TINI SUKETI

TINI SUKETI
85. Jatuh Cinta Yang Sebenarnya



Wibisono pamit pulang sambil terkekeh-kekeh mengacak rambut Tini. Evi yang bingung hanya mengangguk-angguk saja saat pria itu berlalu dari kamar mereka. Sedangkan Tini langsung menjatuhkan dirinya di ranjang yang sejak tadi ia idam-idamkan.


Tini berguling-guling dan menutup wajahnya dengan bantal. Ia memejamkan matanya sesaat dan kembali membayangkan ciumannya bersama Wibisono yang terjadi sesaat yang lalu dibalik pintu.


Kemudian, ia teringat akan benturan kecil yang disebabkan oleh Evi. Tini mengangkat bantal dari wajahnya. “Kamu ini masuk ke kamar bukannya ketuk dulu. Ngagetin aku aja,” sergah Tini.


“Ngagetin gimana? Aku udah panggil tapi nggak ada sahutan. Pintunya nggak ditutup rapet. Aku kira kamu mandi dan Mas Wibi udah pulang,” tutur Evi, membela dirinya.


“Hmmm ….” Tini kembali menutup wajahnya dengan bantal. Ia memeluk bantal itu erat-erat dan kembali memejamkan mata.


“Kamu tidur, Mbak? Enggak mandi dulu? Di sini ada air anget. Jangan tidur dulu,” seru Evi dari depan lemari. Ia sedang mengaduk-aduk tas pakaiannya.


“Aku sayang mau mandi sekarang. Nanti jejaknya di tubuhku bakal ilang. Aku mau bayang-bayangin lagi. Kamu sana mandi berendam sampe kisut. Atau kalau mau tidur di kamar mandi juga nggak apa-apa,” jawab Tini dari balik bantal.


“Ngomong apa, sih? Aku nggak denger. Suaramu mendep kena bantal,” sahut Evi.


Tini membuka bantalnya. “Kamu mandi duluan aja. Mau tidur sekalian di kamar mandi juga nggak apa-apa,” ulang Tini terkekeh-kekeh.


Keindahan momen yang baru saja terjadi di balik pintu, mustahil ia bagikan pada Evi. Hanya satu manusia yang bisa mendengar ceritanya itu tanpa terheran-heran. Hanya Dijah. Hatinya sudah jumpalitan dan tak sabar ingin bertemu sahabatnya itu untuk mengeruk semua cerita sampai kandas dan diceritakan. Lalu membayangkan ucapan Wibisono yang menjanjikan bakal bertetangga dengan Dijah, hati Tini semakin terasa meletup-letup.


Samar-samar Tini mendengar suara pintu tertutup. Evi sudah masuk ke dalam kamar mandi dan Tini segera mencampakkan bantalnya. Tini menengadah telentang di atas ranjang. Tatapannya menatap langit-langit dan tangannya mengusap bibirnya perlahan. “Ternyata Mas-ku hot! Untung tadi kami nggak sampe terbakar dan perlu semprotan pemadam itu.” Tini terkekeh menutup mulutnya. “Apa semua acara keluarga ini nggak bisa langsung di-skip aja langsung ke malam pertama?” Tini kembali menarik bantal dan menutupi wajahnya.


“Omaigot, Mas …. Omaigot! Kejutan apa yang menantiku nanti?" Tini memekik sendirian seperti orang gila.


***


Benar seperti apa yang dijanjikan oleh Wibisono kemarin malam. Pagi sebelum pukul delapan, pria itu sudah muncul di lobi hotel. Wibisono sangat segar dengan rambutnya yang sedikit basah karena efek minyak rambut. Kemeja kremnya tergulung sampai ke batas siku dipadukan dengan jeans. Penampilan sederhana, namun berhasil membuat Tini salah tingkah.


Setiap beradu pandang dengan Wibisono, ia kembali terbayang wajah pria itu yang sedang memejamkan mata. Hangat napas Wibisono pun seakan masih mengembus kuduknya. Tini bergidik. Alhasil, karena tingkah kemayunya itu, Tini tak merasa lapar saat sarapan. Perutnya terasa penuh hanya dengan menatap Wibisono berkali-kali.


“Kamu yakin udah kenyang? Memangnya tadi ada makan apa?” tanya Wibi.


“Udah makan cemilan sedikit. Memang lagi nggak selera makan,” jawab Tini.


Mereka semua sedang mengelilingi meja bundar di restoran dekat lobi. Evi dan Dayat makan seperti berada di sebuah pesta. Tidak mengambil porsi banyak, hanya sedikit, tapi bermacam-macam. Sedangkan Tini hanya menusuk-nusuk potongan terakhir melon di piring kecil.


