TINI SUKETI

TINI SUKETI
107. Hasil Keputusan Rapat



“Jadi, apa yang mau dibahas? Kayaknya udah lancar-lancar aja,” ucap Dijah, memandang Tini setelah selesai membagi-bagikan bahan pakaian.


“Begini … kemarin aku ketemu Coki waktu sosialiasi proposal ke pabrik. Itu istrinya masih dendam sama aku, Jah. Padahal aku sempet lupa sebentar. Ternyata … ckckck, Siti masih inget dan Coki masih sama,” ujar Tini.


“Masih sama apa?” tanya Dijah.


“Masih sama sok gantengnya. Sok paling oke. Aku bergidik, Jah. Sekarang aku baru sadar sebodoh apa aku dulu. Kok bisa-bisanya aku menganggap dia pria paling ganteng di kampung. Padahal setelah diamat-amati, dia dan Pak Paijo cuma beda tipis,” jelas Tini.


“Jadi sekarang perasaannya udah beda? Budhe udah terbuka pikirannya,” sahut Bara yang tak sadar ikut menimpali.


“Iya, dong, ayahnya Mima. Dulu Budhe Tini ngerasa langit di Desa Cokro itu adalah langit paling tinggi. Ternyata setelah sampai kota, Budhe Tini sadar kalau langit itu banyak lapisannya. Tapi sekarang malah khawatir kalau pestaku nanti terjadi hal yang nggak aku inginkan. Maklum, di kampungku itu masih sering terjadi hal-hal aneh. Apalagi aku dulu sempat mensabotase resepsi mereka.” Tini menjelaskan pada Bara dengan raut serius.


“Memangnya kamu ngapain?” tanya Bara tak kalah seriusnya. Ia sama sekali belum pernah mendengar soal itu sebelumnya.


Semua penghuni kos saling pandang. Lalu, “Nutup jalan!” seru semua penghuni kos nyaris serentak.


Tini tertawa terbahak-bahak seraya mengguncang-guncang tubuh Dijah. “Aku ini legenda dari Desa Cokro yang pernikahannya dinantikan seisi desa. Ada yang senang akhirnya aku menikah, tapi kayanya lebih banyak yang penasaran dengan laki-laki mana aku menikah. Yang nggak suka bakal nunggu untuk ngomongin aku kalau calonku aneh.”


“Astaga …,” ucap Bara sambil memeluk Mima. “Untung Mima masih kecil.” Bara mengusap-usap kedua telinga putrinya. Mima memandang ayahnya dengan raut heran.


“Oooo, itu yang kau peningkan. Paham aku sekarang,” ucap Mak Robin, manggut-manggut.


“Iya juga, ya …. Bisa kacau kalau pesta Mbak Tini dibikin hal yang sama. Apalagi rumahnya sama-sama masuk gang. Bisa jadi mereka bakal dendam. Mbak Tini pernah cerita kalau bapaknya Mbak Kus itu kesel banget dengan Mbak Tini. Aku jadi serem,” ucap Asti.


“Eh, si Tini juga punya Bapak. Diadu aja Bapak orang itu. Siapa yang menang. Diadu secara jantan,” usul Mak Robin.


“Yang sering diadu itu ayam bapakku, Mak. Bapakku belum pernah,” jawab Tini.


“Wah, sayang,” sahut Mak Robin. Bara yang mendengar sudah mulai menggelengkan kepala.


“Gimana kalau pesta di hotel? Duit Mas-mu pasti banyak. Hotel di kota pasti nggak akan terlalu mahal. Atau sewa gedung,” usul Boy.


