TINI SUKETI

TINI SUKETI
125. Pagi Pertama



Karena kelelahan usai berpesta semalaman, gang rumah Tini sunyi senyap di pagi hari. Padahal biasanya di bawah langit pagi yang masih gelap, geliat aktifitas orang-orang sudah mulai terdengar. Bahkan Puput yang biasanya sudah berkokok, pagi itu tak terdengar suaranya. Ayam jago itu sepertinya masih terbuai tidur lelap.


Tini menggeliat dan memutar tubuh. Matanya yang masih menyipit menyesuaikan pandangan. Sedetik kemudian matanya membelalak. Tini nyaris berteriak, namun langsung membekap mulutnya sendiri.


“Ada suami,” gumam Tini nyaris tanpa suara. Terlihat Wibisono tidur menghadapnya dengan menyelipkan satu tangan di bawah bantal.


Tini menggeser posisinya dan ikut berbaring menyelipkan tangan di bawah bantal untuk menatap suaminya lebih jelas.


Wibisono masih lelap dalam tidurnya. Tangan Tini mulai terangkat menyentuh hidung Wibi yang bangir. Satu jarinya menelusuri dari bagian tengah dahi dan turun sampai ke puncak hidung pria itu. Merasa Wibi tak terusik, Tini menggeser jarinya menuju cambang. Mulai membelai rambut halus yang membingkai wajah Wibi dengan perlahan dan tiba di pipi suaminya. Jemari Tini lalu kembali menggeser, menekan pelan ke bagian pipi yang biasanya berlesung saat pria itu tertawa atau tersenyum.


Ganteng dan itu bukan mimpi, pikir Tini. Ia lalu sedikit menekan telunjuknya, ingin merasakan kenyataan itu lebih pasti. Namun, Wibi bereaksi. Pria itu menggerakkan kepalanya dan membuat Tini panik. Buru-buru ia berdiri dari ranjang menuju meja rias untuk melihat tampilannya.


Setelah melihat tampilannya di cermin, lagi-lagi Tini membekap mulutnya. Rupanya semakin amburadul dari sejak terakhir kali berkaca kemarin malam. Lalu Tini melihat Wibisono menggeliatkan tubuh. Tini panik. Tak ada waktu untuk memperbaiki tampilannya yang kacau. Secepat kilat Tini meraba saklar di sebelah meja rias. Dan ....


Klik.


Gelap gulita.


“Tin ... mati lampu? Kamu di mana?” tanya Wibisono.


Tini kembali melompat ke ranjang dan berbaring di sebelah suaminya.”Ini aku, Mas,” bisik Tini, meraba-raba Wibisono dalam kegelapan.


“Mati lampu, ya?” tanya Wibi.


“Iya. Tapi enggak tau ini mati lampu dari pusat atau meterannya jepret. Udah, biarin saja. Di luar serem masih gelap gulita. Belum ada yang bangun,” terang Tini. Merasa kalau tangannya sudah tiba di atas perut Wibi dan mendekapnya.


“Kamu udah lama bangun?” tanya Wibi.


“Belum. Aku kebangun karena mati lampu. Kalau Mas pasti baru bangun,” ucap Tini, mendekap Wibi dan menyembunyikan wajahnya di dada Wibi. Ia menghindar untuk beradu wajah dengan suaminya. Percaya bahwa aroma mulut di pagi hari biasanya sangat meracuni.


“Aku udah bangun, Tin.” Wibi tertawa, menarik tangan Tini dan meletakkan ke pangkal pahanya.


Tini mengucapkan ‘Ohmaigat’ tanpa suara dalam kegelapan. Tangannya diberi perintah untuk menjelajahi bagian kebanggaan suaminya. Dalam kegelapan dan sunyi senyap pagi yang belum didatangi matahari, Tini kembali bereksplorasi.


