Trust Me Please.

Trust Me Please.
Mengetahui semuanya.



Mengingat hari ini adalah hari libur, Alan pun mengajak sang istri untuk mengunjungi sebuah mall setelah mereka meninggalkan supermarket.


Pacaran dengan kekasih halal memang sangat menyenangkan, setidaknya itu yang kini ada di benak keduanya.


Berkeliling area mall, setelah membeli pakaian khusus wanita dan juga yang lainnya, kini saatnya mereka mengisi perut mengingat pagi tadi keduanya tak sempat sarapan di rumah.


Di sebuah resto yang masih berada di dalam area mall, tiba tiba Sintia ingin ke toilet. Ia pun pamit pada Alan sebelum kemudian beranjak menuju toilet berada.


"Arghh...." ringis Sintia ketika tak sengaja tubuhnya bertabrakan dengan seseorang ketika hendak menuju toilet. tubuh Sintia hampir saja terhuyung ke belakang kalau saja ia tidak dengan cepat mengimbangi bobot tubuhnya.


"Apa anda tidak bisa menggunakan mata anda dengan baik??." suara sentakan itu membuat Sintia beralih.


"Kenapa anda bicara kasar seperti itu, bukankah anda yang menabrak saya lalu kenapa justru anda yang marah." sahut Sintia seolah tidak terima dengan sentakan wanita itu.


Perlahan Sintia mencoba mengingat ingat sosok wanita yang tak asing dimatanya itu.


Sepersekian detik kemudian Sintia pun berhasil mengingat sosok wanita yang kini berdiri dengan posisi melipat kedua tangannya di dada seraya menatap tak suka padanya.


"Nona Kartika." lirih Sintia dalam hati ketika teringat akan nama wanita itu.


"Seharusnya anda minta maaf bukannya malah nyolot seperti itu!!." lanjut sentak Kartika dengan nada yang terdengar sedikit meninggi.


"Kenapa saya harus minta maaf pada anda, bukankah seharusnya anda yang meminta maaf pada saya, karena anda lah yang telah menabrak tubuh saya." sanggah Sintia tak terima jika Kartika mempersalahkan dirinya apalagi sampai meminta dirinya untuk meminta Maaf.


"Oh astaga.... bagaimana saya bisa lupa, wanita sombong seperti anda yang merupakan putri dari pemilik perusahaan Mardin group, mana mungkin bisa meminta maaf pada seseorang." sindir Kartika yang Sengaja ingin memancing amarah Sintia, namun sepertinya usahanya tidak berhasil buktinya Sintia masih saja menampilkan wajah tenangnya, sehingga membuat Kartika berdecak kesal dalam hatinya.


"Maaf saya sedang buru buru karena suami saya sedang menunggu." tidak ingin membuat keributan, Sintia lantas menepis tubuh Kartika yang seperti sengaja menghalau langkahnya.


"Suami??." ulang Kartika dengan nada mengejek dan itu mampu membuat Sintia menghentikan langkahnya.


"Suami yang anda dapat dari hasil memaksa, bukan begitu Nona??." kalimat Kartika mampu membuat Sintia kembali berbalik ke arah Kartika.


"Apa maksud anda??." tanya sintia seraya menahan rasa geramnya.


"Waaaaaw.... ternyata selain memiliki sifat serakah anda juga pandai berakting rupanya." kembali Kartika melontarkan sindiran pedas pada Sintia.


"Aku tidak punya banyak waktu untuk meladeni anda, jika anda masih ingin bertele-tele maka maaf saya permisi." Sintia lantas kembali membalikkan tubuhnya hendak melangkah ke arah Toilet, namun ucapan Kartika selanjutnya membuat kedua kaki Sintia seolah tak sanggup untuk melangkah.


"Memaksa tuan Mardin untuk meminta tuan Alan agar bersedia menikahi anda tanpa peduli dengan perasaan tuan Alan yang sesungguhnya pada anda, apa bukan serakah itu namanya, nona??. Jika bukan karena permintaan dari pemilik perusahaan mungkin dengan lantang tuan Alan akan menolak menikah dengan anda."


"Apa anda yakin, tuan Alan mencintai anda atau anda sama sekali tidak peduli dengan perasaannya, yang terpaksa menikahi anda."


Deg.


Jantung Sintia seakan berhenti berdetak ketika mendengar semua ucapan Kartika.


"Anda harus tahu, tuan Alan tidak mencintai _."


Jika Kartika menatap sungkan ketika menyadari kedatangan Alan, Sintia justru menatap Alan dengan kedua kelopak matanya yang telah digenangi air mata yang kapan saja bisa meleleh membasahi wajah cantiknya.


