TINI SUKETI

TINI SUKETI
142. Pelukan Bahagia



Dayat bersiul-siul membuka pintu pagar rumah kakaknya. Hampir dua jam pergi belajar menyetir bersama Tina, membuatnya kembali dengan wajah sumringah.


“Set—set—set, gampang ternyata,” ucap Dayat, seraya memperagakan gerakan menyetir mobil. “Yang sulit itu cari uang beli mobilnya.” Dayat terkekeh sendirian.


Menjelang siang dan perutnya mulai terasa lapar. Di jalan tadi ia sudah membayangkan lauk kemarin malam yang disisakan Tini di lemari untuk mereka. Saat membuka pintu depan, Dayat tersentak. Memegang dadanya yang benar-benar mencelos sesaat.


Dayat membayangkan Evi sudah beristirahat di kamarnya, nyatanya kakaknya itu sedang duduk di ruang tamu sendirian dan menatap tajam saat ia membuka pintu.


“Ngagetin aku aja,” kata Dayat, menepuk-nepuk dadanya. “Kenapa nggak istirahat ke kamar? Mbak Evi udah makan?” tanya Dayat, melangkah masuk ke ruang tamu.


“Mbak Evi udah makan? Kalau bahasamu kayak gitu biasanya ada selipan rasa bersalah di hatimu,” tukas Evi. “Aku belum makan. Buat apa dateng ke sini dan makan sendirian? Mending aku di kos-kosanku. Minta ditemenin, tapi kamunya kelayapan. Kalau bisa sendirian, ngapain minta aku ke sini?” Evi bersungut-sungut mengerucutkan bibirnya memandang Dayat.


“Aku belum terbiasa sendirian. Kalau pulang ke rumah yang nggak ada orangnya itu agak aneh. Aku terbiasa ditunggu, Mbak. Barusan aku cepat mahir nyetir karena merasa kamu nungguin aku di rumah. Perasaan ditunggu itu selalu membuatku merasa harus pulang secepatnya,” jelas Dayat.


“Udah selesai ngomongnya? Aku laper,” kata Evi, berdiri dari kursi tamu dan berjalan ke belakang.


Dayat memegang kedua bahu kakaknya dari belakang dan mendorong pelan Evi ke ruang makan. “Mari kita makan,” ajak Dayat.


“Kamu mau ke mana? Biar aku temenin,” ucap Dayat, mengambil dua piring dari lemari dan meletakkannya di meja. “Coba liat ini, Mbak.” Dayat membuka lemari dan Evi menoleh.


“Kenapa?” tanya Evi.


“Aku bisa masukin semua mukaku ke lemari ini. Dan Mbak Tini masih perlu jinjit,” kata Dayat, tertawa-tawa.


“Mbak Tini baru pergi pagi tadi. Tapi kamu udah kangen. Gitu gayamu minta Mbak Tini liburan jauh-jauh dan lama,” sahut Evi santai.


“Siapa yang kangen?” tanya Dayat, mengeluarkan lauk pauk dan menyusunnya.


“Aku tau,” timpal Evi.


Dayat diam saja dan meladeni makan siang Evi seakan dialah tuan rumah di sana.


“Setelah makan mau aku ajak room tour ke kamarku? Kamar dengan pemandangan terbaik di komplek ini.


Karena Evi tak ada berniat ke mana-mana siang itu, seperti janji Dayat sebelumnya, pemuda itu mengajak kakaknya ke balkon kamar yang menghadap ke jalan depan.


“Enak juga, ya, kamar kamu. Kursi ini mesti di sini?” tanya Evi, menunjuk sebuah kursi yang berada dekat jendela.


“Iya. Emang sengaja. Di kursi itu lahir beberapa lagu dari gitar tua yang kubawa dari desa.” Dayat menyibak tirai jendela dan menerawang menatap keluar. Tiba-tiba ia menutup tirai jendela secepat mungkin sampai menimbulkan suara berderit yang mengejutkan Evi.


“Ada apa?” tanya Evi, mencoba melongok ke depan.


“Itu Tina. Dia sedang pakai teropong ngeliat ke sini.” Dayat memeluk tubuhnya sendiri. "Aku harus nutup semua jendela ini kalau mau ganti baju. Atau … selama ini dia udah puas menatap semua bagian tubuhku?” tanya Dayat lagi-lagi pada diri sendiri.


“Udah, Yat. Udah cukup. Ayo, kita turun. Kalau kelamaan di sini, bisa panjang dramamu,” ujar Evi, keluar dari kamar Dayat dan melangkah turun tangga.


“Mbak Tini kira-kira udah nyampe apa belum, ya” tanya Dayat yang berjalan di belakang Evi.


“Udah nyampe. Barusan tadi udah ngirim pesan ke aku. Ngomong kalau udah sampai rumah sakit buat jengukin ibunya Mas Wibi,” jelas Evi.


“Syukurlah,” gumam Dayat.


***


Wibi meletakkan punggung tangannya di dahi Tini. “Memang nggak panas,” gumam Wibi.


"Kowe gek isi iki, Tin. (Kamu hamil ini, Tin.)” Ibunda Wibi memandang wajah Tini dengan seksama. Lalu pandangannya beralih pada Wibi. "Ibu yakin Tini gek isi. Kono tumbas alat tes,mumpung apotik rumah sakit isih buka. (Ibu yakin Tini hamil. sana beli alat tesnya. Mumpung apotik rumah sakit masih buka.)