Bangkit dan mulai merayap di atas tubuh Wibi yang menarik lengannya. Ternyata kegelapan membuat rasa percaya dirinya bertambah. Sejurus kemudian, Tini sudah menekuni bagian bawah tubuh sang suami. Rambutnya sudah dibelai berkali-kali oleh Wibi dan suara napas pria itu terdengar kasar dan teratur.


Hampir setengah jam, pasangan pengantin baru itu bersatu dalam deru napas memburu di pagi pertama mereka sebagai suami istri. Tini menggeliat di bawah tubuh suaminya dan melihat langit yang mulai kehilangan gelapnya.


Seperti makhluk yang tak ingin dilihat wujud aslinya, Tini tersentak.


“Aku harus mandi duluan, Mas. Nanti kamar mandi antri. Dayat kalau pagi nongkrongnya lebih lama,” ujar Tini, menggeliat gelisah. Ingin menyingkirkan tubuh Wibisono dari atasnya tapi terasa mubazir.


“Sebentar lagi,” gumam Wibi yang menenggelamkan wajahnya di sela-sela dada Tini.


“Nanti dilanjut lagi,” bisik Tini seraya menajamkan telinganya. Masih aman, pikirnya. Belum ada tanda-tanda aktifitas di rumah itu.


Wibisono beringsut malas-malasan. Rasanya Tini ingin sekali membenamkan wajah Wibisono ke dadanya. Tapi tampilannya luar biasa kacau. Tini merasa harus segera berbenah.


“Aku mandi duluan, Mas. Enggak akan lama,” kata Tini. Setelah buru-buru berpakaian dalam kegelapan, Tini keluar kamar mengendap-endap dengan handuk tersampir di bahunya.


Setelah menoleh ke kanan-kiri dan merasa aman, Tini melangkah ke dapur.


“Ya, Gusti!” pekik Evi tiba-tiba seraya memegang dadanya. “Mukamu, Mbak. Kaget aku!” seru Evi.


“Ekspresi kamu nggak bisa biasa saja?” tanya Tini melengos.


“Beneran kaget,” kata Evi. “Udah bangun aja kamu.”


“Karena tampilanku begini makanya aku mau mandi. Rambutku kusut banget kaya singa. Kemarin sebenarnya mau langsung mandi. Tapi badanku capek, pegel-pegel. Abis makan langsung tidur. Enggak ada sempet ngapa-apain,” jelas Tini.


“Enggak mesti dijelasin selengkap itu. Kamu sempet ngapa-apain juga enggak apa-apa.” Evi dengan santai mencolokkan penanak nasi.


Tini mandi sepuas-puasnya dan selesai tak berapa lama kemudian. Langit mulai terang dan ia buru-buru ke kamar untuk menekan saklar lampu yang sempat dimatikannya tadi.


“Sudah seger banget, ya,” sapa Wibi yang sudah duduk di tepi ranjang.


“Mas juga mau mandi,” kata Wibi berdiri dari duduknya.


“Sebentar aku ambil handuknya dulu,” kata Tini, membuka lemari tempat ia menyusun perlengkapan serba baru yang dibelinya sebelum pulang kampung. Saat menunduk membuka lemari, Tini merasa bokongnya diremaas dari belakang.


“Oh,” pekik Tini, menoleh ke belakang. Wibisono berdiri di belakangnya. Ia segera menarik selembar handuk dan menyodorkannya pada Wibi.


“Nanti kalau udah pindah ke rumah sendiri, kita bisa nyoba rasanya mandi bareng.” Wibi meraih handuk dari tangan Tini seraya melemparkan senyum nakal.


“Mandi bareng?” lirih Tini dengan sorot mendamba.


“Iya, mandi bareng,” sahut Wibi kembali meremaas bokong Tini.


“Siang ini kita bisa langsung pulang,” jawab Tini, menggigit ujung handuknya.


Wibisono tertawa dan berjalan keluar kamar.


Tini dan Wibi menghabiskan waktu dua hari di Desa Cokro untuk membereskan urusan yang belum selesai. Sesudahnya, sebuah Alphard kembali terparkir di depan rumah Tini dikendarai oleh seorang supir yang travel untuk mengantarkan mereka langsung ke Jakarta.