"Apa maksudmu mengatakan semua itu pada istri saya?".dengan tatapan tajam serta nada yang terdengar begitu dingin Alan berucap.


"Saya hanya membantu anda untuk menyampaikan sebuah kebenaran pada wanita ini." kata Kartika masih dengan rasa percaya diri jika Alan akan merasa bersyukur karena dirinya mengatakan semua di dihadapan Sintia, tanpa tahu keberadaannya jika Alan mencintai Sintia jauh sebelum pria itu mengetahui jika ternyata Sintia adalah putri dari pemilik perusahaan.


"Pergi dari sini!!." suara sentakan Alan membuat Kartika terkejut bahkan ia sampai tak percaya Alan sampai menyentaknya seperti itu. Dengan cepat Kartika beranjak meninggalkan tempat itu dengan penyesalan yang mendalam. Dari reaksi Alan, kini Kartika baru sadar ternyata pria itu begitu mencintai istrinya.


"Apa benar papa yang meminta Abang untuk menikahi aku??." dengan kedua mata tergenang air mata Sintia bertanya pada Alan.


"Sintia, saya bisa menjelaskan semua ini." ujar Alan kini melangkah mendekati sang istri.


"Kamu cukup jawab bang, iya atau tidak!!." pinta Sintia dengan tatapan menuntut.


Mau tak mau akhirnya Alan mengangguk pelan.


Anggukan kepala Alan membuat Sintia lantas tersenyum, sebuah senyuman miris tercipta di sudut bibirnya. Sintia seolah menertawakan takdir yang tengah mempermainkan hidupnya.


"Sayang, abang bisa menjelaskan semuanya." untuk pertama kalinya Alan menyematkan kata sayang pada sang istri, dan itu justru semakin membuat air mata Sintia berderai. Ia merasa telah di permainan oleh ayahnya dan juga Suaminya, Alan.


"Aku tidak tahu bang, kamu yang terlalu pandai bersandiwara seolah kamu mencintaiku atau aku yang terlalu bodoh karena berpikir kamu menikahiku karena kamu cinta padaku." suara Sintia terdengar bergetar dan itu membuat hati Alan terasa nyeri mendengarnya.


Alan memeluk tubuh Sintia tanpa peduli dengan pandangan orang orang yang kini tertuju pada mereka berdua. Sintia diam mematung, ia tidak merespon pelukan Alan sehingga membuat Alan akhirnya melerai pelukannya lalu menatap intens wajah istrinya.


"bang, aku mau pulang, aku lelah!!." ujar Sintia sebelum kemudian berlalu begitu saja dengan air mata yang sudah meleleh di pipinya.


*


"Bang, aku lelah, aku mau pulang." Sintia kembali mengulang kalimatnya ketika Alan tak kunjung menghidupkan mesin mobilnya. Ucapan Sintia terdengar dingin, tak seperti biasanya.


"Papa memang pernah meminta, saya, untuk menikahi kamu tapi niat saya menikahi kamu bukan karena permintaan dari papa kamu, melainkan karena abang memang ingin menikahimu. saya ingin kamu menjadi ibu dari anak anak abang" Alan coba menjelaskan, sebelum kemudian mulai menghidupkan mesin mobilnya. Kini mobil Alan mulai melaju meninggalkan basemen mall.


"Jika kejadiannya memang seperti itu, lalu mengapa abang tidak pernah berterus terang padaku sebelumnya??." sanggah Sintia.


"Karena saya tidak ingin kamu berpikir saya menikahi kamu hanya karena permintaan dari papa kamu, saya tidak ingin kamu salah paham dengan niatku menikahi kamu, sayang."


Sintia diam saja, tak lagi berniat merespon penjelasan dari Alan. terlanjur kecewa membuat sintia sulit untuk percaya pada suaminya itu.


Alan yang tidak memiliki pengalaman dalam membujuk seorang wanita, saat ini merasa bingung sendiri untuk meyakinkan istrinya itu.


Sintia yang terlanjur kecewa pada Alan yang tak pernah berterus terang padanya tentang permintaan ayahnya, sangat sulit baginya untuk percaya pada Alan untuk saat ini. Hingga mobil Alan tiba di kediaman ayah mertuanya tak ada lagi percakapan di antara suami-istri tersebut, keduanya sibuk dengan pemikirannya masing masing.


Aku kasi sedikit bumbu penguat cinta ya sayang sayangku, agar sedikit menguras perasaan 😁..... jangan lupa like, koment, vote, give and subscribe ya.....