
Tadinya mau berlagak keren, ternyata typo pengucapan. Akhirnya Tini memilih bungkam. Pikirannya beterbangan entah ke mana. Konsentrasinya juga sesaat buyar saat Dijah mengiriminya pesan, ‘Gimana Tin? Baru selesai ngapain sama Wibi?’
Tini dengan cepat membalasnya, ‘Baru selesai gali sumur Jah! Aku baru lima menit duduk di sebelah Wibi. Menurut kamu udah ngapain aja?’
Tini melirik ponselnya saat kembali bergetar. Dijah membalas dengan tawa yang panjang sekali.
Setelah mobil melalui jalan raya yang padat, jalan yang kecil, serta jalan yang berliku-liku akhirnya mobil tiba di sebuah restoran sederhana dan bernuansa klasik. Tini Agak heran kenapa restoran sejauh itu yang direkomendasikan oleh Heru. Saking jauhnya, Tini mengira sesaat lagi ia akan tiba di kampung halaman.
“Ini restoran bernuansa klasik. Kata Heru restoran ini unik. Menunya khas pedesaan. Perabotannya juga unik. Cangkirnya, piringnya. Semuanya mengingatkan kita akan kampung halaman. Ayo, turun.” Wibi mengangguk pada Tini dan keluar mobil.
Mata Wibisono terlihat berbinar memandang restoran itu. Sedangkan Tini, sedikit meringis. Kalau ingin makan dengan nuansa sederhana, setiap harinya di kos-kosan mereka makan dengan nuansa sangat sederhana. Namun melihat cara Wibi yang begitu santun mengatakan hal itu padanya, Tini semakin terpukau. Wibisono pria yang menyukai kesederhanaan.
“Mbak Tini agak pucat. Apa lagi sakit?” tanya Wibi saat mereka telah duduk berhadapan.
Lokasi yang mereka tempati berada di halaman belakang restoran. Tidak beratap, tapi bagian atasnya tertutup rimbun pepohonan. Menjadikan lokasi itu menjadi teduh.
“Iya, Mas. Aku memang agak nggak enak badan. Uhuk!” Tini menjawab pertanyaan Wibi dengan menambahkan batuk kecil manis di ujung kalimatnya.
“Enggak enak badan, kok, kerja?” tanya Wibi.
“Buat pemburu insentif seperti kami, selama masih bisa berdiri walau nggak tegak, tetap harus masuk kerja. Setidaknya datang ke kantor, untuk membunyikan mesin absensi.” Tini tertawa kecil seraya memindahkan rambutnya ke sisi kiri bahu.
Wibi kembali tertawa renyah. Di dalam hati Tini sudah berkali-kali mengatakan ‘Astaga’ seperti Bara.
“Oke … kalo gitu, Mbak Tini bisa liat ini? Aku bawa yang kemarin.” Wibi mengeluarkan lembaran kertas yang kemarin diserahkan Tini dalam map. “Buat yang dilingkari ini, aku perlu penjelasan lebih. Jadi, aku mau masukan dari Mbak Tini murni sebagai teman. Yang artinya Mbak Tini menilai asuransi ini bukan hanya dari kacamata bisnis saja. Gimana? Boleh, kan?” tanya Wibi, menarik senyum di satu sisi bibirnya yang kembali membuat lesung pipi cukup dalam. Cukup dalam terbenam di wajahnya tapi tak cukup dalam membekas di hati Tini.
Kata-kata Wibi barusan yang mengucapkan, ‘murni sebagai teman’, entah kenapa membuat Tini sedikit kesal. Walau Tini mengerti arti perkataan Wibi yang sederhananya adalah bahwa pria itu menginginkan saran yang berimbang. Tapi tetap saja kata ‘kata’ teman itu tak enak didengar.
Seorang pelayan restoran yang memakai kebaya sederhana, mendatangi mereka dan mengangsurkan dua buku menu.
“Mbak Tini pesen langsung saja. Pesen yang hangat-hangat dan melegakan tenggorokan. Tadi batuk, kan?” ungkap Wibi sambil membalik-balik menu. “Atau aku saja yang pesenin, ya?”
“Boleh. Mas Wibi yang pesan juga boleh. Sama saja,” sahut Tini.
“Untuk Mbak ini,” —Wibi memandang Tini—“Saya pesan teh jahe yang hangat. Terus ini saya liat ada wedang ronde juga, saya mau. Ini pasti menghangatkan tenggorokan. Terus cemilannya ….”
