TINI SUKETI

TINI SUKETI
70. Penghilang Lelah Tini



“Ngopo to, kok, do rene kabeh? Bapak karo puput ora mbok jak'i misan? (Ngapain kalian semuanya ke sini? Enggak sekalian Bapak sama Puput dibawa juga?)” Tini masih terbengong, tapi kakinya mulai melangkah masuk ke halaman. Dayat masih merangkul pundaknya.


“Aku kangen karo mbakyu ku sek duwure koyo wit kencur. (Aku rindu sama kakakku yang tingginya kayak pohon kencur.)” Dayat menaikkan tangannya dan menaruh puncak kepala Tini di bawah ketiak sambil tertawa-tawa.


Tini memukul perut Dayat yang kemudian tertawa-tawa. Pemuda itu kembali merangkul pundak kakaknya.


"Adik'e kangen lho, kok, malah ditakoni ngopo? Njenengan kuwi wis nem taun urip nang kutho, Mbak. Ora tau ngejak'i rene. (Adiknya kangen kok malah nanya ngapain. Kamu udah enam tahun tinggal di kota, Mbak. Enggak pernah ngajak kami ke sini.)” Evi berbicara dari depan kamar Tini. Gadis itu duduk di kursi plastik di depan kamar Tini.


"Nek uripku nang Mansion tak jak'i, sak ndeso kabeh iso teko omahku. Awakmu teko jam piro e ? Bapak piye mbok tinggal? Iseh urip? (Kalau aku tinggal di mansion aku ajak sekampung dateng ke rumahku. Jam berapa nyampe? Bapak gimana kalian tinggalkan? Masih bisa hidup?)” Tini tiba di depan Evi.


“Eneng puput, (Kan ada Puput,)” sahut Dayat.


"Koyo puput iso olah-olah wae. Saikine wis Puput piro? (Kayak Puput bisa masak aja. Sekarang udah Puput berapa?)” Tini memandangi Dayat lekat-lekat. Adik laki-lakinya sudah bertambah tinggi, pikirnya.


“Wis Puput nem. (Udah Puput VI.)” Dayat menjawab sambil tersenyum-senyum.


"Koyo ora iso njenengi liyo wae. (Kayak nggak bisa ngasi nama lain aja.)” Tini memandang Evi dan Dayat bergantian.


"Kowe do rene, ora mergo diusir to? (Kalian ke sini bukan karena diusir kan?)” Tini meneliti raut wajah adiknya satu persatu. Khawatir dua orang adiknya itu ribut dengan bapak mereka dan pergi meninggalkan rumah.


"Oraaaaa …, (Bukan)” jawab Evi dan Dayat bersamaan. Tini mengangguk puas.


“Apa kabar kamu?” tanya Tini pada Evi.


Evi yang tadi duduk di kursi, langsung berdiri memeluk kakaknya. “Aku kangen, Mbak.” Evi memeluk kakaknya dan menangis. Setelah sekian lama menabung uang jajan yang diberikan Tini padanya, akhirnya Evi berhasil mengumpulkan uang mengajak Dayat mengunjungi kakaknya itu. Untuk melihat langsung tempat tinggal kakak mereka yang sudah membanting tulang memberi nafkah selama ini.


Tini juga tak kuasa menahan tangisnya. Detik itu ia menangis sesegukan di pelukan Evi. Dayat berdiri mengusap-usap punggung kedua kakaknya bergantian. Sekuat-kuatnya seseorang, pasti selalu ada air mata tersimpan untuk keluarga.


Evi melepaskan pelukannya dari Tini. Gadis itu menyusut air mata dengan lengan kaosnya. Ternyata hal itu juga dilakukan oleh Mak Robin, Asti dan Boy. Sejak tadi kehadiran tiga orang itu sedikit terabaikan karena kedatangan adik-adik Tini.


“Untung kalimat terakhir aku masih ngerti. Jadi masih dapat sedihnya,” ucap Mak Robin usai menyeka air matanya.


“Ibu ini yang nemenin aku dan Dayat dari siang. Terus Mbak Asti dan Mas Boy dateng. Pantes kamu betah di sini, Mbak. Mereka semua baik-baik. Aku, yo, makasi ke mereka. Udah nemenin Mbak-ku selama ini. Gantiin saudara,” tutur Evi kembali mengusap air matanya.


“Enggak apa-apa. Kami nggak mau ganggu Mbak Tini kerja. Kami juga nggak lama, kok. Nanti biaya makan di kota mahal,” ucap Dayat cengengesan.


“Jangan sepele sama Mbak-mu. Uangku banyak. Kalau cuma untuk makan kalian, aku masih bisa. Tambah shopping sedikit masih aman. Keuanganku udah lumayan stabil. Enggak gonjang-ganjing kayak kemarin. Kalian kayak tau aja aku mau dapet duit,” ucap Tini.


“Perasaan saudara itu selalu tajam,” jawab Dayat.


“Gayamu,” sahut Tini, memukul lengan adiknya. “Ini kunci kamarku, buka dulu sana. Diletakkan tasnya. Kalian ke sini aku juga nggak tau mau tidur di mana,” kata Tini.


“Dayat tidur di kamarku bisa, Tin,” ucap Boy.


“Aku, kok, agak khawatir adikku bakal kamu ajari ilmu pengintaian.” Tini memandang Boy.


“Itu insting. Enggak perlu diajarin,” jawab Boy.


“Laper, Mbak? Aku bawa bekal. Berasmu ada? Aku masak nasi dulu,” ujar Evi, berdiri dari duduknya dan menyusul Dayat masuk ke kamar Tini.


“Ada. Berasku ada. Memangnya kamu bawa apa?” seru Tini dari luar.


“Kering tempe, opor enthok, sama tape ketan. Sebentar aku keluarin dulu,” sahut Evi dari dalam kamar. Tak lama gadis itu keluar dari dalam kamar membawa tapi ketan yang ditaruhnya di mangkok. “Aku nggak bawa banyak, Mbak. Lauknya bisa dimakan sama-sama.”


“Uang dari mana beli enthok? Bukan enthok tetangga, kan, kamu sembelih?” tanya Tini.


“Bukan, Mbak. Itu cukup kamu aja. Aku, sih, enggak. Ini enthok yang udah aku halalkan.” Evi tiba-tiba tertawa terbahak-bahak.


“Kenapa? Aku jadi curiga,” jawab Tini memandang Evi yang menutup mulut dan memukul-mukul lutut kakaknya.


“Itu enthok Pak RT. Masuk ke rumah tetangga sebelah. Ada empat ekor. Diusir sama tetangga. Aku ambil dan aku kembaliin. Aku bilang ke Pak RT kalau enthoknya hampir dicuri orang. Untung aku pergoki. Aku dikasi seekor ucapan terima kasihnya. Rejeki kamu ini. Harusnya aku cuma bawa kering tempe sama tape ketan aja.” Evi kembali terkikik-kikik usai mengatakan itu.


To Be Continued


juskelapa nggak minta disiram sepuluh cangkir kopi. Like dari pembaca sudah cukup dinilai sebagai wujud apresiasi. Scroll untuk lanjutannya.