
Keharuan baru saja dilewati, kini tertinggal mereka sekeluarga duduk saling pandang dengan perut lapar. Jam makan siang sudah lama lewat dan Wibisono baru meminum dua cangkir teh manis usai melakukan perjalanan panjang.
Evi menarik lengan Tini agar mengikutinya ke dapur. “Mbak, enggak ada apa-apa di dapur. Mas Wibi, kan, belum makan. Bapak makan apa, ya, selama ini?”
“Dia ngeliat Puput aja udah kenyang. Kamu, kok, nanya Bapak makan apa,” sahut Tini. “Kamu pergi belanja, biar aku beresin dapur dulu. Ini aku juga mumet Wibi mau nginep di mana. Mau nyuruh ke hotel, kok, nggak tega. Jauh banget dari sini. Mau tidur di ruang tamu, kok, rasanya nggak enak banget. Besok udah hari Senin, aku hari Rabu udah harus masuk ke kantor. Aku liat grup marketing kantor baru, mereka udah ada tugas dibagi per kelompok. Proyek perusahaan besar. Insentifnya gede banget, Vi. Aku ngeces liatnya. Jadi paling lama di sini dua malem. Nanti aku tanya Wibi dulu.”
Evi mengangguk mendengar penjelasan kakaknya. Kakak beradik itu kemudian masuk ke kamar dan Tini memberikan uang belanja pada Evi. Tanpa berlama-lama lagi, Evi langsung melesat keluar dan suara motornya terdengar menyala di depan.
“Ayo, Mas. Aku ajak keliling di kebun belakang. Mbak Tini mungkin lagi nyiapin makan siang. Ketimbang di sini bosen. Mas juga harus ngeliat adik kami yang paling bungsu,” ajak Dayat seraya menoleh bapaknya.
“Bungsu—bungsu …,” sungut Pak Joko memukul paha Dayat yang melewatinya. Ia tahu kalau Dayat bermaksud menunjukkan Puput pada Wibisono. “Nak Wibi, sama Dayat dulu, ya. Bapak mau keluar dulu nyari sesuatu,” ucap Pak Joko bangkit dari kursinya.
“Nggih, Pak.” Wibisono mengangguk kemudian ikut berdiri mengikuti Dayat ke dapur. Matanya mencari-cari keberadaan Tini. Ternyata wanita itu tak ada di dapur.
Dayat menyeberangi dapur dan tiba di halaman belakang. Pemuda itu langsung berjongkok di dekat kerangkeng Puput. Wibisono memang mengikuti langkah kaki Dayat, tapi pria itu mencari Tini. Ia ingin memastikan kalau Tini tidak terlalu menyibukkan diri memasak macam-macam. Mereka bisa membeli makanan jadi. Apalagi mereka semua sama capeknya karena baru tiba.
Setibanya di halaman belakang, Wibi mendengar suara pukulan kayu dari samping. Penasaran dengan suara itu, Wibi melangkahkan kakinya ke halaman samping. Di sana, ia melihat Tini sedang mengangkat kapak di atas kepalanya dan ….
PRAKK
Tini membelah potongan kayu bulat untuk dijadikannya kayu bakar. Wibisono terdiam sesaat. Ia lalu datang mendekati dan Tini seketika merapikan rambutnya.
Di belakang tubuh Wibi, Tini melihat Dayat menghentikan langkah. Wajah pemuda itu meringis dan sadar kalau Tini pasti akan mengomelinya karena tak mencegah Wibisono ke sana.
“Aku mau ngajak Puput main keluar kandang sebentar. Kasian udah berapa hari pasti nggak ada yang ngajakin main,” seru Dayat membuka kerangkeng Puput dan segera mendekap ayam jago itu untuk menyelamatkan diri. Ia akan kembali sesaat lagi sembari menunggu makan siang selesai disiapkan kakak-kakaknya.
“Mas harusnya tunggu di depan aja. Ini nggak lama,” kata Tini.
“Biar semakin cepat, makanya aku bantu.” Wibi mengambil kapak dari tangan Tini. “Aku nggak apa-apa, lho, Tin. Kamu jangan repot-repot banget. Kita semua sama-sama baru nyampe.” Wibi memungut gelondongan kayu dari dinding rumah dan meletakkannya berdiri di tengah talenan raksasa yang juga terbuat dari kayu.
