TINI SUKETI

TINI SUKETI
131. Melangkah Bersama



“Tini udah sukses sekarang. Jadi makin sering ngasi nasehat,” sindir Boy, mencibir menatap Tini.


“Jangan iri—jangan iri. Kalau ada orang yang sukses dari kamu, jangan iri. Harusnya tanya kunci kesuksesannya,” kata Tini sambil menarik satu rambut putih dari kepala Mak Robin.


“Apa kuncinya?” tanya Boy.


“Kunci kesuksesan itu sebenarnya hanya ada dua,” sahut Tini.


“Apa—apa?” tanya Boy setengah menantang.


“Kunci dan kesuksesan. Hanya dua itu,” jawab Tini kalem.


“Kok, bisa-bisanya Mas Wibi mau,” gumam Boy, menyandarkan tubuhnya di kursi plastik.


“Ya, karena dua kunci itu,” ucap Tini terkekeh-kekeh.


“Itu Mbak Dijah!” seru Asti menunjuk pagar. Dijah menggendong Mima dan menggandeng Dul di satu tangannya.


“Kok, lama?” tanya Tini, menatap Dijah yang menyongsong mereka.


“Mima tidur nyenyak banget. Mau aku bangunin aja, kok, kasian. Jadi aku tunggu sebentar.” Dijah langsung duduk di kursi plastik yang sediakan Boy untuknya.


“Eh, Robin! Kau letakkan hape itu. Ini si Dul datang. Bergerak la kau sikit. Jangan bersarang aja kau di atas tempat tidur itu,” seru Mak Robin pada anaknya.


“Sibuk kali Mamak ini. Suruh masuk aja si Dul.” Robin bangkit dari ranjang dan pergi ke depan pintu. “Dul, ayo masuk. Maen game sama-sama. Game di hape,” kata Robin sambil menggaruk-garuk bokongnya.


Dijah buru-buru merogoh tasnya. “Dul, ini.” Dijah menyodorkan ponselnya.


“Boleh nonton Yutub?” tanya Dul, memandang ibunya.


“Boleh. Tapi nontonnya jangan deket-deket. Anak tetangga Budhe di kampung, matanya jadi putih semua. Enggak ada itemnya lagi, karena keseringan nonton Yutub,” kata Tini.


Dul mengernyit, lalu mengangguk. Bocah itu pergi mengikuti Robin yang masuk ke dalam kamar.


“Serius, Tin? Anak tetanggamu kayak gitu? Umur berapa? Kasian banget,” ucap Boy dengan wajah prihatin.


“Kamu percaya? Dul aja masih mikir-mikir, Boy. Maksud hati mau nakut-nakutin anak kecil biar nggak terlalu sering pakai gadget. Taunya yang tertipu malah yang tua,” ujar Tini.


Boy melayangkan satu pukulan di lutut Tini. Asti tertawa melihat wajah kesal Boy.


“Dijah udah dateng. Mari kita merenungkan tujuan berkumpulnya kita hari ini. Jah … Mak Robin rencananya mau pindah juga.” Tini menghentikan pencarian ubannya dan menyerahkan pinset pada Mak Robin. “Udah habis ubanmu. Aku mau cuci tangan dulu. Asti bawa roti bakar. Aku nggak mau ikut mengkonsumsi ketombemu, Mak.” Tini berdiri dan menggeser kursi. Mak Robin memukulkan sisir pada bokong Tini saat wanita itu berjalan melewatinya ke kamar mandi.


“Bener mau pindah, Mak?” tanya Dijah, memandang Mak Robin.


“Iya. Nanti kalo udah siap semuanya barang-barang kupindahkan, kuundanglah buat kumpul-kumpul. Sebenarnya rumah baruku itu enggak jauh. Tapi kelen harus melalui banyak hal untuk bisa sampe ke sana,” kata Mak Robin.


