TINI SUKETI

TINI SUKETI
145. Rangkuman Kebahagiaan



Tiba di rumah sakit, Tini ternyata sudah pembukaan empat. Tak memerlukan waktu lama untuk bersakit-sakit. Tini melahirkan anaknya selang tiga jam kemudian. Ternyata hanya hidupnya saja yang penuh drama, proses melahirkannya minim drama. Tengah malam, Wibi sudah mendekap bayi laki-laki montok yang terbalut selimut dalam gendongannya.


Bagi Wibi, memiliki istri seperti Tini bagai menemukan seorang teman setia yang selalu mendukungnya dengan cara yang unik. Tini selalu bisa menemukan sisi baik dalam hal apa pun. Cara pandangnya yang positif dengan cara yang unik, sedikit banyak membuat Wibi melakukan hal yang sama.


Terlahir sebagai anak bungsu, membuat Wibi selalu dimanja sejak kecil. Baik ibu maupun kakaknya, selalu mendahulukan keinginannya dari mulai hal-hal kecil. Ia biasa diladeni makan, disiapkan pakaiannya, bahkan di awal masa bekerja, dia terkadang membawa bekal buatan ibu yang sulit ditolaknya.


Dan setelah menikah … Wibi sangat bersyukur mendapat perhatian yang sama dari Tini. Istrinya itu sangat telaten mengurusnya. Meski bekerja, Tini melakukan semua hal yang lumrahnya dilakukan seorang istri tanpa kurang sedikit pun.


Tak pernah sekali pun ia keluar rumah di pagi hari tanpa sarapan. Tini memenuhi semua kebutuhannya. Sebagai teman berdiskusi, sebagai teman tertawa, juga sebagai teman yang memenuhi kebutuhan batinnya sebagai seorang pria.


Dibalik kata-kata janggal yang sering diutarakan istrinya, Tini adalah sosok yang pandai menghibur dan memotivasi dengan cara yang unik. Juga … Tini adalah sosok kakak yang telaten merawat adik-adiknya.


Sepintas, Tini terlihat santai dalam berucap. Tapi Wibi pernah menjumpai Tini yang tak bisa tidur sebelum Dayat sampai di rumah. Di masa-masa Dayat yang sedang beranjak dari sosok remaja laki-laki menjadi seorang pria, banyak perdebatan yang dilaluinya bersama Tini.


Wibi adalah saksi dan penengah antara Tini, seorang kakak yang sudah lama mengambil peran seorang ibu dan Dayat, seorang adik laki-laki bungsu yang sedang semangat-semangatnya menjalani masa muda di dunia kampus. Sedikit banyak, Wibi memahami posisi Dayat. Karena ia juga pernah melalui masa-masa itu.


Beberapa kali Wibi bersekongkol dengan adik iparnya demi menghindari omelan Tini pada pemuda itu. Tini terkadang terlampau ketat dan memperlakukan Dayat seperti adik kecilnya. Terkadang Dayat juga memang terlalu sering keluar sampai larut malam. Pernah suatu kali Wibi ketahuan berbohong untuk menutupi Dayat yang pulang lewat tengah malam tiga hari berturut-turut. Tini berang dan menjalankan aksi diam.


Dayat yang mengetahui kakaknya mendiamkan sang suami karena ulahnya, langsung kalang kabut. Berbagai cara dilakukan pemuda itu untuk meluluhkan hati sang kakak. Seminggu penuh dia menjadi pelayan dan tukang bersih-bersih. Tak ada yang lebih menyengsarakan di dunia ketika kehadiran kita diabaikan oleh orang lain. Dayat cukup menyesali kejadian itu dengan mengurangi jadwal mainnya di malam hari.


Saat Tini pulang ke rumah membawa bayinya yang berusia tiga hari, seluruh keluarga Wibi sudah menunggu. Begitu pula dengan Pak Joko dan Evi yang tak sabar melihat kehadiran anggota keluarga baru berukuran mini.


Sekejap saja, bayi laki-laki bernama lengkap Banyu Anugerah, menjadi rebutan. Saat orang lain sibuk melihat wajah putra pertama Tini dan Wibi lebih mirip siapa, Dayat terpekur sendirian dengan dahi mengernyit.


“Mikirin apa kamu? Sok serius gitu,” kata Evi sewaktu mendatangi adiknya.


