TINI SUKETI

TINI SUKETI
74. Bagi-bagi Rejeki



“Selamat pagi …,” sapa Tini, meletakkan tasnya di atas meja yang biasa di tempatinya di ruang meeting.


Seorang pria yang duduk di balik meja, hanya melirik padanya kemudian kembali mengalihkan pandangan pada ponsel yang sedang dipegang. “Pagi,” sahut pria itu.


“Kayaknya aku belum terlambat. Yang lain juga belum dateng,” gumam Tini, menoleh jam di pergelangan tangannya.


Apa hanya di kantor itu yang bosnya lebih dulu datang dibanding bawahan? Tini sedikit merasa tak enak. Di kantor lamanya, biasa Agus akan datang paling akhir ke ruang meeting.


“Kepagian, ya, Pak?” tanya Tini pada pria di balik meja.


“Sudah terbiasa,” sahut Dean. “Ehem! Gimana? Polis saya sudah masuk?” tanyanya lagi.


“Udah, Pak. Tadi pagi—“


“Apa kata bos kamu? Mmm—maksud saya, apa kata mantan bos kamu? Ada memberi tawaran ke posisi baru?" tebak Dean.


"Ada, Pak. Katanya kalau saya nggak keburu pindah, saya bisa jadi kepala penjualan.”


“Kamu jawab apa?” Dean melirik Tini sekilas lalu mengetik di ponselnya dengan sangat cepat.


“Basi! Madingnya keburu terbit.”


Dean langsung mendongak menatap Tini.


“Bercanda, Pak. Masih pagi suasana nggak boleh kaku.” Tini meringis memandang atasannya.


“Kalau nggak keluar, nggak akan ada polis dalam jumlah besar itu. Artinya kamu masih di perusahaan itu dan tetap nggak jadi Kepala Penjualan. Klasik,” ucap Dean.


“Eh? Iya juga, ya.” Tini mengangguk-angguk.


“Tugas kamu sudah selesai? Yang saya minta—“


“Sedang tahap pengerjaan,” jawab Tini.


“Mulai diplomatis jawaban kamu,” tukas Dean. “Jangan lupa, lusa saya terakhir ngasi materi di sini. Selesaikan apa yang saya minta. Saya mau tau soal sejauh mana kamu memahami konsep marketing dasar. Inget, jawaban itu nggak perlu yang terlalu rumit. Kadang-kadang kita terlalu sibuk nyari jawaban yang paling istimewa sampai lupa bahwa jawaban yang tepat itu sangat sederhana. Orang sibuk melakukan hal-hal luar biasa dan lupa melakukan hal kecil yang nyatanya bisa jadi lebih istimewa. Paham?” tanya Dean, meletakkan ponselnya dan memandang Tini.


Penjelasan pria di depannya sedikit rumit. Tini mengangguk meski otaknya masih mencerna. Entah kenapa, ia merasa bahwa si pemilik saham itu selalu bisa menemukan perpaduan kata yang tepat.


“Oh, ya, Pak. Terima kasih, udah tanda tangani polisnya kemarin. Saya dapat pujian dan dapat insentif dari kantor lama saya. Sebenarnya ini menjawab kegelisahan saya beberapa waktu yang lalu soal—“


“Bagus kalo begitu,” potong Dean. “Saya ngerti. Dan jawaban saya, ‘you’re welcome’. Jangan lupa kabari saya soal cara menghadapi mertua kemarin. Saya sempat cerita ke istri dan sekarang saya baru sadar kalo pertanyaan itu, sudah melenceng jauh dari topik training. Untungnya istri saya nggak cemburu waktu saya ngobrol soal percakapan kita.”


“Masa, sih, istri Bapak nggak cemburu?” tanya Tini heran.


“Mungkin karena dia tau sama kamu,” jawab Dean santai.


“Oh.” Mulut Tini membulat. Jawabannya sederhana, tapi cukup membuatnya kesal.


Training hari itu diakhiri pukul lima sore tepat oleh Pak Wimar yang memberikan pelajaran soal profil perusahaan dan semua cabang usahanya. Tini lagi-lagi terkesima. Betapa semua orang di kantor itu memiliki kemampuan berbicara di depan umum yang sangat bagus, pikirnya. Kata-kata yang keluar dari mulut mereka tertata apik. Dilengkapi dengan bahasa tubuh yang luwes dan sederhana, menjadikan tiap pembicara dalam training itu sangat elegan dan profesional.


