TINI SUKETI

TINI SUKETI
60. Dugaan Tini



Mulut Tini masih ternganga. Menarik napas pun ia tak sempat. Tapi Wibisono sudah meninggalkannya. Ia tak pernah merasa seperti itu. Tak pernah berciuman sambil berdiri di luar rumah. Tak pernah seorang pria mencuri sebuah ciuman darinya. Tak pernah selesai berciuman ia langsung ditinggalkan. Biasanya malah ….


Tini menggelengkan kepala. “Besok kayanya aku perlu keramas buat mendinginkan otakku,” gumam Tini sendirian.


Pandangannya lalu beralih ke jendela Boy. Tini menyipitkan mata memandang jendela gelap itu. Tak ada tanda-tanda Boy masih terjaga. Tapi ia tetap saja curiga dengan Boy yang sangat licin dalam hal kuntit-menguntit.


“Boy! Boy!” teriak Tini. “Bangun! Kebakaran!” jerit Tini lagi.


“Awas kamu, ya! Pasti kamu ngintip. Kalau kamu tidur pasti kamu bangun gelagapan karena diteriakin. Mau ngintip ilmunya belum tinggi.” Tini mengomel sambil membuka pintu kamarnya.


Di dalam kamar, Tini tak banyak melakukan apa-apa. Usai berganti pakaian, ia berbaring menerawang asbes yang berlubang-lubang.


Tatapannya berpindah-pindah tempat, dengan tangan kanan yang tak henti mengusap bibir. Ingatannya mengukir wajah Wibisono yang tersenyum kecut saat ia mengatakan akan memikirkan usul pria itu menemui orang tuanya.


Lalu ....


“Dasar kurang ajar. Pelitnya luar biasa. Enggak pernah mau kompromi atau tanya-tanya dulu. Keputusan sebesar itu diputuskan sendirian. Enggak mikirin perasaan dan kesulitan orang lain. Harusnya dia benerin dulu semua asbes bolong ini sebelum naikin harga sewa!” Tini mengumpat Nyai sebelum memejamkan matanya.


***


“Dandanan hari ini aku harus memakai tema berduka. Harus bisa mencerminkan rasa penyesalan mendalam.” Tini memulas eyeshadow gelap ke kelopak matanya. Pada bagian bawah mata ia membubuhkan sedikit pensil alis hitam. Usai menularkan lipstik berwarna merah hati, Tini menyambar tasnya dan melangkah keluar kamar.


“Kok, kayak penyanyi rock kau? Mau konser di mana?” Sapaan Mak Robin mengawali pendapat soal dandanan Tini pagi itu.


“Ini namanya konsep dandanan prihatin. Aku perlu menunjukkan rasa prihatin mendalam hari ini,” jawab Tini saat mengunci pintu kamarnya.


“Tapi warna bibir kau kayak orang keracunan,” tukas Mak Robin.


“Sudah. Diem! Kamu tau apa? Sana naik motor sampe Irak,” seru Tini pada Mak Robin. “Eh, Mak! Si Boy mana? Sudah pergi ke outletnya?” tanya Tini.


“Si Boy ke Irak.” Mak Robin melengos.


“Hmmm—baper kamu.” Tini terkikik.


Boy yang baru saja ditanya muncul keluar kamarnya. Tini langsung menatap pria itu dengan curiga. Namun Boy sepertinya bertingkah biasa saja.


“Boy! Ngapain aja kamu kemarin?” todong Tini langsung.


“Ngapain? Ya, tidur. Memangnya ngapain?” Boy balik bertanya.


“Mmmm … aku kira—ya, udah! Aku berangkat dulu, ya.” Tini melangkah melintasi halaman menuju pagar.


Boy berjalan mendekati pintu kamar Dara. Lalu Asti keluar kamarnya dan bergegas menuju ke arah Boy.


“Kamu kira aku ngapain? Ciuman?” teriak Boy tertawa terbahak-bahak.


Tini seketika berbalik. “Dasar kampret!” maki Tini, menunduk untuk mencari batu buat melempar Boy.


“Seneng, lho, buat Mbak Tini.” Asti menutup mulutnya.


“Padahal lagi senang kau. Tapi kau suruh aku ke Irak! Dasar bodat!” umpat Mak Robin.


“Akhirnya, Mbak Tin. Aku juga turut bahagia,” timpal Dara.


“Diam-diam ternyata sekampung udah tau. Entah kapan perpindahan informasi itu terjadi, aku juga nggak tau.” Tini menoleh jam di pergelangan tangannya. “Awas kalian! Beruntung aku mau masuk kerja.” Tini kembali melemparkan batu yang sudah sempat dipungutnya tadi.


Masih sambil mengomel ia menyusuri gang menuju ojek pangkalan. “Tuhan memang sudah menutup aibku. Tapi teman-temanku membukanya. Dasar kampret semuanya,” sungut Tini.


***


“Surat, Bowo, Dwi, sini!” panggil Tini pada tiga orang anggota timnya.


Ketiga orang yang sudah hadir pagi itu menoleh dan bangkit dari kursinya. Mereka mendekat ke depan meja Tini.


