
Kebahagiaan pada setiap orang, sudah pasti berbeda. Makanya ada kalimat yang mengatakan, tak bisa menjadikan ukuran kebahagiaan kita dengan orang lain. Meski begitu, tak pula kita menilai kebahagiaan orang sebagai standar untuk kita. Karena sejatinya semua manusia, memiliki pertarungan dalam hidupnya masing-masing.
Kehamilan Tini berlangsung tanpa drama yang berarti. Tekadnya untuk tetap bekerja meski dalam kondisi mengandung, membuatnya tak banyak mengeluh. Selain karena Tini menikmati masa kehamilan pertama yang sangat ditunggu-tunggunya, ia juga tak mau membuat Wibi memintanya berhenti bekerja. Atau merasa menyesal telah mengizinkannya bekerja.
Sebab … saat kehamilan Tini memasuki trimester akhir, Dayat baru memasuki tahun keduanya di kampus. Tini merasa masih harus menunggu Dayat menyelesaikan kuliahnya agar ia bisa berhenti bekerja dan memasuki masa pensiunnya dengan tenang.
Hari terakhir bekerja sebelum memulai masa cuti, Tini membereskan mejanya sambil bersenandung.
“Kapan prediksi lahiran, Tin?” tanya Larasati yang menyambangi meja Tini.
“Perkiraan dokter bulan depan, Bu. Doain, ya.” Tini menumpuk tiga map berisi pekerjaan terakhir yang baru selesai dikerjakannya. “Ini tugas yang terakhir tadi. Semuanya udah selesai. Saya nggak ada ninggalin PR. Perusahaan yang biasa saya pegang, saya limpahkan ke Fitri,” jelas Tini.
Larasati mengambil map yang disodorkan Tini dan mengangguk. “Ya, udah. Beres kalau gitu. Jangan lupa dikabari kalau udah lahiran. Biar kita-kita bisa jenguk. Mau dibawain apa?” tanya Larasati berseloroh.
“Bawain apa, ya? Khawatir kalau dibilang malah nggak enak, tapi kalau bisa bawain stroller bayi aja. Itu saya belum beli,” jawab Tini tertawa. “Bercanda, Bu …,” sambung Tini.
Tini terkekeh-kekeh, membayangkan tak perlu membeli stroller bayi. Larasati ikut tertawa dan berjalan ke depan pintu kantor mengantarkan Tini. Sore terakhir itu, ia pulang tepat waktu. Bawaannya agak banyak. Satu tentengan penuh berisi alat makan dan segala toples tempat cemilan.
Dari kejauhan Tini melihat sosok pria yang tak asing lagi. Pria bermata sipit dan bertubuh tinggi dengan pakaian yang masih sangat rapi di sore hari. Juga pria itu … berjalan sangat cepat.
“Pak,” panggil Tini. Pria yang dipanggilnya ternyata tidak mendengar. Nyaris melewatinya. “Pak Dean!” seru Tini, mempercepat langkahnya mendekati.
“Ya?” Dean menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang. “Suketi? Kamu terlihat … berbeda.” Dean memandang tubuh Tini yang membengkak di mana-mana. Dari atas ke bawah dan mengulanginya sampai dua kali.
“Apa kabar, Pak?” tanya Tini, mengulurkan tangannya.
Dean menyambut uluran tangan Tini seraya mengangguk. “Baik—baik. Dan kamu juga pasti dalam keadaan baik. Saya nggak perlu tanya lagi. Terlihat dari wajah kamu,” ujar Dean.
Ternyata mulutnya masih sama, pikir Tini. Ia meringis menjawab pertanyaan Dean.
“Bagaimana? Betah bekerja di perusahaan ini?” tanya Dean, memasukkan tangannya ke saku.
“Sangat betah, Pak,” jawab Tini sumringah.
“Jadi … hari ini terakhir bekerja sebelum cuti?” Dean memandang barang bawaan Tini yang banyak.
“Selalu tepat,” sahut Tini langsung.
“Selamat atas kehamilan anak pertama. Semoga dilancarkan proses kelahirannya nanti. Jangan lupa untuk makan makanan sehat dan bergizi,” ucap Dean, mengucapkan kata-kata umum dan sederhana yang biasa ia ucapkan pada pegawainya.
“Syukur makanan saya sekarang sehat bergizi, Pak. Berkat perusahaan juga yang memberi kelonggaran tugas ke luar kantor selama masa kehamilan. Saya jadi banyak duduk, sampai tubuh saya jadi … begini,” ujar Tini menunduk memandang tubuhnya.
