
“Yat! Bangun! Kamu udah denger berita?” Evi menusuk-nusuk punggung Dayat dengan ujung gagang sapu.
“Ck! Kenapa nusuknya nggak pakai pisau aja sekalian?” Dayat bangun dari tidurnya dan duduk menggaruk-garuk punggung. “Denger berita apa? Aku, kan, lagi tidur. Pertanyaannya suka aneh-aneh,” ucap Dayat cemberut.
“Oh, berarti Mbak Tini belum ada ngasi kabar ke kamu. Katanya siang ini Mbak Tini ada kerjaan datang ke sini. Dia dateng sama orang kantornya. Pakai mobil perusahaan. Ada supirnya,” ucap Evi antusias.
“Ada supirnya …,” gumam Dayat, melengos. Ia tak berpikir kalau mobil bisa berjalan tanpa supir. “Siang ini? Mau ke sini langsung?” tanya Dayat.
“Enggak. Mbak Tini mampir ke pabrik-pabrik lain dulu. Terus ke sini buat makan siang. Trus pergi lagi. Katanya mau sosialisasi sekaligus memperkenalkan tentang bahan bakar biodiesel. Mbak Tini keren, ya, Yat! Aku bangga!” ucap Evi lagi.
“Jadi Bapak harus gimana? Apa yang perlu Bapak lakukan?” tanya Pak Joko yang baru muncul dengan tangan dan pakaian belepotan cat dinding.
“Enggak ada. Bapak tetap melanjutkan ngecat seluruh rumah sampai selesai,” ucap Evi. “Mbak Tini kerja. Bukan berkunjung untuk main. Katanya kalau kerjaannya udah selesai, Mbak Tini bakal mampir lagi,” sambung Evi.
“Kalau gitu aku mandi dulu. Aku bakal nongkrong di pos ojek dan menebar kabar. Biar kabar kedatangan Mbak Tini dan orang kantornya tersebar ke seluruh desa,” kata Dayat, berjalan keluar kamar.
“Kalau gitu Bapak juga bisa mandi dan pergi nongkrong ke warung. Bapak bisa membantu menebar berita soal itu. Gimana?” tanya Pak Joko pada kedua anaknya. Evi dan Dayat menggeleng bersamaan.
“Bapak lanjut ngecat aja,” kata Dayat. “Untuk hal kayak gini, biar yang muda yang bekerja. Bapak yang semangat,” ucap Dayat, memijat-mijat bahu bapaknya sebelum menghilang ke belakang.
“Untung aku masih di sini. Minggu depan aku sidang meja hijau dan balik ke kos-kosan. Hari ini aku sempat masak untuk Mbak Tini dan orang kantornya. Aku pergi belanja dulu, Pak.” Evi meninggalkan Pak Joko. Pria itu kemudian ikut menyusul anak-anaknya ke belakang dan melanjutkan pekerjaannya.
Pukul dua siang, mobil yang ditumpangi Tini memasuki gapura Desa Cokro.
“Mbak Ren, ini Desa Cokro, tempat kelahiranku. Kita makan siang dulu sebelum lanjut ke pabrik berikutnya, ya. Dua pabrik yang kita kunjungi sebelum sampai di sini, aku dapet dari temenku yang pindah kerja ke pabrik itu. Beberapa temanku pindah dari pabrik lama karena mendapat posisi bagus di pabrik yang baru,” jelas Tini.
Sedangkan beberapa temannya yang lain tetap bertahan bekerja di pabrik lama. Termasuk Siti Kusmini yang kata Dayat masih bekerja di pabrik meski sedang hamil anak ketiga. Tini tak ada menanyakan hal itu pada Evi ataupun Dayat. Tapi mulut Dayat tak bisa menahan informasi untuk dirinya sendiri. Adik laki-lakinya itu memang royal dengan rahasia. Sama seperti dirinya.
“Wah, Tini datang lagi. Sama siapa, Tin?” tanya ibu-ibu tetangga depan rumahnya.
“Sama orang kantor, Bu. Lagi ada kerjaan,” jawab Tini, tersenyum kalem.
“Dayat mana?” tanya Tini saat melihat Evi muncul di ambang pintu depan.
“Lah, nggak ketemu? Dia nunggu kamu di simpang.” Evi melongok melihat jalanan.
