
“Atasannya Pak Santoso itu. Pemilik saham di Grup Cahaya Mas. Katanya dia bakal dateng sama keluarga istrinya. Mau main ke Solo juga katanya. Tapi … kok, belum keliatan, ya? Harusnya bareng-bareng,” gumam Tini, memandang Dayat yang sedang bercakap-cakap dengan Santoso.
Ketika tengah menatap Dayat yang masih berbincang, muncul sosok yang sedang dibicarakan Tini.
“Nah, itu Mas. Itu pemilik saham yang jadi trainer-ku kemarin,” kata Tini, menunjuk ke pintu masuk.
Dean muncul paling depan sambil menggendong bayi laki-laki enam bulan yang menelungkup di bahunya. Siang ke sore itu ia datang mengenakan setelan jas lengkap berwarna krem dilengkapi dasi kupu-kupu. Winarsih, istrinya sangat cantik mengenakan dress lace berwarna krem melewati lutut. Satu tangannya menggandeng gadis kecil yang diketahui Tini adalah putri ketiga mereka. Di belakangnya seorang wanita dan pemuda jalan mengikuti sambil menggandeng seorang anak laki-laki dan perempuan yang berpakaian rapi dan senada dengan orang tuanya.
Tini terpukau. Dean benar-benar menepati janjinya. Atasannya itu bahkan datang bersama keluarga istrinya. Namun, saat menggeser pandangannya pada Dayat, adiknya sedang berdiri terpaku melihat tamu yang mendekat ke arahnya.
Perhatian Dayat terpecah. Pemuda itu ternyata ikut terpukau memandang Dean. Melihat dandanan kelimis pria yang berdiri di meja penerima tamu, Dayat tak sengaja merapikan rambut dan dasinya. “Waaaaah,” gumam Dayat.
“Yat! Yat! Bantu sini,” seru salah satu pagar ayu memanggil Dayat. Meja penerima tamu itu adalah meja yang didatangi si pria kelimis.
“Ada apa?” tanya Dayat pada gadis muda sepupunya dari pihak Ibu.
“Kamu yang pegang kunci gembok ini, kan?” tanya gadis itu menunjuk kotak tempat amplop para tamu.
Dayat mengangguk. “Memangnya kenapa?” tanya Dayat, memandang pria klimis yang setelah dilihat dari dekat ternyata memang memiliki kulit nyaris mengkilap.
“Kalau kamu yang pegang kuncinya, tolong dibuka. Karena ngeliat dari bentuk celahnya, amplop dari saya nggak akan cukup dimasukkan dari atas. Yan,” seru Dean sedikit menoleh ke belakang.
Seorang pria lainnya yang dipanggil kemudian datang dari belakang, meletakkan amplop setebal bata di atas meja penerima tamu.
Dayat berbinar. “Waaaah …. Bapak siapa?” tanya Dayat.
“Saya orang yang meminta Pak Santoso datang ke desa ini,” jawab Dean.
“Waaahhh …,” gumam Dayat.
“Gimana, Yat?” Gadis muda pagar ayu menepuk lengan Dayat agar tersadar.
“Bisa—bisa,” sahut Dayat, merogoh kantong celananya. “Tapi kalau Bapak mau kasi langsung juga nggak apa-apa. Langsung ke pengantin,” tambah Dayat lagi.
“Akan kurang elegan buat saya ngasi langsung, juga buat pengantin pegang-pegang begituan,” jawab Dean santai.
“Waaaah,” gumam Dayat lagi.
“Gimana, Yat?” tanya Santoso memandang Dayat.
“Luar biasa, Pak. Luar biasa,” ujar Dayat. Amplop setebal bata sudah dimasukkan ke kotak dengan membuka gemboknya. Dayat lalu kembali mengantongi kunci dan berdiri mengibaskan tangannya ke arah dalam. “Mari Bapak-bapak bisa ikuti saya,” ajak Dayat.
Dayat membawa rombongan tamu jauh ke meja bagian depan yang sudah ia persiapkan sebelumnya. “Buat keluarga bosnya Pak Santoso,” ujar Dayat, menunjukkan meja. Dua orang kru WO ikut menambah kursi agar semua anak-anak bisa ikut duduk.
Ternyata Pak Wimar datang bersama istrinya. Karena tak lama pria itu duduk, seorang wanita cantik paruh baya datang bersama Larasati dan dua orang rekan Tini di timnya. Mereka duduk satu meja bersama Reza sang asisten.
“Pak Santoso duduk di sini. Silakan, Pak.” Dayat berjalan menuju ke meja sebelahnya. Santoso duduk bersama dua wanita di kanannya.
Evi yang sejak tadi meladeni para tamu dari berbagai organisasi di desa mereka, ternyata menyimpan rasa penasaran sejak tadi. Gerombolan ibu-ibu yang sesaat lalu baru masuk dan menempati kursi-kursi dengan tangan memegang piring, menoleh ke tempat yang sama. Deretan meja bundar yang disusun berderet di depan pelaminan.
“Siapa aja itu, Vi? Tamunya Tini orang jauh semua, ya. Yang dateng rata-rata mirip artis.”
Karena perkataan itulah Evi segera naik ke pelaminan dan mendekati kakaknya.
“Itu bosnya Pak Santoso ya, Mbak?” bisik Evi di telinga Tini.
