TINI SUKETI

TINI SUKETI
108. Ide Brilian Tini



Semua penghuni kos mendekati Tini dengan wajah terharu. Dijah turun dari sofa dan duduk di depan Tini mengusap-usap bahu sahabatnya.


“Udah rejekimu, Tin. Enggak akan lari ke mana. Sekarang giliranmu,” ujar Dijah.


“Iya, Mbak Tin. Sekarang giliran, Mbak Tini. Kita semuanya juga ikut seneng,” imbuh Asti.


“Selamat, Budhe Tini. Mima juga bahagia. Budhe Tini udah kerja keras cukup lama. Sekarang diperlihatkan hasilnya,” ucap Bara, tersenyum.


Tini menegakkan tubuhnya dan menyeka air mata. Boy mengambil kotak tisu dari sebelah televisi dan menyodorkannya pada Tini.


“Bisa nangis juga kamu,” kata Boy.


“Bisa, Boy. Meski aku dari kayangan aku juga bisa nangis. Ngeledek aja kamu ini," sahut Tini, mengambil dua lembar tisu dan membesut hidungnya.


“Mas-mu nggak dikasi tau?” tanya Dijah.


“Nanti aja, Jah. Ini uang dalam jumlah besar. Kalau belum pasti bukan cuma malu, tapi aku juga pasti lebih kecewa. Sekarang juga masih setengah percaya. Karena aku tau dari dulu nyari uang itu nggak mudah. Dapetnya sedikit, yang ngomongin banyak nggak enaknya. Kalau inget saat-saat itu, bikin semangatku drop (jatuh).” Tini kembali meneteskan air mata.


“Biasalah dalam hidup kayak gitu, Tin. Orang lebih jeli liat salah kita ketimbang kelebihan kita. Seratus yang kau bikin baek-baek, tetap dicari orang satu kesalahan yang kau buat. Sama juga kayak kita waktu dengar cakap (omongan) orang. Seratus kali kita dipuji, yang kita ingat pasti satu kali kita dicaci. Itulah kenapa aku gak suka mencampuri urusan orang. Karena aku pun bukannya paten kali (baik banget). Gak akan ada kurasa orang saling mencaci kalo sering-sering bekaca di rumah. Tapi kalo gak ada orang yang mulutnya kayak gitu, gak ramelah neraka. Itu kata mendiang mamakku. Sukuri aja. Kalo gak ada orang yang mencaci, gak akan kekgini ko sekarang. Panjang kali cakapku. Jadi sedih juga aku. Minta tisu itu, Boy.”


Boy kembali menyodorkan tisu pada Mak Robin. Asti yang sentimentil ikut menarik tisu dari kotak. Sejak tadi ia sudah ikut menangis bersama Tini. Wajah Boy ikut menyiratkan keprihatinan. Sedangkan Dijah, raut wajahnya datar seperti biasa.


Bara melirik istrinya. Ia tahu Dijah ikut bahagia atas apa yang dicapai Tini. Dalam pikiran istrinya mungkin terbayang masa-masa sulit yang pernah mereka lewati bersama-sama. Bara menarik senyum. Ia tahu kini Dijah sangat lega.


Saat meninggalkan kos-kosan kandang ayam dulu, Bara tahu sedikit banyak Dijah memikirkan nasib Tini yang ditinggalkannya. Mereka telah berbagi banyak hal dalam kesusahan dan juga kebahagiaan-kebahagiaan kecil yang dinilai orang lain sepele. Tak sedikit malam-malam yang dihabiskan Dijah bercerita soal sahabat-sahabatnya.


Bara tersenyum. Meski wajah Dijah terlihat datar-datar saja, ia tahu istrinya itu orang yang paling bahagia jika Tini menikah dan hidup sukses.


“Mbak, Tin … aku tadi punya ide,” ucap Asti memecah kesunyian.


Sedetik Asti mengatakan hal itu, Tini lalu terlonjak. “Aku inget sesuatu!” pekik Tini.


Mak Robin, Boy dan Asti mundur seketika.


