TINI SUKETI

TINI SUKETI
146. Sekilas Masa Depan



Ternyata pilihan Dayat meminta Pak Joko datang menjaga Banyu adalah pilihan yang tepat. Pria itu benar-benar sangat telaten mengurus cucu pertamanya. Sifatnya yang asli penyayang dan selama ini tercurah sebagian besar pada Puput seakan menemukan tempat baru yang lebih sesuai.


Tini kembali bekerja saat Banyu berusia tiga bulan. Dan sebulan kemudian, Tini mendapati dirinya kembali positif hamil.


“Mas, gimana ini? Banyu masih kecil masa udah mau ada adiknya,” kata Tini, menunjukkan test pack pada Wibi di suatu malam.


“Ya, bagus. Enggak apa-apa. Mumpung bisa,” sahut Wibi santai.


Saat makan malam, Tini menggendong Banyu yang berusia empat bulan dan bicara dengan anaknya itu.


“Duh, Nak, kamu bakalan dipanggil ‘Mas’, delapan bulan ke depan kamu bakal punya adik,” kata Tini, memangku putranya.


Pak Joko yang baru mau menyendokkan nasinya, menatap Tini dengan mata berbinar. “Wah, serius? Banyu bakal ada adiknya?” tanya Pak Joko.


Tini mengangguk lemah.


“Mukamu, kok, gitu. Harusnya seneng. Enggak apa-apa. Ada Bapak. Banyu juga punya temen main. Rumah jadi rame,” kata Pak Joko bersemangat.


“Tuh, kan … apa Mas bilang? Bapak pasti seneng,” sambut Wibi, tersenyum-senyum.


“Mang Dayat juga enggak apa-apa. Masih kuat nyuci botol-botol susu,” ujar Dayat, mengunyah kerupuk.


“Mang Dayat memang berjasa banget. Nanti aku akan ceritakan ke anak-anakku siapa manusia paling berjasa yang udah mencuci botol-botol susu mereka,” kata Tini, memandang adiknya.


“Ganti popok bekas eeknya juga kadang aku,” tambah Dayat.


“Nanti aku tambahin itu juga,” kata Tini, merapatkan giginya.


“Oke, adil kalau gitu.” Dayat mengangguk puas.


Dan tujuh bulan berikutnya Banyu tumbuh menjadi cucu kesayangan Mbah Joko. Bayi itu sedang giat-giatnya melatih langkah kaki. Tini yang sedang hamil tua dan tubuhnya sudah kembali membengkak maksimal, sangat kewalahan menjaga bayi laki-laki montok yang sedang aktif-aktifnya itu.


Suatu sore, saat Tini memasuki masa-masa menunggu kelahiran anak keduanya, ia pergi berbelanja bulanan bersama Wibi. Banyu yang ditinggal orang tuanya pergi, dibawa Pak Joko bermain ke kamar Dayat.


Dayat sedang menyetrika beberapa potong pakaian yang dirasanya harus dikerjakannya sendiri.


“Perasaan itu udah dimasukin ke lemari. Sekarang disetrika lagi,” kata Pak Joko dari atas ranjang. Pria itu sedang bergumul-gumul bersama Banyu di atas ranjang Dayat. Sedangkan Dayat sendiri, duduk bersila di lantai menyetrika kemejanya.


“Kurang licin. Garis di lengannya ini dua baris. Kurang rapi. Aku nggak suka. Enggak apa-apa aku setrika lagi. Sekalian itu ada sedikit lagi yang belum disetrika,” ujar Dayat, menunjuk keranjang pakaian bersih tak jauh dari tempatnya duduk.


“Puput katanya semakin tua, Yat. Bapak jadi kangen,” kata Pak Joko tiba-tiba.


“Puput udah masuk masa pensiun. Untuk ukuran ayam jago, umur Puput VI itu udah termasuk panjang banget, Pak. Ada niat mau nyari Puput VII?” tanya Dayat, menoleh bapaknya.


“Enggak, ah. Sebentar lagi Banyu punya adik. Bapak jagain mereka aja. Sedang lucu-lucunya. Bapak menikmati, Yat. Banyu udah manggil ‘Mbah’,” kata Pak Joko, berbaring menelungkup dengan Banyu yang merangkak di atas tubuhnya.


Banyu duduk di atas punggung Pak Joko dan memeluk kepala mbahnya.


“Eh, perut Mbah sakit. Banyu turun dulu. Mbah mau ke toilet,” kata Pak Joko tiba-tiba. Ia bangkit dan menurunkan Banyu ke lantai. Bayi itu langsung berjalan ke keranjang pakaian dan membongkar isinya.