“Iya, itu yang punya kantor pengacara. Kantor tempat aku kerja itu punya bapaknya. Dia punya saham tapi nggak duduk di jajaran direksi. Tapi denger-denger saham istrinya lebih banyak dari yang dia punya,” jelas Tini dalam bisikan.
“Istrinya manis, Mbak. Anggun dan keibuan,” kata Evi.
“Kamu muji wanita lain keibuan, tapi nggak pernah muji aku yang bertahun-tahun masak dan nyuci baju kalian. Kamu kira itu namanya apa? Kebabuan?” sindir Tini.
Ternyata Wibisono mendengar percakapan itu dan tertawa menepuk-nepuk punggung tangan Tini.
Tini yang tadi mengomeli Evi jadi terdiam seketika. Wibisono berhasil memadamkan api kegusaran yang baru saja akan menyala di mata istrinya.
Rombongan kandang ayam, keluarga Heru dan Agus beserta Ayu, memang sengaja duduk persis di depan pelaminan. Mereka semua datang paling pagi untuk melihat Tini menikah, dan berjanji akan berada di tempat resepsi lebih lama.
Bara sudah mendorong stroller ke depan meja dan meletakkan Mima yang baru tertidur setelah digendongnya berayun-ayun sebentar. Dijah duduk mengobrol dengan Asti usai menyusui Mima. Dul dan Robin menemukan teman baru dan duduk mengelompok memegang ponsel orang tuanya untuk menonton channel Yutub.
Dijah yang selalu melarang Dul memakai ponsel berlama-lama, hari itu memberikan kelonggaran bagi anaknya. Boy yang sudah menyanyikan dua lagu, memanggil Dara naik ke atas pentas dan menyanyikan satu lagu tambahan. Mak Robin yang jarang bertemu dengan suaminya, terlihat larut dalam pembicaraan yang cukup serius.
Mima sudah tidur dan Bara mendorong stroller ke depan Dijah. Pria itu sampai harus mencolek dagu istrinya yang asyik bercerita agar menoleh. “Aku duduk deket Mas Heru. Itu Mbak Fifi mau gabung di sini.”
Seperti yang dikatakan Bara, Fifi berdiri dari sebelah suaminya sambil menggandeng putra mereka.
“Aku gabung, ya. Biar bapak-bapak bisa ngobrol lebih leluasa,” ucap Fifi.
Ternyata saat Fifi berdiri dan berjalan tadi, banyak tamu yang memandangnya. Bisik-bisik dari belakang meja mereka terdengar sama, tapi jelas.
“Itu penyiar berita yang di tv. Pasti itu orangnya. Biasanya pagi-pagi,” kata seorang wanita yang baru menyadari kehadiran seorang presenter kondang di tempat itu.
Lalu bisik-bisik lain pun terdengar. “Tamunya Tini hebat-hebat. Pergaulan Tini memang sudah kota banget,” tambah seorang wanita lainnya.
Fifi, Dijah dan Asti yang mendengar hal itu tertawa-tawa kecil. Sedangkan Tini yang dikatakan hebat oleh para kerabat dan tetangganya, malah terlihat tak mempedulikan hal itu. Tini sibuk bergelayut, berbisik dan terkikik-kikik di telinga Wibisono.
“Pak Santoso,” sapa Dayat saat mendatangi meja Santoso dengan pegawai catering yang membawa nampan berisi jus jeruk dan piring-piring kue.
Dengan cekatan Dayat menyajikan minuman yang diambilnya dari nampan ke meja. Ia juga meletakkan piring-piring kue.
“Meja sebelah sana jangan sampai dilupakan kesejahteraannya,” kata Santoso pada Dayat sambil menoleh ke meja Dean.
“Tenang—tenang,” sahut Dayat, menoleh pada dua pegawai catering yang ternyata dengan sigap membawakan minuman dan cemilan selamat datang ke meja Dean beserta keluarganya.
“Nanti saya kenalin ke Pak Dean. Mau kenalan, kan?” tanya Santoso pada Dayat. Pertanyaan itu langsung disambut anggukan antusias pemuda di depannya.
“Sebelum ke meja sebelah, aku mau kenalan lebih akrab dengan wanita-wanita cantik di meja ini.” Dayat tersenyum seraya meletakkan keranjang buah kecil ke depan dua wanita yang duduk bersebelahan di sebelah kanan Santoso.
“Ini istri saya, namanya Musdalifah. Kamu jangan macem-macem,” sahut Santoso setengah bercanda.
“Bukan yang di sebelah Pak San. Tapi yang sebelah sini,” kata Dayat, menarik senyum ke sisi kanan dan menampakkan satu gigi gingsul yang menjadi khas sekaligus andalannya. Ia tengah tersenyum pada wanita di sebelah Musdalifah.
“Hai, namaku Hidayat. Boleh aku ramal?” tanya Dayat, menirukan salah satu dialog dalam film anak muda yang pernah ditontonnya.
“Hai juga. Namaku Asih. Boleh nggak, kalau aku aja yang ngeramal kamu?”
“Ini ramal beneran, bukan gombal. Ayo, Sih. Coba terawang. Berapa pacarnya,” pinta Musdalifah, menahan tawa.
Dayat mundur selangkah memegang dadanya dengan raut serius.
“Kenapa?” tanya Asih dengan wajah cemas.
“Kalau kamu memang bisa ngeramal, aku mau tau ramalan masa depan kamu.”
“Kok, gitu?”
“Karena dalam ramalan masa depan kamu, mungkin ada aku di dalamnya,” sahut Dayat dengan wajah serius.
To Be Continued