TINI SUKETI

TINI SUKETI
81. Renungan Perjalanan



“Sini tasnya biar aku bawa. Kita nggak lewat garbarata. Liat, tuh, semua turun harus jalan kaki ke pesawat.” Wibisono menunjuk sebarisan orang yang berduyun-duyun menuju ke tangga pesawat.


“Garbarata itu apa, Mas?” tanya Tini menuruni anak tangga batu dengan tangan Wibi mencengkeram lengannya dengan erat. Padahal Tini mengenakan sepatu yang tapaknya rata. Bukan sandal kayu tinggi yang biasa disebut Boy sebagai dingklik.


“Garbarata itu jembatan yang menghubungkan penumpang langsung ke mulut pesawat. Bahasa Inggrisnya aviobridge. Garbarata buatan Indonesia itu terkenal di luar negeri, lho. Diekspor dan banyak negara maju yang make. Contohnya Jepang,” jawab Wibisono.


“Oh, namanya itu,” gumam Tini.


“Biasa nyebutnya apa?” tanya Wibi. Ia harus sedikit menunduk untuk memandang Tini. Calon istri yang akan ia kenalkan pada orang tuanya itu, memiliki tinggi hanya sebatas dadanya.


“Belalai, Mas. Boy pernah bilang itu jembatan belalai. Aku inget belalainya aja. Soalnya aku baru dua kali naik pesawat. Ikut Dijah honeymoon ke Bintan. Sama ikut Mas Wibi.” Tini nyengir.


“Nanti aku ajak sering-sering naik pesawat. Kita bisa nebeng grup tour. Kantor tour travel di Jakarta sebentar lagi buka,” kata Wibisono mengingatkan soal usahanya.


Tini mengatupkan mulutnya dan mengangguk pelan saat mendengar itu. Ternyata benar apa yang dikatakan atasannya yang cerewet. Ada kalanya pria itu lebih suka wanita yang polos dan tidak serba tahu. Pria memiliki ego memimpin yang harus dipuaskannya.


Wibi melihat Evi dan Dayat berjalan mendahului mereka berdua. Hari itu, ia akan memimpin perjalanan tour paling spesial yang pernah dilakukannya. Membawa tiga orang bersaudara berkunjung ke kampung halaman. Untuk bertemu dengan keluarga dan sanak saudaranya.


Perjalanan ke Surabaya akan memakan waktu terbang tak lebih dari 1,5 jam dari Jakarta. Mereka semua duduk di kelas ekonomi. Bukan tak sanggup membelikan tiket kelas bisnis. Alasan Wibisono sederhana saja. Kursi kelas ekonomi duduknya lebih berdekatan. Dia sudah mendengar dari Bara kalau Tini menderita mabuk perjalanan yang lumayan ekstrim. Tapi wanita itu sejak tadi berlagak santai meski wajahnya belum apa-apa sudah pucat pasi.


Evi dan Dayat sudah menempati kursi mereka masing-masing. Evi duduk di dekat jendela dan Dayat di sebelahnya. Sedangkan Tini duduk di sebelah jendela tepat di depan Evi.


Setelah meletakkan tas pakaian kecil milik Tini dan ranselnya ke atas kompartemen bagasi kabin, Wibi duduk ke sebelah Tini yang duduk memangku tasnya dengan begitu kalem.


Dari belakang Wibisono mendengar Evi dan Dayat sedang berdebat kecil soal siapa yang duduk dekat jendela. Sepasang kakak adik itu akhirnya berdamai dengan cara suit. Dayat mendapat kesempatan satu jam pertama duduk di dekat jendela, sedangkan Evi sisanya. Dalam hatinya berkata, kakak adik itu cukup kreatif dalam mengatasi bibit perselisihan.


“Kamu nggak apa-apa?” tanya Wibi, meraih tangan Tini dari atas tas dan menggenggamnya. “Kamu pucet banget,” sambung Wibi. Wanita yang beberapa saat lalu melontarkan gombalan receh padanya, kini duduk rapi dan anteng.


“Aku nggak apa-apa. Cuma menikmati perjalanan,” jawab Tini. Ia yang sudah meneguk obat anti mabuk perjalanan sudah mulai mengantuk. Walau merasa sayang akan momen bersama Wibi akan terlewati begitu saja, tapi Tini lebih memilih tertidur lelap ketimbang harus muntah berkali-kali di depan pria itu.


Pintu pesawat tertutup dan roda mulai bergerak mundur menjauhi garbarata. Suara mesin pesawat menderu bising, Wibisono melingkarkan tangan di bahunya. Menarik tubuhnya untuk bersandar di dada pria itu. Jantung Tini semakin berdebar tak santai. Jantungnya bingung mau berdebar karena hal apa. Karena pesawat yang akan lepas landas, atau aroma parfum Wibisono yang memenuhi hidungnya.


Di antara kegalauan itu, tiba-tiba Tini merasa tubuhnya terangkat dari bumi. Sedetik kemudian ia merasa kepalanya menyentuh lengan Wibisono.