“Kamu jangan sampe kurus. Nanti gaun pengantinnya longgar. Aku nggak suka,” bisik Wibisono.


“Sudah selesai makan? Kita jalan, yuk? Katanya mau liat Tugu Pahlawan dari dekat,” tukas Wibisono pada Evi dan Dayat.


Dayat yang mulutnya penuh, mengangguk-angguk dan berdiri dari duduknya. Evi juga langsung berdiri menyampirkan tasnya ke bahu. Tini menoleh memandang wajah Wibi. Menatap fitur samping pria itu berlama-lama. Mengambil aji mumpung saat pria itu sedang sibuk berbicara dengan Evi.


Duh, rasanya tak percaya kalau sebentar lagi dia bisa bertemu wajah itu setiap pagi dan malam. Saat mau tidur dan bangun tidur. Tini mengatupkan bibirnya. Di saat bersamaan Wibisono menoleh memandang wajahnya. Tatapan mereka beradu penuh arti. Tak tahu apakah memiliki arti yang sama atau berbeda. Yang jelas, tatapan Tini semakin teduh menatap pria itu. Wibisono membuatnya merasa menjadi gadis usia belasan tahun. Sentuhan minim dari pria itu malah membuatnya semakin penasaran.


“Oalah, aku kira Tugu Pahlawan dan patung Sura dan Baya ini sama.” Dayat yang baru saja melihat simbol kota Surabaya itu tertawa terkekeh karena kebodohannya. “Jadi Tugu Pahlawan itu beda lagi, ya, Mas?” tanya Dayat pada Wibisono.


“Beda. Nanti dari sini kita ke Tugu Pahlawan. Kalau ini disebut simbol kota Surabaya. Sura dan Baya, hiu dan buaya,” terang Wibisono.


Setelah ber-o-o panjang, Dayat minta difoto beberapa kali di depan simbol itu. Dan dengan wajah merona malu-malu, Tini akhirnya mau dipaksa berfoto sambil dipeluk Wibi di depan tugu itu. Dan yang paling membuat Tini semakin bahagia adalah ketika Wibi mengeluarkan ponselnya dan meminta kembali difoto berdua.


“Tugu Pahlawan itu jauh nggak dari sini? Banyak tugu dan monumen, ya …,” ucap Dayat.


Mereka berlalu dari patung Sura dan Baya. Langsung pergi menuju Tugu Pahlawan.


“Banyak tugu dan monumen …,” gumam Dayat saat berada di dalam mobil. Ia lalu menjentikkan jarinya di depan wajah Evi. “Sekarang aku paham kenapa Surabaya disebut sebagai Kota Pahlawan. Ini pasti berkaitan dengan perang besar melawan penjajah. Karena itu juga hari pahlawan ditetapkan sepuluh November.” Dayat berdecak-decak seolah baru saja menemukan penemuan besar dalam hidupnya.


“Kamu ngomong gitu, untung guru pelajaran sejarahmu nggak denger. Kalo sampe denger, bisa mengundurkan diri gurumu.” Tini berkata santai dari jok depan. Wibisono tertawa dan seketika menyapu kepala Tini.


“Wih—wih—wih …. Tugunya mirip Monas, ya. Hampir mirip,” pekik Evi saat mereka tiba di pelataran Tugu Pahlawan.


Dayat tak kalah antusias. Ia menggandeng Evi untuk lebih mendekat. Kepala kakak dan adik itu sampai mendongak maksimal untuk melihat puncak tugu itu. Mereka terperangah. Dalam beberapa hari saja pergi ke kota, mereka melihat banyak hal-hal baru yang belum pernah mereka lihat.


Panas matahari yang menerpa tak menyurutkan rasa penasaran adik-kakak itu. Tini sebenarnya juga penasaran. Tapi kehadiran Wibisono di sebelahnya mampu meredam tingkahnya yang mungkin bisa lebih ajaib dibanding adik-adiknya.


Evi terlihat memegangi lengan Dayat. Tini dan Wibisono berjalan mendekati mereka. Dari jarak dekat, Tini melihat adik-adiknya sudah bermandikan keringat.


“Dayat kurang ingusnya aja. Kalau Dayat ada ingusnya, kalian berdua udah mirip Temon dan neneknya yang baru liat Monas.” Tini menepuk-nepuk pundak kedua adiknya.


To Be Continued


Catatan penulis :


Tahukah Boeboo soal Temon dan neneknya? Itu adalah salah satu cuplikan film Serangan Fajar keluaran tahun 1981. Cuplikan soal Temon yang baru tiba di Jakarta bersama neneknya dan melihat Monas untuk pertama kalinya.