
Lokasi pesta yang sangat besar dipenuhi oleh lautan ibu-ibu yang memakai seragam berwarna pink. Tini berdiri terkesima. Semuanya tampak tumpah ruah dan meriah. Kado dari para tamu pun tak tanggung-tanggung. Rombongan keluarga banyak menyumbangkan berbagai cemilan yang datang sebagai kejutan. Tak hanya kanak-kanak dari Desa Cokro yang ikut mengantre makanan. Anak-anak yang sekedar lewat di depan lokasi pesta, terlihat disuruh masuk dan diarahkan untuk menikmati cemilan.
“Selamat, ya, Bi …. Aku bener-bener nggak nyangka, lho.” Agus naik ke panggung pelaminan bersama Ayu. Saat menjabat tangan Wibisono, Agus tak henti menepuk-nepuk pundak temannya.
“Enggak sangka apanya? Enggak sangka aku yang bakal nikah duluan?” canda Wibi tertawa kecil.
Sedangkan Tini tersenyum menatap Agus dan Ayu dengan tangan yang tak lekang bergelayut di lengan Wibi. Dari kejauhan, Dijah tak henti-hentinya terkekeh menatap Tini.
Kedua sahabat itu saling melempar senyuman dan bertukar keseruan hanya dengan tatapan. Terkadang Tini berbisik pada Wibi dan Dijah juga membisikkan sesuatu pada Bara sambil tertawa-tawa. Mima yang duduk di pangkuan ayahnya hanya diam memandang wajah orang tuanya bergantian.
Tini tengah berbisik di telinga Wibi, karena menjawab pertanyaan suaminya soal, “Siapa yang lebih dulu masuk ke kos-kosan kandang ayam?”
Di pelaminan, Wibi sibuk menanyakan ini-itu dari setiap tamu yang melintas dan menyapa Tini. Saat tengah menunjuk Mak Robin, Dijah dan Asti yang duduk di depan pelaminan, seorang pria yang menggendong anaknya naik ke pentas pelaminan.
“Selamat, ya, Tin ….” Pria itu mengulurkan tangannya mengucapkan selamat.
“Eh, Handoko, ini anakmu yang bungsu?” sapa Tini, menjadikan pipi balita laki-laki yang berada di gendongan bapaknya. “Ini Handoko, Mas. Temenku kerja di pabrik dulu.” Tini kembali melingkarkan tangannya di lengan Wibi.
“Anakku dua, ini yang sulung.” Handoko menggamit lengan bocah laki-laki empat tahun di belakangnya. “Ini istriku, Tin. Dulu katanya juga kerja di Jakarta,” kata Handoko memegang bahu istrinya.
Saat Handoko mengatakan itu, Tini mendongak memandang wajah istri Handoko. Sedetik terdiam, detik berikutnya Tini membulatkan matanya. “Lastri?” ucap Tini, terperanjat. “Kamu, kok, bisa sampai di sini? Bagaimana mungkin kamu berakhir di Desa Cokro?” Tini memandang Lastri dengan tatapan terpukau.
“Wah, kalian udah saling kenal?” tanya Handoko memandang wajah Tini dan istrinya bergantian.
“Kenal, Mas.” Wanita itu tersenyum canggung pada Tini.
“Kenal di mana?” tanya Handoko. “Di tempat kerja?”
“Satu kos. Dulu pernah satu kos,” jelas Tini. “Tapi sebelum kenal sama aku, istri kamu lebih kenal dengan temenku. Itu Dijah,” seru Tini, menunjuk Dijah yang sedang duduk memangku Mima. Bara sedang makan dan sesekali terlihat menyendokkan makanannya ke mulut Dijah. Di bahu Dijah tersampir kain panjang menutupi Mima yang pasti sedang menyusu.
Saat mengarahkan pandangan mereka semua pada Dijah, kebetulan Dijah juga sedang melihat.
“Itu Dijah. Dia datang sama suami dan anaknya. Suaminya wartawan," terang Tini memandang Lastri.
Bagaimana Tini bisa menjelaskan soal perkenalan mereka semua selama di kos-kosan? Haruskah Tini menjelaskan bahwa ia pernah menjadi promotor dalam pergelutan pertama di kandang ayam? Lastri yang hengkang dari kandang ayam karena kalah melawan Dijah. Di kejauhan Dijah masih bingung dengan arti tatapan Tini. Sepertinya wanita itu tidak mengenali Lastri lagi.
“Oh, itu Dijah. Nanti aku temui dia,” ucap Lastri.
Seperti yang dikatakan oleh wanita itu, sebegitu turun dari panggung, Lastri langsung mendatangi Dijah.
“Jah … masih inget aku?” tanya Lastri saat sudah berada di depan meja Dijah.
Dijah yang sedang ternganga karena sedang menunggu suapan Bara, terhenti menoleh pada Lastri. Ia lalu membereskan letak pakaiannya dan memangku Mima.
