TINI SUKETI

TINI SUKETI
80. Awal Perjalanan Dimulai



Usai kepulangan Tini dan Wibisono dari kediaman keluarga Bara, sepasang suami istri itu mengadakan rapat internal. Bara penasaran dengan apa yang diceritakan Tini, dan Dijah penasaran dengan apa yang diceritakan Wibisono.


Dijah baru meletakkan Mima masuk ke dalam box-nya. Bayi itu tidur nyenyak usai kenyang menyusu. Bara sudah sejak tadi bersabar menunggu dengan berbaring di sisi istrinya.


“Mas duluan.”


“Kamu duluan.”


Dijah dan Bara berucap bersamaan. Sepasang suami istri itu saling pandang lalu tertawa sesaat. Bara menepuk bantal, Dijah seketika berbaring memeluknya.


“Tini ngomong apa? Memang mau ke Surabaya? Nemuin keluarga Mas Wibi?” Bara yang sudah mendengar cerita versi laki-laki, ringkas dan padat, ternyata tak cukup puas.


“Iya, bener. Sama kayak gitu,” sahut Dijah. “Perasaan Mas Wibi itu gimana ke Tini? Ada ngomong ke Mas juga nggak?” Dijah mendongak menatap suaminya. Namun bukannya menjawab, Bara malah kembali mendekap Dijah di ketiaknya.


“Mas belum selesai. Kamu jawabnya singkat banget,” kata Bara.


Dijah terkekeh-kekeh. “Bener kata Tini. Sepulangnya dia dari sini, Mas pasti mewawancarai aku.”


“Tini bilang gitu?” tanya Bara.


“Iya. Kalian itu sebenarnya udah saling mengenal satu sama lain,” sahut Dijah.


“Dasar Budhe Tini, hebohnya itu kebaca banget. Aku nggak nyangka aja Mas Wibi kecantolnya sama Budhe-nya Mima. Tapi kalo dipikir-pikir cocok juga, sih. Mas Wibi itu orangnya nggak banyak ngomong. Nanti kalo udah nikah, dia kayak tidur sama radio.” Bara tertawa geli sampai Dijah mencubit pelan perutnya. Sesaat pria itu lupa kalau putrinya sedang tertidur nyenyak.


“Mas Heru udah tau apa belum, ya?” tanya Dijah pada suaminya. “Pasti udah tau,” gumam Dijah sambil berpikir-pikir.


“Belum tentu. Bapak-bapak itu beda sama ibu-ibu. Lagian Mas Heru pergi seminar ke Singapura. Jadi, Tini bilang kapan, Jah?” tanya Bara lagi.


“Belum ada ngomong. Katanya nanti dikabari. Yang diomongin cuma soal seragam pink,” kata Dijah.


“Pink? Aku pake apa?” tanya Bara lagi.


“Ya, embuh, Mas. Mau pake pink juga boleh,” tambah Dijah.


“Ngeledek,” kata Bara semakin mengeratkan pelukannya.


“Sesak ini,” cetus Dijah kembali mencubit perut suaminya. “Aku mau nanya juga,” sambungnya.


“Apa?” Bara melepaskan pelukan dan menaikkan letak tubuh istrinya agar posisi mereka sejajar.


“Mas Wibi itu orangnya gimana? Apa dia udah tau kalau Tini … yah, Mas pasti tau maksudku? Aku agak khawatir. Perasaan khawatirku itu sama. Rasanya kok sesingkat itu udah mau nikah.” Dijah memandang suaminya.


“Mereka itu udah dewasa, Jah. Mas Wibi itu usianya sama kayak Mas Heru. Buatku dulu, menikah itu untuk nyari istri. Untuk membentuk keluarga. Hal pertama yang aku pikirkan dulu, aku mau hidup selamanya sama kamu. Mau ngeliat kamu tiap hari. Tapi makin bertambah waktu, aku mau ditemani pas lagi capek. Aku mau ada teman ngobrol untuk mengeluarkan uneg-uneg. Ada yang aku peluk-peluk sambil ngobrol kayak gini. Dan terakhir, kalau Tuhan mengizinkan, juga untuk jadi ibu anak-anakku. Kalau Mas Wibi langsung ngelamar Tini, itu artinya dia menemukan sosok orang yang bakal dijadikannya teman hidup. Dia menganggap Tini akan cocok mendampinginya. Soal masa lalu, aku rasa Mas Wibi udah cukup matang soal itu. Kata Ayah, masa lalu seseorang itu, di luar kuasa manusia untuk mengubahnya, Jah. Manusia nggak bisa menyelamatkan masa lalu. Yang bisa kita lakukan itu, menyelamatkan masa depan. Gimana? Ayah Mima udah bijaksana?” tanya Bara, meremas pinggang istrinya.


“Udah. Mas-ku memang bijaksana banget. Kalau memang Mas Wibi udah nerima Tini, aku seneng. Semoga di kemudian hari Mas Wibi juga tetap bijaksana. Lagian, Tini juga nggak tau Mas Wibi udah ngapain aja sama mantan-mantannya. Umur 36 tahun, lho. Mas dulu umur 28 tahun udah pernah ngapain aja? Enggak mungkin pacaran cuma lirik-lirikan aja. Pasti ada—”


“Udah—udah. Topiknya berenti sampe di sini aja. Jangan dipanjangin. Nanti malah aku yang kena. Rapat soal Tini udah selesai. Kita rapat yang lain.” Bara menciumi leher Dijah.


