
“Jadi aku harus berenti merokok ya?” tanya Tini sedikit menerawang.
“Pokoknya kita semua dukung Mbak Tini,” sahut Asti.
“Oke—oke, siapa takut?” tantang Tini, sambil kembali mengambil kotak rokoknya di bawah kursi.
“Kau bilang mau berenti? Tapi tangan kau ngambil kotak rokok lagi,” kesal Mak Robin, menendang kaki kursi Tini sampai bergeser.
Tini terkikik-kikik. “Ini udah tinggal dua batang. Sayang, Mak. Enggak boleh dibuang-buang ... mubazir. Jadi aku abisin ini dulu. Itung-itung untuk tenaga puasa. Setuju, toh?” Tini kembali menyulut sebatang rokok.
“Kalo Mbak Tini sebegini seriusnya mau berenti merokok, artinya Mas yang ini pasti luar biasa. Pasti melebihi Mas Heru pesonanya,” kata Asti, memberi semangat.
“Buatku luar biasa. Enggak tau kalau buatmu As. Selera wanita, kan, beda-beda. Kalau sama semua pasti repot.” Tini duduk menyilangkan kaki. Rambutnya sudah kering dan ditaruhnya di satu sisi.
“Kalo gitu cepet abisin rokokmu. Abis makan malem, jangan berani-beraninya kamu ke warung. Aku jaga pintu kamarmu dari seberang,” ancam Boy.
“Lagian entah hapa enaknya merokok,” sambung Mak Robin.
“Udah kayak candu, Mak. Temenku ada yang gitu juga,” tukas Dara.
“Apa seperti mengisap ganjja, Mbak?” tanya Asti dengan raut polosnya.
“Rokok itu nggak sekeras ganjja. Walau aku nggak tau rasanya ganjja kayak mana. Tapi waktu di kampung, aku pernah kapok ngisep satu merek rokok. Rasanya keras banget. Mungkin ganjja kayak gitu.” Tini memandangi batang rokoknya yang sudah tersisa setengah.
“Gimana rasanya, Mbak? Keras banget kayak gimana?” tanya Dara penasaran.
“Jadi gini … rokok yang kuisep ini, termasuk ringan. Biasanya aku beli ketengan di kampung. Nah, setiap pagi aku punya kebiasaan. Menyalurkan hasrat di WC sambil ngerokok. Apesnya suatu pagi hasratku udah di ujung dan rokokku habis. Aku buru-buru ke warung deket rumah. Ternyata di sana juga habis. Aku beli merek lain dan aku masuk WC kayak biasa. Eh … tau-taunya. Saking beratnya rokok yang aku isep itu … aku sampe susah berdiri ngambil gayung. Kepalaku berat, Mak!” tukas Tini, memandang Mak Robin.
“Untung gak mati kau di WC itu! Mana pulak kau belom cebok! Isss … jijik kali aku dengarnya. Diamlah muncung kau, Tini!” Mak Robin kembali menendang kursi Tini.
Tini tertawa terbahak-bahak, tapi semua orang di sekitarnya mengernyit jijik.
“Cerita itu cukup berenti di kami aja, Tin!” sergah Boy.
“Siap, Pakle Boy—siap!” sahut Tini kembali tertawa.
Malam itu adalah malam pertama Tini menjalankan niatnya berhenti merokok. Dari sore tadi dia masih terlihat biasa saja. Tak ada yang berbeda. Mereka semua membeli nasi bungkus di rumah makan dan memakannya beramai-ramai di kamar Tini.
Kegelisahan Tini mulai terlihat saat menjelang pukul sepuluh malam. Jam segitu dia memang sering membuat secangkir teh dan duduk di kursi plastik sambil menyesap rokoknya. Tini mengintip keluar jendela kamarnya. Memastikan kalau Boy tak menjalankan niatnya untuk mengawasi pintu kamar.
Tak apalah kalau sebatang saja pikirnya. Tini memakai cardigan rajut untuk melapisi dasternya. Tini menajamkan telinga mendengar kamar di kanan kirinya. Mak Robin pasti sudah lelah dan tertidur karena mengajari Robin matematika pasti menghabiskan separuh energinya. Dara juga sudah tak bersuara.
Masih mengendap-endap, Tini mengunci pintu kamarnya pelan-pelan. Saat itulah jantungnya nyaris keluar dari tempatnya.
“Untuk Tini Suketi, diharapkan kembali masuk ke dalam kamar.” Suara Boy dengan microphone terdengar dari dalam kamarnya.
Tini menoleh. Pintu kamar Boy tertutup, tapi laki-laki itu bisa melihat kalau ia sudah berada di luar. Artinya Boy juga sedang mengintip.
