
Hari Sabtu pagi, Bara baru saja masuk ke rumah dari membawa Mima berjalan-jalan dengan sepeda dorongnya. Batita perempuan itu belum mandi dan Dul mengiringi mereka dengan sepeda di belakang.
“Walah … baru aja sebentar jalan-jalan. Mukanya udah merah gini. Mima merengek nggak, Mas?” tanya Dijah, mengangkat Mima dari sepedanya.
“Mana mungkin kalo jalan sama ayahnya, Mima merengek.” Bara tersenyum memandang Mima yang menggeliat kegerahan.
“Dul langsung mandi, ya. Handuknya udah ibu taruh di kamar mandi belakang. Biar Mima bisa mandi dalam embernya di kamar mandi tengah.” Dijah berseru pada Dul yang masuk rumah terburu-buru bermandikan keringat matahari pagi.
Saat tengah menyusun sepeda Dul dan sepeda Mima kembali ke tempatnya, Samar-samar terdengar nyanyian dengan gitar dari kejauhan.
“Siapa yang ngamen, Mas? Apa komplek ini udah bisa masuk pengamen?” Dijah berjalan ke pagar dan membuka pintu karena penasaran.
“Mungkin orang main gitar di rumah sendiri, Jah,” sahut Bara. Rasanya memang tak mungkin pengamen masuk ke komplek perumahan.
Setelah membereskan carport, Bara mendengar Dijah tertawa. “Apa, Jah?” Ia langsung tergesa keluar pagar melihat arah pandangan istrinya.
“Ternyata itu adik Tini, Mas. Dayat itu. Di sebelah Dayat, bapaknya Tini. Baru hari ini Dayat dateng. Tini udah ngomel-ngomel dari kemarin,” ujar Dijah.
“Astaga … itu cara bertamu paling normal untuk keluarga Tini kayaknya,” tukas Bara, tersenyum geli. “Mas Wibi akan semakin terhibur,” tambahnya lagi.
“Ho’oh, bener. Tini ngomel beneran sama ngomel bercanda nggak ada bedanya. Mas Wibi pasti udah terbiasa denger Tini dan adik-adiknya ngomong,” kata Dijah.
“Ayo—ayo, masuk. Matahari mulai tinggi. Gadis-gadis Ayah nanti kepanasan,” ucap Bara, meletakkan masing-masing telapak tangannya di atas kepala Dijah dan Mima.
Sementara itu, Tini yang sedang merapikan rambutnya buru-buru di depan kaca, seketika menahan lengan Wibi yang mau keluar kamar.
“Mas, itu Dayat di luar pasti ditemenin Bapak ke Jakarta. Bapak pasti nginep beberapa hari. Katanya mau liat kampus Dayat. Enggak apa-apa, kan, Mas? Enggak lama-lama, kok. Aku juga nggak enak kalau Bapak kelamaan di sini. Mas tau sendiri Bapak gimana,” ujar Tini mewanti-wanti Wibi sebelum pria itu terkejut melihat kedatangan keluarganya.
“Enggak apa-apa, kok. Kamu kenapa jadi mikir gitu ke aku? Selama ini memangnya aku pernah keberatan? Mas tau Bapak gimana. Tapi Bapak nggak pernah ngerepotin Mas, Tin. Namanya orang tua pasti beda-beda. Kamu karena belum liat Bapak-nya Mas gimana. Kalau di rumah doyannya pake sarung terus. Tiap ngobrol sama siapa aja, sambil terus gulungin sarungnya ke atas. Kita semua sampe khawatir kalau sarungnya bisa numpuk di dada semua. Gimana kalau gitu? Bisa kamu bayangin?” Wibi membuat mimik wajah jenaka memandang Tini.
Tini mencerna ucapan Wibi sejenak, lalu tertawa terbahak-bahak. Dalam pikirannya dia benar-benar membayangkan bapak mertuanya berbicara dengan tetangga dengan seluruh sarungnya tertumpuk di dada dan bawahannya hanya mengenakan pakaian dalam.
Saking lamanya Tini tertawa, Wibi sampai menepuk lengannya. “Udah? Kayaknya kamu asik bener bayangin Bapak-nya Mas. Itu Dayat udah masuk lagu kedua,” tukas Wibi, mengingatkan.
“Oh, iya. Dayat!” seru Tini, menyeret lengan Wibi keluar kamar dan menuju ruang tamu.
Di luar pagar.
“Lagu apa lagi, Pak? Satu lagu ternyata nggak bikin Mbak Tini keluar rumah. Apa kita salah rumah? Nanti udah nyanyi satu album Bung Rhoma, tau-tau salah rumah.” Dayat melongok ke dalam pagar.
“Satu lagu lagi pasti keluar,” saran Pak Joko.
Jreeeeng Jreeeeng Jreeeeng
Hmmmm …. Hmmmm
Kau adalah … bahagia dan deritaku.
Kau adalah … gembira juga dukaku.
“Udah—udah, berenti. Aku bukain pintu,” seru Tini setelah pintu ruang tamu terbuka.
