TINI SUKETI

TINI SUKETI
48. Usaha Untuk Bertahan



Tini memakai pakaian terbaiknya pagi itu. Ia bangun lebih pagi untuk mencuci pakaian yang biasa dilakukannya sore hari. Pukul enam semua jemurannya sudah naik dan dijepit rapi di dekat dapur umum.


Ada dua orang yang akan ditemuinya hari itu. Satu adalah seorang pengusaha pemilik kebun sawit yang usahanya ada di Sumatera. Yang kedua adalah seorang pengusaha tambang dari wilayah timur.


Keduanya pernah bertemu sekali dengan Tini. Saat itu tak sempat mengobrol terlalu lama karena Agus lebih banyak mendominasi percakapan. Tapi atasannya itu meminta Tini untuk menyimpan kontak keduanya agar bisa kembali diprospek lain waktu.


Pagi itu ia berencana akan menawarkan asuransi jiwa unit link. Di mana produk yang ia tawarkan memiliki nilai proteksi dan investasi.


“Mbak Tini,” panggil Ayu. Gadis pegawai baru itu tiba sesaat sesudah Tini.


“Ya? Eh, ayu … aku belum bisa ngajarin kamu ini-itu. Aku masih banyak kerjaan. Pagi ini aku langsung keluar mau ketemu Pak Wimar. Setelah ketemu Pak wimar, aku mau ketemu Pak Hamit.” Tini berbicara sambil memasukkan kertas-kertas yang baru dicetaknya.


“Mbak Tini, kemarin aku benar-benar dianterin pulang sama Pak Agus,” ucap Ayu, memandang Tini dari meja sudut yang sudah lama kosong.


Tini terdiam sesaat lalu mendongak menatap Ayu. “Bener dianter? Bagus kalau gitu,” sahut Tini kembali melanjutkan pekerjaannya. “Aku pergi dulu, ya.” Tini menyandang tasnya dan melangkah keluar ruangan.


“Mbak Tin,” panggil Ayu lagi.


Tini berhenti dan menoleh. “Ya? Jangan bingung, Yu. Selama belum ada nasabah yang mau diprospek, kamu baca-baca dulu database kantor. Nyalain komputer yang sebelah sana. Itu nggak di-password, kok.” Tini menunjuk komputer yang sering dipakai Mail.


“Enggak, Mbak. Aku mau nyampein, kalau Pak Agus menawarkan jadi asistennya.” Ayu berdiri dengan tangan menaut di depan tubuhnya.


Kali ini, Tini memutar tubuhnya menatap Ayu. Gadis itu masih muda. Lulusan universitas di Semarang. Usianya baru 23 tahun. Wajahnya manis dan memiliki kulit kuning Langsat.


“Kamu mau?” tanya Tini.


Ayu mengangguk. “Kalau Mbak Tini nggak keberatan,” ucap Ayu.


Tini menarik napas dan menggeleng mantap. “Enggak. Aku nggak keberatan. Bagus malah. Pak Agus sekarang ada yang bantu. Dia nggak akan ngerecokin aku terus,” kata Tini. “Menurut kamu, Pak Agus baik?” tanya Tini pada Ayu.


Ayu yang sejak tadi mengatupkan mulutnya, menyunggingkan senyum tipis. “Baik, Mbak. Suka ngobrol dan banyak tanya-tanya soal kota Semarang. Katanya belum pernah ke sana.” Mata Ayu melebar saat mengatakan hal itu.


“Sekali-sekali ajak Pak Agus jalan-jalan ke Semarang. Dia pasti mau,” ujar Tini. “Aku pergi dulu, ya. Titip pesan ke Mail dan Bowo, nanti aku bisa balik ke sini sewaktu-waktu. Jadi jangan ‘mail’. Oke?”


“Mail apa, Mbak?” teriak Ayu dari dalam ruangan. Tini sudah melangkah ke luar.


“Bilang aja kayak gitu!” sahut Tini dengan teriakan.


Agus belum pernah ke Semarang? Huh! Benar dugaannya. Agus itu terlalu mirip dengan dirinya. Terlalu cerewet dan gengsinya tinggi. Dan ternyata selera mereka dalam soal wanita pun sama. Ayu manis dan sederhana. Tini menyukai gadis itu sejak awal. Andai Ayu diminta menjadi asisten Agus, ia memang tak keberatan sama sekali. Setidaknya Agus menyibukkan diri dengan asisten barunya. Mantan kekasihnya yang bernama Mira itu pun tak perlu dikhawatirkan Tini.


Kemarin Tini sempat menitip pesan pada satpam kantor. Akhirnya setelah sekian lama bekerja di kantor itu, satpam bisa melaksanakan tugas paling berjasa selain menggembok pintu kantor di sore hari.


