TINI SUKETI

TINI SUKETI
105. Keberhasilan Pertama



Usai dari pabrik, Tini menghubungi Evi mengabarkan kalau ia tak menginap di rumah. Tini memutuskan untuk menemani Reny menginap di hotel.


Sebenarnya urusan bersama Evi belum selesai. Di satu sisi dia ingin berbicara dengan adik-adiknya. Di sisi lain, ia merasa tak mungkin mengajak Reny menginap di rumahnya. Tak ada tempat untuk wanita itu. Fasilitas di rumahnya belum memadai.


Sedangkan untuk membiarkan Reny menginap sendiri di hotel, Tini merasa tidak etis. Reny ikut ke Desa Cokro dalam rangka menemani dirinya. Reny tak mendapat apa pun dari proyek itu jikalau berhasil.


“Kamu harusnya nginep di sini. Aku mau jelasin banyak hal sama kamu,” ucap Evi di telepon.


“Enggak bisa. Besok sesudah dari pabrik kertas, aku mampir ke rumah sebelum balik ke Jakarta. Memangnya sebanyak apa yang mau kamu jelasin?” tanya Tini dengan nada rendah.


“Sebanyak apa, ya? Kalau ditanya aku lupa. Tapi kalau udah dimulai ngobrol, pasti bisa berjam-jam,” sahut Evi.


Akhirnya pembicaraan usai dengan hasil Tini berhasil menenangkan Evi yang selalu berapi-api.


Reny baru saja keluar kamar mandi. Rambutnya basah dan wanita itu langsung duduk di depan meja rias masih sambil mengenakan bath robe.


“Kamu itu keren banget, lho, Tin. Aku suka kamu bisa jelasin ke Pak Selamet soal biodiesel selancar itu,” ucap Reny, menatap Tini dari pantulan cermin.


“Pak Riyadi maksudnya?” koreksi Tini.


“Eh, iya. Pak Riyadi, ya? Pak Selamet dan Pak Riyadi. Bukannya biasa itu jadi satu nama, ya?” Reny menoleh pada Tini seraya terkekeh.


“Ada yang mirip tapi bukan kembar,” jawab Tini ikut tertawa.


Hari terakhir mereka di daerah itu hanya tersisa mengunjungi satu pabrik. Total dari target Tini berjumlah empat pabrik. Setelah menghabiskan waktu lebih kurang tiga jam di pabrik kertas, Tini meminta supir kantor untuk kembali ke rumahnya.


“Kok, cepet? Memangnya di pabrik kertas berapa lama? Kamu yakin dapet proyeknya kalau sosialisasi secepat itu?” Evi mencecar kakaknya dengan pertanyaan.


“Aku udah berlatih ngomong itu semalam suntuk sebelum dateng ke sini. Udah ngomong di beberapa pabrik. Jadi sosialisasiku pasti lancar banget kayak ngomongin kejelekan orang,” jelas Tini di depan pintu rumah.


“Mbak Reny, Pak, ayo masuk dulu. Saya udah bikin teh dan baru goreng bakwan. Enggak ngerepotin, kok. Ayo—ayo,” ucap Evi dengan lancarnya. Ia dengan cepat menegaskan hal itu tidak merepotkan karena melihat supir kantor yang dibawa Tini sedang meringis dan membuka mulutnya mau berbasa-basi.


Reny dan supir kantor duduk bersantai di ruang tamu.


“Aku nggak lama-lama. Paling lama satu jam lagi kita balik ke Jakarta. Aku juga nggak mau Mbak Reny kemalaman,” kata Tini.


“Santai aja, Tin. Enggak buru-buru, kok.” Reny mengangkat cangkir keramik dan mulai menikmati tehnya. Sedangkan supir kantor sedang mengambil bakwan kedua dan meniup-niupnya.


Evi menyeret tangan Tini ke kamar. Gadis itu langsung mengeluarkan bungkusan besar berisi kain meteran berwarna merah jambu yang sudah dikemas perpotongnya dengan ukuran satu standar orang dewasa.


“Ini, coba kamu liat. Aku ambil kertasnya dulu. Kamu tinggal bagikan ini ke temen-temen kamu, Mbak. Itu ada batiknya juga buat Mas Boy, trus untuk suaminya Mbak Dijah yang ganteng itu, trus untuk … siapa itu pacarnya Mbak Asti? Mas Bayu, ya?” tanya Evi, memandang Tini.


Tini mengangguk. “Ini semua kamu yang belanja? Uangnya dari mana? Enggak mungkin uang kamu sendiri. Kalau ngepet juga nggak mungkin, Dayat tukang tidur. Dia nggak akan sanggup jaga lilinnya. Bapak juga nggak mungkin melihara tuyul. Waktunya udah habis buat melihara Puput,” tutur Tini, menatap Evi dengan raut curiga.


“Dikasi Mas Wibi, Mbak. Semua kebutuhan pesta udah dikasi Mas Wibi. Aku catet dengan sebenar-benarnya. Aku nggak ada korupsi dan siap diaudit kapan aja,” jelas Evi, membusungkan dadanya dengan bangga.


