
Tini memoleskan lipstik merah jambu ke bibirnya. Setelah mengecapkan bibir agar membuat lipstiknya rata, ia bergumam, “Wis. Wis mirip cenil. Biar yang ngeliat laper pengen ngeraup.” Tini terkikik seraya menyimpan kembali dompet makeup-nya.
Tok Tok Tok
Kaca pintu ruangannya yang terbuka, diketuk seseorang. Ternyata Agus yang seharian berada di luar kantor, baru datang kembali.
“Tin, ada yang cari saya nggak?” tanya Agus.
Mampus, pikirnya. Siapa yang dimaksud Agus? Apa memang sudah ada janji dengan perempuan yang bernama Mira itu?
“Maksudnya yang nyari Bapak untuk urusan pekerjaan?” Tini balik bertanya.
“Iya. Memangnya ada yang nyari saya urusan lain?” tanya Agus.
“Enggak ada,” potong Tini langsung. Ia sudah bersiap mau dijemput Wibisono, tapi kenapa Agus malah muncul. Bisa batal pembicaraan empat mata ia dan Wibi nantinya.
“Ini siapa?” tanya Agus, menunjuk Ayu yang sejak tadi diam mendengar mereka berbicara.
“Ini pegawai baru, Pak.” Tini tersenyum.
“Wow, saya nggak masuk setengah hari tiba-tiba udah ada karyawan baru aja.” Agus menatap Tini meminta penjelasan.
“Saya perlu anggota tim yang baru. Perempuan. Susah ngarepin Bowo dan Surat. Kebanyakan mainnya. Nanti kalau mereka kelewatan, rencananya mau saya pecat. Eh, maksudnya Pak Agus aja yang pecat. Saya capek,” tukas Tini.
“Lamarannya mana?” tanya Agus pada Tini.
Tini membuka laci mejanya dan berdiri menyerahkan amplop cokelat milik Ayu tadi. “Ini, Pak.” Tini menyodorkan amplop cokelat.
“Ayo, kamu ikut saya.” Agus mengangguk pada Ayu.
“Tadi dia sudah sempat saya wawancara sebentar,” seru Tini dari kursinya.
“Udah ditanya-tanya?” tanya Agus.
“Baru satu pertanyaan,” jawab Tini.
“Apa itu?” Agus menghentikan langkahnya karena penasaran.
“Kamu udah punya pacar? Jawabannya belum, Pak.” Tini lalu mengangguk dengan anggunnya.
“Aku kira apa,” gumam Agus meninggalkan ruangan kerja Tini.
Tini melirik jam di tangan kirinya. “Aku ke depan sekarang. Enggak baik membuat orang menunggu,” ucap Tini. Ia melangkahkan kakinya dengan riang di sepanjang lorong menuju keluar.
Saat hampir mencapai pintu, Tini teringat akan sesuatu dan memutar langkahnya menuju ruangan Agus.
Tok Tok Tok
“Hmmmm!” seru Tini sebelum Agus menjawab.
“Hmmm,” sahut Agus dari dalam.
“Nah, kan, bener. Mungkin ada rambut di kerongkongannya sampe ngomong aja sulit,” omel Tini dengan bisikan.
Tini melongokkan kepalanya ke dalam. “Ayu, Pak Agus ini baik. Kalau kamu takut pulang sendiri, karena belum terbiasa naik angkutan kota, tanya aja rumahnya deketan apa enggak dengan kos-kosan kamu. Pak Agus fair, kok. Fleksibel. Orangnya santai dan suka bantu pegawainya.” Tini tersenyum pada Ayu dan mengangguk.
Sedangkan Agus menatap Tini setengah terbengong.
“Saya duluan, Pak.” Tini mengangguk pada Agus.
“Kamu mau ke mana?” tanya Agus.
“Makan sama Mas Wibi. Sekalian paparan soal yang kemarin. Terus aku nanti langsung pulang. Duluan, ya ....” Tini melambai.
“Eh, Tin ....” Panggilan Agus tidak dipedulikan. Tini langsung lenyap dari pandangan. Tatapannya berpindah pada Ayu yang sedang duduk memangku tasnya menatap bingung pada atasan-atasan di kantor yang baru dimasukinya.
“Ehem! Memangnya kos-kosan kamu di mana?” tanya Agus.
“Daerah Duren Sawit, Pak. Saya nggak apa-apa naik angkot. Tadi saya cuma ngobrol sama Mbak Tini soal tempat tinggal di Jakarta,” ucap Ayu dengan suara nyaris tak terdengar.
“Semarang,” jawab Ayu.
Agus melihat Ayu dengan sudut matanya. Gadis itu langsung kembali menunduk memandang tautan tangannya usai menjawab pertanyaan Agus.