“Jangan ragukan alumni kandang ayam, Mak. Setiap orang yang bisa bertahan hidup di kandang ayam, artinya bisa hidup di belahan dunia mana pun.” Tini kembali duduk di kursinya.


“Rotinya, Mbak.” Asti menyodorkan kotak roti ke pangkuan Dijah. “Ini Mas-nya Mbak Dijah yang beliin. Eh, Pak Bara maksudnya. Pak Bara yang minta tolong beli untuk dibawa ke sini.” Asti tertawa.


“Mas-ku juga udah termasuk alumni kandang ayam, Tin.” Dijah membuka kotak roti dan menyodorkannya ke semua penghuni. “Kamu gimana, Boy? Ikut pindah juga?”


“Aku nemenin Asti sampai dia nikah sama Bayu. Kasian kalo di sini sendiri. Nanti setelah Asti nikah, aku pindah ke ruko aja, Jah.”


“Kamu enggak nikah?” tanya Dijah.


“Aku masih males. Cita-citaku ada yang belum tercapai. Kalo bahagianya Mak Robin punya rumah sendiri dan Pak Robin dapet proyek yang deket, bahagianya kamu jadi ibu rumah tangga biasa, aku bahagianya kepingin jalan-jalan dulu, Jah. Kepingin keliling dunia, solo traveling sebelum aku berumah tangga. Jadi, sekarang aku masih ngumpulin uang. Usaha roti juga udah stabil,” jelas Boy.


Dijah mengangguk. “Bener, Boy. Senengnya orang memang beda-beda. Berarti sekarang udah seneng, ya, Boy?”


“Seneng, Jah. Kerja usaha sendiri. Enggak diperintah-perintah dan enggak dimanfaatin temen sekantor karena terlalu baik,” cetus Boy.


“Kalau enggak mau dimanfaatin itu gampang, Boy. Jadi orang nggak bermanfaat aja. Pasti nggak ada yang manfaatin,” ujar Tini.


Boy kembali melayangkan satu pukulan di lutut Tini. “Sementang udah punya suami, makin belagu,” kata Boy.


Tini terkekeh-kekeh. “Guyon, Boy. Diambil pelajarannya aja. Berarti kamu lebih bermanfaat ketimbang temenmu.” Tini menendang kaki Boy dan pria itu seketika menghindar.


Mima yang sejak tadi tidur nyenyak dalam kain gendongan, menggeliat dan melongokkan kepalanya keluar.


“Eh, Mima … sini sama Budhe,” ajak Tini mengulurkan tangannya. Entah karena masih mengantuk atau memang sudah luluh dengan usaha Tini, Mima membalas uluran tangan Tini dengan mencondongkan tubuhnya.


“Gadis pinter ini. Mau roti?” Tini mengangkat kotak roti dan menunjukkannya pada Mima. Balita itu menggeleng. “Ya, udah. Duduk di pangkuan Budhe aja, ya." Tini merapikan rambut ikal Mima yang mencuat ke sana kemari.


Sejak tadi banyak diam dan mendengarkan obrolan teman-temannya, Asti sedikit tersipu saat semua mata menatapnya dan bertanya soal lamaran. “Bulan depan, Mbak.” Asti nyengir.


“Ternyata jadi juga sama Bayu,” ucap Tini.


“Walau jalannya sempat berliku,” sambung Dijah.


“Yang namanya jodoh pasti ketemu.” Mak Robin ikut menimpali.


“Mas Wibi tau nggak kalau Bayu sempet suka sama kamu?” tanya Boy, memandang Tini.


Tini mendengus menatap Boy, “Harusnya sambungannya enggak kayak gitu. Apanya yang harus dikasi tau? Soal Bayu? Enggak penting banget ngomongin itu ke Mas-ku. Kenapa nggak sekalian aja cowok-cowok yang suka samaku dari jaman SD aku ceritakan semua? Aku itu kayak jalan pintas Bayu untuk nyampe ke tujuannya. Sesederhana itu aja, Boy. Pikiranmu jangan terlalu pelik.”


