
Lusa yang direncanakan Tini pun akhirnya tiba. Hari libur kantor dan semua penghuni kandang ayam akan mengunjungi rumah Dijah. Tini menenteng bungkusan besar berisi bahan pakaian yang akan dibagikannya secara serentak di rumah Dijah.
Sebenarnya Tini bisa membagikannya lebih dulu pada penghuni kandang ayam agar ia tak perlu repot membawa plastik besar itu ke sana kemari. Saat Mak Robin menanyakan hal itu, alasan Tini sederhana saja. “Kalau kalian mengajukan pertanyaan, aku mau menjawabnya sekalian biar nggak bolak-balik ngomong itu-itu aja. Aku harus menggunakan suaraku dengan efisien. Capek ngomong terus,” jelas Tini.
Mereka semua berangkat bersama-sama menumpangi taksi online. Mak Robin yang biasanya mengendarai sepeda motor ke mana pun, kali itu ikut menumpangi taksi. Saat ditanya kenapa tak mengendarai sepeda motor ke rumah Dijah, jawabannya, “Jauh rumah si Dijah itu. Tetidur pula si Robin di jalan, nggak nampak pula aku kalo dia tercecer di jalan.”
Sedangkan Asti hanya mengatakan, “Aku mau barengan lebih seru. Mas Bayu langsung ke rumah Mas Bara aja.”
Begitulah, akhirnya mereka semua berangkat bersama-sama ke rumah Dijah. Setelah mencari waktu yang pas buat berkumpul, akhirnya mereka bisa bersatu dengan kekuatan penuh hari itu.
“Mbak Dijah dan Mas Bara juga baru pulang dari Bali, kata Mas Bayu. Mas Bara konferensi dan bawa keluarga sekalian liburan,” ucap Asti saat mereka berada di dalam taksi.
“Ada Mas Bara, itu mobil dan motornya ada semua,” kata Asti lagi saat mereka semua telah tiba di depan pagar.
“Jelas ada. Pasti Bara merasa rugi kalau nggak ikut nimbrung meski sahutannya cuma ‘ya ampun’ dan ‘astaga’ aja,” jawab Tini, meraba bel rumah dengan memasukkan tangannya ke celah pagar.
Ternyata kedatangan mereka sudah diketahui Dijah. Wanita itu muncul di ambang pintu sebegitu Tini menekan bel.
“Aku datang—aku datang,” kata Dijah, menggendong Mima di pelukannya. “Suara Budhe Tini mengalahkan suara bel. Harusnya nggak perlu pencet-pencet lagi," kata Dijah, terkekeh.
“Apa kabar anak Budhe? Mari Budhe gendong, pasti sekarang udah mau,” ujar Tini mengulurkan tangannya pada Mima.
Mima diam sesaat memandang wajah Tini, tapi kemudian balita itu mencondongkan tubuhnya.
“Nah, ini mau … auraku udah berubah ternyata. Anakmu ini memang tau harus bermanja-manja ke siapa, ya, Jah! Aku baru dapet insentif dan dia langsung mau aku gendong,” kata Tini, masuk ke rumah tanpa perlu diminta.
“Enggak mungkin Mima gitu, Tin. Dia anakku, bukan anak kamu.” Dijah menutup pagar dengan santai tanpa tertawa. Sedang Boy dan Asti terkikik-kikik mendengar jawaban Dijah.
“Bungkusannya aku letak di mana?” tanya Boy saat mereka tiba di ruang keluarga.
“Diletak di mana aja, Boy. Itu akan dikeluarkan ketika sudah waktunya,” ujar Tini yang masih menggendong Mima. “Mas Bara mana, Jah?” tanya Tini.
“Mandi. Mungkin sebentar lagi keluar. Dia seneng kalian semuanya ke sini,” jawab Dijah, membentangkan permadani tebal di depan televisi.
“Hmmm, rambutmu basah. Mas Bara mandi. Siang bolong, ya, Jah?” sindir Tini.
“Malem bolong udah biasa, Tin. Siang bolong untuk memanfaatkan waktu,” jawab Dijah santai. Tini mencibir mendengar jawaban sahabatnya.
“Aku juga mau gendong, turunin Mima, Mbak. Mima udah bisa jalan, kan? Ayo, sini sama Tante Asti,” ajak Asti mengulurkan tangannya saat duduk di permadani.
Boy sudah meluruskan kakinya di permadani. Dul datang dari belakang dengan sebuah mainan robot di tangannya.
“Eh, Mas Dul, sini!” panggil Boy. “Ini ada Robin, ayo, salaman.” Boy mendekatkan tangan Robin dan Dul. Dua bocah laki-laki itu tertawa malu-malu saat Boy menggoda mereka.
“Mas Dul kelas berapa?” tanya Boy.
“Kelas dua, Om,” jawab Dul.
