TINI SUKETI

TINI SUKETI
141. Di Balik Cerita



“Padahal Mas Wibi udah semangat banget meyakinkan Mbak Tini kalau Amsterdam lebih bagus. Taunya malah gagal,” kata Dayat. “Memangnya tiket pesawat bisa dibatalin, Mbak?” tanya Dayat pada Evi.


“Bukan dibatalin, sih, biasanya. Tapi diubah tanggalnya. Kalau open ticket dan bukan tiket promo, biasanya bisa kapan aja,” jelas Evi.


Dua kakak beradik itu baru saja melepas Tini dan Wibi yang baru berangkat ke bandara dengan menumpangi taksi.


“Tapi perginya masih dua hari lagi. Bisa jadi orang tuanya Mas Wibi udah sembuh,” tambah Dayat lagi seakan menghibur dirinya sendiri. “Korea juga bagus. Ah … ke mana aja aku nggak apa-apa yang penting jalan-jalan. Tapi Mbak Tini harusnya bisa liat bule-bule dan penghujung musim dingin dengan bunga-bunga tulip yang bermekaran di Amsterdam,” ucap Dayat setengah tercenung.


“Yang mau pergi liburan Mbak Tini, kok, kamu yang resah banget dia nggak jadi pergi? Mbak Tini aja santai,” cetus Evi, memandang Dayat.


“Enggak apa-apa. Di antara kita bertiga, Mbak Tini itu paling jarang jalan-jalan. Kamu masih pergi bareng temen SMA, camping PERSAMI, jalan-jalan bareng temen kuliah ke puncak dan nginep. Aku pergi study tour, perpisahan bareng temen SMA sampai ke Bali. Itu semua yang bayarin Mbak Tini. Tapi Mbak Tini sendiri, paling jauh ikut sama Mas Bara ke Bintan. Dan terakhir ke Surabaya bareng kita. Selebihnya dia nggak ke mana-mana.”


Evi menatap Dayat dengan terpukau. “Kok, kamu sekarang sebijak ini? Kerasukan apa?”


“Enggak perlu kerasukan kalau cuma untuk ngomong gitu,” sambung Dayat. “Mbak Tini pernah bilang kepingin liat bule-bule yang banyak. Tapi tiap ditanya Mas Wibi, jawabannya ‘terserah Mas aja’, mending aku yang ngomong langsung ke Mas Wibi. Jadi, Amsterdam itu atas saranku,” terang Dayat dengan bangganya.


“Udah kayak istri keduanya Mas Wibi aja kamu. Pake acara kasi-kasi saran dan menghasut,” cetus Evi.


“Aku nggak menghasut. Hanya bertukar informasi,” sambung Dayat.


“Udah makin kaya belut. Licin. Apa udah ketemu dengan cinta pandangan pertamaku di pesta Mbak Tini kemarin? Masih dia?” tanya Evi.


“Apa hubungannya dengan cinta pada pandangan pertama?” tanya Dayat. “Aku cuma kepingin liat Mbak Tini bersantai. Dia sekarang udah mirip wanita kota beneran. Sibuk banget. Pulang kerja langsung masak, kadang nggak sempet ganti baju. Tetep rajin, telaten kayak ngurus kita dulu. Pokoknya aku bangga dengan Mbak Tini.”


Evi mengangguk-angguk tanda mengerti. “Makanya kamu belajar yang rajin. Biar Mbak Tini juga bangga sama kamu. Dia juga bisa berbangga diri ke suaminya, kalau pilihannya membiayai kuliah kamu itu memang nggak salah,” jelas Evi.


“Ya, memang nggak salah. Aku pasti belajar serius. Malah saking seriusnya, aku lupa main.” Dayat mencibir bangga.


Mereka berdua masih di depan pintu saat Tina, tetangga depan rumah muncul di pagar. “Psst, Yat! Ayo, katanya mau belajar nyetir.” Tina berjinjit, melongokkan kepalanya.


“Itu siapa?” tanya Evi.


“Namanya Tina. Aku panggil Ina aja. Agak aneh kalau manggil, ‘Tin’. Temen sekaligus tetangga depan. Aku pergi dulu, ya.” Dayat keluar memakai sandalnya.


“Katanya saking seriusnya sampai lupa main,” kesal Evi, menatap Dayat.


“Aku nggak main. Belajar. Belajar nyetir. Kamu perhatikan kalimatnya baik-baik. Aku nggak lama-lama,” seru Dayat sambil membuka pagar.


“Ayo, kita cari tempat yang aman buat kamu belajar nyetir. Ini bayaranku buat yang kemarin. Mantan pacarku jadi menyesal karena udah selingkuh. Mungkin karena dia liat aku bawa cowok secakep kamu.” Tina tersenyum-senyum menuju mobilnya.


“Bagus, artinya mission accomplished (misi selesai).” Dayat masuk dan duduk di kursi penumpang bagian depan.