“Lastri, ya? Yang dulu … mmm, di kos kandang ayam?” tanya Dijah.
Lastri mengangguk. “Iya. Ini suami dan anak-anakku,” kata Lastri, menunjuk Handoko di sebelahnya. “Mas Han, ini temenku dulu di kos-kosan kandang ayam.”
Dijah berdiri menjabat tangan Handoko yang terulur padanya. Bara juga seketika berdiri menyambut perkenalan itu. Tangan kirinya masih memegang piring berisi setengah nasi dan lauk khas pesta.
“Ini suamiku, namanya Bara.” Dijah mengusap tangan Bara, seraya menatap Lastri penuh arti. Wanita itu dulu pernah mengatakan kalau tak akan ada pria yang mau menafkahi anaknya karena ia seorang janda tak jelas. Lastri yang membela pacarnya yang mata keranjang pun ternyata tak berakhir menikah dengan pacarnya itu.
Lastri melihat Bara, Mima dan Dul bergantian. Pikirannya membuat kesimpulan, kalau Dijah menikah dengan seorang lajang dan memiliki seorang anak perempuan dari pernikahannya itu.
Ketika sedang berdiri, Mima menggeliat di gendongan Dijah. Bara seketika meletakkan piringnya dan mengulurkan tangan pada Mima. “Jangan nangis—jangan nangis. Sini sama Ayah dulu. Biar Ibu lanjut makan sendiri,” kata Bara, mengambil Mima dari gendongan Dijah.
“Yang tadi itu siapa?” tanya Bara saat Lastri sudah menjauh.
“Dulu sempat satu kos-kosan. Dia anak lantai dua,” sahut Dijah.
“Kok, senyumnya perasaan Mas agak beda gitu, ya? Beneran temen?” tanya Bara dengan naluri wartawannya.
“Bukan temen akrab. Dia cuma sebentar aja di kandang ayam, terus pindah.”
“Pindah kenapa?” Bara balik bertanya karena merasa belum puas.
“Kalah duel,” jawab Dijah.
“Duel sama kamu?” tanya Bara lagi.
Dijah nyengir.
“Astaga, Jah …. Berarti yang pernah aku lerai, itu bukan duel yang pertama?”
Dijah menggeleng.
“Ya, ampun. Mima …. Kita harus hati-hati, Nak.” Bara mengangkat Mima ke depan wajahnya dan mencium pipi bayi itu, lalu mendekapnya.
Dijah terkekeh-kekeh melihat wajah Mima yang bingung tapi ikut tertawa, karena diciumi bertubi-tubi.
Tamu terlihat duduk berkelompok sesuai asal mereka. Di bagian depan berjajar meja makan bundar yang direservasi Dayat untuk tamu yang ditunggu-tunggunya. Pukul dua siang, Dayat terlihat berdiri di dekat meja penerima tamu. Kepalanya terus menoleh ke arah jalan besar.
Setelah puluhan kali melihat ke jalan besar. Dayat terlihat terlonjak dan buru-buru menaiki panggung pelaminan.
“Mbak—Mbak, itu pasti rombongan tamu kamu dateng. Yang dari Jakarta.” Dayat menepuk-nepuk pundak Tini yang sedang bicara berbisik-bisik dengan Wibi.
Karena tepukan Dayat di bahu Tini, wanita itu sedikit terkejut dan seketika mendengus menatap adiknya.
“Tenaga nepuk pundakku, harusnya disesuaikan saat aku jadi manten.” Tini mengelus pundaknya.
Dayat nyengir, lalu memiringkan kepalanya memandang Wibi. “Maaf, Mas Wibi. Dalam beberapa jam aja aslinya udah mulai keliatan, kan?” tanya Dayat memandang Wibi.
“Enggak apa-apa. Biar makin rame,” sahut Wibi, tertawa.
“Siapa yang dateng?” tanya Tini, menoleh ke pintu masuk dari jalan.
“Oh, iya. Jadi lupa. Itu pasti rombongan Pak Santoso. Dari jauh udah keliatan beda gaya jalan mobilnya,” ujar Dayat.
“Memangnya mobil dari Jakarta jalannya gimana? Asal aja kalau ngomong,” sahut Tini, menoleh wajah Wibi untuk melihat reaksi suaminya. Wibi tersenyum-senyum mendengar percakapan kakak beradik di dekatnya.
“Beda pokoknya. Aku nyambut tamu dulu.” Dayat melesat kembali ke pintu masuk.
Iring-iringan mobil berbagai jenis terlihat semakin mendekat. Dayat merapikan jas dan dasi kupu-kupu yang dikenakannya. Seperti hendak akan menyambut tamu paling spesial, Dayat berdiri menegakkan tubuhnya di dekat gawang bunga dan meja penerima tamu.
To Be Continued
Untuk sambungannya sabar, ya. Sedang dikerjakan pelan-pelan. Jadwal masih padat merayap. 😘