“Udah dari dulu kau tau si Robin dan si Dul seangkatan. Si Robin kelas dua SD. Kau tanya lagi si Dul kelas berapa,” sungut Mak Robin.
Boy melengos, lalu mengantarkan Dul dan Robin untuk bermain ke kamar. Ia lalu kembali keluar dan bergabung dengan yang lain.
“Aku itu tau si Dul kelas dua SD. Aku cuma basa-basi sama anak-anak. Biar ada bahan omongan. Hidupmu itu nggak ada basa-basi, ya, Mak.” Boy menepuk pelan punggung Mak Robin.
“Dia memang nggak pernah digombalin sama suaminya sebelum enak-enak. Bapaknya Robin pasti langsung nancep aja,” sahut Tini.
“Udahlah Tini. Kok, jadi kubayangkan kata-kata nancep itu.” Mak Robin menepuk bahu Tini sedikit keras.
“Baiklah, mari kita berkumpul membentuk lingkaran. Cemilan-cemilan dan minuman dikeluarkan sekarang, Jah. Jadi perkataanku nanti nggak disela iklan Mbok Jum nganter minuman,” pinta Tini.
“Oh, Budhe Tini bener-bener memimpin rapat ternyata. Suaranya kedengaran sampe kamar. Aku jadi ikut penasaran,” kata Bara yang baru muncul.
“Masa, sih, penasaran karena suaraku nyampe ke kamar. Bukannya dari kemarin udah penasaran?” Tini tertawa disambut dengan Bara yang mendengus.
Suara Bara yang menyapa tamu, ternyata langsung menarik perhatian Mima. Balita itu langsung berjalan memutari para tamu untuk pergi menuju ayahnya.
“Mima mau sama Ayah?” tanya Dijah pada putrinya.
“Mau sama Ayah tapi nanti pasti nyari Ibu. Jadi ayahnya duduk di sini aja,” kata Bara, sembari menghempaskan tubuhnya di sofa.
“Mau denger juga,” kata Dijah terkekeh memandang suaminya.
“Budhe Tini mau ngasi khotbah gratis, kita harus denger. Ini kesempatan emas yang nggak boleh dilewatkan.” Bara tersenyum-senyum membalas tatapan Dijah sambil menggendong Mima di sofa.
“Okei—okei, atensyen plis (attention please/ mohon perhatian).” Tini menepuk tangannya agar semua orang fokus.
Mbok Jum datang mendekati mereka dan meletakkan nampan minuman di tengah. Wanita itu kemudian pergi lagi ke belakang dan kembali dengan nampan berisi pisang goreng.
“Mbok Jum, sehat?” tanya Asti mengusap pundak Mbok Jum.
“Sehat, Mbak Asti. Silakan dilanjut ngobrolnya. Udah lama nggak ketemu Dijah, kan?” Mbok Jum tersenyum dan bangkit. Pandangannya mengarah pada Mima dan wanita tua itu mengulurkan tangannya. “Ikut Mbah, yuk.”
Mima menggeleng, “enggak,” kata balita itu dengan jelasnya.
Mbok Jum tertawa kemudian berlalu ke belakang.
“Okei, aku ulangi lagi. Iklannya udah selesai. Boy, ambil bungkusan tadi. Keluarkan dan bagi berdasar namanya.” Tini menunjuk plastik besar yang berisi seragam pestanya.
Boy bangkit dan membuka plastik besar. Ia mengeluarkan bungkusan bahan pakaian satu persatu dan membaca nama-nama yang tertera di sana.
“Asti–Bayu,” ucap Boy, menyerahkan dua bungkusan pada Asti.
“Ini kamu dan Mas-mu, Jah.” Tini menyerahkan dua bungkus pada Dijah. “Ini titip juga buat Mas Heru. Aku nggak tau Mas Heru udah tau atau belum soal kisah cintaku, semoga kalau dikasi seragam gini, bisa mengurangi rasa syoknya.” Tini terkekeh-kekeh.
Boy membagikan semua bahan pakaian pada semua orang di sana. Mbok Jum ternyata masuk ke dalam hitungan.
“Mas Agus nggak dapet?” tanya Bara menggoda Tini.
“Pak Agus biar jadi tamu aja. Karena diharapkan ngasi amplop tebal. Yang dapet seragam dimaklumi kalau ngasi sedikit. Bukan berarti nggak ngasi, ya.” Tini kembali tertawa.
“Ini bahannya berapa meter? Aku jahit model apa, ya?” Boy membuka bungkus plastik bahan batiknya.
“Terserah kamu mau model apa. Mau nggak dijahit juga bisa. Dililit aja di badan kaya kain sari India. Manis juga, Boy,” saran Tini.
To Be Continued
Glosarium (defenisi untuk istilah) :
Perbedaan efisien dan efektif :
Efisien, pengorbanan sesedikit mungkin untuk hasil yang maksimal.
Efektif, tidak mementingkan pengorbanan, asal hasil tercapai memuaskan.