“Kamu udah punya pacar? Gimana kalau kita nyoba pacaran? Siapa tau kita cocok?” Tina yang lahir dan besar di kota besar, biasa saja saat mengatakan hal itu pada Dayat.


Dayat yang sedang memasang seat belt, mendelik tanpa terlihat oleh Tina. Pacaran? Oh, tidak. Tidak sekarang, pikirnya. Tina adalah gadis yang baik dan supel. Dia lebih nyaman berteman dengan gadis itu sekarang. Tidak lebih. Lagipula … Tina bukan tipenya.


***


Tini baru terbangun dari tidurnya saat roda pesawat baru saja menjejak landasan. Wibi membereskan bawaan mereka dan membantunya melepaskan safety belt. Sejak berangkat tadi, Wibi tak banyak bicara. Tini paham suaminya mungkin kepikiran soal sang ibu. Ia pun tak mau nyinyir terlalu banyak bertanya atau mengatakan hal-hal tak penting.


“Kita langsung ke rumah sakit aja, ya, Tin. Katanya Bapak baru pulang berobat dan sekarang istirahat di rumah. Bapak cuma demam. Ibu ngotot minta pulang juga, padahal masih sakit. Asam lambung. Biasa kalau kambuh memang agak berat. Pasti selama nggak ada Mbak Vita, Ibu makannya kurang dijaga. Suka kebablasan,” sungut Wibi.


“Mungkin Ibu ngerasa kasian sama Bapak yang sendirian di rumah. Ngerasa nggak enak juga karena Bapak jadi sakit jagain orang sakit. Tapi aku rasa Ibu jadi lebih sehat sekarang,” ujar Tini.


“Kenapa gitu?” tanya Wibi.


“Karena aku juga bakal gitu. Aku bakal sehat kalau Mas Wibi sakit. Karena pasti kepikiran nggak ada yang ngurusin,” jawab Tini.


Wibi merangkul pundak Tini. “Kamu memang selalu membanggakan,” ucap Wibi.


Taksi melaju langsung menuju rumah sakit. Setibanya di sana, ibu Wibi sedang berbaring menonton televisi sendirian. Ketika mereka mengetuk pintu dan masuk ke dalam, Ibu Wibi terkejut.


“Kenapa pada ke sini? Padahal sudah Ibu bilang ke Vita, kalau Ibu enggak apa-apa. Sebentar lagi bakal pulang,” seru ibunda Wibi.


Meski mengatakan hal itu, ibu Wibi tak bisa menyembunyikan raut bahagianya melihat kedatangan sang putra dan menantu.


Sama seperti orang tua lainnya yang merindukan kehadiran sang anak yang hidup di perantauan. Walau lidah melarang untuk terlalu sering pulang karena besarnya biaya, tapi kebahagiaan begitu kentara saat bersua.


“Kami jenguk, biar Ibu cepat sembuh. Siapa tau Ibu juga kangen sama Wibi,” ujar Wibi, memeluk dan mencium puncak kepala ibunya.


Tini tersenyum melihat hal itu. Menikahi seorang sulung ataupun bungsu, membuatnya harus mengerti kalau cinta pertama suami tetaplah sang ibu.


“Duduk di sini, kamu keliatan capek banget.” Wibi menyodorkan sebuah kursi pada Tini di sisi ranjang ibunya.


Tini duduk memangku tasnya. Wibi menyodorkannya segelas air putih dan ia meneguknya sampai tuntas.


“Malam ini, biar kami yang jaga Ibu. Biar ibu nggak kesepian,” ujar Wibi.


Ibu yang sedang diajaknya bicara, tak menyahut. Ibunya malah sedang mengamati Tini dengan seksama.


“Bi, bojomu kuwi ketoke gek loro. Awakmu, kok, malah ngakon bojone sek loro nunggoni ibu? Jane ki ibuk wis omong to ora popo nek dewekan,bapakmu lak yo nembe mulih nang omah,wis kono do mulih wae. Ojo nang rumah sakit." (Bi, istrimu ini kayaknya sakit. kamu kok minta istri yang sakit buat jaga ibu? Padahal ibu bilang enggak apa-apa sendirian. Bapakmu, kan, baru pulang ke rumah. Kalian pulang aja sana. Jangan di rumah sakit.)


Wibi memandang Tini yang duduk di sebelahnya. “Iyo? Awakmu loro? Ketoke mau iki orapopo.” (Iya? kamu sakit? kayaknya tadi enggak apa-apa.)


Wibi meletakkan punggung tangannya ke dahi Tini.


"Aku gak loro, Mas. Mung rasane ngregesi. Ra penak awakku, tapi nggak panas." (Aku nggak sakit. cuma badanku rasanya panas dingin. Kayak enggak enak badan, tapi nggak panas.)


To Be Continued