Di luar kantor, Bowo dan Mail baru kembali tiba. Bukannya masuk, dua pria itu malah berbicara dengan satpam yang setiap jam selalu ada.
“Mbak Tini, tadi kayaknya masih dipanggil Pak Agus, deh.” Ternyata Bowo yang tadi melintas di dekat ruangan Agus, sempat mendengar atasannya itu memanggil Tini.
“Biarin aja. Aku mau pergi. Lagi nunggu jemputan,” jawab Tini.
Perasaan Tini sedikit lega, karena Agus memang tidak memiliki janji untuk bertemu dengan Mira. Soal pertemuannya dengan Wibi, Tini tidak merasa terlalu penting jika harus memberitahu Agus. Tini menganggap bahwa Wibi adalah calon nasabah yang akan ia prospek.
Jadi Tini merasa aman-aman saja saat mengatakan kalau ia akan pergi makan bersama Wibisono. Toh, kaum lelaki tidak terlalu ekspresif menceritakan tentang perasaan satu sama lain. Yang begitu itu, ya, tetap wanita.
TIN ... TIN ...
“Mbak, dipanggil!” kata Mail pada Tini.
“Enggak ada yang manggil namaku, kok,” sahut Tini.
“Itu! Tiiin ... Tiiin katanya.” Mail menunjuk sebuah mobil yang ternyata baru tiba di depan kan
Tini sibuk menunduk mengirim pesan pada Dijah soal rencana pertemuannya dengan Wibi.
“Itu klakson, Suraaaat .... Tapi pria yang membunyikannya memang mau menjemputku. Aku duluan, ya.” Tini melambai dan tersenyum pada Bowo dan Mail. Tak lupa anggukan kecilnya pada satpam yang biasa selalu berdebar dengannya.
“Pacar, ya, Mbak?” tanya Bowo.
“Sooner or later (Cepat atau lambat),” sahut Tini terkikik.
Sejak dulu, mulai tamat SMA, setiap kali ditanya tetangganya ‘Kapan nikah, Tin?’ jawabannya selalu, ‘Apa, sih, Bu? Masih lama.’
Sekarang Tini merasa sedikit menyesal selalu mengatakan hal itu. Karena ucapannya itu terbukti. Ia benar-benar lama menikah.
“Sore, Mbak. Enggak nunggu lama, kan?” tanya Wibi pada Tini dari belakang setir. Ia sudah membuka kaca jendela mobil separuh. “Eh, iya, itu udah dibuka.” Wibisono menunjuk pintu mobil.
Mobil yang dikendarai Wibi, bukan mobil yang dipakai Heru sehari-hari. Tapi tetap saja Tini harus mendaki untuk naik ke mobil itu.
Wibi sedikit meringis memandang Tini. “Bisa?” tanya Wibi.
“Bisa,” jawab Tini setengah terengah. “Bisa terjerembab,” sambung Tini dalam hati.
“Tadi aku nanya ke Heru tempat makan paling enak di mana. Jadi kita langsung ke sana aja, ya.” Wibi langsung melajukan mobil tanpa bertanya dulu dengannya.
Matahari perlahan semakin melorot ke barat. Hanya tersisa cahaya kuning yang memantul di depan kaca dan menerpa wajah Wibisono. Tini menoleh setengah terperangah.
“Gimana? Agus cerewet nggak di kantor?” Wibi tersenyum menoleh Tini sekilas.
Saat menyunggingkan senyum, lesung pipi Wibisono membuat Tini semakin lemas.
“Enggak cerewet, kok. Baik banget,” jawab Tini.
Wibisono tersenyum. “Pasti baik, ya. Dari dulu Agus memang baik dan pekerja keras,” sahut Wibi.
Apa-apaan ini, pikir Tini. Sekalinya pergi berdua kok, malah ngomongin si soang. Tini mengutuk di dalam hati. Ia lalu memutuskan mencari bahan pembicaraan agar mereka tak membicarakan soal Agus.
“Mas Wibi asli Surabaya?” tanya Tini, menoleh pada Wibi. Kesempatan itu tak disia-siakannya untuk menatap wajah Wibi berlama-lama.
“Enggak asli juga, sih. Kenapa? Ada saudara yang tinggal di Surabaya?” Wibi menoleh pada Tini yang masih memelototinya.
Tini tergagap, “Enggak, enggak ada.” Tini tertawa salah tingkah karena merasa tertangkap basah. “Di Surabaya banyak tempat reinkarnasi, ya, Mas?” tanya Tini.
Wibi langsung menoleh pada Tini. “Hah? Reinkarnasi? Rekreasi maksudnya?” ulang Wibi.
Saat itu, Tini rasanya ingin membenamkan dirinya ke semak-semak. Jalan berdua dengan pria idaman dan berhenti merokok ternyata membuat kecerdasannya menurun.
To Be Continued