
Pesawat paling pagi selalu menjadi pilihan Wibisono ke mana pun. Ia lebih menyukai menunggu di bandara, ketimbang menunggu penerbangan siang di hotel.
Ia sedang duduk menggulir layar ponselnya. Mencari pesan yang mungkin dikirimkan Tini padanya. Nyatanya tak ada. Tak sadar, Wibi berdecak. Manusia mana pun yang waras pasti bisa mengetahui kalau Tini menaruh hati padanya. Tapi sikap Tini benar-benar berbeda dari wanita kebanyakan.
Tini bersikap perlu-tak perlu, penting-tak penting padanya. Beberapa kali ia mendapati Tini memandangnya. Namun wanita itu ternyata hanya sekedar memandang tanpa memberikan suatu pertanda yang jelas buatnya.
Wibisono jatuh hati pada keluarga kecil Bara. Dan mendengar cerita mereka soal keseruan berbulan madu ke Pulau Bintan bersama teman-teman istri Bara, semakin menambah rasa iri di hati Wibi.
Kehangatan keluarga Bara dan kedekatan persahabatan mereka semua menimbulkan rasa hangat di hati Wibi. Beberapa tahun bekerja pontang-panting mengobati patah hati, membuat Wibi tak memiliki seseorang atau beberapa orang yang bisa disebutnya sebagai sahabat.
Bara adalah adik sepupu Heru, sahabatnya, yang tak pernah bertingkah macam-macam sejak dulu. Bara adalah pria baik. Dan melihat Bara bisa begitu dekat dengan sahabat-sahabat istrinya, semakin membuat Wibisono yakin kalau ia dikelilingi orang-orang baik.
Wibisono menoleh pada Tini. Wanita yang awalnya ia lihat terlalu biasa. Namun ternyata mampu membuatnya merasa istimewa. Tini adalah sosok wanita pekerja keras yang berjuang untuk adik-adiknya. Sikapnya simpatik dan realistis. Hal itu mengingatkan Wibi pada dirinya sendiri.
Fokus bekerja keras untuk diri sendiri dan keluarga, tanpa mau merepotkan orang lain. Satu nilai Tini yang dianggapnya paling spesial. Yang kedua, Tini tak pernah mengeluh sembarangan. Wanita itu menerima hal yang terjadi dalam hidupnya seakan itu adalah kesulitan biasa saja.
Beberapa kali memancing Tini soal kesulitan yang dihadapinya, tapi wanita itu memilih bungkam dan menolak. Tini semakin kuat karena kesendirian dan kemandiriannya selama ini. Wanita itu belum mempercayai seseorang untuk membagi bebannya.
Wibisono menghela napas panjang, lalu melirik jam.
Ia menyukai Tini. Tapi sikap Agus kepada pegawainya juga dinilai Wibi terlalu plin-plan. Sekali dua kali ia melihat Agus memandang Tini dengan cara memandang lebih dari sekedar atasan pada bawahannya. Tapi kemudian pandangan Agus berubah menjadi kanak-kanak yang meminta perhatian.
Wibi tak suka sikap Agus. Meski Agus adalah temannya, tapi tak seharusnya Agus memanipulasi Tini untuk tetap berada di dalam parameter yang bisa dijangkaunya, tapi tak memiliki kejelasan apa pun.
Mereka berdua adalah manusia dewasa. Usia Agus juga lebih matang dari mereka semua. Kalau Agus menyukai Tini, kenapa harus terlalu lama melewati banyak waktu untuk makan di luar atau nonton ke bioskop? Mereka bukan ABG lagi.
Lamunannya kembali saat ia datang ke kantor Agus untuk menandatangani MOU perjanjian kerja sama. Sebelum datang ke sana ia menelepon Tini tapi tak mendapat jawaban apa pun. Lalu ia menelepon Agus dan membuat janji dengan sahabatnya itu.
Setibanya di kantor, ia sudah tak berharap akan bertemu Tini. Ia akan menandatangani perjanjian kerja sama setelah Agus memastikan bahwa semua penjualan itu akan masuk ke dalam penjualan Tini. Hal itu sudah meringankan hatinya.
Setibanya di kantor Agus di jam makan siang, Wibisono mengetuk pintu kantor sahabatnya namun tak ada sahutan. Karena sebelum datang ke sana Agus berpesan untuk menunggu di ruangannya, Wibi tak sungkan untuk langsung masuk. Ia mengira kalau Agus sedang berada di luar.
Kenyataannya, siang itu Wibisono disuguhi pemandangan Agus yang sedang berciuman mesra dengan pegawai wanitanya. Gadis berkulit putih dan berambut lurus sebahu.
Meski diselimuti dengan kecanggungan. Wibisono menyelesaikan urusannya siang itu dengan profesional.
Agus hanya meringis saat mereka berjabatan. Wibi tak peduli pada siapa Agus menjalin hubungan. Ia hanya tak suka sikapnya yang memonopoli Tini secara tak langsung.
Untungnya Tini ditawari bekerja di tempat lain. Langsung menyodorkan Tini bantuan pun, bukan merupakan hal yang bijak. Sudah begitu, saat malam mendatangi Tini, wanita itu bisa-bisanya masih khawatir pada Agus. Diajak ke Surabaya pun, Tini masih mikir-mikir lagi.
Wibisono mengerucutkan mulutnya. Tangannya masih menggulir layar ponsel. Ia sedang berpikir-pikir apakah ia akan mengirimkan pesan pada Tini, atau menunggu wanita itu menyapanya lebih dulu?
“Kurang apa lagi sinyalnya? Udah dicium. Aku bukan kayak atasan kamu,” gerutu Wibi.
Sayup-sayup dari pengeras suara terdengar panggilan nomor penerbangannya. Wibi menyampirkan ranselnya ke bahu dan bangkit menuju gerbang keberangkatan.
Proses pencarian kantornya yang baru sudah selesai. Heru sudah mengenalkannya pada seorang kontraktor skala kecil yang akan membantunya merombak kantor itu selama ia mengurus pembukaan cabang baru dari Surabaya. Ia akan kembali lagi ke Jakarta sekitar tiga bulan lagi.
Dasar …. Tini Suketi, batin Wibi saat melangkah di garbarata menuju pintu pesawat.
Wibi duduk di kursinya usai meletakkan ransel di kompartemen kabin. Ia memilih sebuah seat kelas bisnis yang berada paling depan.
Sesaat sebelum mematikan ponselnya, Wibi kembali mengecek. Tak ada apa pun. Lalu, saat ia sedang menggulir layar untuk menukar ke mode terbang, sebuah pesan masuk.
Cepat-cepat Wibisono membuka pesan itu. Ternyata dari Tini.
‘Kapan ke Jakarta lagi? Jemput aku kalau mau ngajak ke Surabaya.’
Ia menyunggingkan senyum dan langsung mengetik jawaban.
‘Tunggu aku. Tiga bulan lagi. Pesawatku mau take off. Nanti aku telfon kalau sudah sampai.’
Wibisono mematikan ponselnya dengan senyum yang tak bisa ia sembunyikan
To Be Continued