
Pukul lima sore Rahma telah selesai bersiap begitu pun dengan Riko. Rahma sengaja mengajak sang suami karena rencananya sore ini Ratu pun akan mengajak Toni. Yang menjadi pertanyaan Rahma saat, apakah Sintia tidak merasa terasing jika hanya dirinya yang datang tanpa pasangan???
Setelah memastikan penampilannya telah rapi di depan cermin, Rahma lantas beranjak dari kamar untuk menemui Riko yang telah menyiapkan mobil di garasi.
Kini Riko dan Rahma beranjak meninggalkan rumah hendak menuju salah satu mall, di mana sebelumnya Meraka telah janjian untuk menonton film.
Beberapa saat kemudian mobil Riko telah tiba di kawasan Mall, secara bersamaan mobil Sintia pun baru saja tiba.
Rahma yang baru saja turun dari mobil lantas melambaikan tangan ke arah Sintia, yang juga baru saja turun dari mobilnya. Dari jarak yang tak begitu jauh Sintia tampak tersenyum saat menyadari lambaian tangan Rahma.
Setelah mengunci pintu mobilnya, Sintia lantas menghampiri Rahma.
Baik Riko, Rahma dan juga Sintia segera memasuki pintu masuk mall hendak menuju lantai tiga di mana bioskop berada.
Sebelum beranjak ke lantai tiga, Rahma memilih menghubungi Ratu terlebih dahulu untuk menanyakan keberadaan sahabatnya itu saat ini.
"Sebaiknya kita segera ke lantai tiga, Ratu sudah menunggu di sana!!." beritahu Rahma setelah panggilannya dengan Ratu terputus.
Sintia pun mengangguk setuju. Sementara Riko bagai pengawal yang selalu siap di belakang langkah keduanya.
Tak berselang lama, mereka pun tiba di lantai tiga. Rahma menyapu pandangan untuk mencari keberadaan Ratu.
"Ra." Rahma menoleh ke sumber suara ketika mendengar seruan dari Ratu.
Rahma, Riko dan Sintia lantas melanjutkan langkah untuk menghampiri Ratu.
Ratu lantas meminta Rahma dan juga Sintia untuk menemani dirinya mengantri untuk membeli karcis, sementara Toni dan Riko tampak mengantri untuk membeli camilan yang akan menemani mereka menyaksikan film nantinya.
"Kenapa kamu membeli enam karcis, bukannya kita hanya berlima saja??." tanya Rahma ketika melihat Ratu memesan enam buah karcis.
"Yang satu buat seseorang yang masih menuju ke sini." jawab Ratu dengan wajah santainya.
"Memangnya kamu mengajak siapa sih??." merasa penasaran akhirnya Rahma kembali bertanya.
"Ada deh...." jawab Ratu yang diiringi dengan senyum tipis di bibirnya. Setelah berhasil mendapatkan yang diinginkan Ratu lantas mengajak Rahma dan juga Sintia untuk menunggu Toni dan Riko di sebuah bangku yang di sediakan pihak mall untuk para pengunjung.
"Bang Alan jadi datang nggak ya??.".dalam hati Ratu mulai tak tenang mengingat sebentar lagi film akan segera di mulai.
Lima menit, sepuluh menit, hingga lima belas menit, namun seseorang yang di nanti tak kunjung datang. Apalagi kini Riko dan Toni telah kembali setelah mengantri cukup lama.
"Sebaiknya kita segera masuk, sebentar lagi filmnya segera di mulai!!." ajak Rahma setelah melihat jarum jam yang melingkar pada pergelangan tangannya telah menunjukkan pukul lima lewat empat puluh lima menit.
Merasa tidak enak membuat yang lain menunggu lebih lama, lantas Ratu mengangguk setuju. kini mereka pun mulai berjalan menuju pintu masuk bioskop.
Sejenak Ratu menoleh ke belakang.
"Sepertinya bang Alan sedang sibuk sehingga tidak sempat datang hari ini." lirih Ratu dalam hati, setelahnya ia pun mulai mengayunkan langkahnya.
Namun baru beberapa langkah, Ratu mendengar suara yang begitu familiar tengah menyerukan namanya.
"Bang Alan." seketika senyum terbit di wajah Ratu ketika melihat keberadaan Alan yang baru saja tiba.
"Maaf Abang terlambat." Baik Riko, Toni, Rahma, dan juga Sintia sontak beralih ke sumber suara.