“Susah, Boy. Pengalaman pernah ada yang pesta di gedung. Anaknya Pak Camat. Malah sepi. Orang-orang desa malah sungkan mau dateng. Termasuk aku. Malu, Boy. Bingung mau ngamplop berapa kalau pestanya di gedung. Dulu aku nggak dateng karena ngerasa nggak punya baju bagus. Terus ke kota jauh. Keluar uang lagi buat kendaraan. Jaman itu ongkos ojek ke kota udah bisa buat belanja dua hari. Aku nggak mau memberatkan. Lagipula aku mau pesta di rumah. Biar ibuku seneng. Kata ibuku dulu, aku satu-satunya anak yang lahir pakai dukun beranak dan lahir di rumah. Aku lahir waktu gerhana bulan. Evi dan Dayat lahir di puskesmas sama bidan,” tutur Tini panjang lebar.


“Akhirnya terjawab sudah keganjilan-keganjilan selama ini,” ucap Bara dengan wajah puas. Semua mata melihat Bara, tapi pria itu menimang-nimang Mima tanpa merasa bahwa ucapannya mengalihkan pandangan semua orang padanya.


“Betol juga si Bara,” celetuk Mak Robin.


Tini menghela napas sambil mengembangkan hidungnya menatap Mak Robin.


“Aku punya usul, Mbak. Ada yang nerima tamu mulai dari simpang jalan. Jadi tamu-tamu nggak bisa dipaksa pulang,” usul Asti.


“Aku juga berpikiran kaya gitu,” sahut Tini.


“Aku bisa jaga simpang, Tin. Aku pake tas pinggang buat jaga-jaga siapa tau ada yang ngamplop. Kamu jangan ragukan soal hitunganku, aku udah biasa dagang,” janji Boy, menepuk-nepuk bahu Tini.


“Konsepnya nggak kaya gitu, Boy,” jawab Tini, mendengus menatap Boy.


Bara mulai menimang Mima dengan serius. Sepertinya balita itu mengantuk dan terhanyut karena tepukan-tepukan lembut Bara di pahanya.


“Ngantuk, ya, Nak? Dengerin dongeng soal Legenda Desa Cokro dari Budhe,” ucap Bara, mengusap wajah Mima.


Dul dan Robin kemudian datang mendekati ibu mereka masing-masing.


“Mau apa?” tanya Dijah saat Dul duduk di pangkuannya. “Adik Mima tidur, Dul nggak ngantuk?” tanya Dijah.


“Boleh makan es krim lagi?” tanya Dul, memandang ibunya.


“Boleh—boleh. Mas Dul bawa temennya ke belakang. Pilih mau yang mana,” sahut Bara.


Dul segera berdiri dan menarik lengan Robin. “Makasih, Ayah,” ucap Dul sebelum kembali meninggalkan orang dewasa di ruang tamu.


“Tapi hari ini udah makan es krim,” sahut Dijah.


“Kan, nggak sering-sering. Ibunya jangan cerewet banget,” ucap Bara.


“Nanti sakit perut,” balas Dijah tak mau kalah.


“Enggak tiap hari makan dua atau tiga. Dul juga pasti ada bosennya,” jawab Bara.


“Berani ngomong gitu karena tadi udah,” bisik Dijah, melirik Bara saat teman-temannya yang lain sedang berbicara.


Bara terkekeh, “Siapa bilang? Malem masih bisa,” sahut Bara tertawa geli. Dijah langsung mencebikkan bibirnya. Saat memalingkan wajah dari Bara, Dijah langsung bertatap muka dengan Tini.


"Mesti wis ora iso turu nunggu Malam Pertama." (Pasti udah nggak bisa tidur nunggu malam pertama.) Dijah terkekeh mengalungkan lengannya di bahu Tini. Bara mulai mengernyit. Sepertinya Dijah akan balas mengisenginya.


"Kowe ndisik piye?" (Kamu dulu gimana?) Tini balik bertanya seraya melirik Bara.


"Yo podo. Pokokmen turu kuwi mergo kesel, ora mergo ngantuk. Wis jajalen kabeh." (Ya sama. Pokoknya tidur karena capek, bukan karena ngantuk. Dicobain semua.) Dijah berkata dengan raut serius.


