TINI SUKETI

TINI SUKETI
77. Calon-calon Ipar



Wibisono diam mendengarkan perkataan Evi sampai selesai. Kepalanya mengangguk kecil tanda ia mengerti perkataan dan maksud gadis itu. Usai Evi berbicara, Tini sibuk menggaruk tepian tasnya dengan tatapan setengah menerawang. Dayat sudah mengangkat kepalanya dan memandang Wibisono.


"Iyo. Aku yo paham. Menowo mbakyu-mu durung cerito mergane iki yo durung  suwe. Aku yo niate memang tenanan. Mbakyumu mesti ijeh nganggep nek aku iki mung guyon. Nek awakmu kabeh iso yo sekaliyan budhal menyang omahku ning Suroboyo. Kenalan karo keluargaku. Rabi kuwi hal serius kanggo awakku. Aku yo ora mungkin guyon. Piye? Wis pernah menyang suroboyo to?" (Iya. Aku ngerti. Mungkin Mbak kalian belum cerita karena memang ini belum lama. Aku memang niatnya serius. Mbak kalian juga pasti masih menganggap aku cuma bercanda. Kalau kalian bisa, sekalian aku bawa ke rumahku di Surabaya. Berkenalan dengan keluargaku. Pernikahan itu hal yang serius buatku. Aku nggak mungkin bercanda. Gimana? Udah pernah ke Surabaya?)


Wibi tak menatap Tini saat menanyakan itu. Pandangannya berpindah antara melihat wajah Evi dan Dayat bergantian. Evi membulatkan matanya, tapi belum mengatakan apa pun. Sedangkan Dayat ….


"Dereng Mas. Dereng nate teng Suroboyo.  Teng jakarta mawon nembe pisanan niki. Dereng nate teng pundi-pundi,mboten wonten wektune, Mas. Teng ndeso mpun sibuk." (Belum Mas. Belum pernah ke Surabaya. Ke Jakarta juga baru kali ini. Belum pernah ke mana-mana, Mas. Enggak ada waktu. Di kampung terlalu sibuk.)


Evi seketika menendang ujung sandal Dayat yang berada di sebelah kaki Wibi. Namun sepertinya gerakan Evi sudah diperkirakan oleh Dayat. Pemuda itu segera menggeser kakinya dan tetap menatap Wibisono dengan mata berbinar.


"Lagakmu sibuk. Sibuk opo? Sibuk nyelahi montor nang ngarep umahe cewek po?" (Gayamu sibuk. Sibuk apa? Sibuk nyelah motor di depan rumah cewe?)


“Belum pernah, kan? Surabaya itu banyak tempat reinkarnasi, lho.” Wibi menyenggol lutut Tini dengan lututnya seraya terkekeh. Tini tersipu dan bersungut-sungut tanpa suara dalam satu waktu.


Dayat dan Evi melihat hal barusan. Kedua kakak beradik itu pun, juga ikut saling dorong dan saling pukul sambil terkekeh-kekeh.


Wibisono tertawa senang dan menepuk-nepuk pundak Dayat. Malam itu, Tini lebih banyak diam dan mendengar. Melihat bagaimana Wibisono mencoba menjalin keakraban dengan adik-adiknya. Menanggapi candaan Dayat yang lucu dan polos khas pemuda desa. Serta menjawab pertanyaan Evi yang spontan dan lugas.


“Kalau gitu besok siang, Mas jemput. Kita jalan-jalan. Mbakyu kalian, kan, masih kerja. Jadi kita jalan-jalan bertiga. Kita bertiga benar-benar pendatang di kota ini. Sama,” tukas Wibisono tertawa.


“Wah, bener. Mau, Mas. Jalan-jalan,” sahut Dayat, tak sadar menepuk-nepuk lutut Wibisono dengan gaya sok akrab.


Wibisono kembali ke hotel pukul sepuluh malam dengan ditemani Dayat sampai ke depan gang. Kos-kosan itu tampak sepi saat pria itu berpamitan. Tak ada adegan kecupan dahi apalagi ciuman bibir. Wibi pamit setelah memegang tangan Tini sebentar dan memijat-mijat pelan bahu Tini saat mengatakan besok sore akan menjemputnya usai training kantor.


Dayat kembali dari mengantarkan Wibi ke depan gang. Dan ia langsung terperangah saat melihat keadaan kos-kosan yang saat ditinggalkannya mengantar Wibi sudah sunyi mencekam, tapi kembali ramai saat ia kembali.


Boy, Mak Robin dan Asti sudah kembali duduk di kursi plastik. Hanya Robin yang tidak terlihat karena sudah tidur.


“Aku kira udah tidur. Rupanya belum. Malah keluar semua,” kata Dayat, mendekati kumpulan kursi.


“Kamu kira udah tidur?” tanya Tini, memandang para tetangganya. “Mereka ini bisa jadi penjinak bom. Bisa memasang modus senyap tak terdeteksi. Malah kalau tiba-tiba sepi dan tenang, itu yang paling dicurigai.”


“Aku tadi udah tidur. Tiba-tiba lapar kali perutku. Bakso tadi kurang nendang.” Mak Robin membuat alasan yang paling mudah.


“Aku tadi kebelet pipis, kok,” kata Asti pula.


“Kamu kenapa, Boy? Mimpi buruk? Mimpi ruko roti bakar hangus karena pegawaimu lupa matiin kompor?” tanya Tini pada Boy.


“Amit-amit, Tin!” PLAKK. Boy menepuk lutut Tini dengan kerasnya.


“Kamu jangan mukul-mukul aku lagi. Masku aja cuma ngusap lututku. Bisa aku aduin kamu,” ucap Tini, mengusap lututnya.


