TINI SUKETI

TINI SUKETI
82. Keluarga Calon Mertua (1)



Dengan tentengan masing-masing, mereka tiba di luar bandara dan menunggu nomor antrian taksi. Tini dan Evi duduk di kursi besi sambil memangku tasnya. Sedangkan Dayat berdiri bersama Wibisono sambil bercakap-cakap. Wibi sedang menjawab pertanyaan-pertanyaan Dayat dengan antusias. Sepertinya kehadiran tiga orang dari Desa Cokro membuat Wibi merasa semakin dibutuhkan.


“Aku tadi ngapain aja di pesawat?” tanya Tini pada Evi dalam bisikan.


“Ngapain aja? Main tenis, Mbak,” jawab Evi asal. “Belum lagi pesawat dua meter dari permukaan bumi, kamu udah pingsan. Malah nanya ngapain aja,” gerutu Evi.


“Yah, siapa tau aku ada ngelindur sampe megang-megang Mas-ku,” jawab Tini.


“Enggak ada. Kamu beristirahat dengan tenang. Rest in peace,” jawab Evi.


“Rest in peace, lambemu! Kalau aku rest in peace, nangis-nangis kui!” Tini menarik rambut Evi.


“Ck,” decak Evi memegang rambutnya. “Kamu tidur dengan nyaman. Ada kufoto dari sela-sela kursi pesawat. Nanti aku kasi liat. Mas Wibi itu anteng, yo, Mbak. Santai dan tenang. Cocok jadi pawang kuda lumping,” tukas Evi terkikik.


“Maksudmu aku kuda lumpingnya?” Tini balik bertanya.


“Aku nggak bilang gitu, ya.” Evi tertawa jahil memandang kakaknya.


Wibisono berjalan menghampiri mereka, dari wajahnya pria itu seperti hendak menyampaikan sesuatu.


Tini berdiri menghampiri pria itu. Ia tak mau percakapannya bersama Wibisono didengar oleh Evi.


“Nanti nginep di rumah, ya. Banyak kamar kosong. Aku udah bilang ke Ibu,” ucap Wibisono.


Tini terdiam sedikit bimbang. Ia sedang membawa adik-adiknya. Kalau hanya sendiri saja, mungkin itu tak menjadi masalah. Tapi dengan mereka yang begitu ramai, Tini sungkan. Mereka belum berstatus apa-apa dan bisa dibilang baru mengenal.


Tini menggeleng lemah. “Jangan, Mas. Kami semua nginep di hotel aja. Aku sungkan sama keluarga Mas Wibi. Enggak apa-apa kami di hotel. Kan, cuma dua malam di Surabaya. Aku bawa adik-adikku. Ngertiin aku, Mas.” Tini memegang lengan Wibisono dan menatap pria itu.


Wibi diam sejenak. Memandang wajah Tini beberapa saat, lalu memandang Dayat dan Evi bergantian. Lalu mengingat soal hal sederhana yang dulu ia lalui bersama mantan kekasihnya. Wanita itu dulu mengatasi semua-semua masalah kecil untuk dirinya dengan uang, tanpa mengindahkan soal harga dirinya sebagai laki-laki.


Sekarang, Wibisono memahami apa yang dicemaskan Tini. Ini bukan soal menolak ajakan menginap dengan sederhana. Tapi lebih pada usaha Tini untuk bersikap mampu dan mandiri serta datang dengan penuh percaya diri untuk berkenalan dengan keluarganya.


Akhirnya, Wibisono mengangguk. Untuk kali itu, dia membiarkan Tini menginap di hotel bersama adik-adiknya. Membiarkan Tini berkenalan dengan rasa bangga, karena tak datang merepotkan keluarga calon mertuanya.


“Ya, udah. Tapi cuma kali ini aja kamu boleh nginep di hotel sama mereka. Lain kali, udah harus nginep di rumah,” tukas Wibisono.


Mata Tini berbinar. Sudah sepatutnya perkenalan pertama ini mereka meninggalkan kesan sebagai pelancong. Bukan datang dan langsung menginap di rumah orang yang masih asing. Lain kali, kalau ada lain kali itu, ia harus meyakinkan bahwa Wibisono sudah menjadi suaminya saat menginap di rumah orang tua pria itu.


“Nginep di hotel mana? Yang biasa-biasa aja hotelnya. Kalau bisa dekat kawasan ramai. Siapa tau kami mau jalan kaki malam-malam liat tugu buaya. Enggak perlu hotel mahal,” ucap Tini lagi kembali menegaskan.


“Hal itu nggak usah dipikirin. Aku udah tau di hotel mana yang bagus. Bukan hotel mahal, tapi bagus.” Wibisono merangkul pundak Tini. Ia kembali harus menghalau kekhawatiran Tini soal harga penginapan.


Tini terlihat lega mendengar hal itu. “Itu taksi kita.” Wibisono menunjuk sebuah taksi yang pintu depannya sedang dibuka oleh Dayat.


