
Boy bangkit dari duduknya, padahal ia tadi sedang membongkar bungkusan rujak yang dibawa Asti. “Udah, duduk di sini. Ini, kan, bisa.” Boy sedikit menggeser kursinya. “Kalo berantem terus kapan makannya,” omel Boy.
“Yang berantem siapa, toh, Boy? Aku sebagai senior cuma ngasih saran,” sahut Tini, menyisir rambut dengan jemarinya.
“Ini rujaknya. Udah aku bagi. Jadi enggak ada yang mengeluh dan enggak ada yang menyahuti keluhan,” tukas Asti, membagikan piring kecil berisi rujak.
“Mbak Ast—”
“Apa lagi? Mau komplain soal potongan buahmu? Kurang? Asti pasti adil. Rujaknya udah ditimbang,” ketus Tini.
“Mau bilang aku nggak suka bengkuang. Siapa yang mau?” tanya Dara, menyodorkan piringnya ke tengah.
Tak ada yang menyahuti perkataan Dara, semuanya menunduk di atas piring kecilnya.
“Kalau nggak tau cara buangnya, kunyah, telen,” bisik Tini pada Dara.
Hanya Dara yang mendengar perkataan Tini. Gadis itu kemudian diam dan ikut menunduk di atas piring kecilnya.
“Pak Agus gimana, Mbak?” tanya Asti.
“Agus sekarang sedang meladeni mantan pacarnya yang baru aja jadi janda,” jawab Tini.
“Kasihan Mbak Tini,” ucap Asti.
“Kasian kenapa? Masih banyak anak terlantar yang bisa kamu kasiani. Jangan aku,” sahut Tini, mengaduk-aduk piring kecilnya.
“Jono, Tin?” Gantian Boy yang bertanya.
“Jono sehat dan masih ganteng. Hobinya Jono itu yang bikin aku mumet. Sleep call. Teleponan pakai video sampai ketiduran. Liat-liatan muka sambil tidur itu maksudnya apa coba? Aku nggak yakin dia masih suka sama aku, kalau udah ngeliat aku melukis bantal.” Tini menggeleng lemah.
“Naga-naganya ada orang baru. Aku dah hapal kali otak si Tini ini,” cetus Mak Robin tiba-tiba.
Tini tertawa terbahak-bahak.
“Serius, Mbak?” tanya Asti, memangku piring kecilnya yang sudah kosong.
“Laper rupanya,” kata Tini, menunjuk piring kosong Asti.
“Jawab dulu. Memangnya ada yang baru? Siapa? Kenal di mana?” tanya Asti antusias.
“Kusebut dia tampan dan berkualitas,” jawab Tini dengan pandangan menerawang.
“Dia udah ada sinyal?” tanya Boy malas-malasan.
“Udah. Sinyal providernya,” jawab Tini terkekeh.
“Aku serius,” sergah Boy.
“Belum Boy—belum. Astaga ... kamu ini kayak Pakle-ku aja nyinyirnya.” Tini menendang tulang kering Boy.
“Kamu jangan geer dulu, Tin. Jangan sampe cinta kelapa. Kamu kelepek-kelepek, dia nggak rasa apa-apa. Jangan menuai—”
“Enggak, Boy. Aku ini cukup tau diri. Adikku, Evi bilang, seleraku jangan ketinggian. Cari yang biasa-biasa aja. Kata Evi ingat umurku udah banyak. Apa karena umurku udah banyak, terus aku harus buru-buru dan asal-asal? Biar lambat asal selamat, Boy. Bagi perempuan pernikahan itu diharapkan cuma terjadi sekali dalam hidupnya. Bagi lanang, ya, embuh.” Tini mengambil kotak rokoknya dan segera menyulut sebatang.
“Memangnya sama Agus kemarin kurangnya apa lagi? Agus itu gagah, lho, Tin.” Boy yang selama ini jarang bertemu Tini, sore itu berkesempatan memberi wejangan.
“Kurangnya apa lagi?” tanya Tini, menelengkan kepalanya dengan raut berpikir. “Kurang visi misi, kurang hot, kurang jelas, banyak kurangnya buat aku. Bawel banget. Aku ini udah bawel. Kalau dapet suami yang sama bawelnya, kamu bayangkan rumah kami seperti apa? Mungkin setiap malem kami akan membuat acara talk show live streaming,” tutur Tini lalu menyesap rokoknya.
“Kamu belum apa-apa pikirannya udah yang hot-hot terus,” kata Boy.
“Kamu juga jangan ngeyel, Boy. Meski usaha roti kamu tersebar di seluruh Indonesia, kalau anumu itu nggak jelas. Enggak ada gunanya. Kamu kira tatap-tatapan aja bisa kliimaks?” tanya Tini dengan sarkasnya.
“Makanya kalian berdua,”—Tini menunjuk Dara dan Boy bergantian—"kalau memang mau pacaran, harus jelas. Bicarakan soal tugas pokok dan fungsi masing-masing."
Boy mendengus.
“Jadi yang baru siapa, Tin?” tanya Boy.
“Ada cowok ganteng temennya si Agus dan Heru. Masih single. Pengusaha tour dari Surabaya,” jawab Tini.
“Dari si Heru? Mana yang lebih macho? Kau , kan, suka pening liat jambang laki-laki,” kata Mak Robin.
“Heru? Siapa dia?”
“Muncung kau itu sekarang bilang siapa Heru. Kemarin-kemarin, kau lupa benapas tiap liat dia.” Mak Robin nyaris menusukkan garpunya ke paha Tini saat mengatakan hal itu.
“Jangan baper dulu, Mbak Tini,” kata Asti.