“Ya, Mbak?” Dwi lebih dulu mendekat ke sisi Tini.


“Kalian denger, ya. Jangan potong aku sebelum aku selesai ngomong.” Tini mengedarkan pandangannya pada tiga anggota timnya. Semuanya mengangguk tanda mengerti.


Tini menarik napas. “Hari ini aku terakhir masuk kerja. Aku mau mengundurkan diri. Kalian nantinya akan aku serahkan ke Pak Agus. Jadi, selama ketua tim baru belum resmi terpilih, aku memilih Dwi untuk menggantikan posisiku sampai Pak Agus yang memutuskan nantinya. Kalian jangan ada ribut-ribut. Kerja yang akur.” Tini mengangguk kecil usai berbicara.


“Kok, tiba-tiba, Mbak? Aku janji bakal masuk kantor tiap selesai prospek di luar. Tapi tetap kerja di sini, ya.” Bowo maju ke depan dan menyentuh tepi meja Tini.


“Aku juga janji bakal langsung tutup pintu tanpa disuruh-suruh. Jangan keluar, Mbak.” Mail ikut menekuk wajahnya memandang Tini.


“Kamu?” tanya Tini pada Dwi.


“Aku bakal nyari kupon makan siang gratis lebih banyak. Pokoknya tiap siang kita makan gratis,” ujar Dwi seraya meringis.


“Makasi, ya .... Aku terima kasih karena kalian udah mau jadi anggota tim-ku selama ini. Kalian adalah orang-orang paling saat aku mengawali karier di perusahaan ini. Tapi aku mau melangkah ke tempat yang menawarkan sesuatu yang aku butuhkan sekarang ini. Kalian nggak usah ke mana-mana hari ini. Di kantor aja. Temenin aku beres-beres.”


“Mbak Tini, aku mau nyampein sesuatu.” Dwi menoleh pada Mail dan Bowo meminta persetujuan. Dua pria itu mengangguk dan Dwi menarik napas mau melanjutkan bicara.


“Nanti aja, Dwi. Kamu liat dandanan aku. Udah cukup rapi buat ketemu Pak Agus? Aku khawatir dia bakal menahannya di sini. Aku sebenarnya nggak tega, Dwi. Kalian tahu sendiri Pak Agus gimana selama ini. Orangnya cerewet, tapi aku kasian kalau ninggalin dia. Pak Agus pasti bakal kecewa aku tinggalkan,” tukas Tini, berdiri merapikan bajunya.


“Mbak—“


“Nanti, ya, Dwi. Aku ke ruangan Pak Agus dulu.” Tini menyambar map yang berada di atas mejanya dan bergegas meninggalkan ruangannya menuju tangga.


Seperti biasa, Tini mengetuk pintu dua kali dan menunggu jawaban Agus. Beberapa saat berada di depan pintu tak mendapat jawaban, Tini menekan pegangan pintu dan mendorongnya ke arah dalam.


Agus sedang berdiri menghadap meja kerjanya. Ia menunduk di sebelah seorang wanita yang juga sedang menunduk menyeka wajahnya. Kedua orang itu sedang membelakangi pintu masuk.


Agus terlihat seperti sedang menenangkan seorang wanita yang sedang menangis? Tini menelengkan kepalanya. Sebegitu asyiknya Agus sampai tak mendengar ketukannya di pintu.


“Pak ...,” panggil Tini.


Agus sedikit terlonjak menjauhi kursi. Di saat nyaris bersamaan, Ayu menoleh ke belakang menatap ke belakang dengan raut terkejut.


“Ayu .... kamu kenapa?” tanya Tini. “Kamu nangis?” Tini menatap Ayu yang buru-buru mengusap air matanya.


“Maaf, Tin. Aku nggak denger kamu dateng. Ada apa? Bukannya masalah Wibisono sudah selesai?” tanya Agus langsung, mengitari meja dan kembali ke kursinya


Tini nyaris saja melemparkan map itu ke meja Agus. Ia tak peduli apa yang terjadi antara Ayu dan Agus. Itu urusan mereka. Tapi itu adalah kantor. Tempat semua orang bekerja. Tini menghela napas panjang.


“Semalaman saya berpikir bagaimana cara yang enak buat ngomong ke Pak Agus, ternyata hari ini Bapak mempermudah semuanya. Ini sisa pekerjaan saya,” ucap Tini meletakkan map berisi rekap hasil penjualan timnya sampai dengan hari itu ke meja Agus.


Agus meraih map itu dan mengangguk tanpa membukanya. Terlihat sekali bahwa Agus sedang tak ingin berlama-lama berbicara. “Terus?” tanya Agus seraya melirik Ayu yang masih menunduk di depannya.


“Terus saya mengundurkan diri per-hari ini,” tegas Tini.


“Ha? Mengundurkan diri?” tanya Agus.


Tini mengangguk. “Benar. Saya mengundurkan diri karena alasan pribadi. Kalau begitu saya permisi dulu. Silakan dilanjutkan aktifitasnya,” ujar Tini, menarik senyum sinis bercampur kesal pada Agus.


To Be Continued