“Wah, beruntung aku,” tukas Dayat dari kursi depan. “Sekalinya dateng ngunjungin Mbak Tini, langsung ngeliat kota terbesar nomor satu dan nomor dua di Indonesia. Mantep,” sambung Dayat lagi.


“Mas Wibi rumahnya di kota, ya? Keren,” cetus Evi yang melemparkan pandangannya ke sisi kanan jendela taksi.


Tini yang duduk di tengah kembali tak berkutik. Ia tak mau banyak bicara. Di dalam kendaraan yang sedang melaju, Tini tak bisa merasakan emosi apa pun. Ia tak bisa sedih, gembira atau pun marah.


“Itu salah satu outlet tahu baso Mas Angga,” kata Wibisono, mengangkat tangan Tini yang digenggamnya seraya menunjukkan sebuah ruko.


“Itu milik sendiri atau dikelola orang lain?” tanya Tini dengan nada lemah.


“Milik sendiri. Mas Angga belum buka franchise usahanya. Semua masih dia kelola sendiri. Outletnya belum terlalu banyak, tapi mulai berkembang. Kayak usaha travelku, Tin. Belum banyak, tapi hasilnya lebih dari cukup untuk kita.” Wibisono memindahkan tangan Tini ke atas pahanya.


Kalau saja Tini tak sedang mencoba mengatasi mabuk perjalanannya, mungkin Wibisono akan mendapat sambutan hangat saat meletakkan tangannya di atas paha. Sayangnya, kondisi Tini dan keberadaan Evi di sebelahnya, membuat Tini hanya bisa memandang tangannya terkulai lemah dalam genggaman tangan Wibisono.


Setelah melalui perjalanan panjang, mereka memasuki komplek perumahan yang jalannya cukup lebar untuk dilalui dua mobil.


“Nah, ini rumah bapak-ibuku. Aku masih tinggal di sini karena masih single,” kata Wibi tertawa kecil. Ia turun dari mobil dan menahan pintu untuk Tini. “Nanti aku beli rumah di Jakarta. Kita cari yang deket rumah Bara. Jadi kamu bisa tiap hari ketemu istrinya Bara,” ucap Wibi lagi.


"Bener, Mas?" Mata Tini melebar. Bayangan kembali bertetangga dengan Dijah memenuhi isi pikirannya.


Wibisono mengangguk-angguk.


Dalam perjalanan mendebarkan itu, hal yang paling membahagiakan hati Tini adalah ucapan Wibisono yang selalu menyisipkan kata ‘kita’. Kata sederhana yang membuat hatinya hangat seketika. Tiap Wibisono mengucapkan kata ‘kita’ ketampanan pria itu juga meningkat di mata Tini.


Seorang wanita keluar dari pintu dan menyongsong pagar rumah.


Wibi memastikan Evi dan Dayat telah turun dan membawa bawaannya masing-masing. Ia lalu menggandeng Tini mendekati pagar dan membantu ibunya yang tak sabar mendorong pintu besi. Ketika terbuka, Wibi menyalami ibunya.


"Bu, tepangaken niki Tini. Niki adhi-adike. Kulo bekto mriki bene sami mlampah-mlampah, Bu. Nggeh karepe kulo badhe kulo tepangaken kaliyan Bapak lan Ibuk." (Bu, kenalin ini Tini. Ini adik-adiknya. Aku bawa jalan-jalan ke sini. Maksudnya mau dikenalin ke Ibu dan Bapak.)


Ini pertama kali, pikir Tini. Ia langsung menyambut tangan Ibu Wibi yang baru dilepaskan oleh anaknya.


"Kulo Tini, Buk. Niki rayi kulo Evi, niki rayi kulo ingkang ragil asmane Dayat. Rayi kulo niku saweg dolan tèng Jakarta. Terose badhe mrisani panggenan kulo. Nembe sepindah niki tèng Jakarta. Lha kok, malah dijak'i Mas Wibi mriki. Ngapuntene, mugi dateng kulo sepindah mriki mboten ngrepoti Bapak kaliyan Ibu sareng Mbak'e." (Saya Tini, ini adik saya Evi, yang bungsu namanya Dayat. Mereka lagi jalan-jalan ke Jakarta. Katanya mau liat tempat tinggal saya. Baru pertama kali ke Jakarta, eh malah diajak Mas Wibi ke sini. Semoga kedatangan kami nggak ngerepotin Bapak, ibu dan Mbak.)


Evi dan Dayat juga cepat tanggap. Buru-buru menyalami Ibu Wibi di pekarangan.


“Ayo—ayo, masuk dulu. Kita jumpa Bapak.”


Wibisono melepaskan tangan Tini yang diseret ibunya masuk ke dalam rumah.


To Be Continued


Catatan :


Kalau ada typo, mohon diampuni dulu. Kalau ada kesalahan ketik atau pengucapan dalam bahasa Jawa, mohon dimaklumi. Terima kasih Mbak Winnie dari Magelang yang tinggal di Tegal sudah bersedia diganggu siang malam untuk dialog-dialog novel ini.