“Apa, Tin? Kamu ngagetin aja,” ucap Dijah.


“Tunggu—tunggu. Aku inget sesuatu.” Tini kembali mengambil ponselnya dan mencari-cari nomor telepon sejenak. “Sebentar aku nelpon Evi dulu.”


“Vi, tekoke regane piro pas'e. Aku ono kabar apik. Dinyang ngasi sak murahe. Mengko kabari aku cepet-cepet!" (Vi, tanyakan berapa harga kepastiannya. Aku punya kabar baik. Tawar sampai semurah mungkin. Kabari aku secepatnya!)


“Tenane, Mbak? Njenengan ojo gawe aku merinding, lho." (Seriusan, Mbak? Kamu jangan bikin aku merinding.) Evi setengah menjerit dari seberang telepon.


Dijah mengernyitkan alisnya dan memandang Bara. Suaminya itu juga mengernyit, tapi dengan raut wajah meminta penjelasan.


"Mengko tak genahke. Pokokmen dinyang ngasi paling murah seko rego terakhir. Dayat dijak kon melu ngenyang. Biasane omongane Dayat kuwi gawe panas kuping, ning cok bener. Aku ndang dikabari, yo." (Nanti aku jelasin. Pokoknya tawar sampai yang paling murah dari harga terakhir. Ajak Dayat buat nawar. Biasa omongan Dayat nggak enak didenger orang, tapi suka bener. Kabari aku secepatnya.)


Dijah menepuk pundak Tini dengan mata membelalak. Tini lalu mengangguk menjawab tatapan mata Dijah.


"Yo, Mbak. Aku budhal saiki—Yat! Tangi! Mbak Tini ewangi to. Saiki wektune kowe kuwi ono gunane." (Iya, Mbak. Aku pergi sekarang—Yat! Bangun! Mbak Tini perlu bantuan. Ini saatnya kamu berguna.) Perkataan Evi masih terdengar di seberang telepon sesaat sebelum gadis itu menekan tombol END CALL.


“Jadi, Tin?” tanya Dijah.


“Aku punya rencana. Ini jawaban dari semuanya. Tapi aku harus memastikan soal bonus ini lebih dulu. Berapa persentase yang bisa langsung cair. Kalau nggak bisa langsung cair, aku perlu tau tanggalnya. Aduh—aduh—aku nggak sabar mau masuk kerja hari Senin,” ucap Tini sambil membuka-buka ponselnya buat mengecek tanggal.


“Memangnya rencana kamu apa?” tanya Boy. “Aku belum ngerti, Tin.”


“Aku mau beli bukit di belakang rumah si Coki sapi. Bukitnya di belakang rumah tetangga depanku. Bukit itu unik, Boy. Terletak di antara dua gang. Bertahun-tahun nggak laku dijual, padahal tanahnya subur. Pemiliknya nggak mau jual sedikit-sedikit. Maunya sampai depan jalan. Aku minta Evi tanya harganya dulu. Pokoknya kalau uangku cukup, aku beli itu. Semoga harga permeternya belum naik. Untuk Dayat aku sisihkan lebih dulu.” Mata Tini berbinar karena rasa bahagia.


“Itu rencana yang mau aku sampaikan tadi, Mbak. Garis besarnya sama. Aku mau ngomong, gimana kalau pestanya dibuat di tanah dekat simpang jalan. Sewa atau pinjam sama yang punya. Tapi kalau Mbak Tini bisa belinya, itu bakal luar biasa banget.” Asti memandang Tini dengan wajah meyakinkan.


Sementara itu di Desa Cokro, dua bersaudara sedang berboncengan menyeberangi dua desa demi mendatangi pemilik bukit di seberang rumah mereka.


“Nanti aku ngomong apa, Mbak?” tanya Dayat saat memarkirkan motornya.


“Terserah. Bebas. Yang penting sesuai tema,” sahut Evi, melangkah ke depan pintu rumah dan mengetuknya.


Beberapa saat menunggu sahutan, pintu rumah terbuka dan seorang wanita tua keluar dari rumah.


