkoreksi kalimatnya ketika melihat Rahma menatap tak suka ketika ia mengunakan bahasa Formal. Sontak saja wajah Rahma mengukir senyum di wajahnya setelah mendengar Sintia mengkoreksi kalimatnya.


"Sama sama, lain kali jika ada waktu bagaimana kalau kita jalan-jalan!!." ajak Rahma setelahnya, dan Sintia pun mengangguk seraya mengukir senyum sebagai jawaban.


Setelah itu, Sintia pamit kembali melanjutkan pekerjaannya, begitu pun dengan Toni, sedangkan Rahma dan Riko segera berlalu meninggalkan rumah sakit.


Sayang sayangku.... jangan lupa like, koment, vote, give anda subscribe ya.....biar aku makin semangat untuk update karya recehku...🙏🙏🙏😘😘😘


Dana jangan lupa mampir juga ke karya recehku yang saat ini juga On going. "SEMUA BUKAN INGINKU."