
Tak sempat lagi mengatakan ‘ya ampun’ atau ‘astaga’, Tini melompat turun dari pangkuan Wibisono dan meraih gaun tidur yang akan digunakannya sesaat sebelum berganti kebaya yang lebih santai.
Wibisono dengan santai memakai piyamanya, dan menyeret tubuh Tini ke belakang pintu kamar agar tak terlihat dari luar saat ia membuka pintu.
“Sini, nampannya biar saya aja yang bawa ke dalem,” ucap Wibi pada seorang wanita. Tanpa bertanya lebih lanjut lagi, wanita itu menyerahkan senampan besar makanan berisi macam-macam lauk pesta.
Di dalam kamar, Tini baru selesai memakai gaun tidur yang luarnya berupa jubah dilengkapi dengan tali. Ia duduk bersimpuh manis saat Wibisono meletakkan makanan itu di permadani. Kamar orang tua Tini tidak luas. Setelah tempat tidur, meja rias dan lemari, hanya tersisa lantai yang tertutup permadani berwarna merah.
Rupanya sepasang pengantin baru itu sama laparnya. Mereka hanyut dalam keheningan menikmati senampan hidangan. Wibisono meletakkan potongan daging ke piring Tini. Tini pun meletakkan sepotong paha ayam ke piring Wibisono. Untungnya saling meletakkan lauk pauk itu tak berlangsung hingga pagi.
“Sudah selesai, kan, Mbak? Saya bawa keluar, ya.” Asisten bidan pengantin mengangkat nampak makanan dan menyerahkannya kembali pada seorang wanita di luar.
“Saya didandani lagi?” tanya Tini, bangkit dari duduknya.
“Pokoknya makeup Mbak, saya rapikan. Kebaya yang mau dipakai digantung sebelah sini.” Wanita itu memegang hanger besi dan memandang Tini. “Kalau mau istirahat dulu nggak apa-apa. Yang penting saya udah ngerjain tugas, lho. Mau terus di kamar sampai pagi juga nggak apa-apa.” Asisten bidan pengantin itu tertawa seraya mendudukkan Tini di bangku dan mulai merapikan sanggulnya.
Masih dengan memakai piyama sutera cantik, rambut dan wajah Tini kembali segar dan rapi. Begitu pula Wibisono yang kembali mendapat sapuan bedak tipis di wajahnya. Wajah mereka kembali cantik, ganteng dan ... mengantuk.
Setelah membereskan semua peralatannya, asisten bidan pengantin berpamitan pada Tini. Sebelum pergi, wanita itu kembali mengingatkan soal urutan bros untuk mengancing kebaya.
Sedetik pintu kamar tertutup, Tini dan Wibi saling pandang. Langkah kaki mereka bersamaan mendekat. Namun kemudian mereka menyadari hiruk-pikuk hiburan musik terhenti. Suasana menjadi senyap seketika. Teriakan-teriakan orang di luar terdengar jelas.
Tini melirik jam bundar di dinding. Pukul tujuh malam dan memang sudah perjanjian kalau hiburan itu terhenti. Benar kata Dijah, pikirnya. Harusnya dia membiarkan saja hiburan itu berlangsung hingga tengah malam.
“Musiknya berhenti,” kata Wibi. Seakan bisa membaca pikiran Tini.
“Iya, musiknya berhenti. Ganti pakaian sekarang? Biar baju Mas aku siapin,” kata Tini.
“Boleh—boleh,” sahut Wibi, duduk di tepi ranjang seakan sedang menunggu sesuatu.
Gerakan Tini seakan melambat dengan sendirinya. Wibi pun terlihat mengambil ponsel untuk mengulur-ulur waktu. Perut mereka kenyang dan semua orang di lokasi resepsi diduga mereka pasti sibuk berbenah.
Dua hanger pakaian sudah berada di tangan Tini dan ia meletakkan kebayanya di tepi ranjang. Lalu menyodorkan satu set pakaian yang akan dikenakan suaminya.
“Ini, Mas.” Tini membuka lipatan celana bahan yang tersampir di hanger.
Tangan Wibi terulur untuk mengambilnya. Lalu, lamat-lamat terdengar suara musik kembali dimulai. Musik yang diputar adalah lagu dangdut heboh. Suara teriakan seorang biduan wanita terdengar mengatakan, “Atas permintaan salah satu tamu spesial, musik dilanjut. Ayo! Desa Cokro digoyang! Yeaahh!”
Di luar kamar langkah-langkah kaki orang terdengar menjauh menuju pusat hiburan. “Ayo! Ayo! Aku mau ke depan. Katanya lagi ada yang nyawer,” seru suara seorang pemuda dari luar.
“Hadiah dari Dijah,” ucap Tini pada Wibi. Saat itu Tini mengerti akan 'hadiah' yang Dijah bilang, akan diberikan di waktu yang tepat. Di dalam hati, Tini ingin mengecup sahabatnya itu.
“Ha?” Wibisono memandang Tini tak mengerti.
