TINI SUKETI

TINI SUKETI
127. Kesan Pesan Tini



“Ternyata memang kamu, Tin. Aku udah hampir ngira kalau Mas-ku halusinasi soal kamu. Dari kemarin ngomongin kamu terus,” kata Dijah tertawa. Ia masih merangkul Tini di ruang tamu.


“Sengaja, Jah. Aku tau Mas-mu pasti heboh.” Tini kembali terkikik. “Nih, aku bawa gorengan. Buat temen cerita tiga jam ke depan.” Tini menyodorkan kemasan plastikware tiga tingkat yang dibawanya.


“Dapet cemilan modal ngobrol, Mas.” Dijah mengangkat pemberian Tini untuk menunjukkan pada Bara.


Bara hanya meringis. Tadinya ia mau melontarkan candaan pada Tini, tapi sadar akan keberadaan Wibisono di sana, Bara mengurungkan niat.


“Kami mau ngobrol di dalem. Mas Bara ajak Mas-ku ngobrol, ya.” Tini nyengir memandang Bara. Ia yakin kalau Bara semakin penasaran akan topik pembicaraan mereka siang itu. Tapi ia tahu kalau Bara pasti mengizinkan Dijah bercerita ngalor-ngidul dengannya, karena pria itu pasti mengorek semua cerita itu lagi.


“Kita duduk di sini dulu, Mas. Aku masih syok kedatangan tamu sekaligus tetangga baru,” canda Bara tertawa kecil, menunjuk hamparan kursi teras.


“Boleh—boleh,” kata Wibi, menghempaskan tubuhnya di kursi teras yang terbuat dari besi berlekuk-lekuk.


“Jah, tolong buatin teh, ya.” Bara memegang kepala Mima yang sedang digandeng Dijah. Lalu ia sedikit mencondongkan tubuh untuk berbisik pada istrinya. “Ternyata aku akan selamanya dihantui Suketi, Jah.”


Dijah terbahak dan Tini merapatkan giginya memandang Bara. Suami-istri itu sejenak tertawa-tawa.


Tak lama kemudian, Mbok Jum menuju teras dengan nampan berisi dua cangkir teh dan gorengan yang dibuat Tini. Sedangkan Tini dan Dijah tak perlu minuman pembuka untuk memulai topik bahasan mereka. Mereka sudah duduk berhadapan di sofa depan televisi.


“Gimana—gimana? Jam berapa selesai tari ulernya? Mas-ku minta ke biduannya minimal selesai sampai tengah malem,” kata Dijah.


“Ya, enggak tau, Jah. Aku nggak sempet ngurus biduan tari uler. Karena aku juga nari sama uler,” sahut Tini terkekeh.


“Astaga … baru sebentar udah ngomongin uler,” ujar Bara tiba-tiba saat melintas di dekat sofa.


“Halah, sengaja mau nguping,” sergah Tini. “Mas-ku ditinggal-tinggal,” sambung Tini.


“Ngambil air putih, Tin. Kamu ini mikirnya jangan macem-macem. Mas Wibi kayaknya perlu air putih. Tenggorokannya seret. Memangnya kemasukan apa, Tin?” Bara menuju dapur sambil tertawa-tawa.


“Nanti kalau aku jawab, pasti keluar astaga bertubi-tubi. Mending nggak usah,” kata Tini. Dari dapur terdengar suara tawa Bara, karena mendengar jawaban Tini.


Bara kembali dari dapur dengan sebotol air dingin di tangannya.


Tini berdiri dari sofa, “Sini, aku aja yang nganter, Mas.” Tini meminta air dari tangan Bara.


“Enggak usah, biar aku aja. Kamu ngobrol aja menghibur istriku yang seminggu ini belum ada ke mana-mana,” ujar Bara, berlalu dari ruang keluarga dan kembali menuju teras.


“Alesan suamimu itu, Jah ….” Tini mendengus memandang punggung Bara, lalu kembali menoleh pada Dijah. “Sampe di mana tadi?” tanya Tini pada sahabatnya.


“Sampe kamu nari sama uler. Tapi itu kita lewati aja. Kamu bilang nggak tau hiburannya selesai jam berapa. Amplopan dapet berapa, Tin? Ada amplop kosong?” tanya Dijah. “Eh, sebentar—sebentar. Mima mau biskuit?” tanya Dijah pada Mima yang duduk di antara mereka. Balita itu mengangguk dan Dijah bangkit mengambil kotak biskuit di dekat meja.


“Oh, iya. Dul mana?” tanya Tini, menoleh ke arah kamar Dul.