Tini hanya diam mencermati sederetan menu yang dipesan Wibi untuk mengisi meja mereka sore itu. Kebanyakan menu dipilihkan Wibi untuk meredakan sakit tenggorokan dan mengurangi keluhan tidak enak badan yang dikatakannya tadi.
Saat itu dia membayangkan seandainya Dijah mendengarkan percakapan barusan. Sahabatnya itu juga pasti akan tertawa terbahak-bahak, karena melihat terapi berhenti merokoknya disamakan dengan terapi batuk rejan oleh Wibi.
“Jadi, gimana? Jelasinnya pelan-pelan, ya ….” Wibi meringis.
“Baik. Mas Wibi kurang jelas yang di bagian ini aja, kan?” Tini mengeluarkan pulpennya dan mulai mencatat sesuatu di bagian tepi kertas. “Asuransi perjalanan itu, kan, terbagi dua. Untuk individu dan kelompok. Asuransi kelompok ini jelas lebih hemat dan lebih murah.” Tini menjelaskan semua hal yang ditanyakan Wibi dengan sabar dan perlahan-lahan.
“Jadi, nilai misalnya nilai perawatan yang diperoleh pelancong sudah maksimal digunakan di negara yang dikunjungi, apa rumah sakit masih tetap mau menanggungnya?” Wibi tersenyum saat menanyakan hal itu.
Tini mengerutkan dahinya. Rasanya belum ada yang menanyakan hal itu padanya. Pelayang datang mengantarkan pesanan mereka yang paling akhir. Wedang ronde. Dan perhatian Tini sejenak teralih pada minuman itu.
“Mangkoknya—“
“Eh, iya. Sebentar aku minta tukar. Aku bawa aja ke sana sekalian minta diganti. Mangkoknya retak,” ucap Wibi, berdiri mengangkat mangkok wedang ronde dan pergi menuju ke depan.
“Padahal aku mau bilang mangkoknya unik. Kok, dia malah ngeliat retaknya.” Tini memandang pulpen di tangannya. “Bisa jadi Wibisono juga begitu, ya …. Dia bakal ngeliat jeleknya duluan ketimbang bagusnya.” Tini menghela napas panjang lalu meraba kantong jasnya. Ponselnya bergetar dan ia melihat nama Evi di layar.
"Mbak, ragate sidang karo wisudaku lumayan entek okeh. Aku sakbenere ora kepenak meh njaluk, njenengan wis entek duit okeh, opo tak dol wae montore? (Mbak, biaya meja hijau dan wisudaku lumayan mahal juga ternyata. Aku sebenarnya nggak enak mau minta. Uangmu udah banyak habis. Apa aku jual motor aja?)” Suara Evi di seberang terdengar sangat lesu.
"Ojo-ojo,ojo mbok dol montore, mengko awakmu meh numpak opo? Montore yo wis elek ngono, mesthi dol murah, percuma. Sek tak deloki celenganku, butuhe piro? (Jangan--jangan, jangan jual motor. Nanti kamu pakai kendaraan apa lagi? Motornya juga udah jelek. Pasti murah. Percuma. Nanti aku liat dulu tabunganku. Perlunya berapa?)”
Tini sampai mengetuk-ngetuk meja karena gemas dengan perkataan Evi. Masalahnya motor Evi sudah sangat butut. Dijual pun pasti tak mendapat banyak uang. Hasilnya malah nanti adiknya tak punya kendaraan lagi.
"Mengko tak kirimi rinciane. Aku janji nek wis kerjo,tak ijoli kabeh. (Nanti aku kirim rinciannya. Aku janji kalau udah kerja, aku bakal bayar semuanya.)” Evi tak bisa menyembunyikan kegirangannya di seberang. Memiliki kakak seperti Tini merupakan anugerah baginya.
"Lambemu kuwi! Koyo aku ki sering nagihi wae! Sik nagihi kuwi tukang mendreng, kowe! Dudu aku. (Mulutmu itu! Kayak aku pernah nagih aja! Nagih itu kerjaan tukang kredit. Kamu! Bukan aku.)” Tini tertawa usai mengatakan hal itu.
Di belakang Tini, Wibi sedang berdiri dengan semangkok wedang ronde yang sudah kembali ditukar dengan mangkok yang bagus. Tadi saat Tini bertelepon, ia sungkan datang untuk menyela. Namun berdiri beberapa saat di belakang Tini pun, membuatnya mendengar seluruh percakapan yang seluruhnya ia mengerti.
To Be Continued
Disambung sesaat lagi ya ebo-eboooo
jangan lupa likenya.
Horas!