“Astaga, ya, ampun!” pekik Tini, memeluk lengan Wibisono sekuat-kuatnya.


Samar-samar sebelum memejamkan mata, Tini mendengar suara Dayat bertanya, “Mas, Mbak Tini udah pingsan?”


Dasar adik kurang ajar, batin Tini.


Wibi mengambil tas yang berada di pangkuan Tini dan gantian memangkunya. Sedikit khawatir tas itu akan jatuh ke bawah kolong kursi di depan mereka. Tini tertidur nyenyak seperti layaknya orang pingsan. Kepala Tini terkulai lemas menghimpit lengannya. Dan ia tetap mempertahankan posisi itu hingga satu jam lebih. Tak apalah, pikir Wibi. Melihat wajah Tini yang pucat dan dahinya sedikit bertitik keringat, Wibi merasa iba.


Wanita yang akan diperistri olehnya itu adalah anak sulung yang sudah terlalu lama merasa kuat sendirian. Wanita yang tak mau bersedih dan selalu menanggapi hidupnya seperti guyonan. Tini yang salah tingkah kalau berada didekatnya. Tak terasa, Wibi tersenyum.


Pernah memiliki seorang kekasih dari keluarga kaya raya, membuat Wibi juga pernah merasa kecil di hadapan keluarga wanita yang dicintainya. Perasaan yang mungkin kurang lebih sama dengan yang dirasakan Tini padanya.


Rendah diri. Rikuh. Merasa tak pantas mendapat sesuatu yang lebih baik. Memuja sesuatu berlebihan karena tahu mustahil memiliki hal itu. Mungkin begitulah yang dirasakan Tini padanya. Tini menyukainya sejak awal. Ia tahu itu. Tapi Tini melontarkan hal itu sebagai candaan karena berpikir bahwa ia tak akan menanggapi hal itu. Padahal, tanpa Tini sadari, ia menikmati candaannya. Ia suka Tini memujanya. Ia tak peduli apa yang terjadi di masa lalu pada wanita itu. Karena Tini adalah wanita pertama yang menanggapi cerita soal mantan pacarnya hanya dengan sambil lalu.


Tini wanita pertama yang mendengar seluruh ceritanya dengan wajah santai. Semua hal yang dirasanya aneh, ditanggapi biasa saja oleh Tini. Wanita itu seakan mengerti semua keanehan isi dunia. Baginya, semua hal bisa diterima oleh akal dan dengan sepenuh hati memakluminya.


Wibisono mau hidup dengan didampingi wanita seperti Tini. Wanita yang bisa mendengar ceritanya dan berceloteh jujur menanggapinya. Wibisono mau pendamping yang gigih memperjuangkan keluarga seperti Tini. Wanita yang tidak hanya berpangku tangan meratapi nasib, tapi juga melakukan sesuatu untuk mengubah nasibnya.


Wibisono jatuh hati pada Tini karena ketabahan wanita itu. Yang tidak mau dikasihani dan berharap bantuan dari orang lain. Terlebih lagi, Tini lucu. Ia yakin hari-harinya tak akan membosankan jika hidup bersama wanita itu.


Usai dari toilet di ruang tunggu tadi, ia sudah mengabari pada keluarganya bahwa mereka semua berada di bandara dan akan tiba di Surabaya beberapa jam ke depan. Nada suara ibunya terdengar bersemangat. Bahkan ibunya sempat mengatakan, “Ibu seneng, Bi. Ibu sangka kamu bener-bener kecewa dengan Nabila, sampai trauma nggak mau berumah tangga.”


Wibi tertawa mendengar perkataan ibunya. “Aku kecewa, Bu. Tapi bukan berarti aku trauma nggak mau menikah. Aku cuma belum menemukan orangnya. Nah, sekarang udah ketemu. Jangan lupa siapin makan siang yang enak,” jawabnya.


Pengumuman dari kokpit baru saja terdengar. Sesaat lagi roda pesawat akan menyentuh Bandara Internasional Juanda. Sudah saatnya membangunkan Tini.


Wibisono menyentuh pelan pipi Tini. “Tini, bangun. Kita udah nyampe.” Panggilan lembut itu ternyata tak membuat Tini terjaga.


Wibisono kembali menepuk pelan lengan Tini, ditambahi dengan sedikit mengguncang bahu calon istrinya. “Tini, kita udah nyampe.”


Tini mengerjap membuka mata dan gelagapan. Refleks wanita itu mengusapkan mulutnya pada lengan kemeja Wibisono yang sejak berangkat ia tumpangi sebagai bantal.


“Udah nyampe, Mas?” tanya Tini mendongak menatap Wibi.


Wibisono mengangguk. Lalu pandangan mereka berdua berpindah pada lengan kemeja yang kini bercorak kekuningan karena bedak dan usapan lipstik dari mulut Tini.


To Be Continued


Catatan :


Buat yang masih bertanya-tanya soal, "Apa Wibi sudah bisa menerima Tini?" silakan mundur baca kembali Bab 59. Mulai Serius. Dibaca pelan-pelan dan diresapi tiap dialog dan narasinya.