"Dikon tumbas saiki iseh takon wae. Ditumbas dhisik. Ora rugi to nek dicobo ki. (Diminta beli sekarang banyak banget nanyanya. Dibeli dulu. Kan, nggak rugi kalau dicoba.)” Ibunda Wibi menegakkan duduknya spesial untuk mengomeli anak laki-lakinya.


Tini mengangguk pada Wibi agar suaminya itu segera pergi ke apotik, menuruti permintaan orang tua mereka.


Sepeninggal Wibi, Tini sibuk dengan pikirannya sendiri. Sedikit kekhawatiran menyergapnya. Bagaimana kalau ibu mertuanya salah? Bisa saja itu hanya perasaan ibunda Wibi yang terlampau mengharapkan cucu dari mereka.


Wibi kembali muncul dengan kantong plastik putih bertuliskan nama apotik rumah sakit. Langsung menyodorkan sama Tini dengan raut wajah datar. Tini sedikit salah tingkah. Namun kemudian ibunda Wibi mengubah posisinya. Meletakkan bantal di belakang punggungnya dan menatap kamar mandi.


“Oh, iya. Aku ke pakai ini dulu, Mas.” Tini mengeluarkan suara tak jelas saat mengatakan hal itu. Tangannya menarik ujung jari Wibi agar mengikutinya.


“Eh, ya, udah. Aku tunggu,” kata Wibi, berdiri di depan pintu kamar mandi.


“Beli berapa alat tesnya?” tanya ibu Wibi.


“Beli dua aja. Dua, kan, udah cukup,” sahut Wibi.


Terdengar ibunya bersungut-sungut mengatakan kalau itu sangat sedikit. Wibi mengabaikan omelan ibunya dengan mengetuk pintu kamar mandi.


Tak sampai tiga ketukan, wajah Tini muncul dari balik pintu. Alis Wibi terangkat, menatap Tini meminta jawaban.


“Hasile ngene, Mas …. (Hasilnya gini, Mas ….)” Tini mengulurkan dua alat tes yang dipakainya pada Wibi.


Wibi mengambil hasil tes dan mencocokkannya dengan gambar yang terdapat di kemasan.


“Kene, Ibu pengen ndelok. (Sini, Ibu mau liat.)” Tangan ibunda Wibi terkibas-kibas tak sabar. Wibi mendekat dan mendekatkan alas te situ ke hadapan ibunya. “Lha … tenan omonge Ibu. Garis loro Iki, Bi. (Tuh, kan bener yang Ibu bilang. Garis dua ini, Bi.)”


Tini dan Wibi saling pandang. Keduanya ingin berpelukan tapi sungkan. Tini ingin menyeret suaminya keluar dari ruangan itu sejenak, tapi ia sedang tak ada alasan. Tapi ….


“Mas, bungkusan tadi mana? Mas yang bawa, kan?” tanya Tini, membulatkan mata menatap suaminya.


“Bungkusan apa, Tin? Kayanya enggak ada.” Wibi melihat ke bawah, ke meja, dan sekeliling ruangan. Namun tak melihat bungkusan seperti yang dimaksud oleh Tini.


“Ayo, bantu aku cari,” ujar Tini, menyeret lengan Wibi keluar dari ruang rawat ibunya.


“Bungkusan apa—” Masih selangkah dari depan pintu, Wibi tak meneruskan ucapannya. Ia diam seketika karena Tini memeluk pinggangnya.


“Aku seneng banget. Tak kiro awakke dewe gur wong loroan ngasi tuwo. (Aku seneng banget. Aku kira kita bakal berdua terus sampe tua.)” Tini meletakkan pipinya di dada Wibi. Pria itu ikut melingkarkan kedua tangannya di tubuh Tini. Mereka sedang menyandari dinding ruang rawat VIP yang ditempati oleh ibunda Wibisono.


Wibisono mengecup puncak kepala Tini. “Masio enek sepuluh anakke, nek wis tuwo, awakke dewe iki yo bakalan tetep wong loroan, Tin. Bocah-bocah mesti nduweni dalan uripe dewe-dewe. Sing akhire mung ono aku karo awakmu. (Meski ada anak sepuluh, kalau udah tua, kita bakal tetap berdua, Tin. anak-anak pasti punya hidupnya sendiri. Akhirnya tetap hanya ada kamu dan aku.)”


“Iyo, Mas …. Sing penting saiki aku iso mateni alarm. (Yang penting sekarang aku bisa matiin alarm.)” Tini memejamkan matanya dan mengeratkan pelukan.


“Alarm opo? (Alarm apa?)” Wibi menunduk memandang kepala Tini.


"Alarm nggugah tengah wengi, nggo ngobok-ngobok kowe, Mas. (Alarm bangun tengah malem untuk ngobok-ngobok kamu, Mas.)”


To Be Continued


Tini Suketi akan tamat 3-4 part lagi. Dia sudah bahagia. Impiannya sudah tercapai dan mimpi-mimpinya terwujud satu persatu. Kisah Dayat tidak bisa dilanjut di sini. Karena Dayat termasuk genre novel pria (seperti Genk Duda Akut/tokoh utama pria). Saya akan menuliskannya lain waktu. Karena menulis itu perlu ide dan bahan yang perlu saya kumpulkan.


Sementara ini saya stay di genre romantis komedi dulu.


Next saya ingin sekali menulis novel yang ramai di NovelToon. Tema orang ketiga. Apa Boeboe enggak penasaran kalau juskelapa nulis novel begitu gimana hasilnya? 🤭😆


Terima kasih atas kebersamaan Boeboo sepanjang ini.