“Nginep di rumah Uti. Hari ini mau pergi ke resepsi pernikahan anak rektor universitas. Sekarang Dul jadi partner ke resepsi, karena Mima belum bisa dibawa-bawa,” jelas Dijah.


Tini manggut-manggut.


“Tadi belum dijawab. Ada amplop kosong nggak?” tanya Dijah, mengulangi pertanyaannya.


“Amplop kosong? Ya, pasti ada. Kalau nggak ada amplop kosong, kotak sumbangan nggak akan rame,” sahut Tini tertawa.


“Jaman sekarang masih ada aja, ya,” gumam Dijah.


“Enggak apa-apa, Jah. Yang ngasi amplop berisi lebih banyak dari yang kosong. Isinya lebih dari sekedar lumayan. Anggap aja subsidi silang. Mungkin mau dateng, tapi lagi nggak punya uang. Padahal kalau nggak ngamplop juga nggak apa-apa,” kata Tini.


“Khawatir nggak dapet souvenir,” ucap Dijah.


“Iya, ya … pinter kamu. Sebenarnya aku nggak terlalu mikirin dapat berapa uang hasil amplop. Karena yang namanya resepsi pasti banyak habis duit. Saat aku nggak mikirin itu, ternyata ada amplop yang mencuri perhatian. Amplop yang paling menonjol di antara amplop-amplop lainnya. Tebbbel banget. Dari Pak Dean, Jah. Aku liat dia ngobrol-ngobrol sama Mas Bara dan Mas Heru. Ternyata ketika hadir dalam bentuk amplop pun, dia mau tetap menonjol dari yang lainnya.” Tini terkekeh-kekeh.


“Isinya berapa?” tanya Dijah penasaran.


“Waaahhh, lima puluh juta, Tin?” Mata Dijah membulat takjub.


Tini mengangguk bangga.


“Banyak itu, Tin,” cetus Dijah.


“Aku simpan buat Dayat aja, Jah. Katanya mau jadi pengacara hebat. Itu duit amplop dari pengacara hebat, aku bikin modal buat Dayat biar jadi pengacara hebat.”


“Aku seneng, Tin, dengernya. Semoga semua cita-cita kamu terkabul,” kata Dijah.


“Cita-cita kita, Jah,” ralat Tini.


Dijah tersenyum mengusap kepala Mima yang wajahnya sudah belepotan biskuit.


“Soal malam pertama, piye, Tin?” Dijah membekap mulutnya menahan tawa.


“Hmmmm …. Soal itu jangan tanya. Enggak gede nggak pede, Jah!”


Tiba-tiba ….


“Astaga …. Apalagi ini? Sekarang yang dibahas soal kayak gitu.” Bara kembali melintas di dekat sofa. “Mima … anak Ayah, jangan dengarkan yang tidak pantas didengar, ya.” Bara mengusap-usap telinga Mima bergantian kanan-kiri.


“Mas-mu ini memang alasan aja keluar-masuk untuk mencuri dengar,” kata Tini memandang Bara.


“Aku ngambil gelas, Tin. Kurang satu buat air putih,” jawab Bara berlalu ke dapur.


“Padahal bisa sekalian bawa gelas tadi,” sahut Tini mencibir.


“Enggak seru kalo nggak bolak-balik,” sahut Bara dari dapur tertawa-tawa.


Ketika pembicaraan mereka terhenti, ringtone ponsel Tini bernyanyi dengan musik remix.


Aku hanyalah manusia biasa


Yang tak pernah lepas dari


Khilaf ku mencoba merubah segalanya


Mungkin ada kesempatan


(Radja – Manusia Biasa)


“Evi, Jah.” Tini menatap ponselnya. “Pasti ada gosip dari kampung. Sebentar aku jawab dulu,” kata Tini.


“Halo? Opo, Vi?” sahut Tini.


“Kamu udah nyampe langsung senyap nggak ada kabar,” ujar Evi dari seberang telepon.


“Maklum, aku sibuk menjelajah tempat baru,” jawab Tini.


“Menjelajah tempat tinggal baru?” tanya Evi.


“Menjelajah tiap sudut tubuh suamiku. Begini aja kamu nanya,” kata Tini, tertawa terbahak-bahak.


“Astaga, Jah … Mas juga mau dijelajahi, Jah.” Bara tertawa memegang kepala Dijah sembari melintas dengan sebuah gelas di tangannya.


Dijah ikut tertawa dan Tini mengacungkan tinjunya pada Bara.


To Be Continued