TINI SUKETI

TINI SUKETI
65. Training Hari Pertama



“Nunggu Mas Bayu selesai S2, Mbak. Sekalian ngumpulin uang. Mas Bayu sekarang lagi nyusun tesis. Sebentar lagi selesai. Memangnya kenapa? Mbak Tini mau nikah sama Pak Agus? Atau sama Mas Wibi yang nyium Mbak Tini kemarin?” Asti bertanya hal itu dengan nada biasa saja. Tini sedikit berjengit saat mendengar pertanyaan terakhir Asti soal Wibi.


“Aku cuma nanya aja,” sahut Tini.


“Ah, masa, sih …. Enggak percaya aku. Pasti ada sesuatu. Ayo, cerita. Aku, kan, bukan orang lain lagi. Kita semua udah lebih dari saudara.” Asti mengusap lengan Tini yang sejak tadi digelayutinya.


“Sebenarnya ini rahasia. Yang tau cuma kamu. Tapi kamu jangan bilang siapa-siapa, ya.” Tini memandang Asti dengan raut super serius.


Asti mengangguk mantap.


“Wibi ngajak aku buat ketemu orang tuanya di Surabaya. Dia bakal jemput aku, As.” Tini tersenyum kemayu menatap Asti.


Sedangkan Asti melepaskan gelayutannya di lengan Tini dan menutup mulutnya. “Mbak Tiiiin …. Aku seneng banget dengernya.” Mata gadis itu seketika berkaca-kaca. “Aku sampe merinding. Mas Wibi …. Laki-laki sejati, Mbak. Aku seneng! Enggak sabar!” pekik Asti setengah terlonjak kembali merangkul tangan Tini.


“Aku juga nggak nyangka. Selama aku ketemu laki-laki, kayaknya cuma sama Wibi ini yang pikiranku nggak ngarepin apa-apa. Aku cukup kagum aja. Ganteng, bercambang yang bikin merinding. Lesung pipinya …. Ya, ampun, As. Aku bakal bisa liat lesung pipinya tiap pagi kalau udah jadi istrinya.” Tini terkikik-kikik menutup mulutnya.


“Seneng, Mbak! Aku bahagia!” pekik Asti lagi.


“Tapi kamu jangan ngomong ke siapa-siapa dulu, As. Nanti kalau nggak jadi, aku bisa malu.”


“Iya, ih! Masa nggak percaya sama aku,” ucap Asti.


Wajah keduanya sumringah saat berpisah menumpangi angkot berbeda menuju kantor yang mereka tuju. Perasaan Tini pagi itu sangat baik. Ia merasa tak akan gentar menghadapi pria dingin pemilik saham yang akan menjadi mentor trainingnya di kantor itu.


Tini tiba pukul delapan pagi lebih sedikit. Perjalanan ke kantor itu ternyata menghabiskan waktu hampir empat puluh menit dengan angkot. Usai dari toilet untuk kembali merapikan dandanan dan menyemprotkan splash cologne, Tini memutuskan menunggu pukul sembilan dengan duduk di sofa lobi.


Ia baru menyilangkan kakinya dengan anggun saat seseorang melintas di depannya. Sepatu kulit mengkilap dan celana bahan berwarna abu-abu. Tini mendongak ke atas untuk melihat pria yang baru saja melintas dengan parfum yang wanginya seakan memenuhi seluruh lobi gedung.


“Ikut saya,” pinta laki-laki itu. Langkahnya sangat cepat sampai Tini sedikit sulit menjajarinya. “Udah lama nyampe?” tanya pria itu, menekan tombol lift dengan punggung jari telunjuknya yang ditekukkan.


“Baru, Pak Dean,” jawab Tini, mengekor langkah Dean masuk ke dalam lift dan berdiri di belakang pria itu. Memperhatikan bagaimana pria itu mengeluarkan sapu tangan untuk menyeka jarinya yang baru saja digunakan untuk menekan tombol lift. Tini mendongak untuk melihat penampilan pria itu dari atas ke bawah. Licin sekali, pikirnya.


“Seperti janji saya ke kamu, kalau kamu menerima tawaran Cahaya Mas, saya akan ambil polis untuk keluarga saya. Gimana?" Dean menoleh ke belakang sekilas lalu berjalan keluar lift saat pintunya terbuka.


“Tapi, saya udah keluar dari sana, Pak. Apa gunanya? Maksudnya … memang itu masih masuk penjualan saya. Tapi apa gunanya Bapak beli polis di perusahaan yang udah saya tinggalkan,” ucap Tini dengan suara pelan.


Dean menghentikan langkahnya dan memutar tubuhnya untuk melihat Tini dari atas ke bawah.


“Kesan,” ucap Dean.


“Ya?” Tini terperangah masih tak mengerti.


Tini mengangguk-angguk.


“Kamu nggak usah bohong. Kamu pasti belum ngerti. Pelajaran selanjutnya, jangan coba-coba bohongin saya.” Dean mengeluarkan ponselnya sambil berjalan.


“Baik, Pak.” Tini mengangguk meski Dean tak bisa melihatnya. Untuk berjaga-jaga siapa tahu laki-laki itu juga punya mata di belakang kepalanya.


“Kamu bisa cetak polisnya hari ini?” tanya Dean.


Tini mengangguk.


“Kalau gitu saya telfon istri saya agar ke sini siang nanti,” lanjut Dean.


Di belakang Dean, Tini membelalak. Luar biasa pikirnya. Padahal ia tak ada bersuara, tapi laki-laki itu bisa tahu ia mengangguk. Tini menatap kagum ke arah punggung Dean.


“Kamu jangan gitu ngeliat saya. Jangan libatkan diri kamu dalam masalah dengan memandang saya kayak gitu,” tukas Dean.


“Bapak, kok, bisa—”


“Ini lorong kaca, Suketi. Liat kanan-kiri kamu,” ketus Dean, lalu berdecak.


Dasar kampret, pikir Tini. Baru hari pertama kerja, kebodohannya sudah terpapar nyata.


Tak berapa lama kemudian, mereka tiba di depan sebuah pintu bertuliskan ‘Meeting Room 2’. Dean menghentikan langkahnya saat meletakkan ponsel di telinga.


“Halo? Win? Lagi ngapain, Sayang? Siang nanti siap-siap datang ke kantor pusat, ya. Anak-anak kalau mau dibawa juga nggak apa-apa. Nanti siang kita makan sama-sama. Aku udah kirim pesan ke Novi. Iya—iya, Sayang …. Terserah Bu Winar maunya gimana. Bapak tunggu di sini. Pakai apa aja, yang penting jangan terbuka. Istrinya Pak Dean selalu cantik.”


Usai Dean mengakhiri pembicaraannya, matanya langsung melirik Tini. “Kamu nguping, ya?” tanya Dean memandang Tini.


“Iya, Pak. Dengan jarak dua langkah, kalau saya bilang saya nggak dengar, Bapak pasti bakal ngomong kalau telinga saya bermasalah.” Tini merapatkan mulutnya memandang Dean.


“Bagus! Saya suka pegawai yang cepat beradaptasi.” Dean menekan handle pintu dan melangkah masuk ke ruangan.


To Be Continued


Hari ini cukup tiga, ya .....


Terima kasih untuk yang sudah menunggu.