
“Aseeeem,” sahut Evi dari seberang telepon. Tini masih terkikik.
“Jadi, ada perkembangan apa? Gosip apalagi yang menerpaku?” tanya Tini.
Dijah mencubit paha Tini saat mendengar ucapan itu. Tini kembali terkikik.
“Apa? Aku dibilang OKB? Orang kaya baru? Enggak apa-apa. Tolong sampein ke yang ngomong setidaknya pernah. Pernah kaya, meski baru. Ngomong kayak gitu, tapi di resepsi orang nggak pulang-pulang. Semua-semua dicicip.” Tini bersungut-sungut di telepon.
“Besok aku balik ke kos-kosan. Aku udah titip semua pesan-pesan ke Bapak soal Dayat. Nanti wisudaku, siapa yang dateng, Mbak?” tanya Evi.
“Kamu tanya Bapak mau dateng atau enggak. Kan undangannya untuk dua orang. Bapak sama Dayat juga nggak apa-apa.”
Tak lama telepon berakhir dan Tini menghela napas menatap Dijah.
“Omongan tetangga lagi? Sekarang apa lagi?” tanya Dijah.
“Halah, udah biasa. Sebenarnya dulu yang diomongi tetangga itu soal aku nutup jalan karena sakit hati ditinggal kawin dan ditikung sahabatku sendiri. Bukan soal yang aneh-aneh.”
“Tapi itu juga udah aneh, Tin.”
“Memang. Aneh dan membekas di ingatan tiap orang.” Tini tertawa terbahak-bahak.
“Setelah aku pergi, Evi bilang, yang lebih banyak diomongi orang itu si Tikus. Karena nggak lama dia pesta, beberapa bulan kemudian dia melahirkan anak pertama. Pergunjingan pun butuh waktu, Jah. Di mana-mana omongan orang nggak akan ada habisnya. Kalau dengerin ngomong orang, Evi mungkin tetap keliling-keliling desa nagih cicilan dan berdebat sama orang yang nunggak. Evi bakal darah tinggi dan bisa mati muda. Aku udah di Jakarta enam tahun. Beda sama kamu yang dari lahir mungkin udah hidup di kota ini meski wilayah pinggiran.”
“Pasti beda, Tin. Kamu hidup keras, tapi ada keluarga yang menguatkan. Itu hal yang wajib disyukuri. Keluarga bikin kamu punya tujuan," ucap Dijah, tersenyum dengan pikiran yang mengingat soal keluarganya dulu.
“Bener, Jah. Makanya buatku, kamu selalu luar biasa. Mungkin kalau nggak ketemu kamu, pikiranku bisa beda,” ujar Tini.
Tini setengah menerawang. Setelah patah hati dulu, ia menganggap hidupnya paling menderita. Miskin, tersakiti, dan jauh dari keluarga. Ia sering mengasihani diri. Namun, setelah bertemu Dijah yang terlihat santai dengan penderitaan hidup yang jauh lebih berat darinya, pikiran Tini terbuka. Betapa dia lalai mensyukuri hal biasa yang ternyata merupakan kekayaan bagi orang lain. Tak semua orang memilikinya. Keluarga yang rukun.
“Enam tahun terakhir ini membawa perubahan besar buat hidupku. Aku banyak liat orang-orang yang sukses dan fokus dengan hidupnya sendiri. Aku mau adik-adikku kaya gitu. Aku kepingin Evi seperti Bu Larasati yang cantik dan pintar. Aku mau Dayat seperti Pak Dean yang pinter dan baik, meski kadang ngeselin,” jelas Tini.
“Pasti bisa, Tin. Pasti bisa,” sahut Dijah, mengguncang bahu Tini.
“Keinginan kamu yang belum terpenuhi apa, Jah?” tanya Tini, memandang raut Dijah yang mencoba terharu dengan pembicaraan mereka, namun ternyata gagal. Sahabatnya itu tetap memasang wajah datar meski menepuk-nepuk bahunya.