“Jangan bilang benerin rumah ini juga dari Wibi. Bisa malu aku, Vi. Aku udah ngasi duit ke kamu. Pakai uangku aja,” ujar Tini dengan raut khawatir.


“Benerin rumah ini uang Bapak. Gitu-gitu Pak Joko nggak mau ngambil uang anaknya buat benerin rumah. Katanya itu bagiannya dia,” jelas Evi.


“Oh," lirih Tini. "Aku ketemu Coki di pabrik. Kayaknya Siti masih dendam soal sabotase pesta itu. Sekalian aku tantangin mereka buat bales di pestaku nanti. Kesel aku,” kata Tini.


“Aku itu hebat karena bisa ngomong gitu meski aku belom punya rencana apa-apa,” kata Tini lalu terkekeh.


“Jadi gimana kira-kira hasil sosialisasi kamu dua hari ini?”


“Aku udah melakukan yang terbaik. Selanjutnya aku cuma mengikuti takdir. Kalau memang untukku, itu nggak akan ke mana-mana. Tuhan itu pasti memperhitungkan usaha kita.”


“Dari ucapanmu aku semakin yakin kamu udah bertambah tua. Ya, udah. Di bawa semuanya. Pestamu itu nggak lama lagi. Aku udah pesen semuanya sesuai yang kamu mau. Tinggal nunggu kabar dari Mas Wibi soal ….” Evi berhenti bicara.


“Soal apa?” tanya Tini.


Evi menggeleng. Ia hampir keceplosan soal maskawin yang akan diberikan Wibisono pada kakaknya.


“Dayat mana? Kok nggak keliatan?” tanya Tini.


“Pergi ke warnet katanya belajar,” sahut Evi.


“Terus kamu percaya? Dikasi seratus ribu bisa dua hari di warnet. Kalau dikasi satu juta, dia bisa-bisa bawa pakaiannya pindah ke warnet,” omel Tini.


Siang itu juga Tini dan Reny langsung bertolak ke Jakarta. Para petinggi pabrik yang didatanginya, mengatakan akan memberi kabar balasan proposal secepatnya.


Tini tak mau mendesak soal hasil proposal itu. Ia yakin kalau tipikal para petinggi akan jengah jika terlalu dikejar dan ditanya berulang kali. Tini menetapkan batas waktu tiga hari sampai seminggu untuk hasilnya. Jika mencapai waktu itu, ia belum memperoleh jawaban, Tini akan menghubungi pihak pabrik lebih dulu.


Sementara menunggu berita, Tini memutuskan untuk mencoba peruntungan di proposal lain.


Hari keempat sesudah kunjungannya ke pabrik-pabrik itu, Tini terduduk kelelahan di teras depan kamarnya. Tini baru pulang kerja pukul sembilan malam. Ia memandang satu proposal yang menawarkan bahan baku kelapa sawit untuk kosmetik. Tangannya mengangkat proposal itu tinggi-tinggi dan menerawangnya di bawah lampu.


“Ngapain pula kau kayak gitu?” tanya Mak Robin saat membuka pintu kamarnya dan melihat Tini duduk sendirian.


“Aku cuma mau memastikan ini bukan mimpi,” ucap Tini, masih memandang proposalnya.


“Kenapa?”


“Sore tadi aku berhasil memasukkan produk perusahaanku tanpa harus ngomong panjang lebar. Bahan kosmetik ini. Bikin lipstik. Kata-kata seniorku yang lain, jumlah insentifnya nggak besar. Tapi buatku ini sangat besar, Mak. Aku nggak nyangka,” ucap Tini lagi.


"Berhasil?" tanya Mak Robin.


Tini mengangguk, "Ternyata banyak duit itu enak."


“Yah, syukurlah. Ikut senang aku dengarnya kalo kawanku cerita banyak uang. Ketimbang dengar kawanku mau jual ginjal tiap hari. Jadi cemana? Kau mau kawin. Gak ada acara dipingit? Kudengar ada dipingit-pingit gitu, Tin. Kau enggak?” Mak Robin ikut duduk di sebelah Tini.


“Aku? Siapa yang mingit aku? Aku memingit diriku sendiri? Kalau badanku dipingit, aku juga harus memingit dompetku, Mak. Sekarang aku malah lagi galau nunggu kabar balasan proposal yang kukirim ke pabrik-pabrik itu. Aku udah pakai biaya kantor buat ke kampungku. Kalau nggak berhasil, memang nggak masalah. Tapi selaku insan yang bertanggung jawab, aku nggak enak.”


“Kau pun sibuk kali kutengok beberapa hari ini. Santai sikitlah yang nyari uang itu. Kau urus juga soal pesta kau. Jangan pulak banyak duit, tapi kau sakit kuning,” kata Mak Robin dengan wajahnya yang serius.


“Mulutmu, Mak. Aku mau panjang umur. Aku belum nikah dan belum nikmat bersama Mas-ku. Ngomong-ngomong soal resepsi, lusa kita rapat di rumah Dijah. Ada hal darurat yang harus kita bahas soal resepsiku. Kalian jangan ke mana-mana, ya.”


To Be Continued