“Aku lagi mikir nama panggilan anaknya Mbak Tini. Enaknya apa, ya. Banyu … Nyu—Nyu? Kok, kayak manggil penyu? Anugerah … Anu? Nu—Nu? Kok, susah, ya? Apa enggak bisa ganti nama dengan yang lebih mudah dan sesuai untuk hidup di masa depan, gitu?”


“Dari kemarin kamu sama Mbak Tini sibuk debat hanya karena nama Alex. Sekarang mau protes nama anak Mbak Tini? Namanya bagus, kok. Kalau kurang sesuai dengan era web 4.0 kayak yang kamu bilang, nanti nama anakmu aja dibikin berteknologi tinggi. Kasi nama android aja,” kata Evi kemudian berlalu dari hadapan adiknya.


Kebahagiaan memiliki bayi berlangsung selama tiga bulan berikutnya. Tini fokus merawat bayinya dan berperan sebagai ibu baru. Sampai akhirnya waktu cuti akan berakhir. Tini pusing karena belum mendapatkan seseorang untuk merawat anaknya selama ia kembali bekerja.


“Belum ketemu orangnya, Mas. Bingung juga. Aku maunya yang ibu-ibu gitu, lho. Kemarin ada yang nawarin bisa tinggal di rumah, tapi anak gadis. Aku nggak mau, ah. Bisa bahaya buat Mas dan Dayat. Lagian anak gadis kayanya kurang telaten ngerawat bayi.”


“Jadi, siapa, ya? Mas juga jadi ikut bingung. Mana sebentar lagi kamu udah masuk kerja.” Wibi duduk di sofa sedang menepuk-nepuk pelan paha bayi laki-lakinya yang sedang menyusu.


Suami istri itu terlihat sedang galau.


Dayat yang sedang melintas di ruang keluarga, mendengar ratapan kakaknya. “Mbak, yang barusan Mbak Tini omongin itu kriteria untuk babysitter-nya Banyu?”


Tini mengangguk. “Kenapa? Kamu punya kandidatnya?” tanya Tini penuh harap.


“Punya. Kamu pasti enggak akan bisa menolak. Beliau ini terkenal karena ketelatenannya. Nanti aku urus semuanya. Beberapa hari ke depan, beliau pasti bisa datang."


Hal yang dijanjikan Dayat pun benar-benar terwujud dua hari ke depan. Suatu sore, pagar rumah mereka diketuk, dan Pak Joko muncul dengan tas pakaiannya.


“Yat, Bapak dateng kenapa nggak ngasi kabar? Jadi nggak dijemput,” sergah Tini, menepuk lengan Dayat yang duduk memangku Banyu di depan televisi.


Tini menyongsong Pak Joko ke pagar dengan terheran-heran melihat bawaan bapaknya yang lumayan banyak.


“Mana bayi laki-laki yang mau Bapak jaga? Bapak kangen sama Banyu,” ucap Pak Joko, buru-buru masuk ke rumah meninggalkan Tini yang masih bengong.


“Kenalin, Mbak. Ini adalah babysitter Banyu. Namanya Pak Joko Sansoko. Telaten merawat dan detil. Tidak cerewet, paruh baya dan sayang anak-anak,” jelas Dayat.


“Dan enggak perlu digaji. Cukup makan tiga kali sehari, kuota hape dan me time ngopi memandang ke luar jendela selepas magrib,” tambah Pak Joko, tersenyum-senyum sambil menimang Banyu.


Wibi keluar dari kamar dan menyongsong bapak mertuanya.


“Mas—Mas, Bapak ….”


“Mas udah tau. Dayat udah cerita. Kok, Mas seneng, ya. Bapak pasti lebih terpercaya. Terbukti ketelatenannya merawat Puput.”


“Anakmu bukan ayam jago. Beda. Ini bayi,” kata Tini.


“Mbak Tini lupa kalau Bapak yang merawat kita saat Ibu kerja? Bapak ini lebih terlatih. Ayo, Pak, kita bawa Banyu jalan-jalan di komplek. Aku udah siapin kasur Bapak di kamarku. Kita jadi rekan sekamar lagi,” tukas Dayat.


"Puput mana?" tanya Tini pada bapaknya.


"Puput Bapak titipkan di rumah sekretaris pecinta ayam jago. Semoga Puput bisa menemukan tambatan hatinya di sana," kata Pak Joko. "Banyu .... Banyu ...." Pak Joko menciumi pipi cucu pertamanya.


To Be Continued


Next satu part lagi, ya ....