
Langit masih terang saat Tini menjinjing tasnya masuk ke halaman ke kos-kosan.
“Hari terakhir kerja?” tanya Mak Robin yang baru saja keluar dari kamarnya dengan handuk di kepala.
Tini mengangguk. Ia lalu menuju pintu kamarnya untuk meletakkan bawaannya lebih dulu. Setelah membuka jas dan sepatunya, ia menyeduh secangkir teh dan kembali keluar.
“Cemana si Agus? Enggak marah dia kau keluar tiba-tiba?” Mak Robin menarik kursi plastiknya menyebelahi pintu kamarnya dan menghadap Tini.
Tini menggeleng, lalu menyesap tehnya. Mak Robin masih memandang Tini, menunggu tetangganya melanjutkan bicaranya. Ternyata, Tini tak melanjutkan ucapannya, wanita itu hanya menerawang menatap ke arah pohon jambu.
“Tini, kau tengok muka aku dulu,” pinta Mak Robin.
“Ha? Kenapa?” tanya Tini, menatap wajah Mak Robin seperti permintaan tetangganya itu. “Kenapa mukamu? Masih sama aja,” sambung Tini.
“Mukaku ini nunggu kau cakap. Kutunggu kau nerusin cakap kau tadi. Bah!” sergah Mak Robin.
“Kamu mau tau apa?” tanya Tini.
“Si Agus … cemana dia? Aku penasaran.” Mak Robin membuka gulungan handuk di kepalanya.
“Agus baik-baik aja. Dia nggak sedih, tuh. Sekarang dia punya pacar. Anak baru di kantor. Mungkin sebentar lagi menikah,” kita Tini. “Eh, ngomong-ngomong, Mak. Rambutmu makin lama, makin mirip ijuk sapu. Jangan dipotong pendek lagi. Rambutmu tegang semua ke atas.” Tini berdecak memandang Mak Robin.
“Iyalah, Tini bodat …. Kupanjangkan rambutku. Aku masih mau dengar cerita si Agus. Kau nggak sedih dia punya pacar? Umur berapa pacarnya? Dah ke sana-kemari kelen kutengok. Gak jadi juga. Kok, jantungku yang denyut dengarnya.
“Lebih muda, Mak. Anak lulusan baru. Paling-paling 22 tahun. Tapi kurasa itu yang cocok sama Agus. Wanita polos yang masih mudah dia bentuk. Agus itu juga nggak sematang usianya. Kadang-kadang dia lebih kekanakan dari Asti. Pokoknya aku baik-baik aja. Mukamu jangan kayak gitu ngeliat aku. Aku masih sehat belum mati!” Tini mengibaskan tangan di depan wajah Mak Robin yang ikut sedih mendengar Agus yang sudah menemukan pacar baru.
“Kau nggak sedih?” tanya Mak Robin.
Tini menggeleng.
“Kok, bisa?” Mak Robin menatapnya heran.
Tini menoleh berkeliling, memastikan tak ada orang lain di sana. “Sini kamu,” pinta Tini, mengajak Mak Robin sedikit mendekat padanya.
Mak Robin menggeser letak kursinya dan mencondongkan tubuh ke arah Tini. “Ha? Apa?” tanya Mak Robin tak sabar.
“Sebenarnya ini rahasia. Yang tau cuma kamu. Eksklusif,” ucap Tini.
“Apa?!” seru Mak Robin tak sabar.
“Kamu harus janji nggak bilang ke siapa-siapa. Awas kamu kalau ada ngomong ke orang lain,” ancam Tini dengan telunjuk mengarah ke hidung Mak Robin.
“Mas Wibi ngajak aku nemuin orang tuanya tiga bulan lagi. Dia bakal jemput aku ke sini.” Tini lalu kembali menegakkan tubuhnya bersandar ke kursinya plastik.
Tini menghela napas panjang dan menatap Mak Robin dengan jumawa. “See? Kamu liat, kan? Sekarang kamu tau kalau pasaranku lagi naik kayak Antam."
“Serius kau, Tini? Makjang, senang kali aku dengarnya. Udah sempat cemas juga aku mikirkan kau. Jangan pula lima taon kau kawin langsung menopause. Jangan pula kayak aku gini. Udah tua anakku masih kecil.”
“Terima kasih atas kecemasan kamu, Mak. Tapi apa kata-katamu nggak ada yang lebih enak lagi untuk didengar?” tanya Tini.
“Yang penting aku betol-betol aja kalo cakap. Karena aku nggak mau kelen ikut merasakan yang tak enak, makanya aku cakap kayak gitu. Senang aku, Tin! Janganlah lama-lama lagi kalo memang si Wibi ngajak serius. Yang penting kau terbuka sama dia. Biar senang Omak (Ibu) kau di sana kalo kau menikah. Udah lama ditunggu-tunggunya pasti.” Mak Robin menarik ujung lengan kaosnya dan mengusap sudut matanya.
“Kamu jangan bikin aku sedih, Mak. Seharian ini aku melow terus,” kata Tini ikut berkaca-kaca.
“Menikahlah kelen semua. Paten kali si Wibi itu, Tin. Duluan kau diajak ke rumahnya ketimbang kau diajaknya nonton. Berarti udah mantap dia,” tambah Mak Robin.
“Kamu jangan bilang ke siapa-siapa dulu, Mak. Nanti kalau nggak jadi, aku malu.” Tini kembali mengingatkan.
“Selo kau. Aman pokoknya. Udah bisalah aku cari-cari ulos cantik untuk ke pesta kau.” Mak Robin mengangguk mantap. Ia sedang mengingat-ingat di mana bisa menemukan ulos paling cantik dengan harga tak mencekik di kota besar itu.
“Aku masuk dulu, ya. Mau mandi. Terus aku mau nelepon asistennya Pak Wimar. Mau ngabarin kalau aku menerima tawaran mereka.” Tini beranjak dari duduknya masuk ke kamar, sambil membawa gelas the yang sudah kosong.
***
“Udah rapi. Apa lagi yang kurang, ya …?” Tini mematut wajahnya di kaca kecil dan berkali-kali menunduk melihat pakaiannya.
“Mbak Tini! Mau ke depan sekalian?” tanya Asti yang juga sedang mengunci pintu kamar.
“Iya. Yuk, bareng.” Tini memasukkan kuncinya ke dalam tas dan melenggang menjemput Asti ke tengah halaman.
Berdua-duaan mereka berjalan menyusuri gang. Reza, asistennya Pak Wimar mengatakan pada Tini untuk hadir pukul sembilan pagi. Tapi pukul tujuh pagi, ia sudah keluar dari rumah.
Karena bekerja di kantor yang baru lokasinya, Tini belum punya perkiraan berapa lama yang ia habiskan di perjalanan. Untuk hari pertama. Ia memutuskan untuk berangkat lebih awal.
“Kamu sama Bayu, kapan rencana nikah?” tanya Tini saat ia dan Asti berdiri di tepi jalan menunggu angkot.
To Be Continued
Ayo .... di-like sebelum scroll lagi ya ....