Gantian Boy yang mencibir. “Lamarannya di mana? Di kampung? Nanti aku dateng sama Dara,” kata Boy pada Asti.


“Lamarannya aku nggak bisa dateng, ya, As. Aku udah banyak izin ke kantor. Nanti resepsinya aku dateng dari pagi,” janji Tini.


“Aku juga sama, As. Resepsinya pasti dateng. Kalau resepsi biar Mas Bara ngambil cuti sekalian buat jalan-jalan. Orang kantor pasti dateng semua,” timpal Dijah.


Asti tersenyum dan mengangguk mengerti. Beberapa detik, semuanya terdiam.


“Kelen nggak nanya aku? Aku belum bilang apa-apa,” kata Mak Robin.


“Udah tau. Kamu pasti mau bilang, ‘aku juga kek gitu, As.’ Kami udah tau,” sambung Tini.


“Resepsinya kapan, As?” tanya Dijah.


“Paling lama tiga bulan dari lamaran,” jawab Asti. “Mas Bayu udah ketemu kontrakan di deket kantor. Makan siang bisa pulang ke rumah,” ujar Asti terkekeh.


“Ikut seneng, As,” ucap Dijah memandang Asti dengan rautnya yang biasa saja.


“Makasi, Mbak Dijah. Doain semuanya lancar-lancar, ya.”


“Pasti,” sahut Dijah.


Mendadak Boy berdiri dari kursinya. Sontak semua memandang karena terkejut.


“Mau apa? Ngagetin aja. Mima sampe melotot gini,” sergah Tini, mengusap-usap dada Mima yang terperangah menatap Boy.


“Aku mau ambil speaker. Kita nyanyi sama-sama. Siapa tau hari ini terakhir kita bisa ngumpul semua. Sebentar lagi Dara pulang,” kata Boy.


Boy masuk ke kamarnya dan tak lama kemudian keluar sambil menyeret speaker.


“Cek—cek, satu, dua, tiga dicoba. Duet terakhir di kandang ayam bersama Bunda Tini,” ujar Boy, menyerahkan mic pada Tini. “Baik, Bunda dipersilakan berdiri,” pinta Boy.


Bersamaan dengan itu, Wibisono muncul di pagar sambil membawa dua bungkusan di kedua tangannya.


“Wah … kebetulan udah mau mulai hiburannya. Aku dateng di waktu yang tepat,” kata Wibi.


Boy terdiam salah tingkah. “Enggak jadi duet. Kamu duluan nyanyi. Aku masih kaku sama Mas-mu,” bisik Boy, menusuk lutut Tini dengan ujung mic.


“Baiklah, buat Mas-ku yang baru dateng dengan senyum penyejuk hati. Puter Memandangmu – Ike Nurjanah, Boy.” Tini nyengir dan berdiri dari duduknya. Memberikan kursi yang tadi didudukinya untuk ditempati Wibisono.


Namun, Wibisono menahan lengan Tini agar tetap duduk. Pria itu meletakkan bungkusan di pangkuan istrinya, dan pergi menyeret kursi lain dari depan kamar Dara.


“Buat makan malam kita semua,” kata Wibi, menunjuk bungkusan besar di pangkuan Tini.


“Makasi, Mas,” ucap Tini. “Ambil, As. Buat makan malem. Kita tunggu Mas-nya Dijah,” ujar Tini.


Asti bergerak dengan gesit seperti biasa. Selaku yang termuda, ia memang terbiasa menjadi penyaji tiap mereka makan-makan. Asti mengangkat bungkusan dari pangkuan Tini dan meletakkannya ke dalam kamar Mak Robin. Ia lalu pergi menuju kamarnya untuk menyiapkan piring.


Memandangmu ….


Walau selalu ….


Tak akan pernah beri, jemu di hatiku.


Tini mulai bernyanyi sambil memijat lembut lengan suaminya.


To Be Continued