“Geli,” gumam Dijah, memejamkan matanya. “Aku seneng, Mas. Tini akhirnya ketemu laki-laki yang serius. Lebih seneng lagi karena Mas Wibi itu gagah. Tini pasti nggak banyak protesnya. Aku nggak sabar denger cerita dia nanti,” ucap Dijah terkikik-kikik geli.


“Enggak sabar denger cerita apa? Soal kegagahan? Mas kamu juga gagah. Itu hasil kegagahan Mas lagi tidur di dalem box,” ujar Bara, menarik daster istrinya sampai ke batas dada.


“Ibunya Mima berisik banget,” gumam Bara mencium bibir istrinya. Tangannya sudah bergerilya mencari tepian pakaian dalam Dijah dan menariknya turun. Ciumannya sudah berpindah ke leher dan terus turun hingga ke dada. Tak sabar dengan daster yang tergulung di bawah leher istrinya, Bara segera menarik lepas daster itu.


“Buru-buru banget,” erang Dijah saat Bara bangkit dan melepaskan pakaiannya sendiri. Suaminya tak menjawab dengan jelas. Hanya berupa gumaman seraya menekuk kedua kakinya.


“Mas udah siap sedia dari tadi,” ucap Bara, memandang ke bawah sekilas lalu menunduk di atas tubuh istrinya. Tak lama, ia memejamkan mata merasakan kehangatan penyatuan tubuh mereka.


***


“Jangan lupa, kalian harus sering-sering liat keadaanku di kursi depan. Jangan sampe aku pingsan dan jatuh ke bawah kolong kursi kalian nggak ada yang tau.” Tini sedang memberikan wejangan singkat pada kedua adiknya saat mereka sudah berada di ruang tunggu.


Wibisono sedang pamit ke toilet sebentar dan tiga bersaudara itu langsung melakukan rapat strategi darurat.


“Kalau Mbak Tini sampai jatuh ke kolong kursi, itu artinya Mas Wibi nggak sungguh-sungguh. Dia pasti nolongin dan perhatian. Enggak mungkin diem aja,” jawab Evi.


Tini diam menyimak perkataan Evi.


“Udelmu udah disumpel?” tanya Dayat.


Tini mengangguk.


“Ya, udah. Apalagi yang dikhawatirkan? Semuanya beres. Lagian ini cuma ke Surabaya, bukan ke Afrika Selatan. Penerbangannya nggak lama. Mas Wibi tau, kan, kalau Mbak Tini mabuk perjalanan?” tanya Evi, memandang kakaknya. Dayat juga ikut memandang Tini menantikan jawaban.


“Nah, itu masalahnya. Wibi belum tau. Aku kuatir kalau tiba-tiba aku nggak sadarkan diri abis makan di pesawat, dia ngira aku keracunan,” kata Tini. “Aku bakal kehilangan momen-momen romantis kayak di film-film.”


“Aku agak heran kenapa cuma Mbak Tini yang mabuk perjalanan. Aku dan Mbak Evi, kok, enggak? Mbak Tini juga nggak bisa bawa motor kayak kami berdua.” Dayat mengernyit memandang kakaknya.


“Adik kurang ajar! Jangan sampe motormu di kampung aku belah-belah pake parang. Aku nggak bisa bawa motor karena dulu sibuk masak dan nyuci buat kalian—”


Attention, please. This is the boarding call for passengers Perkutut Airlines Flight 943 to Surabaya, boarding at gate 2. The final checks are to be finished and the doors of the aircraft are to close in approximately 30 minutes time. Thank you.


(Mohon perhatian. Ini adalah panggilan boarding untuk para penumpang pesawat Perkutut Airlines dengan nomor penerbangan 943 tujuan Surabaya, boarding di gerbang 2. Pemeriksaan terakhir akan selesai dan pintu pesawat akan ditutup dalam waktu sekitar 30 menit. Terima kasih)


“Udah dipanggil—udah dipanggil. Calon suamiku mana? Dia buang air apa? Kok, lama banget di toilet? Aku khawatir airnya diabisin semua. Aku nggak disisain,” kata Tini menoleh ke arah pintu masuk ruang tunggu.


“Itu Mas Wibi,” kata Dayat, melihat ke arah pintu masuk yang lain.


“Astaga, ya, ampun. Aku makin berdebar. Rasanya kayak mau ditimbang dosa dan amal ibadah sambil diawasi Wibisono.” Tini berbisik-bisik pada Evi yang terlihat santai.


“Ayo, masuk ke pesawat,” ajak Wibisono, mengangkat ranselnya dari sebelah Tini dan menggandeng tangan wanita itu. “Tangan kamu dingin banget. Kenapa? Mabuk perjalanan?” tanya Wibi memandang wajah Tini yang memucat.


Tini membalas tatapan Wibi dengan sepenuh hati. Memandang wajah pria itu di bawah terangnya cahaya matahari yang menerobos dinding-dinding kaca landasan pacu pesawat. Rambut ikal yang disisir rapi, cambang yang turun sampai melewati batas telinga, serta lesung pipi yang bersanding manis dengan segurat senyuman. Dengan jeans dan kemeja yang tergulung sampai di siku, Wibisono terlihat gagah sekali. Tini langsung mengingat-ingat. Amal kebaikan apa yang pernah dilakukannya sampai dipertemukan dengan sosok pria seperti Wibisono.


“Hei, aku nanya, kamu mabuk perjalanan?” tanya Wibisono lagi.


Tini menggeleng. “Bukan mabuk perjalanan. Tapi mabuk kepayang, Mas.” Tini nyengir.


Evi dan Dayat memang sudah berjalan lebih dulu. Tapi sekilas tadi, Tini sempat mendengar suara Evi yang mengucapkan, “Hilih!”


To Be Continued