
“Aku mau bantu Dayat dulu, Mas. Rasanya hatiku lebih tenang kalau aku berhasil membiayai Dayat dengan jerih payahku sendiri. Lagipula, ada rasa puas saat tau aku bisa bikin hidup mereka lebih baik. Mmmm … kenapa? Mas Wibi keberatan?” tanya Tini, menghentikan kegiatannya sesaat dan menatap Wibi.
Dari balik guling yang didekapnya, Tini melihat Wibisono menggeleng. "Enggak, nggak keberatan. Aku ketemu kamu saat kamu sedang kerja untuk keluarga. Kamu juga udah pindah nggak di kantor Agus lagi. Eh, maksudnya, kamu udah pindah nggak di perusahaan asuransi lagi. Jadi buatku nggak ada masalah. Kalau kamu capek, kamu bisa berhenti kapan aja. Dan selama kita menikah nanti, aku bakal sering bolak-balik Surabaya – Jakarta. Kamu nggak keberatan, kan?” Wibisono kembali bertanya pada calon istrinya.
Tini menggeleng. “Enggak. Tapi sesekali aku boleh ikut, kan?”
Wibi tertawa. “Boleh—pasti boleh,” sahut Wibisono. “Sebentar lagi aku mau ke hotel. Sudah ada janji dengan orang properti. Jadi … mumpung belum ada orang, aku boleh minta pelukan?” Wibisono merentangkan tangannya pada Tini.
Tini setengah merangkak mendekat tepian ranjang kecil di kamarnya. Ia duduk di lantai merasakan dekapan tangan Wibisono di sekeliling leher dan kepalanya. Ia meletakkan pipinya di atas bantal seraya memejamkan mata. Untuk beberapa saat mereka hanya diam. Wibisono mencium kepalanya dan mengusap punggungnya dengan sangat menenangkan.
“Kenapa nggak makan dulu?” tanya Tini saat Wibi akan berpamitan.
“Aku udah keburu janji sama orang propertinya. Nanti kalau diundur lagi, malah makin lama selesai. Kalau diturutin, aku males banget bangkit dari ranjang itu. Bisa bablas ketiduran,” ucap Wibi.
“Hati-hati. Nanti kabari aku,” ujar Tini berdiri di ambang pintu, belum berganti pakaian.
“Iya. Besok aku jemput pulang ngantor. Itu temen kamu udah ada yang pulang. Yang manggil kamu ‘Bunda’. Kamu jangan manggil dia ‘Ayah’ ya,” ucap Wibisono terkekeh.
“Ayah dari mana? Dia cocok dipanggilnya Budhe,” sahut Tini ikut terkekeh. Mendengar jawaban Tini, tawa Wibisono semakin keras.
Di seberang kamar, Boy sedang membuka pintu kamarnya seraya melemparkan tatapan curiga pada Tini. Ia merasa kalau Tini pasti sedang membicarakannya. Baru empat hari diajak berkenalan dengan keluarga calon suaminya, bisa-bisanya Tini langsung berbisik-bisik.
“Ya, sudah. Aku pergi,” kata Wibisono, menarik wajah Tini dan mencium dahinya.
Di seberang kamar, Boy membelalak melihat adegan itu. Ia lalu mengusap dahinya sendiri.
“Hati-hati,” ulang Tini dengan lembut. Tangannya masih menggenggam tangan Wibisono dan belum melepaskannya.
“Iya. Kamu beres-beres dulu. Itu oleh-olehnya dibagiin sama temen.” Wibisono sedikit mengacak rambut Tini sebelum pergi dari kos-kosan itu.
Tini menatap punggung pria itu hingga menghilang di balik pagar. Lalu tatapan Tini dengan cepat beralih ke arah jendela Boy. Matanya menyipit saat melihat pintu Boy kembali tertutup rapat. Tini bergegas ke dalam kamarnya dan mencari cemilan yang tadi dibeli Wibi untuk para penghuni kos-kosan.
Tanpa mengatakan apa pun, Tini mengangkat dua bungkus besar cemilan itu ke arah jendela kamar Boy. Ia tak berseru. Hanya menyerukan kata ‘untukmu’ tanpa suara.
Ternyata memang tak membutuhkan waktu lama. Pintu kamar Boy seketika mengayun terbuka dan pria itu keluar dengan raut kesal dibuat-buat.
“Ini oleh-oleh untukku? Kenapa yang kerupuk-kerupuk? Rahangku udah nggak tahan kalo ngunyah yang keras-keras,” kata Boy dengan raut sombong. Ia menarik kursi plastik dan duduk di depan kamar Tini.