Ojek yang ditumpanginya tiba di depan kantor yang berada di jajaran ruko. Kantornya kecil saja. Tapi siapa sangka itu adalah salah satu kantor cabang milik perusahaan tambang. Tanpa papan nama dari pamflet. Apalagi tujuannya selain untuk menghindari pajak.


Namanya Pak Hamit. Hasil yang ditambangnya adalah timah. Dengar-dengar Pak Hamit tak pelit. Karena hartanya telah melimpah.


“Saya mau ketemu Pak Hamit. Sudah ada janji pukul delapan pagi ini. Katanya memang harus jam delapan pagi, karena Pak Hamit mau keluar kantor jam sembilan.” Tini berbicara dengan seorang wanita di meja resepsionis. Wanita itu masih memakai rol rambut di poninya.


“Oh, udah janji, ya? Mau apa? Jual asuransi?” tanya wanita itu menatap Tini dengan pandangan sedikit menyepelekan.


Sudah tak mengherankan lagi kalau pegawai asuransi sering mendapat penolakan di mana-mana. Meminta orang menyerahkan uang banyak untuk membeli suatu benda tak kasat mata bukanlah hal yang mudah.


“Iya, Mbak. Saya bawa map seperti ini pasti jualnya asuransi. Kalau tadi saya dateng bawa bakul pagi-pagi gini, bisa jadi saya jual tiwul atau gatot.” Tini sejenak terdiam. Kenapa harus bawa-bawa Gatot setan lagi, batinnya.


“Pak Hamit di dalam. Langsung masuk aja,” sahut resepsionis itu. Tangganya sebelah sana.” Wanita itu menunjukkan sebuah tangga sederhana di sudut ruangan.


Tak sampai sepuluh menit, Tini sudah mengetuk pintu ruangan Pak Hamit yang menghasilkan Timah. Lelaki itu ternyata sendirian berada di ruangannya dan sedang bertelepon saat Tini datang. Dengan pesawat telepon yang masih menempel di telinganya, Pak Hamit meminta Tini masuk.


“Sebentar, ya, Mbak.” Pak Hamit mengatakan hal itu sambil memandang Tini sekilas.


Pagi itu Tini menghabiskan waktunya satu jam hanya untuk mendengar seorang pria bertelepon dengan rekan bisnisnya. Tini duduk rapi dengan sebuah ilustrasi asuransi terbaik yang dibuatnya. Setelah satu jam, Pak Hamit hanya membalik-balik kertas yang disodorkannya.


“Nanti sore saya kabari kamu. Jumlah ini nggak banyak, kok. Dua milyar untuk asuransi jiwa dengan manfaat begitu banyak. Termasuk sedikit buat saya. Sore, di atas jam empat saya telepon kamu. Nama kamu Tini, kan? Belum menikah, ya?” tanya Pak Hamit.


Tini menggeleng. “Belum, Pak.” Tini menjawab dengan sopan meski kesal. Kenapa harus bawa-bawa status? Apa bedanya menjual produk asuransi untuk agen yang sudah atau belum menikah?


Keluar dari kantor Pak Hamit sudah hampir pukul dua belas siang. Mau menelepon Pak Wimar tapi ia sungkan. Jangan-jangan pria itu sedang makan siang. Tapi tanpa membuang waktu, Tini segera menuju sebuah gedung perkantoran besar di pusat kota. Ia menumpangi bus dan turun di halte. Dengan sedikit berjalan kaki memasuki perkantoran itu, Tini berhasil menghemat ongkos.


Benar saja seperti dugaannya. Pak Wimar baru saja keluar makan siang lima menit yang lalu. Lobi gedung kantor itu sangat luas dan banyak orang lalu lalang. Tini duduk di sebelah standing banner dan rak mika berisi banyak brosur yang berisi informasi perusahaan yang berada di satu gedung itu.


Mungkin tampilan Tini terlihat benar-benar familiar sebagai seorang marketing. Posisinya yang terlalu dekat dengan standing banner malah menjadikannya sasaran empuk untuk orang-orang bertanya. Sekejap saja Tini mengisi waktu makan siangnya dengan mengantarkan seorang tua ke informasi. Menjelaskan isi brosur pada seorang kakek dengan penuh kesabaran, sampai akhirnya ia kelelahan dan menghempaskan tubuhnya di sofa panjang tanpa sandaran.


“Mbak Tini?” sapa seorang pria paruh baya dengan seorang pria muda di sebelahnya.


“Pak Wimar?” Tini langsung berdiri merapikan pakaiannya.


“Ayo, ikut saya ke kantor."


To Be Continued