“Bapak ke toilet dulu, Yat. Jangan biarin Banyu ke mana-mana,” pesan Pak Joko, buru-buru menuruni tangga dan pergi menuju kamar mandi belakang yang menjadi favoritnya.


“Jangan lama, Pak,” seru Dayat mengingatkan. Ia tak mau terkurung bersama jagoan kecil penguasa rumah itu yang bebas melakukan apa pun tanpa bisa tersentuh oleh hukum yang berlaku.


“Liiik,” kata Banyu, berpegangan pada bahu Dayat sambil memanggil namanya dengan khas suara bayi.


Dayat menoleh dengan wajah dicemberutkan. “Aku udah bilang, ya. Jangan dipanggil Paklik. Panggil Om. Ayo, ulangi,” pinta Dayat pada Banyu.


Balita itu memandang Dayat dengan empat gigi bagian depannya yang sudah tumbuh. “Lik,” ucap Banyu lagi, berjalan menjauhi Dayat menuju kemeja yang sudah selesai disetrika.


Tanpa terlihat oleh Dayat, Banyu meraih kemeja itu dan mengibaskannya. Si empunya masih menunduk. Tekun menyetrika sebuah celana bahan berwarna hitam yang biasa dipakai setiap ujian semester.


“Lik,” panggil Banyu lagi. Kali ini Dayat menoleh pada keponakannya. Dayat memekik tertahan dan mengambil kemejanya dari kepala Banyu.


“Waduh! Kacau … kacau. Mana ini babysitter-nya? Lama banget di toilet. Ngeluarin apa, sih?” Dayat mengangkat Banyu bak sebuah benda yang bingung akan diletakkannya ke mana.


"Kesalahanmu ada dua. Enggak panggil Om dan merusak pakaian yang udah disetrika. Kamu harus dihukum dengan pembatasan pergerakan. Di rumah ini, kamu biasanya tidak tersentuh hukum. Tapi, ini adalah kamar Om Dayat yang mana memiliki payung hukum sendiri. Kamu harus masuk ke sini sampai Om selesai nyetrika.” Dayat menunjuk keranjang pakaiannya.


Setelah mengeluarkan beberapa potong pakaiannya dari dalam keranjang, Dayat memasukkan Banyu ke dalamnya. Keranjang pakaian itu berbentuk bulat dengan tinggi sebatas bahu Banyu. Bayi itu memiliki tubuh tinggi dan berisi seperti bapaknya.


“Om,” ucap Banyu dari dalam keranjang.


“Halah, udah dimasukin ke situ, baru bisa manggil Om. Perayu ulung kamu ini,” omel Dayat kembali duduk dan menekuni setrikaannya. Ia kembali merapikan kemeja yang tadi dipakai keponakannya sebagai penutup kepala.


Dayat tenggelam menyetrika sisa pakaiannya dengan melupakan Banyu yang berada di dalam keranjang pakaian di belakangnya. Kedatangan Pak Joko yang tergesa-gesa, membuat Dayat sedikit terkejut.


“Mbakmu mules selesai belanja. Kayaknya mau lahiran. Mas Wibi langsung ke rumah sakit,” lapor Pak Joko dari depan pintu kamar.


“Ya, udah. Gampang. Nanti kita susulin. Kan, kita udah tau di mana rumah sakitnya,” kata Dayat, merapikan alas setrika yang sudah selesai dipakai.


“Mbakmu bilang tolong bawa Banyu ke rumah sakit. Mau ketemu Banyu dulu. Pesannya gitu,” kata Pak Joko.


“Ya, udah. Gampang. Tinggal dibawa aja. Aku bisa siap-siap,” kata Dayat bangkit dari duduknya.


“Banyunya mana?” tanya Pak Joko, tersadar kalau Banyu tak terlihat di kamar Dayat.


Dayat menutup mulutnya dan menarik keranjang pakaian di dekat lemari. “Aku taruh di sini, Pak. Dia malah tidur,” kata Dayat, memandang ke dalam keranjang.


“Bisa-bisanya kamu taruh di sini. Kamu kira dia kucing?” sergah Pak Joko mengulurkan tangannya ke dalam keranjang.


“Biarin aja. Lagi nyenyak-nyenyaknya. Mending Bapak siap-siap. Nanti kalau udah selesai, kita angkat dia bawa ke rumah sakit. Aku mau siapin botol susunya dulu,” kata Dayat, keluar kamar dan menuruni tangga.


Pak Joko masih menunduk memandang ke dalam keranjang. “Cucu lanang, Mbah. Baru ditinggal sebentar udah tidur di dalam keranjang. Kalau ditinggal seharian entah bagaimana nasibmu,” gumam Pak Joko.


To Be Continued