
Dayat dan Santoso yang tidak paham akan pembicaraan dua orang pria di dekat mereka, hanya diam mengamati.
“Saya Bara Wirya. Ayo, kita ngobrol-ngobrol di sana,” ajak Bara tersenyum santai.
“Aku gabung sebentar di sana, ya, Win.” Dean tersenyum pada istri dan mertuanya. Bayi mungil yang tadi digendongnya kini sedang berada dalam pelukan ibu mertua.
Memastikan sang istri duduk tenang dan berbincang bersama putri mereka, Dean melangkah mengikuti Bara yang duduk di meja terpisah dari keluarganya.
“Ayo, sini, Yat.” Bara memanggil Dayat agar ikut bergabung bersama mereka. Pemuda itu langsung sumringah dan menarik kursi duduk di sebelah Bara.
Dean melambai pada seseorang agar mengikutinya bergabung di meja yang sama.
“Lo ngapain di sana? Duduk di sini,” kata Dean pada sekretarisnya.
"Di sana ada gerobak rawon, saya baru nyoba ini. Makanannya enak-enak,” sahut Ryan, sekretaris Dean dengan santai. Di tangannya masih terdapat piring rawon yang baru dimakan setengah.
“Udah nyobain berapa banyak?” tanya Dean.
“Baru yang satu deretan itu aja. Entar lagi rencananya mau nyobain bubur kacang ijo bikinan ibu-ibu posyandu. Biar pulang ke Jakarta lebih sehat,” jawab Ryan. Ia menarik kursi di dekat Santoso dan meletakkan piring rawonnya di meja.
Dean terlihat menghela napas pendek saat mendengar penjelasan sekretarisnya.
“Jadi bapak-bapak ini sering ke Beer Garden juga? Untungnya tadi perkataan Mas Bara berhenti sampai di kata, ‘Uuuu’,” ucap Dean terkekeh. Ia merapikan bagian depan jasnya dan duduk menyilangkan kaki.
“Aku paham, Mas. Santai,” sahut Bara ikut tertawa.
Dayat manggut-manggut mencoba memahami topik pembicaraan. Sedangkan Santoso menyimak dengan tekun.
“Enggak sering ke sana, sih. Kebetulan aja kemarin mampir pengen tau. Kebetulan direkomendasi temen, dan kebetulan tempatnya memang cozy,” sahut Heru.
“Di sana memang cozy dan lumayan buat refreshing.” Dean terkekeh, melirik Ryan yang mencibir sambil menyendokkan rawon ke mulutnya.
“Kalo nggak salah, Mas Dean bareng temen-temen juga, kan, waktu itu?” tanya Bara.
“Iya, bener. Bareng temen-temen deket dari zaman SMA. Kantornya Mas Heru dan Mas Bara ini di sekitaran sana juga?” tanya Dean.
“Jangan panggil, Mas. Panggil Bara aja. Kayaknya Mas Dean ini seumuran sama Mas Heru,” ujar Bara, memandang Heru.
“Kayaknya, sih, iya. Tapi anakku baru satu karena dapetinnya agak lama kemarin,” ujar Heru, menunjuk putranya yang sedang duduk di sebelah sang istri.
“Anakku ….” Dean melirik meja yang ditempati keluarganya. “Anakku empat. Mudah-mudahan jumlah itu tidak bertambah lagi,” sambung Dean tersenyum.
“Kalo inget …,” gumam Ryan, mengunyah makanannya.
Dean mendengus, tapi langsung melanjutkan pembicaraan. “Lain kali kita bisa ketemuan bareng-bareng.”
“Boleh—boleh,” sahut Heru. “Mas Dean ini—”
“Panggil Dean aja,” potong Dean pada Heru. “Dari tampilan Mas-mas berdua, saya bisa ambil kesimpulan kalau Mas Heru dan Bara pasti punya hubungan keluarga dan kebetulan bekerja di tempat yang sama,” tebak Dean.
“Bener. Kok, tau?” Heru tertawa.
“Karena ngobrol nggak pake lo-gue padahal tinggal di Jakarta. Hubungan kekerabatan antara saudara yang lebih tua, tetep pake aku-kamu. Sedangkan kerja di tempat yang sama, waktu itu kita ketemu masih di jam kerja. Kalau saudara kandung dan sepupu, jarang banget ketemu di jam kerja, kecuali memang mengharuskan ketemu setiap hari. Saya pribadi setelah dewasa gini jarang banget ketemu saudara karena semua pada sibuk. Seringnya, ya, sama yang berdua ini,” jelas Dean, menunjuk Ryan dan Santoso.
“Waaaah,” gumam Dayat.
Bara tertawa melihat reaksi Dayat dan menonjok pelan lengan pemuda itu.
“Mas Dean ini … atasannya Tini?” tanya Heru.
“Bukan atasan langsung. Saya kemarin sempat jadi trainer Mbak Suketi selama lima hari. Perusahaan itu milik orang tua saya. Ehem, Pak Hartono—”
“Ah, iya. Aku baru inget, Mas. Perusahaan mantan menteri. Tini pernah cerita ke Dijah,” tukas Bara, memandang Heru. “Berarti Mas Dean nggak di perusahaan itu, ya?” tanya Bara.