“Enggak, kok. Aku biasa aja. Buktinya sampai sekarang aku nggak ada tuh ganggu-ganggu dia. Namanya Hapsoro Wibisono. Denger namanya aja, aku kayak lagi ada di tengah taman bunga. Adem. Apalagi kalau denger dia ngomong. Suaranya As .... Ampun aku.” Tini bergidik, menyilangkan tangannya di dada dan mengusap-usap lengannya.
“Kenapa rupanya suaranya? Macam dengar entah hapa! Lebay kali si bodat ini,” kesal Mak Robin.
“Jangan mencari seseorang untuk bisa move on, tapi move on-lah untuk mendapatkan seseorang,” ucap Boy.
“Tapi nyatany, kalau nggak mendapatkan seseorang, kita akan sulit untuk move on. Dapet seseorang yang lebih baik dari sebelumnya, akan membantu kita lebih cepat move on. Logikanya begitu, Boy.” Tini tersenyum puas menatap Boy.
“Hidup itu kadang kayak mancing ikan. Kalo kita mau dapat ikan besar, harus berani agak ke tengah. Harus bersabar. Karena ikan besar biasanya nggak kayak ikan-ikan kecil yang banyak di pinggir.” Mak Robin yang tadi diam, tiba-tiba mengeluarkan kata-kata motivasinya.
“Dan yang nggak kalah penting itu umpannya. Kalo umpan cacing jangan pengen dapet paus,” sahut Boy.
“Dan kalo mau dapet ikan yang gede, beli aja di pasar pake duit. Begitu juga hidup, kalo kita punya duit, hidup akan mudah.” Dara ikut-ikutan mengeluarkan kata-katanya.
Tini melirik sinis pada gadis itu. “Kamu makan rujak aja. Habiskan semua bengkuang itu,” kata Tini pada Dara.
“Aku milih nyebur aja, meski resikonya kelelep. Puas kalian?” kesal Tini, mencampakkan puntung rokoknya ke halaman.
“Pokoknya Mbak Tini jangan baper dulu, nanti Mbak Tini kasian.” Asti berbicara mengingatkan.
“Iya—iya, berisik. Aku nggak akan baper-baper. Hatiku sudah aku kendalikan. Aku juga tau kalo laki-laki kayak Wibisono itu nggak akan nyari pendamping hidup kayak aku. Aku ini perempuan yang—”
Bila yang tertulis untukku
Adalah yang terbaik untukmu
‘Kan kujadikan kau kenangan
Yang terindah dalam hidupku
(Kenangan Terindah – Samsons)
Ringtone ponsel Tini yang bergenre remix terdengar dari kamar. Ia segera bangkit dari duduknya menuju kamar. Saat ponsel telah berada di tangannya, mata Tini membulat tak percaya. Ia keluar kamar dengan telunjuknya berada di bibir. Meminta semua penghuni yang sudah kenyang makan rujak untuk tetap diam.
“Ya, halo? Selamat Sore dengan Tini Su agen asuransi X-Tra Large ada yang bisa dibantu?” sahut Tini kemudian menutup mulutnya dengan anggun.
“Mbak Tini? Ini Wibisono. Maaf mengganggu waktunya di akhir minggu. Langsung aja, ini soal yang kemarin. Aku ada tertarik dengan tiga perusahaan asuransi. Bisa tolong dijelaskan kelebihan dan kekurangan tiga perusahaan itu? Mbak Tini kapan ada waktu? Senin besok, Mbak Tini bisa?” tanya Wibisono di seberang telepon.
“Besok Senin, ya? Mmmm—kayanya bisa. Tapi sorean, ya. Saya ada briefing dengan tim kalau pagi. Oke—oke. Enggak masalah. Enggak, kok. Lagi santai aja di coffee shop bareng temen. Ngemil-ngemil sore,” sahut Tini, menutup mulutnya.
Usai menerima telepon, Tini mencampakkan ponselnya ke pangkuan Asti. “Aku nggak baper, As—aku nggak baper. Lama-lama aku udah terbiasa,” ucap Tini menyibak rambutnya ke belakang bahu.
"Coffee shop muncung kau itu," umpat Mak Robin. Tini mencibir mendengar umpatan Mak Robin.
“Kalo gitu, Mbak Tini juga harus ada perubahan,” kata Asti. “Untuk dapet orang yang lebih baik, kita juga harus jadi orang yang lebih baik,” sambung Asti.
“Apa itu?” tanya Tini dengan raut curiga. Ia sudah bisa menebak kalau Asti akan memintanya melakukan hal aneh.
“Berenti merokok,” tukas Asti.
“Naaah! Kalo itu setuju kali aku! Biar nggak kayak cerobong asap muncung kau,” tambah Mak Robin pada Tini.
“Aku mending disuruh puasa mutih seminggu, ketimbang disuruh berhenti merokok.” Tini menyandarkan tubuhnya di kursi dengan lesu.
“Ayo, Tin! Mulai besok dicoba.” Boy memberi semangat.
To Be Continued
Terima kasih atas dukungan yang paling mudah, gratis dan sederhana untuk tiap karya penulis di platform gratis ini. Satu like pembaca tak membuat penulis kaya, tapi yang jelas bahagia.
*****
Ini adalah giveaway untuk posisi rank umum 4, 5 dan 6
Buat yang chat minta cetak saja karena tidak sanggup pakai poin, boleh. Tapi setahun lagi terhitung sejak masa giveaway ini selesai. Fair play--fair play, demi menjaga eksklusif dan konsistensi janji. Semua ini untuk dukung Tini Suketi. Terima kasih yang sudah mendukung acara giveaway sederhana ini dengan setulus-tulusnya.
Mauliate Godang :*