“Memang edan!” maki Tini ke arah kamar Boy. Ia kembali membuka pintu kamarnya dan masuk ke dalam.
“Yak, bagus. Selamat malam Tini Suketi,” kata Boy lagi dengan mic-nya.
Itu adalah permulaan Tini berhenti merokok. Kemarin malam dia berencana bangun pagi-pagi benar karena berniat berdandan paripurna untuk bertemu dengan Wibisono. Nyatanya, dia bangun kesiangan karena sepanjang malam gelisah mau ke WC dan tak ada rokok.
Tini berencana membuat ikal-ikal manja di ujung rambutnya agar terlihat seperti wanita sosialita. Ia berniat memakai bulu mata palsu untuk menambah volume agar kelentikan matanya menggoda kaum adam. Rencana Tini sudah matang. Tapi itu semua hanya rencana.
Tini tak sempat membuat ikal, tak sempat memakai bulu mata palsu. Tubuhnya sedikit aneh karena merasa kurang sesuatu. Asti, Boy dan Dara sudah berdiri di depan kamar masing-masing. Menunggu penampilan Tini yang mereka duga pasti akan berbeda dari biasanya karena akan bertemu dengan Wibisono.
Tapi ternyata ….
“Bah, kenapa muka kau?” tanya Mak Robin, menatap wajah Tini yang pucat pasi tak bersemangat.
“Kenapa?” tanya Tini lesu. Ia memang kurang tidur. Lingkaran gelap di bawah matanya terlihat samar. Bedak yang biasa menutup sempurna kulit wajahnya, pagi itu disapukan tipis-tipis saja. Lipstiknya pun belum sempat ia pakai.
“Mbak Tini beda. Rambutnya dikuncir,” kata Asti.
“Enggak jadi digelombang-gelombang kayak Marimar?” tanya Boy.
“Enggak—enggak ada Marimar hari ini. Yang ada Pulgoso,” jawab Tini, mengunci pintu kamarnya. “Ya, udah. Ayo berangkat,” ajak Tini pada tiga orang yang sudah menunggunya.
“Semoga Tuhan memberkati, Tin!” teriak Mak Robin.
“Iya, Mak!” Tini mengangkat tangannya ke arah Mak Robin. “Ya, ampun. Setiap hari aku berangkat kerja, baru pagi ini dia doain aku,” ucap Tini melangkah keluar pagar bergandengan dengan Asti.
“Mas Wibi itu ganteng ya, Mbak?” tanya Asti. “Semoga Mbak Tini nggak kecewa lagi,” sambung Asti.
“Ganteng atau enggak, aku cuma suka aja liatnya, As. Aku menganggap kerja ketemu Wibi itu kayak semangat. Patah hatiku udah terlalu biasa. Sakit yang diberikan Coki dulu udah terlalu dalam. Levelnya udah tinggi. Bahkan Gatot setan aja cuma meninggalkan rasa sakit tiga hari. Jadi … aku memang nggak mau lagi menimbun harapan sampai membubung tinggi. Niatku yang pertama tetap nyari uang buat pendidikan adik-adikku. Kamu jangan khawatir,” kata Tini, melepaskan tangan Asti yang sedang menggandengnya.
Mereka sedang berada di tepi jalan. Boy dan Dara ikut terdiam mendengar perkataan Tini.
“Maksudku ...." Asti diam sesaat untuk memilih kata-katanya.
“Kalau memang kamu dan Bayu sudah serius mau melangkah ke jenjang pernikahan, aku bahagia, lho, As. Kamu itu kayak adikku. Masa iya kalau Evi mau nikah, aku bilang jangan langkahi aku. Takdir manusia, kan, punya polanya masing-masing. Aku berubah jadi baik bukan demi laki-laki yang mana pun. Tapi demi diriku sendiri, As. Kalian jangan nangis, omonganku belum sampai ke bagian yang sedihnya,” kata Tini memandang wajah Asti dan Boy yang seketika berubah.
“Aku tetap doain, semoga bukit di belakang rumah Coki segera bisa dibeli oleh suami Mbak Tini.” Asti kembali tangan Tini.
“Memangnya kalo udah berhasil dibeli mau dibuat apa, Tin?” tanya Boy.
“Pemakaman keluarga, Boy. Biar semua nenek moyangku aku pindahin ke sana kuburannya. Kan, lucu belakang rumah Coki berubah jadi pemakaman semua.” Tini terkekeh. “Ya, udah. Aku berangkat duluan, ya. Angkotku udah dateng.” Tini menyetop sebuah angkot biru yang melintas di deapn mereka.
To Be Continued