“Kalau nggak mau biar aku kasi ke yang lain. Kasi ke orang yang ngomongnya lebih enak didenger,” ujar Tini.
“Aku, kan, nggak nolak. Cuma ngomong gitu aja,” kata Boy, mengulurkan tangannya meminta cemilan yang dipegang Tini. “Kamu ngapain aja di dalem kamar? Pasti enak-enakan,” kata Boy.
“Aku, kan, cuma ngomong. Enggak bilang kamu kaya gitu,” ujar Boy.
“Hilih, omongan orang nggak bertanggung jawab. Ngelesmu ini. Dulu aku doyan ngeliatin Heru, kalian pikir aku juga bener mau sama dia.”
“Memangnya nggak mau?” Boy balik bertanya.
“Ya, mau. Kalau Heru single dan mau sama aku, masa aku nggak mau. Masalahnya Heru, kan, nggak mau sama aku. Lagian Heru udah berkeluarga. Aku itu menghargai Heru. Aku kagum, tapi bukan berarti aku mau jadi pelakor. Dalam hidupku, Heru laki-laki pertama yang bisa bicara sangat sopan dan menanggapi ucapanku dengan serius. Heru membuka pikiranku tentang hidup sebenarnya. Heru nggak pernah menjadikanku banyolan. Sampai kapan pun aku bakal inget hal itu, Boy.” Tini berbicara setengah menerawang.
Suara sepeda motor terdengar memasuki halaman. Tini dan Boy sama-sama menoleh ke asal suara. “Eh, Tini! Udah pulang kau? Cemana bentuknya Surabaya itu?” Mak Robin tiba dengan sepeda motornya.
“Kamu liat aja di peta bentuknya gimana,” jawab Tini, memandang Mak Robin yang menenteng banyak plastik belanjaan dari motornya. “Shopping? Aku kira pergi sama bapaknya Robin,” sapa Tini.
“Baru pulang foya-foya. Bosan kali aku di kamar nggak ada kawan. Bapak si Robin lagi kejar target belom bisa pulang.” Mak Robin pergi ke depan kamarnya dan membuka pintu. Setelah pintu terbuka, ia tak masuk. Ia hanya mencampakkan semua belanjaannya ke atas tempat tidur.
“Oh, iya, sebentar. Aku ke dalem dulu ngambil cemilan yang dibeli Mas-ku buat kalian.” Tini bangkit dari kursi dan kembali tak lama kemudian dengan seplastik cemilan. “Ini kasi buat Asti,” ujar Tini, menyodorkan bagian Asti pada Boy.
Ternyata yang baru dibicarakan datang. Asti turun dari motor Bayu dan langsung melambai-lambai pada Tini. Wanita itu berbicara sesaat dengan kekasihnya, dan tak lama Bayu membunyikan klakson untuk pamitan.
“Serius banget, ngomongin apa?” sapa Asti.
“Ini bagianmu,” ucap Tini, menyodorkan bungkusan cemilan pada Asti. “Aku sedang membuka pikiran Boy dengan kata-kata. Nanti kalau nggak ampuh, aku bukanya pake linggis,” cetus Tini kembali duduk.
Asti melihat cemilan yang baru disodorkan Tini. “Makasi, ya, Mbak. Padahal lagi sibuk, tapi masih inget beli beginian,” ucap Asti.
“Nah, ini Boy.” Tini menepuk lutut Boy. “Kata-kata Asti ini menghilangkan lelahku. Lebih merdu dan enak didenger. Tapi sayangnya penduduk dunia nggak bisa kaya Asti semua omongannya. Kalau kaya Asti semua, nggak akan ada perang. Pabrik senjata bakal tutup semua.” Tini tertawa menepuk-nepuk pundak Asti.
“Udalah! Biarkan si Boy dengan pikirannya. Cemilan bagianku mana? Aku belom dapet,” ujar Mak Robin tak sabar.
Tini memberi bagian Mak Robin, lalu menyerahkan sisa di dalam plastik pada Boy. “Ini bagian Dara. Nanti kasi ke dia,” pesan Tini pada Boy.
“Cerita, Mbak. Ceritain gimana Surabaya,” pinta Asti antusias.
Tini baru menggeser letak kursinya, tapi ia merasa ponselnya bergetar. Cepat-cepat Tini merogoh saku celana.
“Sebentar aku jawab telepon dulu. Ini Temon dan neneknya nelepon,” ucap Tini lalu menggeser layar ponsel.
To Be Continued