“Lusa—lusa. Enggak terasa udah lusa aja. Apa yang harus aku ketik di selembar kertas itu?” Sepanjang menyusuri gang, Tini terus bergumam.


“Mukamu, kok, gitu?” tanya Evi setibanya Tini di depan teras.


“Udah kayak mahasiswi diploma aja. Pakai tugas akhir segala,” tukas Evi.


“Mulutmu jangan sembarangan. Aku punya segepok uang Proklamator yang bisa aku urungkan pembagiannya kapan pun aku mau.” Tini menepuk tasnya.


“Niatku itu mau membantu, Mbak.” Evi menarik lengan Tini dan mendudukkan kakaknya di kursi plastik. “Apa tugasmu itu? Biar aku bantu. Jangan bikin ilmu yang udah aku pelajari, jadi sia-sia.” Evi memijat-mijat bahu kakaknya yang mencibir.


“Udah pulang,” ucap Dayat yang baru keluar dari kamar. “Enggak ada niat ngajak kami berdua jalan-jalan, Mbak? Liat Monas, gitu?” Dayat duduk di depan Tini.


“Mau banget. Waktunya yang belum ada. Sabar,” ucap Tini. “Mending kalian bantu aku ngerjain tugas training-ku dulu. Eh, sebelumnya aku mau ngasi—“


“Udah pulang kau, Tini?” Mak Robin yang baru keluar dari kamarnya seketika membuat Tini terdiam.


Tadinya Tini mau memberi tahu Evi soal uang yang baru saja didapatnya. Tapi berhubung Mak Robin muncul, Tini merasa lebih bijaksana untuk menundanya.


“Aku baru pulang. Ini mau mandi dulu. Malam nanti, semua aku traktir makan bakso. Gimana?” Tini berdiri memegang tasnya menatap Mak Robin.


“Aku mau-mau saja. Gak enak pun, kalo gratis, aku mau. Mandilah kau sana. Kupanggil dulu si Asti keluar.”


Tini pergi melenggang masuk ke kamar dan tak lama kembali lagi keluar dengan handuk dan baju ganti. Di tangannya tergenggam ponselnya.


“Jangan bawa hape! Nanti lama!” jerit Evi pada kakaknya.


“Lebih lama kalau aku bawa bantal!” sahut Tini.


Menjelang malam, Boy masuk ke pekarangan dengan menumpangi ojek. “Pada mau ke mana?” tanya Boy.


“Bukannya tadi sudah dikasi tau sama Asti?” Tini sedang mengunci pintu kamarnya.


Semua orang sudah menunggu di halaman. Asti dan Evi sepertinya sudah menjalin keakraban dalam dua hari terakhir. Kedua gadis itu tengah bercakap-cakap dengan suara rendah. Dayat sedang berbicara di telepon dengan kepala menunduk dan kakinya menendangi kerikil di halaman. Dari raut dan nada bicaranya, bisa dipastikan lawan bicaranya adalah seorang gadis. Mak Robin tengah memanaskan mesin motornya dengan Robin yang sejak tadi sudah bersiap di boncengan.


“Iya. Aku tau. Mau kamu traktir makan, kan? Di mana? Maksudku, makan apa di mana?” Hanya Boy yang tidak memiliki aktivitas di halaman. Dia hanya berdiri memandang aneh pada Tini.


“Makan bakso yang baru buka di dekat ruko roti bakar SEEMPUK SETUMPUK. Dari minggu lalu aku selera liat itu. Malam ini aku traktir semuanya.” Tini menyandang tasnya.


“Kalo memang di sebelah ruko roti bakarku, ngapain aku pulang? Mending aku tunggu di sana,” omel Boy.


“Yang ngasi tau kamu siapa?” tanya Tini.


“Asti,” jawab Boy. “Bukannya ngomong,” sungut Boy lagi.


“Aku memang belum ada ngomong mau makan di mana. Emosi harap ditahan. Biar adil. Semua harus pergi dari rumah,” kata Tini.


Boy bersungut-sungut tapi kemudian kembali diam menatap tampilan Tini. “Kamu pergi kayak gitu?”


Semua orang yang tengah sibuk tadi seketika terdiam menatap Tini.


“Memangnya kenapa? Aku mau naik taksi. Kakiku pegel seharian pakai sepatu tinggi. Ini adalah dandanan paling nyaman,” jawab Tini, mengibaskan daster batiknya. Di bawah daster itu ia mengenakan sepatu olahraga. Tak lupa ia menyandang tasnya yang berisi uang.


To Be Continued