
“Pertanyaan kamu ini out of the topic. Tapi akan saya coba jawab. Yang dilihat pria pertama kali, sih, penampilan. Artinya, perkenalan singkat. Siapa pun nggak akan bisa menilai kepribadian seseorang hanya dengan sekali perjumpaan. Itu kalo untuk ketemu orang baru. Tapi lama-kelamaan, bagi sebagian orang, penampilan akan berubah. Bakal makin tampan kalo kita ngeliat dia baik, atau makin biasa aja, kalo kita nggak suka dengan tingkahnya. Sesederhana itu. Kenapa? Boleh saya tebak?” Dean mencondongkan tubuhnya, merasa semakin tertarik dengan subjek pembicaraannya mereka.
“Enggak. Jangan tebak, Pak.” Tini menggeleng cepat. “Saya mau nanya lagi. Bagaimana cara beradaptasi yang sopan dengan … orang baru. Orang baru yang usianya lebih tua dari kita? Yang belum terlalu kenal, yang—”
“Calon mertua?” terka Dean. Ia lalu tertawa. “Suketi ... Suketi, gitu aja ngomongnya ribet.”
“Bapak, kok, tau?” tanya Tini.
“Apalagi yang dikhawatirkan oleh seorang perempuan single selain khawatir lama menikah dan khawatir bertemu keluarga pria yang disukainya? Itu klasik sekali, Suketi ….” Dean mencibir.
“Caranya, Pak …. Caranya,” ucap Tini dengan sangat lemah lembut. Pandangannya menoleh sekilas ke arah pintu ruang meeting.
Dean diam mengingat-ingat bagaimana istrinya berperilaku selama ini. “Jaga perasaan orang lain itu nggak sulit, kok. Cuma perlu diem dan jangan terlalu komentarin hal-hal nggak penting. Istri saya begitu. Dia selalu keliatan tenang, nggak ketebak. Tindak-tanduknya terukur. Sederhana, nggak berlebihan dan … tulus. Kamu bisa tiru itu nanti. Dan kamu jangan terlalu banyak bersandiwara. Orang biasanya dengan cepat bisa menilai ketulusan. Jadi diri sendiri, dan jangan berlebihan. Oh, ya, jangan sedikit-sedikit menerapkan standar kamu di depan umum. Enggak akan ada yang peduli dengan standar pribadi kamu. Kecuali kamu salah satu pemimpin negara, orang terkaya di dunia, atau Ratu Elizabeth. Dan juga ….” Dean sepertinya kurang puas karena berbicara terhalang meja.
“Apa, Pak?” Tini juga semakin antusias. Acara training marketing itu berubah menjadi ajang konsultasi. Tini merasa mendapat pencerahan luar biasa soal Wibi dan ajakan bertemu keluarga pria itu tiga bulan mendatang.
“Ini rahasia pria yang sebenarnya nggak boleh saya kasi tau ke wanita mana pun. Karena ini bisa jadi kelemahan. Saya cuma ngomong ini ke kamu aja.” Dean menggerakkan telunjuknya agar Tini lebih mendekat.
Tini nyaris tertawa saat pria di depannya mengatakan hal itu. Soal rahasia yang tidak boleh diberi tahu ke siapa pun, tapi tetap dibocorkan. Tiba-tiba ia merasa mirip dengan si pria pemilik saham. Ia sedikit berjingkat untuk mendengar perkataan Dean.
“Yang paling penting, kamu harus tau kalo nggak ada manusia yang sempurna. Pria yang kamu puja itu nggak sempurna. Seseorang cuma bisa sempurna, kalo kamu yang menyempurnakannya dalam pikiran. Jangan pernah memaksa seorang pria untuk memenuhi semua harapan kamu. Biarkan pria bekerja dengan caranya sendiri. Jangan pernah meminta. Ingat, pria akan memberikan semua yang dimilikinya kalo udah cinta. Seorang bajingan yang mau berjuang, tetap lebih baik daripada pecundang yang cuma jago teori.” Dean berbisik saat mengatakan hal itu.
Tini kembali ke kursinya sambil mengangguk-angguk. Tips yang sangat berguna sekali, pikirnya.
“Saya harus mempraktekkan ini tiga bulan lagi.” Tini mengangguk mantap.
“Harus!” sahut Dean juga mengangguk mantap. “Kalo perlu kamu update hasilnya ke saya. Saya juga mau tau,” tambah Dean.
“Baik, Pak. Pasti,” jawab Tini.
“Dan juga … pria tidak suka wanita yang terlalu pintar. Bagian-bagian tertentu kamu harus tetap polos,” sambung Dean sambil menjauhkan kursinya dan kembali ke posisi awal.
Tini tadinya juga sudah meluruskan kursinya karena melihat lima menit lagi pukul sepuluh.
“Hah? Apa tadi?” tanya Tini sedikit terkejut.
“Apa? Yang bagian mana?” tanya Dean.
“Yang terakhir Bapak bilang,” ucap Tini tak sabar.
“Oooh … bagian-bagian tertentu, kamu harus tetap polos. Kamu harus ingat kalo pria itu tetap harus superior dan memimpin. Jangan kalahkan egonya.”
