TINI SUKETI

TINI SUKETI
86. Pamitan



Setengah hari berputar-putar mengunjungi objek wisata yang terdekat, Wibisono mengajak tiga bersaudara itu untuk menjajal kuliner khas setempat. Perut yang lapar dan varian makanan baru, membuat ketiga bersaudara itu seketika mengangguk saat Wibisono menawari mereka makan siang.


“Ini menu yang paling khas di sini. Enggak boleh terlewat,” kata Wibisono saat memarkirkan kendaraannya di sebuah tempat makan. “Namanya rawon setan,” kata Wibisono dengan raut serius.


Hampir saja Tini mengatakan astaga saat Wibi mengucapkan hal itu. Sepintas didengar telinga Tini, Wibisono seperti sedang mengata-ngatai mantan pacarnya. Ia tak menyangka kalau Gatot memiliki hubungan saudara dengan rawon.


“Sekarang kita makan di sini, malam nanti kita makan di rumah, ya. Dari sini ke rumahku dulu. Besok pagi-pagi banget, kita berangkat ke Desa Cokro. Jadi pamitnya pulang ke Bapak-Ibu malam ini aja. Gimana?” tanya Wibisono saat merangkul Tini masuk ke restoran.


Apa lagi yang bisa dijawab oleh Tini selain mengangguk setuju? Rasanya Wibi sudah mengambil lebih dari setengah beban hidupnya.


“Aku penasaran dengan desa kelahiran kamu,” ucap Wibi. “Sudah lama nggak pulang kampung, kan? Kapan terakhir?” tanya Wibi.


Mereka berdua sudah duduk berhadapan dengan Evi dan Dayat di dalam restoran. Pesanan mereka sedang dibuat dan Dayat belum apa-apa sudah menghabiskan tiga botol teh kaleng.


“Mbak Tini terakhir kali pulang dua tahun yang lalu, Mas. Kalau nggak salah sebelum kerja di asuransi. Pulangnya malem-malem. Baliknya ke Jakarta juga malem-malem. Diantar dan dijemput sama Pak Paijo. Tapi tenang, Mas. Mbak Tini gitu bukan karena kabur dari hutang. Mbak Tini ini legendanya Desa Cok—”


Dayat yang telah menghabiskan banyak minuman, sepertinya memiliki tenaga penuh untuk membicarakan soal kakaknya. Tapi ucapannya terpotong karena cubitan tangan Evi ke pahanya di bawah meja.


“Dua tahun lalu? Sebelum kerja di tempat Agus?” tanya Wibisono, memandang wajah Tini yang dahinya bertitik-titik keringat. “Tisunya mana?” tanya Wibisono.


Tini membuka tasnya dan menyodorkan sebungkus kecil tisu ke tangan Wibi. Pria itu mengambilnya dan mengeluarkan selembar. Dengan telaten, Wibi melipat tisu itu dan menotolkannya ke dahi Tini.


“Iya, Mas. Terakhir aku pulang dua tahun yang lalu. Itu karena denger khotbahnya Mas Heru di tepi pantai,” sahut Tini tertawa kecil. Ia melirik tangan Wibi yang masih menggenggam tisu bekas menyeka dahinya.


Wibisono mengangguk kecil. Dua tahun itu bukan waktu yang pendek. Bisa sanggup tak bertemu dengan keluarga selama itu, pastilah Tini memiliki alasan dan keterbatasan.


Malam terakhir berada di Surabaya, keluarga Wibisono kembali menjamu tiga bersaudara itu dengan makanan lezat. Bapak Wibi berulang kali bertanya soal Bapak Tini. Apakah orang tuanya tak apa-apa mereka berkunjung ke sana. Apa yang bisa dilakukannya agar Tini tidak ditegur oleh bapaknya. Bapak Wibi sedikit mendesak Tini untuk memberikan nomor ponsel bapaknya agar bisa berbicara melalui telepon.


Tini mati-matian meyakinkan Bapak Wibi kalau hal itu bukan masalah besar. Tini mengatakan sudah mengabari bapaknya. Ia juga mengaku hal yang sama pada Wibisono. Padahal … ia belum ada mengatakan apa pun.


Tini tak pernah berbicara panjang lebar dan serius dengan bapaknya. Rasanya lebih nyaman kalau ia berbicara langsung. Selama ini, mereka bertukar kabar hanya melalui Dayat. Hanya sepotong-sepotong kalimat yang diucapkan bapaknya melalui balik telepon.


“Bilang jangan terlambat makan. Kalau sakit langsung berobat. Jangan ditahanin.”


Dan malam itu, Tini sudah berdiri di ambang pintu berpamitan pada keluarga Wibisono. Calon Ibu mertuanya mengulang-ulang pesan yang sama sambil mengusap punggungnya. Pesannya soal, ‘Semoga dilancarkan. Jangan ada kecemburuan yang sering membuat calon pengantin bertengkar saat hari H semakin dekat.’