“Ada apa?” Wanita tua berusia 70-an itu memperhatikan wajah Evi dengan seksama. “Kok, kayak kenal. Kamu anak siapa?” tanya wanita tua itu.


“Joko?” Wanita tua itu balik bertanya.


Dayat muncul dari belakang Evi dan tersenyum pada wanita tua itu. "Anak Almarhumah Bu Parni, Mbah.” Dayat menyugar rambutnya.


“Oalah, anak Parni. Masuk—masuk. Cah bagus. Dari mana?” tanya wanita tua itu memandang Dayat.


Dayat dan Evi duduk bersisian di sebuah kursi panjang kayu menghadap wanita tua pemilik tanah bukit di seberang rumah mereka.


“Dari rumah, memang mau ke rumah Mbah. Mau nanya soal tanah yang di seberang rumah kami. Mbak Tini minta carikan info. Apa harganya masih sama? Atau malah turun?” Dayat cengengesan.


Wanita tua itu memukul bahu Dayat. “Turun ya, nggak mungkin. Memangnya siapa yang mau beli? Tini mau nawarin ke temennya. Kalau bisa yang beli jangan orang luar. Mbah nggak mau dibikin macem-macem.” Wanita tua itu berkata dengan sedikit menerawang.


“Buat Mbak Tini, Mbah. Mbak Tini nggak mungkin bikin tower, paling-paling bangun tugu." Dayat terkekeh.


"Tugu apa?" Wanita tua itu terkejut.


"Aku bercanda, lho, Mbah cantik." Dayat kembali tertawa.


"Halah, gombal!" Mbah yang sudah lama menjanda pun kembali menepuk Dayat yang duduk di sebelah kanannya.


"Sebenarnya udah tepat kalau Mbak Tini yang beli. Tanah bukit itu udah semakin aneh, Mbah. Segala jenis ayam yang masuk ke sana, nggak akan pernah keluar. Semuanya menghilang secara misterius,” ucap Dayat, memandang wanita tua di depannya dengan dahi mengernyit dan sudut bibirnya tersungging senyum tipis. Kepalanya menggeleng-geleng pelan.


“Misterius gimana?” tanya wanita tua itu.


“Aneh, pokoknya. Sering raib. Enggak pernah ada ayam, entok atau angsa bisa keluar dari sana hidup-hidup.”


“Memangnya ada apa?”


Dayat mengangkat bahu. “Belum ada ayam yang bisa ditanyai sebagai saksi," sahut Dayat, nyengir.


Kali ini wanita tua pemilik bukit mendorong bahu Dayat. “Bilang sama Tini, kalau untuk dia, Mbah nggak naikin harganya. Masih harga lama. Nanti semua biaya surat-surat dibagi dua. Itu enggak mahal. Masih harga yang sama dengan delapan tahun lalu. Selama ini tanah itu baik-baik aja. Heran juga kalau unggas masuk ke sana nggak keluar,” kata wanita tua itu memandang Dayat.


Keluar dari rumah wanita tua itu, Evi tak lepas memandang Dayat.


“Ada apa ngeliatin aku dari tadi?” Dayat menyalakan motornya.


"Ternyata pesona kamu bisa diandalkan," gumam Evi, memandang adiknya.


"Apa Mbak nggak pernah denger selentingan soal pesonaku selama ini?"


“Enggak."


Dayat mendengus.


"Yat ... yang kamu bilang tadi bener? Ayam, bebek dan segala unggas masuk ke bukit nggak keluar lagi?” tanya Evi penasaran.


Dayat mengangguk.


“Merinding aku,” kata Evi.


“Merinding kenapa? Segala unggas raib karena diambil sama pemuda-pemuda yang begadang sambil mabuk. Bahaya. Makanya aku setuju Mbak Tini beli itu. Bakal lebih berguna,” ucap Dayat.


“Aku kira ada makhluk halus yang bahaya di dalam bukit,” ujar Evi.


“Sekarang makhluk kasar lebih bahaya, Mbak. Makhluk halus sampe minder,” sahut Dayat.


 


To Be Continued