“Hati-hati di jalan, Tin. Sekarang kamu sudah bersuami. Rawat suamimu seperti Ibu merawat Bapak. Bikin Bapak sulit berpaling ke wanita mana pun,” kata Pak Joko saat mengantarkan Tini keluar rumah.


“Nggih, Pak. Dayat juga diperhatiin. Katanya sekarang mau jadi pengacara. Mau membidik universitas negeri bonafid, jadi Bapak ingetin dia sama cita-citanya. Jangan kebanyakan main dan nggak boleh begadang. Evi sebentar lagi balik ke kos-kosannya. Dia juga bakal cari kerja,” kata Tini mengingatkan.


Evi dan Tini kembali berpelukan dan menangis. Evi tak henti-hentinya mengusap air mata saat mengantarkan kakaknya naik ke mobil.


“Jangan nangis saja. Nanti aku gantian ngurusin pernikahan kamu. Abis itu kita sama-sama ngurus Dayat,” pesan Tini.


“Aku masih lama. Tenang—tenang. Enggak usah dipikirin,” kata Dayat, menepuk-nepuk punggung dua kakaknya.


“Kami berdua enggak percaya untuk itu,” sahut Evi, membesut hidungnya. Gantian Dayat yang melengos.


Tak lama, mobil berangkat dan Tini teler terkapar setengah jam kemudian. Wibisono membiarkan istrinya yang tak berdaya tidur tenang di sebelahnya. Sampai ketika saat langit Jakarta baru saja gelap, mereka tiba di depan rumah baru yang berjarak seratus meter dari rumah Dijah.


Tini melangkah turun dari mobil dibantu Wibisono yang berdiri membelakangi jalan. Saat menginjak jalan di depan rumah, seorang pengendara motor besar berwarna merah melintas di depan mereka. Pengendara itu sempat menoleh dan melambatkan laju motornya, tapi kemudian berlalu.


Tini terkekeh-kekeh melihat pengendara motor itu dari balik tubuh Wibisono.


“Kenapa? Kok, ketawa?” tanya Wibi.


“Yang barusan lewat itu Mas Bara suaminya Dijah. Dia pasti sedang berpikir keras sekarang.” Tini kembali tertawa.


“Kamu belum ada ngasi tau Dijah kalau kita tinggal deket rumah mereka?” Wibi turut memandang ke tempat Bara menghilang di salah satu rumah.


“Belum. Biarin saja. Nanti aku buat kejutan,” sahut Tini.


Seratus meter dari sana. Bara baru memarkirkan motornya di sebelah mobil.


“Jah! Jah!” seru Bara, cepat-cepat turun dari motornya.


Dijah muncul bersama Dul dan Mima yang berada di gendongannya. “Ada apa, Mas? Manggilnya bikin kaget aja,” ujar Dijah dengan wajah bingung.


“Aku kayak liat Tini, Jah. Turun dari mobil di rumah nggak jauh dari sini,” sahut Bara, berjalan keluar pagar seraya menyeret istri dan anak-anaknya untuk melongok. Mobil yang dimaksud Bara sudah tak tampak.


“Ngapain Tini di sini? Dia nggak ada bilang apa-apa, Mas. Kalau ada apa-apa Tini pasti ngomong,” tukas Dijah.


“Iya juga, ya ...,” gumam Bara.


“Iya. Mungkin Mas cuma kebayang-bayang Tini,” kata Dijah.


“Bisa jadi, ya .... Karena keseringan debat sama Tini, aku jadi dihantui Tini Suketi.” Bara menggeleng-geleng tak percaya, lalu menggandeng anak-istrinya kembali ke dalam rumah.


To Be Continued


Maaf updatenya terlambat. Juskelapa sedang sibuk sekali ke sana kemari mengurus urusan duniawi. Besok mau balik ke perantauan. :*