"Kulo pamit, Pak, Bu. Matur nuwun sanget sampun nampi kulo kaliyan rayi-rayi kulo. Masakanipun Ibu nggeh sekeco sanget. Kulone dados kangen kaliyan Ibuk'e kulo. Mas Wibi niku bejo sanget taksih gadah tiyang sepuh ingkang jangkep.” (Saya permisi, Pak, Bu. Terima kasih sambutannya buat saya dan adik-adik. Masakannya enak-enak. Saya jadi rindu dengan ibu saya. Mas Wibi beruntung masih memiliki orang tua lengkap.)


Tini dan semua adik-adiknya sudah menyalami semua anggota keluarga Wibisono. Dan kini ia berdiri di pagar rumah dengan tangan yang masih digenggam Ibu Wibi. Rasanya haru sekali. Andai saja ibunya masih hidup, ia pasti bisa mengatakan pada ibunya kalau ia berkenalan dengan calon mertua perempuan yang mau menerima dia dan adik-adiknya dengan baik. Tini yakin ibunya pasti senang anak-anaknya disambut dengan hangat di rumah itu.


"Lho, kok, matur nuwun koyo karo sopo wae to Nduk. Awakmu kuwi karo adi-adimu lak meh dadi keluargo. Suk neh menowo menyang Suroboyo kudu nginep kene yo. Ojo nang Hotel." (Kok, terimakasihnya kayak orang lain aja. Tini dan adik-adik bakal jadi keluarga. Lain kali kalau ke Surabaya harus nginep di sini. Enggak boleh di hotel lagi.)


Bapak Wibisono sepertinya masih kesal dengan putra bungsunya soal tempat menginap. Tini dan Wibisono hanya meringis mendengar sisa omelan itu.


"Ati-ati ning ndalan, yo. Omong karo Wibi nek nggowo mobile ora usah banter-banter. Rong sasi ngkas keluargo kene meh teko rono. Mugo-mugo paringi lancar. Awakmu yo ojo ngoyo nek kerjo. Kowe yo iyo, Bi. Ojo sering mbolak-mbalik. Meh dadi nganten kuwi kudu ati-ati. Ibu ki wis suwe lek nunggoni." (Hati-hati di jalan. Bilang ke Wibi bawa mobilnya jangan ngebut-ngebut. Dua bulan lagi keluarga Wibi datang ke rumah. Semoga dilancarkan. Kamu juga kerjanya jangan terlalu capek. Kamu juga Bi, Jangan ke sana kemari terlalu sering. Mau jadi pengantin harus banyak hati-hatinya. Ibu nunggu udah lama.)


Ibu Wibisono kembali memberikan pesan-pesannya. Mereka semua telah berada di sisi mobil. Evi dan Dayat berdiri dengan menyatukan tangan mereka, mengamati dan mendengarkan calon mertua kakaknya berbicara.


"Inggih, Ibu diayemke mawon. Mbeto bakal estri teng mobil mboten wantun ngebut.” (Iya--iya. Ibu tenang aja. Bawa calon istri di mobil nggak akan kebut-kebutan.)


"Betah ora ning Suroboyo? Sesuk meneh nek teko kudu suwe, ben iso mlaku-malaku adoh. Awakke dewe durung ono poto-poto nang jembatan Suramadu." (Betah nggak di Surabaya? Lain kali kalau datang harus lebih lama biar jalan-jalannya lebih jauh. Kita belum ada foto di jembatan Suramadu.)


"Kerasan, Mbak. Jane nggih eman. Mboten saget dangu teng mriki. Niki mawon itungane taksih ijin teng kantor. Dereng angsal cuti. Mugi-mugi dinten lintune saget mriki malih ingkang dangu Mbak.” (Betah, Mbak. Memang sayang nggak bisa lebih lama di sini. Ini hitungannya masih izin di kantor. Belum dapet cuti. Semoga lain kali bisa berkunjung lebih lama.)


Pertemuan keluarga kali itu, hanya sampai di situ. Wibi pamit pada keluarganya untuk mengantar Tini dan adik-adiknya kembali ke hotel. Setibanya di hotel, kali ini Evi dan Dayat mendahului langkah Tini dan Wibisono. Kakak beradik itu kelelahan dan kekenyangan. Tini melambatkan langkah saat menjajari koridor kamar.


Muncul sedikit kekhawatiran soal Wibisono yang akan mengantarkan mereka semua ke Desa Cokro. Bukan khawatir pada bapaknya. Tapi khawatir kalau Wibisono mengernyit saat melihat bagaimana kehidupan mereka di desa itu.


“Kamu kenapa?” tanya Wibisono saat mereka tiba di depan kamar.


Tini tersenyum tanpa menoleh Wibi, lalu ia menggeleng. Wibisono memegang kedua bahu Tini dan memutar tubuh wanita itu menghadapnya.


"Tin ... aku kuwi ora popo. Aku wis nrimo sak kabehane mau. Ora usah kuatir sing ora-ora." (Tin ... aku nggak apa-apa. Aku udah nerima semuanya. Jangan khawatir berlebihan.)


To Be Continued