“Memangnya kenapa? Kamu masih sangat cantik ….”
Tini menajamkan pendengarannya untuk mendengar lanjutan perkataan Dean. “Ya?” Tini menjulurkan sedikit kepalanya menunggu lanjutan ucapan Dean.
“Kamu masih sangat cantik … bagi suami kamu.” Dean tersenyum lebar sampai matanya tersisa segaris saja. “Kalau begitu saya permisi dulu. Saya sedang terburu-buru mau menemui Pak Wimar.” Dean mengangguk dan memutar tubuhnya.
Dan benar apa yang dikatakannya barusan. Di kejauhan terlihat Dean mengeluarkan sapu tangan dan menyeka tangannya.
“Dasar,” gerutu Tini. Ia melanjutkan langkahnya keluar gedung. Tak sampai lima menit kemudian, mobil Wibi mendekat dan ia langsung mencampakkan semua bawaannya ke dalam mobil. Di dalam, Wibi menangkap semua hal yang dilemparkan Tini dan meletakkannya ke jok belakang. Ia lalu mengulurkan tangannya untuk membantu Tini naik ke mobil.
“Fiuhhhh … udah, berangkat sekarang.” Tini menarik selembar tisu dan menyeka dahinya yang berkeringat.
***
“Mbak … malam nanti kita jadi makan di luar?” tanya Dayat, menjengukkan kepalanya dari atas pegangan tangga. “Makan di luar yang sebenarnya, ya. Bukan bawa tiker terus duduk di halaman.” Dayat meralat ucapannya karena sudah bisa memperkirakan jawaban Tini.
“Barusan Evi udah nelfon, katanya jadi. Pacarnya udah pulang dari luar kota,” jawab Tini dengan rahang terus bergerak mengunyah kerupuk.
“Oke. Kalau gitu aku batalin janji ke temenku,” ucap Dayat, melangkah kembali ke atas. Tapi dua langkah menaiki tangga, ia kembali berhenti untuk melongok Tini. “Kayanya tadi makan kue. Sekarang kerupuk,” ujar Dayat.
“Kamu jangan mengganggu kebahagiaanku. Kita semua udah diberi porsi masing-masing. Kamu nggak pernah aku ganggu telfonan sampe ketiduran. Apa enaknya video call kaya gitu? Enggak bermanfaat,” tukas Tini masih sambil mengunyah.
“Untuk saling mengerti sifat alami masing-masing,” sahut Dayat.
“Kalau telfonan pasti nggak keliatan ngilernya. Dia pura-pura tidur. Kamu juga pasti pura-pura. Gaya-gayaan aja,” kata Tini.
Dayat kembali meneruskan langkahnya menaiki tangga seraya terbahak-bahak.
Baru saja memasukkan potongan kerupuk terakhir ke mulutnya, Wibi masuk ke ruang makan dengan dua bungkusan di tangannya.
“Masih ngunyah juga ternyata. Kerupuknya habis? Ini aku bawa cemilan lagi,” kata Wibi, meletakkan bungkusannya di meja makan.
Tini langsung meletakkan toples kosongnya dan memusatkan perhatian pada bungkusan yang baru dibawa Wibi. “Bawa apa aja ini, Mas? Kok, banyak banget.” Tini tetap bertanya meski tangannya mengeluarkan belanjaan Wibi satu persatu dari dalam plastik.
“Buat bahan kunyahan kamu,” jawab Wibi, menarik satu kursi dan duduk. “Gimana? Belum ada mules-mules?” tanya Wibi.
“Belum. Yang ada aku semakin kelaparan. Aku sampe khawatir Mas nggak cinta lagi kalau aku nggak bisa menyusut lagi abis lahiran. Sekarang jangankan makan nasi Padang, lewat rumah makannya aja udah naik tiga kilo.” Tini membuka sebungkus stik keju dan menuangkannya ke dalam toples. Sejurus kemudian ia sudah kembali mengunyah.
“Tapi mau langsing harus ada usaha dan doa,” timpal Wibi, ikut mengambil stik keju dari toples.
“Mas juga kayaknya makin berisi. Perutnya agak tebal,” kata Tini, menoleh perut suaminya.
“Artinya aku bahagia,” sahut Wibi.
“Aku juga bahagia. Kalau gitu biar kita menebal bersama,” ujar Tini terkekeh-kekeh. “Andai cuma nonton video orang senam bisa bikin langsing. Aku pasti rajin nontonnya,” gumam Tini.
“Aku juga bakal rajin nemenin kamu nonton video itu,” ucap Wibi, menarik stik keju dari tangan Tini.
To Be Continued