“Udah gaya banget sekarang. Dulu digebuk juga nggak masalah," omel Boy.


"Yo, wis. Njenengan kuwi mikir opo meneh to Mbak? Ojo mikiri kene terus Mbak. Aku karo Dayat wis ra popo. Dayat yo wis iso mbok culke. Ndek'e ki wis gede. Njenengan ora usah ngedusi ora usah nyepakke sembarang. Ndek'e wis iso njogo awakke dewe, mengko kuliahe Dayat bene aku sing ngragati. Rampung kuliah yo bene golek kerjo. Njenengan ki wis cukup Mbak. Njenegan wis telung puluh taun. Aku ki mesakke Mbakyu-ku. Koncone anakke wis do gede-gede. Mestine njenengan yo pengen to." (Ya udah. Kamu mau mikir apa lagi? Jangan mikirin kami terus. Aku dan Dayat udah nggak apa-apa. Dayat udah bisa kamu lepas. Dia udah dewasa. Kamu nggak perlu mandiin dan nyiapin dia. Kamu bisa tidur nyenyak, dia bisa jaga diri di luar sana. Nanti kuliahnya Dayat, gantian aku yg bantu. Selesai kuliah aku cari kerja. Kamu udah cukup Mbak. Kamu udah 30 tahun. Aku kasian Mbakku. Anak temenmu udah pada besar2. Kamu juga pasti kepingin.)


Evi mencolek tangan Tini. Ia ingin kejelasan soal perasaan kakaknya itu pada Wibi. Tini lalu kembali diam.


"He'eh, Mbak. Aku ra popo. Aku yo pengen weruh Mbak Tini kuwi seneng. Aku ora meh rabi, nek mbakyuku yo urung rabi. Mulakno Mbak tini ndang age. Mesakke cewek-cewek kuwi selak kesuwen lek nunggoni aku.” (Iya, Mbak. Aku nggak apa-apa. Aku juga kepingin liat Mbak Tini seneng. Aku nggak akan nikah kalau mbak-mbakku belum nikah. Makanya Mbak Tini buruan. Kasian kalau cewe-cewe terlalu lama nunggu aku.)


Dayat ikut mengguncang lutut Tini. Tak sabar ingin kakaknya itu segera menikah.


“Ngomongnya bahasa Indonesia aja, Vi.” Asti nyengir gantian mencolek lutut Evi.


“Iya, betol itu. Aku pun gak ngerti apa-apa dari tadi,” kata Mak Robin.


“Kamu nggak denger apa-apa, Mak?” tanya Tini. Ia memang sudah menduga kalau semua penghuni kos-kosan belum ada yang tertidur.


“Udah, cepet! Aku mau denger. Kita undang semua mantan musuh kita di kandang ayam. Semua yang pernah mencerca dan ngata-ngatain seenak jidat,” tukas Boy bersemangat.


“Diundang juga nggak bakal dateng,” kata Tini.


“Yang penting kartu undangannya udah nyampe. Aku juga bakal bikin list lagu yang bakal aku nyanyikan. Jangan lupa lagu-lagu duet kita, Tin.” Boy memberi semangat pada sahabatnya. Ia sadar Tini bukan tak menyukai Wibisono. Tini hanya minder dan terlalu memikirkan adik-adiknya.


“Wis, Mbak. Nanti aku ngomong sama Bapak. Aku mau bawa berita menyenangkan dari Jakarta. Kamu kerja aja yang tenang. Kalau mau pesta di kampung, aku yang bakal urus. Serahkan sama adikmu ini!” Evi menepuk dadanya.


“Besok mau diajak jalan-jalan sama Mas Wibi. Aku nggak sabar,” kata Dayat.


“Eh, terus mau diajak ke—”


“Hush! Rahasia,” cegah Tini, menepuk pundak Evi.


“Apa, sih, yang masih rahasia? Apa ke sana?” tanya Mak Robin.


“Ke sana mana, Mak?” Asti memandang Mak Robin.


“Mau jumpa ….” Boy memandang Asti dan Mak Robin. Dua wanita itu mengangguk-angguk memandangnya. “Kaaan!” pekik Boy.


Tini terkikik-kikik menutup mulutnya. Ia memandang raut kesal Mak Robin, Asti dan Boy padanya.


“Aku udah tebak. Pasti bukan aku aja,” sergah Boy.


“Ah! Rahasia kau bilang! Kukira aku spesial kali sampe rahasia itu cuma aku aja yang tau,” kesal Mak Robin.


“Ini usaha Mbak Tini untuk membuat kita semua merasa sama spesialnya,” kata Asti membela Tini.


“Halah … rahasia-rahasia. Di rumah kami paling lama rahasia itu bertahan cuma satu jam,” sambung Dayat.


"Muncung kaulah, Tin ...," kesal Mak Robin. "Udah kutahan-tahan muncungku. Tau-tau muncung dia yang berserak."


“Jadi gimana, Vi?” tanya Asti lagi.


“Kami mau ikut ke Surabaya sama Mas Wibi. Cuma dua hari aja. Sekalian jalan-jalan. Doain Mbak Tini, ya, Mbak, Mak, Mas ….” Asti tersenyum-senyum tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.


"Dari dulu kudoakan. Sama Wibi ini, kukencangkan doaku," sahut Mak Robin. Boy dan Asti mengangguk setuju.


Dalam pikirannya Evi, gadis itu sudah membayangkan akan seperti apa pesta kakaknya nanti.


“Mbak! Seragamnya pink, ya? Warna pink, Mbak! Apik!” cetus Evi.


“Oalah, Vi. Belum, Vi …. Kamu jangan bikin aku nggak bisa tidur malam ini,” kata Tini. “Aku sedang memikirkan cara ngomong sama bosku gimana.”


To Be Continued