"Gak bisa kelen bahasa Indonesia?” tanya Mak Robin, menatap Dijah dan Tini bergantian.


“Sabar. Ini membicarakan ranah yang lain. Rahasia,” ujar Tini.


"Ojo omong jowo mengko Masku ndak curigo dikiro gek dirasani." (Jangan ngomong jawa nanti masku curiga diomongin.) Dijah melirik Bara yang mulai mengernyit. Suaminya itu seakan sedang berusaha keras untuk mengerti pembicaraan mereka.


“Udah dari tadi,” sahut Tini. “Mas-mu kuwi ora curigo nek dirasani. Mung dek'e kuwi penasaran karo opo sing diomongke awak dewe." (Mas-mu ini bukan curiga diomongin, tapi dia memang penasaran sama semua yang kita omongin.)


Tini dan Dijah saling pandang dan tertawa terkikik-kikik saling dorong bahu. Mak Robin berdecak kesal. Boy dan Asti juga. Tapi dari semuanya, Bara yang paling kesal mendengar tawa cekikikan istrinya dan Tini.


"Mengko ojo lali munggah seko tengen mudhun seko kiwo." (Nanti jangan lupa naik dari kanan turun dari kiri.) Dijah kembali mengingatkan Tini seraya tertawa.


"Nek meh munggah tapi ora medhun-medhun, iso to?" (Kalau mau naik nggak turun-turun, bisa kan?)


“Iso, Tin … iso,” (Bisa, Tin ... Bisa,) sambut Dijah.


“Ya, udah. Gitu aja, kan? Pakai pagar bagus dari simpang jalan. Gimana? Biar ada kepastiannya. Kasian Mas itu kalau ikut menanggung derita karena ulahmu. Apalagi kalau keluarganya sampai tau. Bakal pulang sekeluarga. Namamu lebih jadi legenda,” kata Boy.


“Amit-amit, Boy. Amit-amit …,” sahut Tini, memukul punggung Boy sekeras-kerasnya sampai Boy tersedak.


“Sebenarnya ada satu ide yang paling jelas,” kata Asti.


“Tunggu dulu. Hapeku bunyi,” ujar Tini, meraih tasnya dan langsung melihat layar ponsel. “Bosku ini. Jangan ada yang berisik. Aku jawab telepon sebentar,” ucap Tini, meletakkan telunjuknya di bibir.


“Aku udah kalah sibuk dari Tini, Jah,” bisik Bara seraya mencibir. Dijah terkikik dan bangkit. Ia pindah duduk ke sofa di sebelah Bara. Pandangannya tertuju pada Tini sambil mengusap-usap kepala Mima yang tertidur.


“Serius, Bu? Aduh … saya jadi deg-degan. Ya, ampun … astaga … saya harus ngomong apa?” ucap Tini di telepon.


“Padahal udah banyak ngomong,” bisik Bara pada Dijah. Dijah mencubit pipi suaminya dengan gemas.


“Baik, Bu. Senin, kan? Ya, ampun. Saya sampai gemeter. It’s mirekel (miracle/keajaiban), anbelipebel (unbelievable/tak dapat dipercaya),” ucap Tini ngos-ngosan.


Tini mendekap ponselnya di dada.


“Berita apa?” tanya semua orang di sana kecuali Bara. Meski tak bertanya, pria itu menegakkan tubuhnya menanti.


Tini menutup wajahnya dan menangis tersedu-sedu. Ia lalu berkata, “Itu atasan langsung marketing, Bu Larasati. Katanya dua proposalku ke pabrik disetujui. Dua pabrik itu menjalin kerja sama dengan perusahaanku. Ya, ampun, Jah … Mak, semuanya … kayaknya Tuhan lagi sayang-sayangnya sama aku,” ucap Tini kembali terisak.


"Rejeki kowe, Yat ….” (Rejekimu, Yat ....) Tini kembali menangis saat mengingat adik bungsunya.


To Be Continued