Tok Tok Tok
Dean langsung memandang pintu yang diketuk dan mempersilakan masuk. Wajahnya sudah kembali berubah seperti awal. Sosok yang menemani Tini curhat tadi, sudah hilang. Meninggalkan Tini yang menatap pria itu dengan sorot kagum.
Dinilai dari ucapannya, Dean pasti sangat mendominasi dalam rumah tangganya, pikir Tini. Wanita modern mana yang mau melahirkan anak sebanyak itu kalau suaminya tidak mendominasi. Tini semakin yakin kalau istri atasannya itu adalah wanita paling penurut sejagad raya.
Ternyata, selama satu jam di ruang meeting itu, mereka hanya menunggu kehadiran dua orang lainnya. Keduanya adalah wanita muda. Seorang lulusan sarjana bernama Fitri, dan seorang lagi lulusan magister bernama Tiwi.
Usai acara saling memperkenalkan diri, Tini mengikuti materi training itu dengan sangat tekun. Dean mengatakan kalau selama tiga hari mereka akan diberi pelatihan di dalam ruangan dan dua hari berikutnya mereka akan mengunjungi bagian penjualan pabrik untuk melakukan pengamatan dan melaporkannya sebagai hasil evaluasi.
Tini cukup berdebar saat mendengar hal itu. Ia bersama dengan dua orang lulusan universitas bonafid. Meski tak ada persaingan, memiliki dua rekan yang jelas berbeda tingkat pendidikan dengannya membuat ia insecure. Tapi Tini kembali mengingat apa yang dikatakan Dean padanya beberapa saat yang lalu. Ia harus menjadikan rasa minder itu sebagai cambuk untuk belajar lebih giat lagi.
Pukul 12.30 Dean mematikan layar proyektor dan mengecek ponselnya. Laki-laki itu sudah mempersilakan mereka semua untuk beristirahat. Namun Tini masih berdiri di sebelah kursinya menunggu pria itu mengecek ponsel. Dean masih menunduk, Tini masih dengan sabar menunggu. Ia mau menanyakan apakah siang itu Dean jadi menandatangani polis asuransi.
“Pak ….” Tini akhirnya bersuara.
Dean terlihat sedikit terkejut saat menolehnya. “Kamu ini … ngagetin aja. Bener-bener ngingetin saya sama seseorang. Ada apa?” tanya Dean.
“Masalah polisnya—”
“Oh, iya. Maaf. Saya baru baca pesan istri saya yang bakal dateng sedikit terlambat. Dia memutuskan membawa semua anak-anak kami. Kamu bisa temui Reza dan tanya di mana bisa pinjam satu unit komputer untuk mencetak polis. Dua puluh menit lagi saya tunggu di ruang Pak Wimar.”
Mendengar hal itu, Tini langsung mengangguk dan keluar ruangan. Ia mendapati Reza duduk di balik meja yang berada di sisi kanan ruangan Pak Wimar. Saat menunjukkan flashdisk yang dibawanya, Reza mengantarkan Tini ke sebuah sudut di mana terletak sebuah ruangan serbaguna berdinding kaca. Ruangan itu kosong dan Tini langsung mengenyakkan tubuhnya di kursi empuk.
Ingin merasakan menjadi karyawan di sana, Tini mulai memutar-mutar kursi empuk yang didudukinya.
“Memang beda kalau kantor besar. AC-nya juga kenceng, nggak kayak angin sendawa.” Tini mulai mengerjakan apa yang diminta Dean. Ia mencetak lembaran dokumen yang akan ditandatangani Dean dengan tiga jumlah besaran polis yang bervariasi. Karena kemarin tak sempat menanyakan berapa jumlah yang diinginkan Dean, Tini berinisiatif mencetak beberapa lembar.
Saat tengah menunduk mengambil sebuah paper clip yang terlepas dari tangannya, Tini mendengar Reza memanggil nama Dean.
“Pak! Bu Win udah nyampe!” Reza berseru dari depan pintu ruangan Pak Wimar.
BRAKK.
Kepala Tini sampai menghantam tepi meja saking buru-burunya menoleh.
“Eh, anak-anak Bapak udah nyampe!” Dean keluar ruangan Pak Wimar menyambut keluarganya.
Keluarga itu benar-benar keluarga besar. Dua orang babysitter tampak mengikuti langkah istri Dean. Tini sedikit berjingkat melongokkan kepalanya demi bisa minat tampilan istri pria percaya diri itu. Dan bayangannya, istri Dean pasti berdandan ala sosialita sosial media.
“Mas, gendong Widi dulu. Sepanjang jalan adu mulut terus sama Mas-nya. Sekarang ngambek karena kalah omong.”
“Mana anak gadis yang lagi ngambek?” Dean menunduk untuk menggendong seorang gadis kecil yang sedang digandeng babysitter-nya.
Tak terasa, Tini sudah berdiri di ambang pintu ruang kaca. Matanya tak lepas memandang sosok wanita manis yang berdandan sederhana, namun tampak mahal di matanya.
Dean menggendong balita perempuan dan merangkul istrinya. “Jalanan macet?” tanya Dean pada istrinya. Tangan pria itu mengusap-usap bahu istrinya sambil berjalan menuju ruang Pak Wimar.
“Waaahhh …. Si cerewet itu jadi beda,” gumam Tini.
To Be Continued
Dua bab aja, tapi isinya panjang, ya ....
Jangan lupa likenya