“Wah, Mas Wibi. Maaf mengganggu libur akhir pekannya. Salah satu pemuda terbaik dari Desa Cokro telah tiba menginjak ibukota,” ujar Dayat, menurunkan gitarnya dan segera menjabat tangan Wibisono.
“Ayo, masuk. Panas-panasan di luar. Kenapa nggak langsung mencet bel aja?” tanya Wibi, memegangi bahu Pak Joko dan membawanya masuk melalui pintu depan.
“Mencet bel? Terlalu biasa, Mas.” Dayat cengengesan masuk ke dalam rumah.
“Masuk dulu, duduk dan minum. Perjalanan ke sini jauh. Ngomelnya bisa nanti. Buatin minum dulu,” pinta Wibi pada Tini.
“Mas Wibi memang terbaik,” kata Dayat, semakin melebarkan senyumnya.
Wibisono meletakkan bawaan Dayat di ruang keluarga dan mengajak mertua serta iparnya itu langsung ke ruang makan. “Pasti belum makan siang, kan. Kita makan sama-sama. Udah laper, kan, Pak?” Wibisono menarik dua kursi untuk ditempati Pak Joko dan Dayat.
"Makasi, Nak Wibi," ucap Pak Joko, duduk di kursi dan memandangi dapur Tini yang mungil dan mengkilap baru.
Tini berdiri di depan kitchen set membuatkan adik dan bapaknya minuman dingin. Dayat belum duduk. Pemuda itu sedang mengedarkan pandangannya ke seluruh dapur. Dahinya terlihat mengernyit.
“Ngeliat apa?” tanya Wibi pada iparnya.
“Kenapa aku merasa kayak raksasa di dapur ini. Apa perasaanku aja? Apa pemuda desa Cokro lebih tinggi dari kebanyakan pemuda di ibukota?” Dayat mendekati meja dapur dan mencoba menunduk. “Kan, bener. Aku lebih tinggi,” gumam Dayat.
Wibisono terkekeh.
Tini mengangkat nampan minumannya ke meja makan. “Udah, Yat. Sini kamu. Minum dulu biar kamu sadar.”
Dayat mendekati meja makan dan mengambil segelas sirup. Setelah meneguk setengah gelas minuman dingin, ia kembali menoleh ke sekeliling. “Enggak ada yang berubah. Aku memang lebih tinggi sekarang,” lirih Dayat.
“Enggak sadar-sadar juga ternyata. Itu kitchen set memang dibikin sesuai dengan tinggi badanku. Dari tadi didiemin bukannya sadar sendiri,” jawab Tini.
“Waaaah,” gumam Dayat dengan tatapan terkesima. Mengulangi pandangannya menyapu tiap sudut dapur.
“Makan sekarang, ya, Tin. Mas laper,” kata Wibi.
Dayat segera berdiri dari duduknya. “Aku bantu-bantu Mbak Tini,” kata Dayat.
"Duduk aja. Kan, baru nyampe," cegah Wibi, memandang Dayat.
“Enggak apa-apa, Mas. Udah biasa. Biar makanan masuk ke kerongkongan lebih lancar tanpa ceramah-ceramah yang menyertai,” jelas Dayat masih cengengesan.
Wibi lalu mengalihkan pandangannya pada Pak Joko. “Gimana, Pak? Puput ditinggal sama siapa di rumah?” tanya Wibi mengawali pembicaraannya dengan Pak Joko.
Mendengar nama Puput disebut, ternyata lebih menyegarkan bagi Pak Joko ketimbang meminum segelas air sirup dingin.
“Puput Bapak titip di rumah temen. Rumahnya memang tempat penitipan ayam-ayam buat yang pemiliknya sedang bepergian,” jelas Pak Joko.
“Wah, keren. Semacam hotel ayam?" tanya Wibi. Pak Joko mengangguk senang. "Sebelum Bapak titipkan Puput, apa dikasi catatan-catatan juga? Makannya jam berapa dan gimana-gimananya?” tanya Wibi dengan raut serius.
“Ya, jelas. Sudah Bapak tulis lengkap. Bapak tulis kalau Puput itu nggak suka bangun terlalu pagi. Jadi biarkan dia di kandang sampai matahari sedikit tinggi. Makanannya jangan ditabur di tanah. Puput lebih suka kalau dikasi alas. Piring plastik juga nggak apa. Jangan piring seng karena Puput enggak suka suaranya. Bisa kaget-kaget dia,” terang Pak Joko.
“Unik juga si Puput,” sahut Wibi.
“Biasalah, ayam remaja. Banyak maunya yang harus dituruti. Makannya milih-milih. Enggak pernah ditinggal pergi. Tapi kalau pergi, suka lupa pulang. Bapak mau liat dia bisa semandiri apa,” ujar Pak Joko.
Wibi mengangguk-angguk mengerti.
Di depan kompor, Tini memanaskan sayur dan Dayat memegangi mangkok. Kakak beradik itu berdiri bersisian.
“Embuhlah, Yat. Entah siapa yang aneh. Kok, yo, bisa-bisanya muka Mas Wibi seserius itu dengerin soal masa remaja Puput,” sungut Tini.
“Aku malah merasa Bapak itu lagi ngomongin aku. Bukan Puput,” sahut Dayat, meringis.
To Be Continued