Tini berdiri diam mendengar omelan kecil Wibi padanya. Ia mengamati bagaimana pria itu menggulung lengan kemejanya dan menggenggam kapak itu dengan mantap.
“Enggak usah banyak-banyak, Mas. Secukupnya aja,” kata Tini.
“Iya. Ya, udah kamu sana ngerjain yang lain. Nanti yang udah dibelah aku letak di dapur,” ucap Wibisono mengangkat kapaknya.
PRAKK
“Oh,” lirik Tini. Matanya cuma sedetik melihat ke arah kayu yang jatuh bergelimpangan. Detik berikutnya mata Tini pindah pada lengan Wibisono yang mengetat dan menampakkan ototnya saat mencengkeram erat kapak.
“Jangan banyak-banyak, Mas,” ucap Tini lagi. Bukan apa-apa. Tini khawatir kalau Wibi membelah semua kayu di sana, bisa-bisa mereka tidak jadi makan siang karena Tini terbius oleh tegapnya lengan Wibi.
“Ya, udah sana. Bantuin Evi,” pinta Wibi lagi pada Tini.
“Ini udah cukup. Mas duduk aja di depan,” ujar Tini lagi.
Wibisono meletakkan kapak di dekat tumpukan kayu dan memunguti kayu yang baru dibelahnya.
“Belanja apa?” tanya Tini, membuka bungkusan yang dibawa Evi. “Ada ayam. Kita masak ayam bakar aja, Vi. Bumbu masih lengkap. Sayurnya nggak usah dibuat macem-macem. Bikin lalapan aja, biar nggak lama.” Tini dengan cekatan menurunkan keranjang tempat menyimpan bumbu masak dari atas gantungan.
“Ayam bakar, ya? Oke. Aku siapin tungkunya dulu.” Evi kembali keluar dapur dan berpapasan dengan Wibisono. “Duduk di depan aja, Mas. Jangan di sini,” pinta Evi pada calon kakak iparnya.
“Semua minta aku ke depan. Aku mau duduk di sini aja,” kata Wibi menarik dingklik kecil tempat Pak Joko biasa duduk. Ia memperhatikan Evi yang menyusun batu dan menyiapkan kayu. Melihat hal yang dilakukan Evi, Wibi kembali ikut membantu.
Selang beberapa lama, Tini sudah membawa baskom berisi ayam yang sudah diungkepnya dengan bumbu. “Mas jangan duduk di dekat tungku. Hidung Mas terlalu tinggi dan lubangnya luas. Asep gampang masuk. Cukup hidungku yang paket hemat ini aja yang item karena asap.” Tini berdiri di sebelah Wibi dan menyenggol pria itu agar segera menjauh.
Sikap Wibi yang terlihat santai, ternyata mampu membuat Tini ikut santai. Walau belum tahu harus menawarkan pria itu tidur di mana, Tini perlu makan siang lebih dulu untuk energi berpikir.
Wibi memundurkan letak bangku kecilnya. Tini menduduki potongan kayu di sebelah pria itu. Evi sibuk dengan kipas dan mengecilkan api yang terlalu besar.
“Menunya ayam bakar, nih?” Wibi bertanya meski sudah tahu jawabannya. Ia memijat pelan bahu Tini yang sedang menyusun ayam di atas tungku.
“Iya. Menunya ayam bakar spesial pakai bumbu spesial. Mas, kan, belum pernah makan masakanku. Nah, hari ini spesial aku masak untuk Mas. Ayam bakar Desa Cokro,” sahut Tini sambil membenarkan letak panggangan.
Di saat halaman belakang itu sedang hening dan suara yang mengisi hanyalah api yang meletik-letik di tungku batu, mereka dikejutkan dengan kedatangan Pak Joko yang terburu-buru.
“Itu ayam bakar?” tanya Pak Joko dengan wajah panik.
“Iya …,” sahut Evi dan Tini nyaris bersamaan.
“Ayam dari mana?” tanya Pak Joko lagi.
“Beliii!” sahut kakak beradik itu lagi bersamaan.
“Puput?” Pak Joko menoleh kandang ayamnya yang kosong.
“Dibawa Dayat main, Pak,” jawab Wibisono dengan kalem.
To Be Continued