TINI SUKETI

TINI SUKETI
50. Hari Melelahkan



“Nah … itu kamu tau,” sahut Pak Hamit, menjentikkan jarinya ke arah Tini.


Tini menarik napas dan menghelanya dengan keras. Emosinya sudah sampai di puncak kepala.


“Gini ya, Pak. Saya nggak tau gimana kerjaan agen asuransi selama ini. Tapi selama saya jadi agen asuransi, saya selalu menandatangani berkas dengan nasabah saya di atas meja. Bukan di atas perut. Kalau ujung-ujungnya saya mau begituan, saya nggak perlu capek-capek jualan polis.” Tini berdiri dari kursinya.


“Sombong banget, sih, Mbak. Artis aja mau nemenin saya,” ucap Pak Hamit.


“Yah, panggil artis aja kalau gitu. Ngapain panggil agen asuransi? Gitu aja, kok, repot. Saya permisi dulu, Pak. Nice to meet you! (Senang berkenalan denganmu!)”


Tini keluar dari hotel itu terburu-buru. Dadanya terasa berdenyut menahan sakit. Hidup yang sudah dimulainya dengan baik, ternyata tak berarti apa-apa buat orang lain. Sebegitu sulitnyakah mencari nafkah halal untuk keluarga?


Tini kembali ke kantornya dengan menumpangi sebuah ojek. Perutnya lapar dan uangnya sudah banyak habis untuk transportasi ke sana kemari. Kalau dihitung-hitung, totalan ongkosnya bisa untuk makan di rumah makan Padang selama dua hari.


Satpam mengatakan kalau Agus sedang keluar bersama Ayu. Dan saat tiba ke ruangannya pun, tiga bawahannya sedang tak ada. Cocok sekali pikir Tini. Saat itu ia sedang mau menangis. Terburu-buru ia masuk ke ruangan yang pintunya terbuka dan mencampakkan tasnya ke meja.


Ruangannya berada di sudut. Tak ada yang akan melalui ruangan itu selain Agus atau pegawai lain yang punya kepentingan datang ke tempat itu.


Tini melipat tangannya di atas meja dan membenamkan kepalanya. Hari itu ia terlalu letih. Keletihan yang ia rasakan tak hanya karena ke sana kemari, tapi juga harapan yang ditanamnya.


"Sakjane aku yo ora njaluk kudu sugih. Aku yo ora njaluk dimelasi. Nyupang yo mesti sabar. Kurang turu mergo nunggoni lilin. Aku mung njaluk diajeni. Tapi wis usaha kok tambah angel. (Padahal aku nggak minta langsung kaya. Aku nggak minta dikasihani. Ngepet juga harus sabar, kurang tidur nungguin lilin. Aku cuma minta dihargai. Tapi makin usaha kok kayaknya makin sulit.)” Tini menggenggam ujung rambutnya saat mengatakan itu. Isak tangisnya masih terdengar di sela-sela ratapannya.


"Urip krosone koyo kejar setoran. Sarate mbojo jarene kudu prawan. Urip ning ndunyo kok akeh aturane yo.... Dadi gelo aku mudun seko kayangan. (Hidup berasa kejar setoran. syarat nikah katanya harus gadis. Hidup di dunia banyak aturannya, ya. Jadi nyesel turun dari kahyangan.)”


Tok Tok Tok


Terdengar ketukan dari pintu ruangannya yang terbuka. Tini meraba-raba isi tasnya. Lalu buru-buru menghapus air matanya dengan kepala masih menunduk. Saat tengah sibuk menyeka ingusnya dengan selembar tisu yang ditariknya dari dalam tas, terdengar suara yang belakangan familiar di telinganya.


"Maaf ngganggu. Lawange mbukak. Aku jane meh ono perlu karo awakmu. Ning anggone saiki aku mung arep ngrungokke awakmu crito opo sek wis mbok lakoni sedino iki. (Maaf mengganggu. Pintunya terbuka. Sebenarnya aku ada keperluan dengan kamu. Tapi untuk sekarang, aku siap dengarkan cerita tentang apa yang kamu lalui hari ini.)”


Wibi muncul di bawah gawang pintu ruangan. Tini masih mengusap pipinya yang basah saat melihat lesung pipi Wibi. Pria itu sedang tersenyum kepadanya.


To Be Continued


Segini dulu ya ebo-eboooo njuss lagi liburan ke Bandung mau ketemuan ama Gallon dan Chida.


Mmuaaahhh