“Itu—” Tini memiringkan kepalanya mendengar alunan musik dan sorakan-sorakan orang yang riuh rendah.
Wibisono akhirnya mengerti apa yang sedang dibicarakan Tini. Mata pria itu membulat dan mencampakkan hanger yang berada di tangannya. Kedua tangannya langsung merengkuh Tini dan menjatuhkan tubuh mereka ke ranjang empuk. Wibisono mencium bibirnya sedikit tergesa. Dalam ciuman itu, Tini memikirkan soal ranjang Dayat yang sekarang terasa empuk. Sepertinya Evi mengganti kasur yang sudah tipis digunakan bertahun-tahun dengan kasur per baru.
Dalam bayangannya selama ini soal malam pertama seperti apa yang akan dilaluinya, Tini selalu membayangkan tentang tubuh yang wangi dan segar sehabis mandi, rambut yang terurai dan bisa disibak dengan jemari sang suami. Semua itu memenuhi angan-angannya selama ini. Namun, jarang sekali kenyataan berbanding lurus dengan angan-angan.
Tini menindih tubuh tegap Wibisono dengan piyama tipis yang menghalangi tubuh mereka dengan wajah masih dipenuhi dandanan. Bahkan, sanggul Tini masih sangat rapi dengan aroma untaian melati yang menguar segar.
Jemari Wibi menarik pengikat piyama di tubuh Tini dengan menyelipkan tangannya di antara tubuh mereka. Sekejap saja, bahu Tini sudah terbuka dan Wibi mengecupinya berpindah-pindah dengan cepat.
Kelembutan sentuhan di kulit bahunya, membuat kepala Tini terkulai ke sisi bahu Wibisono. Terkulai karena menikmati kecupan itu, juga terkulai karena sanggul besar yang masih dikenakannya.
“Ayo, sekarang aja manfaatin kado dari Dijah,” bisik Wibisono di telinga Tini.
Wibisono tak membiarkan Tini berbaring di ranjang. Akan memakan waktu jika mereka harus melepaskan sanggul itu. Dan akan terlalu merepotkan jika seseorang menyadari ketidakhadiran mereka di acara pesta lantas menyusul mereka dan melihat sanggul Tini yang acak-acakan.
Tini menegakkan tubuhnya di atas Wibi dengan kedua tangan mereka yang saling menggenggam. Saat Wibi menguraikan tangan mereka, kedua tangan pria itu berpindah ke bahunya untuk menurunkan jubah piyama. Menarik piyama berbentuk rok yang terhimpit di bawah bokong Tini, lalu menurunkan tali tipis di kedua bahu istrinya. Pakaian Tini sekarang tergulung di bawah dadanya.
Kemudian Wibi kembali menarik lengan Tini, seraya membenamkan ciuman bibir yang rakus. Ketidaksabaran keduanya membuat mereka lupa sekeliling. Wibi meraba tepian pakaian dalam Tini dan menurunkannya. Tanpa melepaskan ciuman, ia berhasil mengangkat tubuh Tini dan menyingkirkan penghalang jemarinya.
Erangaan panjang keluar dari mulut Tini, namun tersamar dengan ciuman. Tangan Wibi tiba menyentuhnya di bawah sana. Posisi tubuhnya seketika gaduh dan Wibi mempergunakan kesempatan itu untuk meloloskan bawahan piyamanya sendiri.
Ciuman mereka terlepas, terengah-engah, dengan sorot mata sayu saling mendamba hal berikutnya yang mereka sama-sama tunggu.
“Sini,” ucap Wibisono dengan suara sedikit bergetar. Bibirnya setengah terbuka seakan menanti sesuatu. Kedua tangannya mencengkeram pinggul Tini dan mengajak istrinya itu untuk kembali berciuman.
Tini mengerti apa yang diinginkan suaminya. Bagian tubuh mereka yang saling bersentuhan di bawah sana membuat Tini ingin mengakhiri rasa penasaran terhadap kepemilikannya itu. Wibi mengangkat tubuhnya perlahan-lahan, mendekatkan wajah ke dadanya dan mengecup dadanya bergantian. Tini memejamkan mata, merasakan penyatuan yang dirasanya paling sempurna. Penuh cinta dan penuh rasa kesesakan yang tak mengecewakan.
Wibisono menyamarkan erangannya dengan menautkan ciumannya bergantian di dada sang istri. Ketika pekikan kecil meluncur keluar dari bibir Tini, ciuman Wibi terhenti dan pandangan mereka beradu. Pandangan mereka terus menaut dalam gerakan Wibi yang teratur tanpa tergesa.
Alih-alih menaiki kereta kencana seperti Nyai berbaju hijau, kebaya hijau Tini masih tersampir rapi di hanger dan sesaat terlupakan. Dengan dandanan lengkap, sanggul rapi dan untaian melati, sepasang pengantin baru itu melewatkan kebersamaan mereka di satu ranjang untuk pertama kalinya.
To Be Continued