Tak lama, orang yang dibicarakan muncul dari kejauhan. Dayat mendekat dengan sepeda motornya.
“Aku tadi ngelambai-lambai di simpang. Masa Mbak Tini nggak ngeliat,” cetus Dayat dengan raut kesal.
“Bisaan,” sungut Dayat lagi.
“Ayo, Mbak, Pak, masuk. Makan siang dulu. Saya udah masak. Jarang-jarang, kan, main ke desa.” Evi membuka pintu depan lebih lebar. Di dalam ia sudah membentangkan tikar anyam dan mengatur lauk pauk di atasnya.
“Wah, jadi nggak enak. Enggak ngerepotin, kan, Tin?” tanya supir kantor berusia empat puluhan sambil mencuci tangannya di dalam mangkok berisi air.
“Enggak enak, tapi langsung cuci tangan,” lirih Dayat di balik punggung Evi.
“Aku denger, ya.” Tini berbalik dan mendelik pada adik laki-lakinya. Ia lalu merogoh tas dan menarik selembar seratus ribu-an. “Sana beli kuota yang banyak. Main game sampe belekan,” ucap Tini, mengusir Dayat agar meninggalkan mereka.
“Sebenarnya aku masih sakit hati dicuekin di simpang jalan. Tapi aku mau ngasi waktu buat Mbak Tini dan tamunya,” ujar Dayat, mengambil lembaran uang seratus ribu dan pergi dari ruang tamu.
"Gayanya …. Ckckck.” Evi berdecak memandang Dayat yang langsung menghilang keluar.
Siang itu Tini menjamu teman kantornya dari Jakarta dengan menu makanan sederhana, namun lezat hasil kreasi Evi.
“Kamu masak sop daging. Kok, banyak duit? Dari mana?” bisik Tini saat ia dan Evi berpapasan di dapur usai makan siang.
“Duitku sekarang banyak. Kamu tenang aja pokoknya. Semua urusan pesta udah aku kerjakan dengan bener. Itu bahan pakaian juga udah aku beli. Nanti kalau pulang dibawa aja sekalian. Kamu siap-siap aja ketemu Mbak Siti di pabrik. Deg-degan, nggak?” tanya Evi tertawa.
“Deg-degan kenapa? Kayak mau ketemu istri Presiden aja,” sahut Tini mencibir. “Lagipula aku mau ketemu pihak manajemen. Kayanya nggak ke bagian produksi. Kalau bisa aku nggak mau ketemu dia. Buat apa? Ngeliat dia bisa mengikis aura calon pengantinku,” ucap Tini.
Pukul tiga sore, Tini dan temannya kembali meninggalkan rumah. Menuju pabrik tempat di mana dulu ia dan sahabatnya bekerja. Mandor pabrik itu bernama Pak Slamet. Saat Tini memutuskan berhenti bekerja, Pak Slamet mengetahui alasannya. Lingkungan pabrik memang tak memungkinkan untuk menutup cerita rapat-rapat. Apalagi kisah Tini dan Coki.
Dulu, dalam hitungan hari saja, Coki sudah berganti orang saat menjemput ke pabrik itu. Yang biasanya menjemput Tini, Coki lalu dengan santainya menjemput Siti.
Pak Slamet menyambut Tini di lobi kecil pabrik. Pria itu kemudian mengajak Tini dan Reny menemui pimpinan pabrik bernama Pak Riyadi.
“Wah … Tini—Tini—Tini. Kamu memang luar biasa. Perubahan kamu ini luar biasa. Sangat luar biasa,” ucap Pak Riyadi sambil menyongsong ke arah kursi yang ditempati Tini.
“Terima kasih, atas responnya, Pak. Terima kasih sekali. Terima kasih,” sahut Tini, membalas ucapan Pak Riyadi yang selalu khas dengan tiga kali setiap kata.
Reny yang duduk di sebelah Tini, tersenyum-senyum mendengar percakapan unik di dekatnya. Pak Slamet muncul menyusul mereka ke ruangan dengan membawa berbotol-botol air mineral.
“Di kantor ini cuma ada air mineral, Tin. Tentu beda dengan kantor kamu di kota yang modern. Pasti modern, jelas sangat modern. Pokoknya kamu harus ikut jalan-jalan ke bagian produksi. Kamu harus nostalgia," ucap Pak Riyadi.
To Be Continued