Dean pamit pulang lebih dulu setelah duduk kurang lebih hampir dua jam. Bersama dengan keluarganya dari Jakarta, ia naik ke pelaminan untuk memberi selamat pada Tini.
“Selamat, ya, Mbak Tini. Semoga langgeng dan bahagia selalu,” ucap Winarsih, istri Dean saat menjabat tangan Tini.
“Tolong doanya ditambah lagi. Dikaruniai banyak anak. Saya mau juga, Bu,” sahut Tini.
Winarsih tertawa. “Semoga dikaruniai banyak anak kayak saya,” tambah Winarsih.
Mendengar perkataan Winarsih, Dean tertawa kecil memegang kepala istrinya. Sebelum pulang, mereka menyempatkan diri berfoto bersama Tini. Sedangkan keluarga Santoso, naik ke pelaminan diantarkan Dayat.
“Kita juga pamitan, Mbak Suketi.” Santoso memberi selamat sekali lagi pada Tini.
“Mbak, kayaknya aku kuliah di Jakarta aja,” bisik Dayat.
“Kenapa tiba-tiba di Jakarta? Pasti karena cewe itu,” tukas Tini, memandang Asih yang mendekat ke arahnya.
“Dia juga baru masuk kuliah. Aku harus keren, Mbak.”
“Trus urusannya samaku apa?” Tini membuat senyum manis pada Musdalifah di depannya. “Mau kuliah di Jakarta, tapi sering kelayapan nggak jelas. Kamu kira panutanmu itu, jadi pengacara hebat karena sering main gitar di pos ronda?” Tini mengomeli adiknya.
“Aku kuliah di Jakarta. Aku mau kayak mereka. Mas Heru, Mas Bara, Pak Santoso, dan itu bosnya. Aku juga mau kayak gitu. Semua yang dateng keren-keren. Pria-pria penakluk wanita yang luar biasa,” bisik Dayat.
“Kamu nggak nyebutin nama suamiku. Kuliah di Jakarta pakai duitmu sendiri. Bawa gitarmu ke Jakarta buat cari duit,” kata Tini.
Dayat mencubit pelan pinggang kakaknya saat mendengar hal itu. “Mas Wibi itu bagiku pahlawan, Mbak. Dia superhero. Dia menyelamatkan masa depan kita semua. Kalau perlu jalan ini—”
“Mau ngasi nama jalan ini pake nama suamiku? Cari jalan lain. Evi udah mau bikin namaku buat jalan ini,” potong Tini.
Di pintu keluar, Dayat menghampiri Asih. "Kalau ada sumur di ladang, boleh kita menumpang mandi. Kalau nggak ada, kita tetep harus ketemu lagi."
Musdalifah mencibir sekaligus terkekeh. Asih hanya mendengus meninggalkan Dayat.
Dean yang sempat mendengar hal itu, tergelak. Ia langsung menunjuk Dayat dan berkata, "Belajar yang rajin!"
Semua rombongan dari Jakarta sudah kembali bersamaan. Dean akan meneruskan perjalanannya ke Solo dan keluarga Pak Wimar katanya akan ke Yogyakarta.
Para penghuni kandang ayam memberikan hadiah kepada Tini sebuah speaker portabel yang menjadi favoritnya selama ini. Kado itu adalah hasil patungan Mak Robin, Boy, Dara dan Asti. Sedangkan Dijah memberikan selusin daster batik cantik dan diiringi bonus yang katanya akan dia hadirkan pada waktu yang tepat.
Hari menjelang sore dan Tini turun dari pelaminan untuk kembali ke kamar pengantin mengganti busananya dengan kebaya yang lebih santai.
“Hiburan di sini sampai jam berapa, Tin?” tanya Dijah saat hendak berpamitan pada Tini.
“Aku mintanya sampai sore aja,” kata Tini. “Pusing, Jah.”
Mendengar hal itu, Dijah langsung berbisik. “Harusnya biarin aja sampe tengah malem. Biar semua orang fokus ke hiburan. Kamu, kan, nggak perlu keluar lagi.” Dijah menaikkan alisnya dan tersenyum nakal pada Tini.
“Best ide sepanjang masa. Ya, udah. Kamu pulang sana.” Tini terkikik-kikik menggandeng lengan Wibisono menuju mobil Alphard yang menunggunya.
Ternyata, saat bergandengan menuju mobil, Coki dan Siti kembali melintas ke arah luar. Mereka semua beradu pandang.
“Suamimu, Tin?” sapa Coki berbasa-basi, mengangguk kecil dan mendongak memandang Wibisono yang lebih tinggi darinya.
“Ya, iya. Masa aku bersanding di pelaminan dengan suami orang. Aku bisa cari sendiri,” sahut Tini terkekeh seraya melirik Siti. “Duluan, ya. Istrimu jangan ngambek terus. Enggak baik untuk bayinya.” Tini menyambut uluran tangan Wibisono yang membantunya naik ke mobil.
“Kayaknya kita memang perlu beli dingklik, Tin,” canda Wibisono berbisik.
“Kan, ada Mas yang bisa gendong aku,” sahut Tini terkikik-kikik menyebalkan.
To Be Continued