Menyadari jika saat ini Sintia ada di antara mereka, Alan lantas kembali menatap ke arah Ratu. Sedangkan Ratu yang menyadari tatapan Alan hanya nyengir kuda.
Alan hanya bisa menghela napas panjang ketika menyadari akal akalan adiknya itu.
Setelahnya mereka pun memasuki pintu masuk bioskop kemudian menuju bangku yang sesuai dengan nomor karcis masing masing.
Sesuai dengan rencana yang telah di tata Ratu dengan matang, kini Alan duduk di bangku yang bersebelahan dengan Sintia.
Sintia duduk di sebelah kanan Alan, sementara di sebelah kiri Alan ada Toni yang membatasi antara Alan dan Ratu, sehingga Ratu tak perlu menjawab begitu banyak pertanyaan yang akan di lontarkan abangnya itu untuknya.
Setelah cukup lama mencerna situasi yang ada, Rahma bisa menangkap niat Ratu hari ini, yang dengan sengaja mengajak serta kakaknya bersama mereka.
"Jangan katakan kau sengaja mengatur semua ini??." tebak Rahma yang kini duduk di sebelah kiri Ratu. Anggukan yang disertai senyum penuh arti dari Ratu, semakin meyakinkan Rahma akan dugaannya.
"Boleh juga idemu." tutur Rahma, yang kini ikut tersenyum bersama Ratu.
"Siapa dulu dong, Ratu." Sahut Ratu dengan nada lirih seraya menepuk pelan dadanya.
Lampu bioskop yang mulai di matikan pertanda Film akan segera di mulai dan itu membuat semuanya fokus ke layar raksasa di hadapan mereka.
Ternyata benar, Film yang tengah viral tersebut memiliki alur cerita yang cukup menguras air mata. Buktinya Ratu, Rahma dan juga Sintia, yang tengah menyaksikan Film tersebut mulai mengusap wajah yang di basahi air mata.
Jika Toni dan Riko tanpa mengulurkan tangan masing masing untuk mengusap kepala pasangan, Alan justru memberikan sapu tangannya pada Sintia.
Sintia yang ikut larut dalam alur cerita dari Film tersebut seolah dapat merasakan bagaimana sakitnya berpisah dari orang terkasih. Di tinggal selama lamanya oleh sang ibu serta di tinggal sang ayah yang lebih mementingkan wanitanya membuat hati Sintia semakin terasa sesak, seakan ada bongkahan batu yang kini menghadang saluran pernapasannya.
Sampai dengan Film selesai dan lampu bioskop kembali dinyalakan, Isak Sintia masih terdengar jelas oleh Alan yang duduk di sebelah kursinya.
Entah apa yang kini di rasakan Alan sehingga ia berani mengarahkan tangannya untuk mengusap punggung Sintia, dan itu terlihat jelas oleh Riko, Rahma, Toni dan juga Ratu.
"Maaf, aku hanya terlalu terbawa dengan alur ceritanya." ungkap Sintia setelah beberapa saat kemudian.
Sintia lantas mengukir senyum di wajahnya yang masih tampak sembab.
Berbeda dengan Ratu yang percaya begitu saja dengan ucapan Sintia, Alan justru merasa ada yang berbeda. Jika hanya karena terlalu terbawa suasana, tidak mungkin sampai dengan film selesai Sintia masih saja terisak.
"Seperti apa sebenarnya kehidupan yang kau jalani??." lirih Alan dalam hati, ketika menatap Sintia dengan ekor matanya.
Mereka berenam lantas beranjak meninggalkan bioskop setelah film selesai, hendak mencari tempat makan, mengingat saat ini Ratu telah mengeluhkan perutnya yang lapar pada sang suami.
Selesai makan, mereka memilih segera pulang mengingat waktu telah menunjukkan pukul delapan malam.
Di area parkiran, secara tidak sengaja ternyata Alan memarkirkan mobilnya tak jauh dari mobil Sintia.
"Mana kunci mobilmu??." Pertanyaan Alan yang terkesan tiba tiba lantas menghentikan pergerakan Sintia yang baru saja hendak membuka pintu mobilnya.
"Untuk apa??." tanyanya dengan wajah bingung.
Bukannya menjawab Alan justru membuka pintu mobil bagian sebelah kiri lalu meminta Sintia untuk segera masuk. dengan perasaan bingung Sintia mengikuti permintaan Alan.
"Saya akan mengantarkanmu pulang." ungkap Alan setelah berada di balik kemudi, mobil milik Sintia.