Dijah memutar matanya seraya berpikir. “Aku kepingin punya anak laki-laki dari Mas-ku. Tapi nggak sekarang. Nanti-nanti aja katanya. Kayaknya Mas-ku masih sedikit trauma jaga Mima yang bayinya suka begadang.” Dijah tertawa mengingat masa-masa Mima bayi yang membuat mereka kurang tidur berbulan-bulan.
“Mas-mu nggak ada nanya soal Coki, Tin?”
“Pernah. Sebelum kami menikah. Setelah menikah dia nggak ada nanya apa-apa. Sepertinya dia benar-benar meninggalkan segala masa lalu. Masa lalunya sendiri, masa laluku juga. Sekarang yang ada hanya masa depan. Pas is pas. De importen ting is fiyucer. (Past is past. The important thing is future/ Masa lalu adalah masa lalu. Hal paling penting adalah masa depan.)”
“Keren, Tin. Mas-mu keren,” kata Dijah, mengangkat Mima dan menepukkan kedua tangan balita itu agar bersorak untuk Tini.
“Aku juga keren, Jah. Aku juga nggak sibuk nanya ini-itu sama Mas-ku. Dia juga punya masa lalu yang pasti malas dia ceritakan. Jangan bilang karena dia laki-laki, masa lalunya seburuk apa pun bisa dimaklumi. Padahal manusia mana pun derajatnya sama. Menyalahkan yang benar memang kejahatan. Tapi mewajarkan kesalahan juga kejahatan. Walau dengan embel-embel, ‘kamu perempuan, harusnya bisa berlaku lebih baik’. Jadi, laki-laki kalau nggak berlaku baik, bisa dimaklumi? Hilih! Kartini pasti nangis kalau denger itu,” omel Tini.
Dijah tertawa terbahak-bahak. “Aku suka kamu yang sekarang. Yang penting kita jadi istri yang baik, ya, Tin …. Kita dikasi suami baik, sesuai kebutuhan kita.” Dijah kembali memijat-mijat bahu Tini.
“Bener, Jah. Dikasi suami baik, yo, aku bersyukur. Aku rawat sebaik mungkin, dan aku bersikap sebaik mungkin. Karena aku inget kata Pak Dean, sikap seorang istri adalah cerminan didikan suaminya. Kalau mulutku jahat, suamiku bisa dianggap gagal mendidikku. Makanya …. Mima … nanti kalau Budhe menjelma menjadi selembut wanita keraton, kamu jangan kaget, ya.” Tini menjawil pipi Mima yang menatapnya bingung.
“Anak Ayah mana? Belum tidur setelah didongengin Budhe?” tanya Bara, mendekati sofa. Wibi berjalan di sebelah Bara dan langsung mendekati Mima.
“Mau sama Pakdhe?” Wibi mengulurkan tangannya pada Mima. Balita itu sesaat menatap Wibi, lalu berpaling menatap ayahnya seakan minta persetujuan.
“Mau gendong Pakdhe?” tanya Bara pada putrinya. Mima seketika mengulurkan tangannya pada Wibi.
“Tin, liat nih. Mima mau Mas gendong,” kata Wibi tertawa kecil. Ia lalu memutari sofa sambil menggendong Mima.
Tanpa sepengetahuan Wibi, Tini mencubit paha Dijah.
“Sakit,” gerutu Dijah. “Apa?” tanyanya pada Tini yang mencibir manja menatap suaminya.
“Liat otot-otot tangannya itu. Tangan kekar itu harus secepatnya meninabobokkan anak-anak kami. Kekuatan tubuh Mas-ku harus bermanfaat untuk anak-istrinya.” Tini tertawa membekap mulutnya.
“Mas, sini …,” panggil Tini dengan manja pada Wibisono. Wibi pun datang mendekati istrinya.
"Kita bikin kaya gini juga," ucap Tini manja, bersandar di lengan Wibi yang sudah duduk memangku Mima di sebelahnya.
"Nanti kita bikin yang banyak," sahut Wibi tertawa, menegakkan tubuh Mima di depannya.
Bara dan Dijah saling senggol saat melihat hal itu.
To Be Continued